TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Tak Terduga


__ADS_3

Rasa kesal semakin menggerogoti relung hati Eliza. Ingin rasanya dia meluapkan amarahnya saat itu juga, tapi Eliza sadar, ini bukan tempat yang pas untuk melakukan hal itu. Eliza harus bisa meengatur emosi yang semakin bergejolak.


"Sekarang aku tanya sama kamu, Pamanku menerima kamu sebagai tamu apa sebagai apa? Kalau keluarga pamanku menerima kamu sebagai pasanganku, berarti akan ada banyak pria yang bisa jadi kekasihku, kamu paham kan?" ucap Eliza dengan segala amarah yang dia tahan. Ucapannya juga penuh dengan penekanan agar pria dihadapannya mengerti dengan apa yang dia ucapkan.


"Tapi Paman kamu jelas jelas memberi ijin sama aku agar bisa jalan dengan kamu, Za," pria itu masih teguh dengan pendapatnya. Entah itu sebuah kebohongan ataupun kebenaran, tapi apa yang dia ucapkan cukup membuat Eliza tercengang.


"Yakin Paman aku mengatakan hal itu?" tanya Eliza penuh dengan selidik. Pria itu terlihat mengangguk pelan. Dari gerakan kepalanya, Eliza tahu kalau pria itu sendiri ragu dengan apa yang dia ucapkan. "Ya udah, nanti aku tanyakan saja sama pamanku."


"Nggak perlu!" pria itu langsung bereaksi menolaknya. "Masa kayak gitu pakai ditanyakan segela, kayak anak kecil aja."


"Loh, ya nggak apa apa," Eliza semakin jelas memberikan perlawanan. "Mau kayak anak kecil atau apapun itu, aku harus menanyakan sama Pamanku. "

__ADS_1


"Hahaha ..." pria itu malah terbahak. "Kamu itu aneh, Za. Ini tuh tentang hidup kamu, tentang masa depan kamu, kenapa harus tergantung dengan keputusan Paman kamu? Kalau semua apa apa menunggu keputusan dari Paman kamu, kenapa kamu nggak nikah aja dengan paman kamu itu."


Ucapan pria itu langsung membuat Elizza bereaksi. Dia tidak bisa menahan amarahnya. "Karena aku sudah pernah memutuskan sendiri pilihanku, tapi yang aku dapatkan hanya pria brengsek yang lebih percaya pada fitnah keji daripada penjelasanku," ucap Eliza dengan penuh penekanan dan segala amarah yang sudah tidak bisa dia tahan lagi. Wanita itu bahkan langsung pergi meninggalkan pria yang melongo setelah mendengar ucapan Eliza.


Selain pria itu, ada pria lain yang juga tertegun dengan ucapan Eliza. Dialah Randi. Pria itu tak bereaksi apa apa selain mematung dengan rasa bersalah yang semakin dalam. Dari ucapan Eliza jelas sekali tergambar kalau wanita itu memang memiliki trauma yang tidak biasa.


Cukup lama Randi termenung di sana, hingga akhirnya dia pun memutuskan bangkit dari duduknya. Namun baru saja setengah tubuhnya berdiri, telinga Randi mendengar ucapan yang menncurigakan dari pria yang baru saja ditinggalkan oleh Eliza.


Sandi yang terlihat sedang menghitung sesuatu dengan kalkulator sontak tertegun mendengar ucapan sahabatanya. "Apa yang terjadi? nanti kamu kena pukul pamannya lagi gimana?"


"Nggak masalah, tapi yang penting Eliza pulang dengan selamat," mendengar jawaban Randi yang terlihat penuh dengan amarah dan keyakinan, membuat Sandi menatap sahabatnya itu. Sedangkan Dandi memang tidak menyimak pembicaraan kedua sahabatnya. Dia lagi meracik menu pesanan pembeli.

__ADS_1


"Apa terjadi sesuatu?" Sandi menatap sahabatnya dengan serius.


"Sepertinya akan ada yang berbuat tidak baik pada Eliza, "balas Randi. "Aku mau ke lapak depan dulu, mau cari informasi ke saudaranya Eliza," tanpa menunggu persetujuaan Sandi, Randi segera saja keluar lewat pintu samping. Dandi yang melihat tingkah Randi tentu saja langsung bertanya kepada Sandi, tapi Sandi hanya mengangkat kedua pundaknya sebagai jawaban kalau dia tidak tahu.


Hingga waktu terus bergulir, dan sekarang waktu sudah menunjukan hampir pukul sembilan malam, Randi langsung bersiap diri untuk mengantar pulang Eliza. Untuk mendapatkan ijin seperti itu juga tidak mudah, Randi harus berdebat terlebih dahulu dengan saudaranya Eliza. Taryo yang sudah mengatahui tentang Randi tentu sangat marah pada pria itu.


Namun setelah terjadi perdebatan diantara keduanya dengan negosiasi yang cukup lama, akhirnya Taryo mengijinkan Randi untuk mengantarkan Eliza pulang. Taryo juga ingin membuktikan ucapan Randi benar atau tidak tentang seseorang yang akan berbuat jahat sama saudara sepupunya.


Sama seperti Taryo, Eliza juga menolak dengan tegas tawaran Randi. Namun kegigihan Randi benar benar membuahkan hasil, Eliza dengan sangat terpaksa akhirnya mau diantar oleh pria yang paling dia benci. Awalnya perjalanan mereka memang terlihat tenang, tidak ada hambatan sama sekali, tapi saat motor Randi melewati jalan yang sepi, tiba tiba tiga motor langsung mengadang laju motor tersebut.


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2