
Pasca kejadian kecelakan itu Fian dinyatakan meninggal membuat Afifah langsung jatuh pingsan selama tiga hari. Dan setelah sadar Mama dan Papa Afifah langsung mengurus kepindahan mereka karna mereka memutuskan untuk tinggal diindonesia sesuai permintaan Fian sebelum meninggal yang mengatakan jika Afifah harus pindah dari belanda karna belanda sudah tak aman lagi untuk keselamatan Afifah.
Mama Papa Afifah pun menuruti saja keinginan putranya, mereka tak mau jika kejadian yang menimpa putranya terulang lagi. Mereka tidak mau kehilangan anak mereka lagi. Makanya mereka memutuskan segera mungkin pindah dari negara sana.
Setelah pindah diindonesia mental Afifah semakin hari semakin memburuk. Ia kerap berteriak tidak jelas bahkan menangis tanpa sebab membuat Mama Papa Afifah menjadi bingung.
Akhirnya mereka pun memanggil dokter psikolog untuk mengobati anaknya. Beruntung setelah kurang lebih setahun berobat perlahan mental Afifah kembali pulih.
Namun kini dirinya nampak berubah baik sifat maupun sikap.
Jika dulu Afifah feminim sekarang berubah menjadi tomboy.
Jika dulu dia pendiam sekarang cerewet
Jika dulu dia rajin sekarang suka bolos.
Jika dulu dia baik sekarang nakal
Jika dulu dia penurut sekarang dia bandel dan suka membantah.
Jika dulu dia anggun sekarang menjadi centil
Dan paling terlihat jika dulu dia sifatnya sangat kalem sekarang berubah menjadi barbar.
Intinya semua sifat dan sikap Afifah dulu dan sekarang sangat berbanding terbalik. Mama dan Papa pun tak mempersalahkan hal itu, mereka cukup senang melihat anaknya kembali normal.
Jadi jika Afifah berbuat nakal mereka hanya akan menegur tanpa memarahi. Mereka takut jika mereka terlalu kasar maka mental Afifah kembali down.
FLASHBACK OFF
👀 ------ 👀 ----- 👀
👄 👄 👄
.
"Jadi gitu ceritanya" ucap Afifah setelah menceritakan semuanya pada Alex.
"Berarti sampai sekarang nggak ada yang tau dong kalo bang Fian itu dibunuh?" tanya Alex.
__ADS_1
Afifah menggeleng.
"Sialan! kalo kayak gini, keenakan cowok bejat itu dong" desis Alex.
"Lo nggak ada niatan buat lapor polisi gitu? kalo lo nggak berani biar gue aja yang urus, gue paling nggak suka lihat penjahat bebas keluyuran. Enak banget hidupnya, setelah bunuh orang dia bisa ketawa ketiwi lah sedangkan elo nangis-nangis disini" lanjut Alex yang ikut emosi.
"Bukannya gue nggak berani lapor atau nggak ada niatan lapor. Tapi Wolf, masalahnya gue nggak ada bukti. Terus gimana gue mau lapor, kan nggak mungkin polisi langsung percaya gitu aja sama omongan gue. Yang ada gue malah diketawain dan disangka orang gila kalo gue lapor tapi nggak punya bukti" balas Afifah sambil mengelap pipi nya dengan tisu karna habis menangis.
"Bener juga apa kata lo. Kalo nggak ada bukti polisi mana mungkin percaya" ucap Alex.
"Nah kan. Makanya sampai sekarang gue cuman bisa diem, mau bergerak tapi gue nggak tau gimana caranya, masa iya gue balik lagi ke belanda" ucap Afifah cemberut.
"Lo tenang aja, masalah ini biar gue yang urus. Lo jangan khawatir" ucap Alex seraya mengusap lembut rambut Afifah.
"Beneran? terus gimana caranya lo ngurus kasus ini? kejadian ini udah lima tahun yang lalu loh, kalaupun kita nyelidikin akan sangat sulit" tanya Afifah.
"Udah gue bilang kan, lo jangan khawatir. Kasus ini biar gue yang urus" jawab Alex.
"Emang lo bisa?" tanya Afifah.
"Ya bisa lah. Gue gitu loh" jawab Alex berbangga diri.
"Lah, kok malah tidur sih. Woy, bangun.. Wolf bangun" ucap Afifah sambil menggoyangkan badan Alex.
"Apaan sih Pai, ganggu mulu lo" ucap Alex terganggu.
"Jangan tidur dulu. Gue laper nih, masakin makanan dulu" ucap Afifah.
"Eh kampret! gue kira lo nggak nafsu makan karna habis nangis, lah ternyata malah minta makan" ucap Alex dengan wajah heran.
"yaiyalah namanya juga orang, pasti juga punya rasa lapar. Lagian lo pikir tenaga gue nggak berkurang apa setelah tadi gue habis ngamuk-ngamuk" ucap Afifah.
"Yaudah kalo lapar ya makan tinggal makan, ngapain lo pake bangunin gue" ucap Alex.
"Yakan lo belum masak, gue nggak mau makan kalo bukan elo yang masak. Lidah gue udah terbiasa sama rasa masakan lo" ucap Afifah.
"Ogah. Masak aja sendiri" ucap ketus Alex sambil kembali merebahkan diri.
"Ihh.. Wolf, kok lo gitu sih. Dosa loh kalo ngelantarin istri yang lagi kelaparan" ucap Afifah.
__ADS_1
"Nyuruh suami seenaknya aja juga dosa" sungut Alex.
"Lo mah gitu... nggak kasian apa gue kelaperan begini. Nanti kalo gue mati gimana? jadi duda tau rasa lo" ucap Afifah.
Cetak
Alex menyentil mulut Afifah setelah mendengar ucapan ngawurnya membuat Afifah sedikit meringis.
"Mulutnya Pai. Ucapan itu doa, jadi kalo ngomong jangan asal ceplos" ucap Alex setelah menyentil.
"Makanya buruan masakin gue biar mulut gue nggak asal ceplos aja" balas Afifah.
"Huh! ganggu banget sih lo, mau tidur lagi aja susah bener" keluh Alex yang kembali bangun.
"Mau dimasakin apa? " tanya Alex seraya turun dari kasur.
"Mie spagety sama nugget" jawab Afifah.
"Itu aja? nggak mau nambah gitu? biar sekalian, gue nggak mau ya kalo nanti lo minta gue masakin makanan lain lagi" tanya Alex.
"Nggak, cukup itu aja" jawab Afifah.
"Yaudah lo tunggu disini aja, jangan tidur. Awas kalo gue balik lo tidur, gue lempar tuh makanan yang lo minta ke muka lo" ancam Alex sambil berjalan menuju pintu.
"Tenang aja, gue nggak akan tidur kok. Sadis bener ancamannya" cibir Afifah.
Tapi Alex hanya melirik sekilas dan kembali berjalan ke arah pintu.
*Resiko punya bini nggak bisa masak ya gini. Kalo laper main seenak jidatnya nyuruh orang buat masak. Untung gue sayang kalo enggak udah gue biarin mati kelaperan tuh bocah dari dulu* batin Alex sambil menutup pintu kamar dan menurutni tangga agar sampai di dapur.
__________________________________________
Jangan lupa Like Komen 🤗
Supaya Author juga makin semangat untuk Up bab selanjutnya 💙
jangan cuman baca doang, masa tinggal pencet tombol susah banget sih. wkwkkwk becanda😂
See You Next Episode
__ADS_1