
Ting tong ting tong
"Iya sebentar, yaelah nggak sabaran banget sih jadi orang. Ini gue juga baru jalan" gerutu Afifah mengomel sambil terus berjalan.
Setelah sampai di depan gerbang Afifah pun segera membukanya. Seketika matanya langsung melotot kaget saat melihat siapa tamu yang datang.
"Alex" gumam Afifah dengan suara pelan nyaris tak terdengar.
Ia tak percaya suaminya akan datang disaat dia berusaha untuk menghindar. Bukan hanya Afifah saja, namun Alex juga ikut terkejut saat tiba tiba saja melihat sosok istrinya yang dia cari berdiri tepat di depannya.
Mereka berdua sempat terdiam sejenak memandang satu sama lain sebelum akhirnya Afifah yang tersadar lebih dulu langsung mengalihkan pandangan dan buru buru berlari ke dalam rumah.
Alex yang melihat istrinya berlari menghindar langsung mengejar. Dan pada saat istrinya hendak menutup pintu rumahnya, Alex pun segera menahannya agar pintu tak tertutup.
Satpam rumah Afifah yang melihat anak majikannya saling kejar hanya bisa menatap bingung. Dia memang tidak mengetahui tentang permasalahan rumah tangga Afifah dan Alex.
"Ih minggir, lepasin tangan lo" cebik Afifah berusaha menyingkirkan tangan suaminya dari pintu rumah miliknya.
"Nggak, gue nggak akan biarin lo nutup pintu ini" balas Alex sambil terus menahannya.
"Gue bilang lepas" ucap ulang Afifah.
"Nggak akan sebelum lo ikut gue pulang ke rumah" ucap Alex.
"Ogah, balik aja sana sendiri. Gue udah nggak sudi tinggal di rumah itu lagi apalagi sama lo" tolak tegas Afifah.
"Astaga, lo nggak boleh ngomong kayak gitu. Istigfar Fi istigfar, biar bagaimana pun gue ini suami lo jadi jangan pernah ngomong gitu sama gue" ucap Alex.
"Cih suami? suami macam apa yang lo bilang haa? apa maksut lo suami yang dengan gampang dan tega nya nuduh istrinya seorang jalang hmmm? katakan sama gue, suami seperti apa yang lo maksut?" tanya Afifah sambil menaikan kedua alisnya.
"Fi, gue.. gue.. "
"Apa? mau alasan apalagi lo? emang bener kan yang gue bilang haa? lagi pula lo ngapain sih kesini hmmm? ngapain lo datang ke rumah gue? bukankah kata lo udah nggak perduli sama gue lagi. Terus kenapa lo malah ngajak gue pulang haa? oh gue tau, pasti lo ngajak gue pulang karna lo masih belum merasa puas buat nyakitin gue kan, makanya lo datang kesini nyusul gue sebab kalo disini lo nggak bisa bebas berbuat sesukanya sama gue. Iya kan? ngaku aja lo, udah ketebak tau nggak dari sifat lo" sela Afifah memotong perkataan Alex.
"Tidak, bukan seperti itu. Gue sama sekali nggak ada niatan kayak gitu, pikiran lo terlalu jauh" bantah Alex menggelengkan kepala.
"Gue kesini karna gue bener bener pengen ngajak lo pulang. Gue khawatir banget sama lo, gue juga cemas. Asal lo tau ya! tadi itu setelah gue tau lo kabur, gue langsung nyari lo. Setiap tempat gue kunjungi hanya demi nyari keberadan lo. Bahkan gue juga sempat keiling kota, tapi masih juga belum menemukan lo. Apa lo nggak kasian sama gue? apa lo nggak merasa iba lihat gue muter muter kayak orang gila karna nyari keberadaan lo haa?" sambung Alex.
"Tapi nggak mau pulang. Terserah lo mau khawatir kek mau cemas kek gue nggak peduli. Intinya gue nggak mau ikut lo pulang" cebik Afifah tanpa ekspresi.
