WOLF PAI • Pasangan Barbar

WOLF PAI • Pasangan Barbar
Bab 102 : Teman cowok


__ADS_3

Setelah jam istirahat selesai, Afifah izin kepada guru untuk pergi ke toilet. Padahal tujuan aslinya bukan toilet melainkan ruangan Asisten Afifah yang berada dilantai dua pojok kanan yang bersebelahan dengan ruang perpustakaan.


Tok tok tok


Sebelum masuk kedalam, Afifah mengetuk pintu terlebih dahulu sambil sesekali meneriaki nama Asistennya.


"MASUK!!. " terdengar suara teriakan dari dalam.


Afifah pun tanpa basa basi langsung membuka pintu dengan sedikit menendang.


"Et dah ni bocah. Bisa nggak sih kalo masuk itu ngucapin salam, bukan malah nendang pintu orang. " ucap seorang pria berusia sekitar 21 thn yang sedang duduk dikursi kebesarannya. Dia adalah Dian, Asisten Afifah yang selama ini membantu mengurus sekolah miliknya ini.


"Assalamualaikum." ucap Afifah sambil mendudukan dirinya diatas sofa seraya mengambil beberapa cemilan yang ada dimeja.


"Nah gitu dong. Waalaikumsalam. " jawab Dian.


"Kenapa lo kesini?." tanya Dian pada Afifah.


"Ada yang mau gue tanyain sama lo bang. " ucap Afifah.


"Mau nanya apaan?." ucap Dian.


"Itu soal si ulet bulu, kenapa dia bisa balik secepat ini? bukanya acara pertukaran pelajar itu lima bulan tapi ini masih dua bulan dan dia udah balik?." tanya Afifah.


"Lah? kenapa lo tanya ke gue, harusnya lo tanya diri lo sendiri kenapa dulu lo setujuin Permintaannya Nela waktu dia minta ringanan waktu. " tanya balik Dian.


"Kok gue? emang kapan gue ngasih persetujuan Permintaannya si ulet bulu itu?. " bingung Afifah.


"Dasar pikun. Lo inget nggak waktu dulu gue sore² nelpon lo buat minta lo datang kerumah gue cuman buat tanda tangan berkas?. " tanya Dian.


"Inget, terus hubungannya apa?." ucap Afifah.


"Ya berkas yang lo tanda tangani itu berkas surat Permintaan nya Nela. " jawab Dian.


"Hah masa?! Gimana sih, kok lo ngak bilang sama gue. Seandainya gue tau kalo berkas itu dari Nela, gue nggak bakal kasih dia persetujuan. Semua ini gara² bang Dian." ucap Afifah.

__ADS_1


*Bisa gawat nih kalo si ulet bulu godain Alex lagi kayak waktu dulu. Ya meskipun trauma Alex sedikit kambuh jika dekat sama tu anak tapi tetap aja bahaya. Pokoknya gue harus cegah dia untuk tidak deketin Alex lagi, kan kasian jika trauma Alex terus terusan kambuh. Nanti yang ada malah bikin tubuh Alex tersiksa* batin Afifah.


"Kenapa jadi salah gue, jelas jelas ini salah lo sendiri. Makanya biasakan baca sebelum tanda tangan, jangan asal corat coret. Ceroboh sih." ucap Dian.


"Ngapain harus baca dulu. Gue kan udah ngasih kepercayaan sekolah ini sepenuhnya pada abang, jadi ya gue percaya kalo apa yang lo suruh ke gue itu nggak bakal bikin masalah atupun kesalahan." balas Afifah.


"Gini nih kalo kebanyakan main game. Apa² main seenaknya sendiri." ucap Dian.


"Bodo amat. Yaudahlah dari pada disini bikin males, mending gue pergi aja. " ucap Afifah lalu pergi keluar ruangan.


"Sabar sabar. Dia masih bocah jadi lo harus tetap lapang dada ngadepin dia, jangan emosi. " gumam Dian sambil mengelus dada.


"Hmm.. dari pada balik ke kelas mending gue pergi ke rooftoof aja." ucap Afifah lalu segera berbalik arah dan berjalan menuju rooftoop.


-_-_-


Sedangkan disisi lain. Reza dan Justin saat ini juga tengah berada dirooftoop karna mereka memang sengaja bolos pelajaran.


"Kenapa lo dari tadi ngikutin gue? Risih tau nggak. " ucap Reza dingin saat Justin sedari tadi mengikutinya kemanapun dia pergi.


"Tapi elo kan juga bisa kenalan sama anak lain, kenapa lo malah milih sama gue?." tanya Reza.


"Ya gue lihat kayaknya lo nggak punya temen. Makanya gue milih lo jadi temen gue supaya lo juga punya temen. Gimana baik kan gue." jawab Justin sambil menyunggingkan senyuman tipis.


"Terserah. Capek gue ngomong sama elo. " balas Reza ketus.


"Eh, poto siapa ini? pacar lo? widih cakep banget." tanya Justin ketika dirinya tak sengaja melihat wallpaper layar kunci ponselnya Reza yang menampilkan sebuah poto seorang gadis yang sedang naik diatas patung kuda bersama Reza.


"Bukan, ini sahabat gue. " jawab Reza.


"Yah gue kira pacar lo. Habisnya pose lo berdua udah kayak orang pacaran." balas Justin.


"Hampir jadi tapi gagal karena beberapa kali kena tolak. " ujar Reza.


"Buahahahhaa.. kasian amat lo. " tawa Justin pecah meledek Reza.

__ADS_1


"Sialan!! Bukanya prihatin sama gue, eh malah diketawain." cebik Reza sambil memukul lengan Justin yang masih tertawa meledeknya.


"Btw, ternyata lo asik juga ya orangnya. Gue berasa jadi kayak punya temen cowok. " ucap Reza dengan nada yang sudah dingin lagi.


"Lah emangnya lo kagak punya temen?." tanya Justin yang juga sudah tidak berbicara jutek.


"Punya sih tapi cewek, kalo cowok nggak ada karna memang gue orangnya nggak mudah nyaman sama orang. " jawab Reza.


"Sama dong, gue juga gitu. Kalo gitu kenapa kita nggak temenan aja kali aja bisa jadi sahabat juga. " ucap Justin serius.


"Emang lo mau punya sahabat atau temen kayak gue?." tanya Reza.


"Ya mau lah, kenapa juga gue nggak mau. Toh kita berdua sama sama cocok jadi apa salahnya kita temenan." jawab Justin.


"Bener juga apa kata lo." ucap Reza membenarkan.


Mereka berdua pun saling memgobrol satu sama lain tak jarang mereka juga saling meledek dan membuat jarak diantara mereka seakan hilang sehingga mereka semakin akrab.


"Gue pergi ke toilet bentar ya. Entar gue balik kesini lagi. " pamit Reza karna merasa kebelet.


"Oke. " balas Justin.


Reza pun pergi meninggalkan Justin sendirian disana. Lalu Justin pun berbaring disofa sembari melihat Ponsel Reza yang memang sengaja dia titipkan kepada Justin.


"Reza yang tragis. Cinta pertamanya harus pergi sebelum dirinya bisa memiliki. " gumam Justin sembari menatap layar ponsel Reza.


.


Jangan lupa Like KOMEN nya🤗


Karna itu sebagai dukungan kalian pada Author, supaya Author juga makin semangat untuk updet bab selanjutnya💙.


So jangan pelit pelit untuk tinggalin jejaknya.


See you next episode😘

__ADS_1


__ADS_2