
Siang harinya, seperti yang dikatakan Harry tadi pagi. Sekarang ini dia dan Papanya Reza sedang bertemu disalah satu cafe besar di kota untuk membahas masalah perceraian Alex dan Afifah.
Mereka duduk di salah satu kursi sambil meminum secangkir kopi.
"Jadi bagaimana menurut anda? apakah kasus anak saya bisa secepatnya diproses?" tanya Harry menatap seksama Papa Rez.a.
"Bisa saja, tapi apa tidak sebaiknya masalah ini dibicarakan dulu secara kekeluargaan sebab menurut saya sangat sayang sekali jika mereka harus berpisah di pernikahan yang baru seumur jagung" ucap Papa Reza.
"Sebenarnya saya juga sangat menyayangkan tetapi melihat keadaan anak saya serta kelakuan menantu saya yang sudah sangat keterlaluan saya pikir ini yang terbaik. Daripada nantinya psikis anak saya yang kena lebih baik diakhiri saja"
"Hah yasudah kalo begitu, saya akan menerima kasus anda. Lagi pula saya mengenal baik Afifah, dia adalah sahabat cewek Reza satu-satunya yang sering bermain di rumah kami jadi kami sedikit akrab dengannya"
"Iyakah, wah terimakasih banyak. Saya harap kasus anak saya secepatnya selesai" ucap Harry.
"Iya sama-sama, kalo begitu saya pamit dulu, lusa tolong anda kirim berkas dan datanya supaya bisa cepat saya proses" ujar Papa Reza yang kemudian dia berlalu pergi setelah mendapat anggukkan kepala oleh Harry.
Sepeninggal Papa Reza Harry lalu hendak pergi juga namun teriakan dari samping membuatnya tak jadi melangkah.
"Om tunggu" Justin berteriak sembari berlari menuju ke arah Papa Afifah.
"Eh kamu Je, ada apa? ayo duduk dulu" sahut Harry seraya mempersilahkan Justin duduk.
"Iya om makasih" balas Justin sambil duduk.
"Oh ya, aku lihat tadi om seperti bicara sama orang. Dia siapa om? klien bisnis ya?" tanya Justin basa-basi.
"Bukan dia Papanya Reza"
"What yang bener? Pantas aja aku sedikit familiar"
"Hm kebetulan dia seorang pengacara jadi om mengajaknya bertemu untuk mengurus kasus perceraian Afifah" jawab jujur Harry.
__ADS_1
"Apa! ja-jadi Vita sama Alex jadi cerai?" pekik Justin melototkan matanya.
"Iya" jawab Harry mengangguk.
*Daebak, ini adalah saat yang gue tunggu-tunggu. Akhirnya mereka berdua pisah beneran, huh gue sangat senang mendengarnya. Itu artinya peluang untuk mendapatkan hati Vita lagi sangat besar* batin girang Justin.
"Ngomong-ngomong kamu ngapain disini Je?" tanya Harry membuyarkan lamunan Justin.
"Eh ini om, aku sedang menemani Papa meeting" jawab Justin.
"Oh ya om kalo misalnya om butuh bantuan untuk proses perceraian ini aku siap bantu kok om. Kebetulan Papa punya kenalan detektif di Indonesia jadi kita bisa gunakan dia untuk mecari bukti" lanjut Justin.
"Wah boleh-boleh, om terima bantuan kamu biar kasusnya cepat selsai"
"Baik besok aku akan menemui detektif itu supaya dia cepat menyelidiki" ucap Justin.
"Terimakasih banyak ya nak, kamu memang anak baik. Sejak dulu kamu banyak membantu keluarga om"
Harry hanya tersenyum, dalam hati dia mengucap syukur sebab putrinya dipertemukan dengan lelaki baik tanpa tau jika ternyata kenyataannya pria yang dia sebut baik adalah penghancur keluarganya.
...☴ ☵ ☶ ☷...
Disisi lain, berbeda dengan Harry yang tengah sibuk mengurus proses perceraian anaknya, siang ini Reta malah dibuat kelimpungan dan cemas dengan keadaan putrinya.
Entah kenapa sejak tadi pagi Afifah tak henti-hentinya muntah, setiap kali melihat makanan perutnya akan beraksi.
Tubuhnya yang lemas, badannya pucat serta kepalanya yang pusing membuat Afifah merasa kesakitan. Ia sendiri tak tau ada apa dengan keadaannya.
Huekk... huekk.. uhuk.. uhukk...
"Sayang kamu muntah lagi" Reta berjalan menghampiri Afifah yang berada didalam kamar mandi.
__ADS_1
"Iya ma, mual banget"
Huekk.. uhuk.. uhuk..
"Ya ampun, kalo gitu kita periksa ya"
"Enggak usah ma, paling juga nanti sembuh"
"Tapi sayang kamu sudah sejak pagi muntah terus loh dan perut kamu juga belum terisi apa-apa. Kalo dibiarkan akan tambah parah, kita periksa ya" bujuk Reta.
Namun Afifah tetap menggeleng.
"Yasudah kalo nggak mau periksa kamu makan ya, tubuh kamu pucat banget Fi. Mama nggak tega lihat keadaan kamu seperti ini, sedikit nggak papa yang penting perut kamu terisi" ucap Reta.
Afifah pun dengan terpaksa mengangguk pelan, ia tak mau melihat mamanya mengkhawatirkan dirinya. Namun pada saat ia berdiri tiba-tiba saja kepalanya kembali pusing dan tubuhnya mendadak lemas.
Samar-samar ia mendengar suara teriakan mamanya yang bertanya pada dirinya.
"Sayang kamu kenapa, kamu baik-baik aja kan? Bi cepat kesini, bantu saya" itulah kata terakhir yang Afifah dengar sebelum akhirnya semuanya menjadi gelap.
___________________________________
Jangan lupa tinggalkan jejak.
Like komen vote gitu💙
Biar author juga makin semangat untuk up bab selanjutnya
See you next episode🤗
Bersambung...
__ADS_1