TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Kerja Sama Terselubung


__ADS_3

"Kamu mau nggak aku ajak kerja sama?" seorang pria bertanya sembari menunggu pesanan jus buah yang sedang diracik oleh penjualnya. mendengar pertanyaan dari pembelinya, sang penjual hanya meliriknya sesaat tanpa ada niat ingin membalas pertanyaan dari pria itu. bahkan wajah si penjual yang seorang wanita terlihat sangat tidak bersahabat.


"Ini jus yang di lemari pendingin berapaan sih, Ri?" pertanyaan pertama gagal mendapat jawaban, pria itu tak mau menyerah begitu saja. Dia kembali melempar pertanyaan setelah melihat tumpukan jus yang sudah dikemas dalam gelas plastik dan tersusun rapi di dalam lemari pendingin.


"Dua ribu," jawab si wanita ketus tanpa melihat ke arah si pembeli. Sedangkan si pria nampak tersenyum karena pertanyaan tersebut berhasil mendapat jawaban meski nada jawabannya begitu dingin dan terkesan terpaksa.


"Kalau aku minta kamu ngisi jus yang harga dua ribuan itu ke rumah makanku, kamu mau nggak, Ri?" pria pembeli bernama Dandi kembali melempar pertanyaan.


"Nggak minat! Sudah banyak orang yang mau menjualnya kembali," jawab si penjual terdengar sangat menohok. Lalu dia menyerahkan jus mangga pesanan pria yang terus menatapnyya. "Delapan ribu," ucap si penjual bernama Rianti memberi tahu harga jus mangga pesanan Dandi.


Pria itu berusaha teteap tersenyum meski dia sedikit kecewa dengan ucapan Rianti yang tidak ada lembutnya sama sekali. Di saat bersamaan, seorang pria masuk ke dalam toko tersebut dan langsung disambut dengan hangat oleh wanita si penjual buah. Dandi hanya bisa mendengus melihat sikap dua orang di hadapannya.


Dandi merasa geram melihat kedekatan Rianti dengan pria yang katanya adalah suami wanita itu. Mungkin rasa geram Dandi tumbuh karena kemarin pria itu terlihat bersama wanita lain di warung makan miliknya. Dandi merasa Rianti begitu bodoh bisa dibohongi oleh pria itu. Namun Dandi tidak bisa meluapkan amarah yang tiba tiba melanda di benaknya.

__ADS_1


Di saat Dandi hendak bersiap akan pergi, dia mendengar dua orang itu membicarakan sesuatu dan tiba tiba Dandi memiliki sebuah ide. Dia lantas mengurungkan niatnya untuk segera pergi dari tempat itu. "Mas, boleh tanya nggak?"


Pria dan wanita yang ada di sana lantas menoleh begitu mendengar pertanyaan dari Dandi. "Tanya apa ya, Mas?"


"Maaf, tadi saya tidak sengaja mendengar kalau Rianti cukup susah memasarkan buahnya? Kalau boleh saya usul, kenapa buahnya nggak dibikin jus kayak itu lalu di taruh di warung makan saya?"


Riantai yang medengar usulan Dandi langsung mendelik. "Nggak! Siapa juga yang kesusahan memasarkan buahnya? sok tahu!" balas Rianti lantang.


Dandi seketika langsung tersenyum lebar. berbeda dengan Riantai yang cukup terkejut dengan ucapan pria di sebelahnya. Rianti ingin mengumpat lagi tapi dia tidak enak karena baru saja mendapat teguran dari pria di sebelahnya. Hal itu tentu tidak disia siakan oleh Dandi untuk melancarkan rencananya.


"Itu loh, Mas, warung makan yang berads di timur taman kota, yang khusus menyediakan makanan khas sunda. bahkan kemarin aku juga melihat masnya berada di sana," balas Dandi santai, dan dia sengaja mengatakan kalau dia melihat pria itu agar Rianti penasaran, kenapa pria itu berada di tempat Dandi..


"Oawalah, Mas pemiliknya!" seru pria itu nampak antusias. sedangkan Dandi tercengang melihat reaksi Rianti yang tidak terpancing dengan ucapannya dan pria itu juga tidak merasa panik sama sekali. "Iya, di sana nggak ada menu jus ya?"

__ADS_1


"Iya, Mas, terlalu ribet. Maka itu gimana kalau stok minuman jus berasal dari toko ini."


"Nggak! aku nggak setuju. Orang banyak yang mau jual lagi kok," Rianti menolak dengan tegas. Meskipun dia tahu itu adalah peluang bagus, tapi Rianti tidak ingin berhubungan dengan pria bernama Dandi itu di dalam hidupnya.


"Kenapa kamu nggak mau? Bukankah itu peluang bagus?" si pria merasa terkejut dengan keputusan Rianti. "Lagian orang orang yang ikut jualan jus juga seringnya pada sisa kan? kalau di taruh di warung makan pria ini kan enak, Ri, udah pasti laku hingga malam."


"Nggak! Pokoknya aku nggak setuju!" tegas Rianti.


"Jangan kayak anak kecil. Ini kesempatan bagus buat kamu. Buat kemajuan usaha kamu. Kamu sendiri kan yang megeluh, tiga bulan ini kamu rugi terus," cecar pria itu hingga membuat Rianti terbungkam. "Ya udah, Mas, aku setuju. Bisa kita bicarakan sistem kerja samanya?"


"Oke, mari," jawab Dandi antusias.


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2