"Fi, gue mohon jangan kayak gini. Gue minta maaf Fi, gue minta maaf. Gue udah lihat semuanya, tadi anak buah lo nyamperin gue dan ngasih bukti cctv. Fi, Maafin gue yang udah salah paham sama lo. Maaf juga karna udah nggak percaya sama omongan lo, bahkan gue udah berbuat kasar sama lo" ucap Alex meminta maaf.
"Oh jadi rupanya lo udah tau kebenarannya. Pantas aja lo langsung nyariin gue dan ngajak gue pulang. Gue pikir lo kesini karna atas kesadaran lo sendiri akan tindakan lo yang udah nyakitin hati gue, ternyata karna lo merasa nggak enak sebab udah bersikap kasar dan salah paham. Huh! Kelihatan banget kalo maaf lo itu nggak tulus dari hati.
Gue yakin, pasti jika lo nggak tau kebenarannya mungkin sampai sekarang lo nggak akan nyari gue" ucap Afifah mencibir sambil melirik sinis.
__ADS_1
"Fi, gue minta maaf sama lo itu tulus dari hati gue, bukan seperti apa yang lo pikirin. Gue benar benar merasa menyesal karna udah bersikap kayak gitu sama lo" ucap Alex mencoba meraih tangan Afifah tapi segera. ditepis kasar.
"Ck, nggak usah pegang pegang tangan gue lo" seru kesal Afifah.
"Gue mohon jangan bersikap seperti ini Fi. Gue tau gue salah, gue tau gue itu suami brengs*k, gue juga tau kalo gue ini suami yang jahat.
Tapi tolong maafin gue. Kasih gue kesempatan, gue janji nggak akan ngulanginya lagi. Gue akan berusaha menjadi lebih baik lagi" pinta Alex dengan wajah memelas.
Afifah yang mendengar ucap memelas Alex merasa sedikit muak.
"Ah udahlah, gue pusing dengerin omongan lo. Mending lo balik aja deh, ganggu ketenangan orang tau nggak" seru Afifah dengan nada sedikit ketus.
Ia pun kemudian berbalik hendak masuk ke dalam rumah. Namun Alex yang melihat hal itu langsung segera mencekal dan menarik tangan Afifah.
"Ih, apa apaan sih lo! lepasin tangan gue" seru Afifah memberontak.
"Fi, maafin gue. Gue mohon tolong maafin gue" ujar Alex memohon.
"Ih gue bilang lepas. Nggak usah pegang pegang tangan gue!" seru Afifah lagi.
Tapi Alex tidak mau melepaskannya, dia terus memohon minta maaf pada istrinya. Sehingga membuat mereka berdua saling adu mulut.
Suara keributan dari mereka membuat Papa dan Mama Afifah yang kala itu sedang berada di ruang keluarga merasa sedikit kaget. Mereka berdua pun memutuskan untuk mengecek karna merasa penasaran.
Dan betapa kagetnya mereka saat melihat ternyata suara keributan itu berasal dari anak dan mantunya.
Mereka pun lantas menoleh ke samping dan mendapati Mama dan Papa nya berdiri tak jauh dari sana.
"Mama..." teriak Afifah sambil berlari menghampiri ke arah Mama nya dan langsung memeluknya erat.
"Mama, hiks.. hiks..." tangis Afifah di dalam pelukan Mama nya.
"Sayang, ada apa? kenapa kamu nangis?" tanya lembut mama Afifah sambil mengusap rambut anaknya.
"Ma, Alex ma Alex. Dia memaksaku untuk pulang, aku nggak mau Ma. Aku nggak mau ikut sama dia, aku ingin ada disini" jawab Afifah.
Mendengar hal itu, Papa Afifah lalu menoleh ke arah mantunya.
"Alex, kenapa ini? Afifah kenapa nangis? kamu apakan lagi dia? apa sudah tidak cukup kemarin kamu melukai hatinya hmm? kenapa kamu bikin dia nangis lagi?" ucap Papa Afifah seraya berjalan mendekat ke arah mantunya.
