WOLF PAI • Pasangan Barbar

WOLF PAI • Pasangan Barbar
Bab 141 : Nyawa dibayar nyawa


__ADS_3

"Diem lo. Sekali penghianat tetap penghianat, sekali pembunuh tetap pembunuh dan seorang pembunuh harus dibunuh juga. Rasain ni" teriak Afifah sambil melempar botol kaca yang ada diatas nakas kearah Justin.


Pyarr


Untung saja Justin langsung menghindar sehingga dirinya tidak terkena lemparan itu.


"Vita, jangan gila!"


"Apa? gue emang udah gila dan orang gila bebas lakuin apa aja termasuk ngebunuh elo. Hahaha.. rasain pembalasan gue. Hari ini gue pastiin lo bakal mati ditangan gue manusia munafik "


Prangg


Afifah melempar Justin dengan vas bunga yang lumayan besar sehingga membuat telapak kaki Justin terluka. Dia terus menerus melempar barang barang yang ada disekitarnya kearah Justin tanpa ampun meskipun Justin berulang kali meminta maaf.


Bahkan Afifah menusuk nusuk pecahan kaca itu ke sofa yang diduduki Justin membuat Justin kelimpungan berlari kesana kemari menghindari serangan. Afifah benar-benar seperti orang kesetanan yang sedang mengamuk, dia tak peduli dengan lingkungan sekitar, yang ada diotaknya saat ini ialah membunuh Justin.


"Ampun Vita ampun, tolong mafin gue. Jangan seperti ini Vita. Hiks.. hiks.. hiks.. jangan bunuh gue, gue tau gue salah tapi jangan bunuh gue. Gue masih pengen bareng bersama lagi sama elo" ucap Justin disertai isak tangis.


"Jangan harap! sampai kapan pun gue nggak akan pernah maafin elo. Nyawa dibayar Nyawa dan sebelum itu terjadi gue mau bermain dulu dengan tubuh lo, gue pengen lo merasakan penderitaan sebelum mati seperti apa yang selama ini lo lakukan sama gue" ucap emosi Afifah.


Ia pun memandang sekitar dan tak sengaja matanya melihat ada gunting besar tergantung ditembok, dia pun berjalan lalu mengambilnya. Kemudian dia beralih menatap tajam Justin dan berjalan ke arahnya.


"Lo mau ngapain Vita? " tanya Justin was was berjalan mundur sambil memengang kepala dan telapak kaki yang berdarah saat melihat Afifah berjalan kearahnya.


"Hahahaa.. selamat menikmati detik-detik meregang nyawa Justin! gue bakal pastiin lo bakal mati mengenaslam hari ini juga" teriak dan tawa Afifah dengan sangat kencang membuat tubuh Justin merinding.


*************


Sementara itu.


Mama Papa dan Alex saat ini sedang berada dihalaman belakang, terlihat disana Alex sedang memanjat pohon rambutan dan Papa sama Mama memgambil rambutan yang berjatuhan dibawah.


"Lex, itu disamping kamu kayaknya udah matang" ucap Mama sambil menunjuk buah rambutan.

__ADS_1


"Disana banyak semutnya Ma, nanti badan Alex gatal-gatal" jawab Alex.


"Yaudah lah Lex, sekarang kamu turun. Ini juga udah banyak rambutan yang kita petik" perintah Papa Afifah.


Alex pun turun lalu membantu Mama Papa nya mengambil rambutan yang berjatuhan dibawah untuk dimasukan ke dalam kranjang.


"AMPUN VITA, AMPUN!"


Prang


Brak


"NGGAK ADA PENGAMPUNAN UNTUK MANUSIA KEJAM SEPERTI LO. SEKARANG RASAKAN PEMBALASAN GUE. HIYAA..!! "


"TIDAK"


Prang


Pyarr


Terdengar suara teriakan dan suara barang jatuh dari dalam rumah dengan sangat keras. Mama Papa dan Alex yang mendengar itu langsung menghentikan aktivitasnya.


"Suara apaan itu Ma? keras banget sampe dari sini kedengeran" tanya Alex.


"Iya Ma, suara apa itu. Kedengerannya seperti orang sedang kesakitan " tanya Papa Afifah.


Mama Afifah hanya diam memikir. Detik berikutnya wajah Mama Afifah mendadak panik.


"Jangan jangan suara itu... "


"Suara apa Ma? " tanya Alex penasaran.


"Pa, cepat panggil dokter keluarga kita. Ini gawat Pa, pokoknya Papa harus bawa dokter keluarga kita secepat mungkin " ucap Mama Afifah.

__ADS_1


"Kenapa panggil dokter Ma? " tanya Papa Afifah.


"Kayaknya depresi anak kita kambuh lagi Pa. Ayo buruan panggil dokter pribadi keluarga kita Pa sebelum terjadi hal yang tidak-tidak" jawab Mama Afifah. Papa Afifah langsung pergi memanggilnya.


"Depresi apa Ma? emang Afifah punya depresi? " tanya Alex bingung.


"Nanti Mama kasih tau, sekarang kita harus kesana secepatnya" ajak Mama Afifah.


Mereka pun langsung berlari sekencang mungkin. Butuh waktu beberapa menit untuk sampai diruang tamu itu karna jarak dari halaman belakang menuju kesana lumayan jauh. Mereka harus melewati taman belakang, kolam yang luas, dan teras belakang yang lebar. Itu sebabnya mengapa mereka terkadang tidak mendengar suara dari dalam rumah.


Setelah sampai disana, Alex dan Mama Afifah langsung dibuat kaget melihat keadaan ruangan itu sangat kacau. Banyak pecahan kaca dimana-mana, meja terbalik, bingkai foto berjatuhan dilantai, sofa yang rusak dengan bekas sayatan yang sangat banyak, dan lebih parahnya terdapat noda darah menetes dilantai rumah mereka.


"Plesee Vita.. tolong maafin gue" rintih Justin dengan suara melemah.


"Nggak ada ucapan kata maaf buat elo yang ada kata benci yang selalu gue ucap ketika melihat wajah elo" ucap Afifah dengan tersenyum seringai.


Mama dan Alex yang mendengar suara itu langsung melihat ke pojok kanan. Lagi lagi wajah mereka langsung kaget melihat keadaan Justin yang duduk lemas dilantai dengan kepala bocor, lengan sobek, dan telapak kaki yang terluka dan didepan Justin ada Afifah yang sedang berdiri sambil menhacungkan gunting ke depan mata Justin.


"Tamat sudah riwayat kehidupan lo Jeje. Hahaha.. Mati lo mati!" teriak Afifah sambil mengangkat tangannya hendak menancapkan gunting itu pada bola mata Justin.


"ASTAGA.. SAYANG, APA YANG KAMU LAKUKAN!! " teriak histeris Mama Afifah.


"ASTAGFIRULLH... PAI, JANGAN BUNUH DIA!! " teriak Alex kaget.


.


Jangan lupa Like Komen 🤗


Supaya Author juga makin semangat untuk Up bab selanjutnya 💙


jangan cuman baca doang, masa tinggal pencet tombol susah banget sih. wkwkkwk becanda😂


See You Next Episode

__ADS_1


__ADS_2