
Pagi harinya Afifah terbangun dari tidurnya, pandangannya sedikit buram dan badannya terasa sangat pegal. Ia lalu duduk bersandar di kepala ranjang untuk sekedar merenggangkan otot tubuhnya.
"Hoamm.. capek banget badan gue" decak Afifah seraya mengusap wajahnya.
"Loh kok gue bisa ada di kamar? bentar bentar perasaan kemarin malam gue lagi duduk di meja makan deh buat nunggu Alex pulang lalu kenapa bisa ada di sini?" bingung Afifah saat sadar dimana dia sekarang.
"Apa Alex yang mindahin gue ya, kalo iya berarti semalem gue ketiduran dong. Ckk, gimana sih? padahal kan gue mau makan bareng sama Alex ngapain coba pake acara ketiduran dimeja makan. Pasti Alex semalam nggak jadi makan gegara gue tidur" ucap Afifah merutuki dirinya sendiri.
"Gue harus nyari dia, tapi ngomomg ngomong tu anak ada dimana? jangan jangan dia udah berangkat kerja. Kalo gitu gue susul aja deh sekalian bikinin dia sarapan. Gue yakin tu bocah belum makan" sambung Afifah.
Dia pun langsung buru-buru turun dari ranjang dan berjalan dengan langkah tergesa menuju pintu kamar. Tapi belum sempat Afifah keluar dari kamar tiba tiba saja pintu kamar terbuka bersamaan dengan munculnya Alex dari balik sana yang kebetulan kala itu akan masuk ke dalam.
"Loh Pai, udah bangun?" seru Alex begitu masuk ke kamar sambil membawa nampan di tangannya.
"Wolf, dari mana lo? gue pikir udah berangkat makanya ini gue mau turun buat ngecek mobil lo ada atau enggak" tanya balik Afifah tanpa menjawab pertanyaan suaminya.
"Hari ini gue masuk agak siangan" jawab Alex berjalan menuju sofa kamar dan diikuti Afifah dari belakang.
"Oh ya, nih gue udah buatin sarapan. Makan dulu gih habis itu baru mandi" tambah Alex setelah dia duduk di atas sofa.
"Ini lo beli atau masak sendiri?" tanya Afifah dengan alis terangkat satu.
"Masak sendiri, gue tau kalo lo lagi pengen makan masakan gue makanya gue sengaja bikinin" jawab Alex.
Afifah tersenyum kemudian dia ikut duduk di samping Alex dan menerima piring dari tangan suaminya.
"Hehehe pengetian banget sih lo, tau aja apa yang gue inginkan tanpa susah susah harus bilang. Jadi makin sayang gue, lope lope sedunia dah buat lo. Suami gue yang paling ganteng, paling the best, paling cuek, pokoknya paling segalanya" cengir Afifah menatap ke arah suaminya.
"Dih gombal, ada maunya baru muji" cibir Alex.
Afifah tertawa, "Btw thank ya udah masakin gue" sambung Afifah.
"Hmm... makan yang banyak jangan sedikit" balas Alex.
Afifah mengangguk mengiyakan sembari mulai makan.
"Gimana? enak nggak? itu tadi gue tambahin sedikit bumbu lagi jadi nggak kayak biasanya yang gue buat" tanya Alex.
"Enak kok, semuanya pas" jawab Afifah.
"Beneran?"
"Iya, ngapain gue bohong"
"Kalo gitu cocok nih kayaknya kalo makanan ini buat menu baru di resto. Menurut lo gimana?" tanya Alex menatap serius.
"Emm boleh boleh aja sih, ide bagus itu" jawab Afifah menyetujui.
__ADS_1
"Sekalian nanti resep masakan lo juga mau gue tambahin di menu resto, biar nggak itu itu mulu sajiannya" ucap Alex.