"Tidak Pa, aku nggak apa apain dia. Aku hanya ingin mengajaknya pulang" jawab Alex.
"Pulang? untuk apa kamu mengajaknya pulang. Bukankah katanya kamu sudah tidak peduli lagi dengan dia, lalu kenapa kamu sekarang malah mengajaknya pulang?" ucap Papa Afifah dengan dahi berkerut.
"Pa, aku minta maaf. Kemarin aku terlalu emosi jadi aku tidak berfikir sebelum berkata. Aku tidak sadar akan perkataan dan perbuatan ku Pa. Sekarang aku baru menyadarinya dan aku benar benar merasa menyesal. Aku juga merasa bersalah, aku ingin menebusnya Pa. Aku ingin memperbaiki semuanya" ucap Alex pada mertuanya.
__ADS_1
"Cukup ya Lex, Papa tidak mau mendengar ucapan mu lagi. Lebih baik kamu sekarang balik, dan jangan temui Afifah untuk sementara ini dulu" ucap Papa Afifah sambil sedikit mendorong tubuh Alex keluar rumah secara halus, tidak kasar sebab sejatinya sebenarnya ia juga tak tega mengusir mantunya dari rumah.
"Tapi Pa, aku.. "
"Papa bilang keluar!" ucap Papa Afifah lagi sambil memaksa Alex untuk keluar.
"Pa, aku mohon jangan seperti ini" pinta Alex, namun Papa Afifah tetap mendorongnya keluar.
"Inget, untuk sementara ini jangan datang kesini atau berusaha menemui Afifah lagi atau Papa akan bertindak tegas padamu" ucap Papa Afifah memperingati sebelum dia masuk ke dalam.
Brak
Papa Afifah menutup pintu itu sedikit kasar membuat Alex yang semula terdorong jauh kini berjalan ke arah pintu.
Tok tok tok
"Pa, tolong buka pintunya. Alex minta maaf Pa, jangan usir Alex. Biarkan Alex bertemu dengan Afifah" teriak Alex sambil mengetuk pintu.
"Pa, tolong bukain pintunya dan izinin Alex buat bertemu dengan Afifah. Alex ingin bicara sama dia, Alex mohon jangan larang Alex untuk bertemu dengan dia Pa" ucap Alex lagi.
"Pa, Alex minta maaf. Tolong buka pintunya"
Tok tok tok
"Papa buka pintunya" rengek Alex sambil terus mengetuk pintu namun tidak ada jawaban sama sekali.
¤•Φ•¤•Φ•¤
Sedangkan di dalam.
Papa Afifah yang mendengar suara teriakan Alex merasa sedikit kasian, ada perasaan tak tega saat memdengarnya. Ingin rasanya Papa Afifah membuka pintu dan mempersilahkan mantunya itu masuk.
Namun apa daya, Papa Afifah tidak bisa melakukan itu. Dia harus bersikap tegas pada mantunya.
*Maafin Papa Lex, Papa tidak bermaksud mengusirmu atau pun melarangmu untuk bertemu dengan Afifah. Tapi Papa hanya sedikit memberi mu pelajaran agar kamu dapat menyadari semua kesalahan mu.
Jika Papa tidak bersikap tegas padamu, Papa takut jika suatu hari nanti kamu akan mengulangi kesalahan sama. Papa tidak mau hal itu terjadi, maka dari itu untuk sementara ini Papa melarang kalian untuk bertemu. Papa harap kamu bisa mengerti dan segera sadar* batin Papa Afifah menatatap nanar pintu rumahnya dimana disana Alex masih terus mengetuk pintu dan memohon untuk di buka.
__________________________________
Jangan lupa tinggalkan jejak😍
Like komen vote gitu💙
Biar Authornya juga makin semangat untuk up bab selanjutnya♨️
__ADS_1
See you next episode😘
Bersambung....