
"Sayang, aku boleh kan? Malam ini meminta hakku sebagai suami?" bisikan yang keluar dari mulut Randi seketika membuat bulu kuduk wanita yang sedang dia peluk dari belakang, meremang. Wanita yang telah sah menjadi istrinya itu, langsung gugup oleh permintaan yang menurut sang istri terdenggar nakal.
"Apa harus sekarang?" tanya Eliza dengan suara yang sedikit gugup. Alih alih menolak langsung secara tegas, wanita itu malah melempar pertanyaan dimana itu adalah sebuah trik untuk penolakan yang tidak berani dia ucapkan secara langsung.
"Ya tidak harus sekarang, juga, nggak apa apa sih, Yang," jawab Randi pelan, dan hal itu membuat Eliza merasa lega. Namun rasa lega wanita itu hanya sebentar saja saat dirinya kembali mendengar ucapan dari Randi. "Tapi bukankah ini malam pertama kita? Setidaknya kita harus membuatnya semakin berkesan kan? Apa kamu mau melewati malam pertama dengan suamimu begitu saja? Tanpa ada moment yang istimewa?"
"Bukan begitu? Aku hanya ..."
"Ya udah nggak apa apa," Randi sontak memotong ucapan istrinya. Dengan rasa kecewa, pria itu melepaskan pelukannya dan bangkit dari berbaringnya. Eliza tertegun, dan dia mencoba menoleh ke arah suaminya. Betapa terkejutnya wanita itu saat melihat Randi memilih berbaring di atas sofa. Eliza seketika menjadi semakin merasa bersalah, karena telah menolak permintaan suaminya meski secara tidak langsung.
Eliza bangkit dari berbaringnya dan menatap punggung pria yang sudah sah menjadi suaminya itu. Dia ingin menghampiri pria tersebut, tapi dia merasa tidak enak hati untuk pergi, menghampiri sang suami. Lama dia terdiam dengan mata yang terus menatap punggung Randi.
__ADS_1
Setelah merenung sedari tadi, Eliza memilih turun dan menghampiri suaminya. Begitu sudah dekat, wanita itu memperhatikan baik baik gerakan tubuh Randi. Eliza yakin kalau suaminya telah tertidur. Eliza mencoba melongok dan menatap wajah Randi dari atas. Ternyata mata Randi sudah terpejam. Wanita itu sedikit merasa lega meski rasa bersalah masih menghantui dalam benaknya.
Eliza kembali naik ke atas ranjang. Dia membaringkan tubuhnya dengan posisi miring sembari memperhatikan tubuh suaminya. Namun dia teringat sesuatu hingga dia bangun lagi. Tangannya mengambil selimut yang ada di ranjang lalu membawa selimut tadi untuk menyelimuti tubuh suaminya. Setelah itu Eliza kembali berbaring dengan posisi yang sama seperti tadi, hingga dia terlelap.
Waktu terus bergulir dan kini tanda ibadah pagi sedang menggema di langit. Randi, yang semalam tertidur di sofa, nampak terkejut begitu dia terbangun dari tidurnya. Saat mata perlahan terbuka, Randi merasa tubuhnya sudah ditutupi dengan selimut. Randi sangat ingat kalau semalam dia hanya membawa bantal saat pindah ke sofa. Seketika senyum pria itu pun terkembang.
Randi bangkit dari tidurnya dan dia kembali terkejut karena Eliza tidak ada di ranjang. Namun bersamaan dengan itu, telinga Randi menangkap suara dari arah kamar mandi. Wajah pria itu begitu lega karena dia tahu yang saat ini berada di kamar mandi sudah pasti itu istrinya.
Eliza telah selesai mandi dan bersuci. Setelah ini dia berniat untuk membangunkan suaminya. Namun saat keluar dari kamar mandi, mata wanita itu langsung membelalak dan seketika menutupi matanya. "Kenapa nggak pakai baju sih?" sungut Eliza dengan suara yang cukup keras.
"Mandinya kok cepat banget?" tanya Eliza setelah menunggu beberapa saat kemudian, lalu dia melihat Randi yang hanya melilitkan handuknya pada pinggang. Eliza langsung mengalihkan pandangan matanya karena tidak dipungkiri, bentuk tubuh Randi yang atletis adalah tubuh idaman para wanita termasuk dirinya.
__ADS_1
"Ya nanti mandi lagi, yang penting kan ibadah dulu," jawab Randi santai sambil memakai pakaian ibadahnya. "Yuk, kita ibadah sekarang, Sayang,." Eliza mengangguk dan keduanya menggelar sajadah lalu memantapkan hati untuk beribadah bersama.
Beberapa menit kemudian setelah selesai beribadah, mereka duduk berdua di atas sofa dengan perasaan yang cukup canggung. Bahkan selama beberapa menit, mereka hanya saling terdiam dan sibuk dengan ponselnya masing masing.
"Mas," Randi yang sedang menatap layar ponsel langsung tertegun saat mendengar kata Mas.
Randi seketika mendongak menatap istrinya. "Kamu manggil aku, Za?"
Kening Eliza sontak berkerut. "Lah terus, manggil siapa lagi?"
"Hehehe ..." Randi langsung cengengesan. "Ya kaget aja, tiba tiba kamu manggil aku, Mas. Aku kayak mau terbang gitu." balas Randi. Eliza langsung mencebikan bibirnya kemudian dia ikut tersenyum juga."Ada apa Sayang?"
__ADS_1
Senyum Eliza memudar, lalu dia menunduk. "Kalau malam pertamanya diganti pagi ini, bisa apa nggak?"
...@@@@@...