"Resep masakan gue? yang mana? gue nggak pernah masak, baru juga sepuluh kali gue masak sejak pertama kita nikah. Jangan ngadi ngadi lu, gue aja masih bingung bedain mana merica sama ketumbar eh ya kali gue punya resep sendiri" cebik Afifah.
"Yaelah pake merendah segala lagi" cibir Alex.
"Merendah gimana sih maksud lo? orang ini fakta"
"Fakta apaan? buktinya semalam lo bisa masak enak, gue aja kalah sama lo" ucap Alex membuat Afifah seketika menoleh.
"Hah semalem? jadi kemarin lo makan masakan gue?" tanya Afifah melebarkan matanya.
"Iya" jawab Alex memgangguk.
Afifah pun mendadak menghentikan makannya, ia lalu meletakkan piring itu ke atas meja.
"Loh kok di letakin? itu kan belom habis makanannya ngapain udahan. Makan lagi sana" perintah Alex memandang bingung ke arah istrinya.
"Wolf sorry ya" bukannya menurut Afifah malah mengucapkan permintaan maaf membuat Alex semakin bingung.
"Maaf untuk apa?"
"Buat semalem"
"Emang semalem lo ngapain gue kok minta maaf?" bingung Alex.
Plak
Seketika Afifah langsung memukul pelan lengan suaminya sebelum dia menyelesaikan ucapannya.
"Nggak usah aneh aneh, gue serius " ucap Afifah melototkan matanya.
"Iya iya, kasar banget sih" gerutu Alex mengerucutkan bibirnya.
"Ya elo sih bikin gue kesal, setiap gue ngomong selalu aja di ajak becanda gimana nggak emosi" balas Afifah melirik sinis.
"Gue itu minta maaf karena semalem gue udah ketiduran sebelum lo pulang padahal kemarin kan gue ajak lo makan bareng" jawab Afifah.
"Oh soal itu, harusnya disini gue yang minta maaf bukan elo karena gegara nunggu gue pulang lama lo sampai ketiduran" ucap Alex.
"Pai, maafin gue ya selama ini belum bisa jadi suami yang baik. Gue selalu meminta lo buat lakuin apa yang belum pernah lo coba sebelum kita nikah, gue juga selalu memaksa elo buat melakukan hal hal yang mungkin sebelumnya nggak pernah lo ketahui tanpa peduli bagaimana keadaan elo.
Gue tau kemarin waktu gue berangkat kerja lo beresin semua rumah kita dari lantai atas dan lantai bawah kan? Lo juga beresin kolam sama halaman sendirian dari pagi sampai siang sampai sampai kelaperan. Udah gitu malamnya bukannya istirahat lo malah asik sibuk di dapur mencoba bikinin gue makanan kan" ujar Alex.
"Lah kok lo tau semuanya? dari mana?" tanya Afifah sedikit terkejut.
"Dari rekaman cctv"
__ADS_1
"Hah cctv? cctv nya siapa? emang disini ada cctv?" tanya Afifah tidak mengerti.
"Ada, dulu gue sempat masang saat kita baru tiga hari nikah dan tinggal disini waktu lo keluar sama Iza dan Mila. Niat awal dulu gue pasang cctv di rumah karena gue dulu benci banget sama lo makanya gue mau melihat apa aja yang lo lakuin di rumah ini, ya itung itung gue bisa ngerjain lo habis habisan didalam rumah supaya lo nggak betah dan minta pisah. Itu kenapa gue nggak mau ada pembantu apalagi satpam disini karena gue pikir kalo ada mereka nanti gue nggak bisa bebas buat bertindak sesuatu sama lo bukan karena supaya kita lebih mandiri seperti apa yang gue ucapkan selama ini.
Tapi seiringnya waktu perlahan rasa benci gue mendadak jadi rasa suka. Dan sejak saat itu gue udah nggak mau lagi ngerjain elo apalagi bikin lo menderita. Gue selalu manjain elo, ngebiarin lo ngelakuin apa yang lo suka, bahkan gue juga berusaha untuk melakukan segalanya agar lo seneng termasuk nggak nuntut lo untuk jadi cewek sempurna. Semua pekerjaan rumah hampir setengahnya gue yang ngerjain dan selalu kasih lo uang tiap bulan karena gue nggak mau lo merasa tertekan hidup sama gue" jelas Alex jujur apa adanya.
"Itu berarti setiap apa yang gue lakukan di rumah lo tau?" tanya Afifah menatap seksama ke arah suaminya.
"Iya" jawab Alex mengangguk.
"Termasuk di halaman rumah paling belakang?" tanya Afifah kembali dan lagi lagi Alex mengangguk menyetujui.
"Pai, maafin gue ya. Pasti lo kemarin kecapean banget ya ngurus rumah kita" ucap Alex meminta maaf.
"It's okay, santai aja kali. Gue nggak papa kok, itu kan emang udah jadi tugas gue jadi ngapain lo minta maaf. Lagian kata lo dulu gue harus jadi orang bertanggung jawab dan nggak boleh malas" jawab Afifah.
"Iya sih, tapikan tetap aja. Dulu gue bicara begitu karena waktu itu kita masih bagi tugas jadi semuanya terasa lebih ringan sedangakan sekarang kan gue udah mulai kerja jadi nggak ada yang bantuin elo" ucap Alex.
"Tapi lo tenang aja, mulai hari ini gue akan sewa pembantu buat bersihin rumah kita jadi lo nggak perlu capek capek beres beres rumah" sambung Alex sambil tersenyum lebar.
"Apa pembantu?" ucap ulang Afifah.
"Iya pembantu, semalam gue udah minta di salah satu yayasan buat kirim tiga pembantu disini selama gue kerja dan katanya mereka bersedia so hari ini lo udah nggak perlu lagi buang tenaga untuk urus rumah.
Semua pekerjaan akan dilakukan sama tiga pembantu itu, tapi gue cuman jadwalin mereka dari pagi sampai sore jadi setelah waktu mereka habis mereka akan balik pulang soalnya gue nggak suka kalo ada yang tinggal disini selain kita berdua. Karena kayak nggak bisa bebas bergerak di rumah sendiri kalo ada orang asing" balas Alex membenarkan.
Afifah tersenyum manis.mendengarnya, hatinya merasa senang melihat suaminya mengkhawatirkan dirinya. Ternyata dibalik sifatnya yang terkesan bodo amat diam diam di dalam hatinya ada rasa perhatian.
"Makasih ya Wolf, lo emang suami paling the best" ucap tulus Afifah seraya memeluk tubuh suaminya secara tiba tiba membuat Alex sedikit kaget.
"Eh, i-iya sama sama. Gue lakuin itu semua karena gue sayang sama lo. Gue nggak mau lo merasa menderita ataupun tertekan hidup sama gue, gue nggak mau suatu saat lo ninggalin gue. Jujur gue takut banget kalo tiba tiba lo menghilang dari hidup gue" ucap Alex sembari membalas pelukan Afifah.
"Nggak akan, gue akan selalu ada di samping lo" jawab Afifah.
"Kalo gitu lanjut makan lagi sana, keburu nggak enak nanti makanannya kalo terlalu lama dibiarin" sambung Alex seraya perlahan melepaskan pelukan mereka.
"Iya" balas Afifah mengangguk lalu mengambil piringnya dan mulai memakan makannya kembali.
*Semoga aja Afifah benar benar nepatin ucapannya, gue benar benar takut jika dia akan pergi. Sejak kemarin entah kenapa hati gue jadi gelisah, pikiran ini tiba tiba aja masuk ke dalam perasaan gue seperti akan terjadi sesuatu* batin Alex menatap lembut Afifah yang sedang asik makan.
___________________________________
Jangan lupa tinggalkan jejak.
Like komen vote gitu💙
Biar author juga makin semangat untuk up bab selanjutnya
__ADS_1