WOLF PAI • Pasangan Barbar

WOLF PAI • Pasangan Barbar
Bab 275 : Sesuai dugaan


__ADS_3

"Nak lihat tante, tante ini adalah mama kamu sayang. Tante ibu kandung kamu" ucap lembut Ellie berjalan mendekat ke arah Justin.


"Ibu?"


"Iya sayang, tante ibu kandung kamu, mama kamu" ucap ulang Ellie.


Duar


Bagai disambar petir mendengar pernyataan mengejutkan itu lantas membuat Justin kaget setengah mati.


Bahkan matanya sampai membulat dan mulutnya sedikit terbuka saking kagetnya.


*Apa katanya? mama? dia bilang mama? jadi tante ini ibu kandung ku* batin Justin terkejut.


"Nggak... nggak.. nggak.. ini tidak benar, kau bukan mama ku. Aku tau ini pasti hanya becanda kan? bagaimana mungkin, kata Papa Mama ku ada di luar negeri bukan di Belanda" seru Justin menggelengkan kepala.


"Sayang, ini Mama. Memang selama ini Mama ada di luar negeri tapi sekarang Mama sudah kembali, Mama sangat merindukan mu jadi kemarilah nak. Peluk Mama" Jawab Ellie mencoba meyakinkan sambil masih merentangkan tangan.


Justin pun semakin di buat bingung. Ia pun kemudian menoleh menatap Papanya yang juga sedang menatap dirinya.


"Papa... " ucapnya meminta penjelasan.


"Jangan percaya, dia hanya cari muka di depan mu. Wanita ini hanya ingin memanfaatkan dirimu bukan merindukan mu" ucap Papa Justin.


"Tidak Justin, Mama benar benar merindukan mu. Jangan dengarkan Papa mu ini, dia itu bohong. Papa mu cuman tidak suka kita bersama sayang. Mama sama sekali tidak berniat memanfaatkanmu, Mama benar benar merindukan mu. Mama disini hanya untuk menemuimu" jawab Ellie mencoba meyakinkan.


"Jadi dia adalah Mama?" ucap Justin tak percaya.


"Iya sayang ini Mama, ibu kandung mu" jawab Ellie mengangguk menyetujui seraya tersenyum manis.


*Brengsek! jadi ini rupanya wanita yang selama ini sudah membuat hidup ku dan hidup Papa menderita. Dasar nggak tau diri, setelah lama menghilang dia datang lagi? dan parahnya dia datang datang untuk mencoba meyakinkan serta merayuku agar aku mau bersamanya dan merusak ketenangan hidup Papa lagi?.


Memang bodoh, sempat sempatnya aku kemarin tidur di rumahnya dan memakan masakannya, jika tau kalo dia wanita sialan ini aku nggak akan sudi tidur dan memakan makanan itu. Kalo perlu aku nggak mau bertemu dengan dia* batin geram Justin.


*Benar benar tidak tau malu, dia pikir dia siapa. Wanita hina, sangat menjijikan. Aku sangat membencimu, gara gara kamu dulu waktu kecil aku selalu di bully oleh teman ku sebelum aku bertemu dengan Vita. Terus sekarang setelah aku besar dengan seenaknya dia memintaku untuk menganggapnya ada?


Cuih manusia sampah, lihat aja gue bakal kasih dia pelajaran karena udah berani menginjakkan kakinya di rumah ku. Hahaha lihat aja, gue benar benar bakal kasih dia pelajaran. Enteng banget mulutnya datang datang bilang kalo dia mamaku* batin Justin menatap tajam.


*Eh tapi sebelum itu sepertinya boleh juga kalo aku jadikan wanita ini umpan agar Papa mau menyetujui permintaan ku. Sekarangkan aku dan dia sedang bertengkar, sangat tidak mungkin untuk Papa mau membantuku apalagi dia sangat menentang keras ide rencanaku. Mungkin dengan adanya wanita ini aku bisa mengunakan dia sebagai senjata agar Papa mau tak mau menyetujuinya.


Dia kan amat sangat membenci mantan istrinya, jika tau aku mau ikut dengannya pasti Papa akan sangat gelisah sehingga dia mau melakukan segalanya agar aku tetap tinggal bersamanya* lanjutnya dengan tawa riang.


"Hm baiklah jika memang benar kamu merindukanku dan tidak berniat memanfaatkanku, buktikan. Jangan cuman ngomong doang" ucap Justin menatap Ellie dengan tatapan sulit diartikan.


"Iya tentu, akan aku buktikan. Kamu mau apa dari Mama hm? mau mobil terbaru? motor mahal? rumah sendiri? uang? atau kamu mau jalan²? Mama akan penuhi" jawab Ellie memberi pilihan dengan senyum mengembang.


"Tidak semuanya" jawab Justin menggeleng.


"Lalu kamu mau apa?"


Justin tersenyum miring, sebelum menjawab sejenak Justin melirik sekilas ke arah Papa nya yang sedang cemas melihat interaksi antara anaknya dan mantan istrinya.


Ada rasa takut dan gelisah di dalam perasaanya ketika menatap putra kesayangannya meminta sesuatu pada ibunya. Papa Justin khawatir jika Justin akan luluh dan mau ikut dengan mantan istrinya mengingat sekarang dia dan anaknya sedang bertengkar.


"Aku mau kamu membantuku untuk melancarkan rencanaku agar aku bisa merebut kembali sahabat sekaligus pacar ku dari tangan laki laki lain" jawab Justin menyunggingkan senyum smirk.


Deg


Seketika Papa Justin langsung melototkan matanya kala mendengar permintaan gila dari anaknya.

__ADS_1


"Justin, apa yang kamu ucapkan! jangan gila nak, cabut permintaan mu. Papa tidak suka kamu seperti itu dan menjauhlah dari wanita itu. Dia hanya cari muka di depanmu" seru Papa Justin sedikit berteriak.


"Hussttt.. diam dulu Pa. Ini urusan ku bukan urusan Papa" jawab Justin seraya mengacungkan jari telunjuk di depan mulutnya.


"Papa tau tapi... "


"Mama akan bantu" ucapan Ellie barusan menghentikan perkataan Papa Justin.


Reflek dua pria itu lantas menoleh menatap wanita yang berada di samping mereka.


"Mama akan membantumu merebut gadis itu dari laki laki lain" ucap ulang Ellie.


"Seriously?" tanya Justin memastikan.


"Iya, Mama akan buktikan jika Mama tidak berniat memanfaatkanmu" jawabnya dengan wajah serius seakan menghipnotis mata Justin seolah olah suapaya cowok tersebut luluh dengan dirinya.


"Apa yang kamu bicarakan Ellie, kenapa kamu mengiyakannya" bentak Papa Justin dengan mata melotot dan rahang mengeras.


"Emang kenapa? aku hanya mau membuktikan saja, lagi pula merusak hubungan orang lain sangatlah mudah. Aku bisa mengatasinya, bahkan aku juga bisa membuat gadis itu bertekuk lutut di depan anak ku untuk mengemis cinta. Apa kamu lupa? sejak dulu kan aku sering melakukan hal seperti ini untuk membalaskan dendam ku pada orang lain dengan merusak dan mematahkan hatinya so untuk masalah ini tentu saja aku akan sangat mudah melakukanya" ucap Ellie bersedekap dada membuat Papa Justin semakin kesal.


"Baiklah kalo emang tante mengiyakannya besok sore tante datanglah kemari lagi, oh ya sekalian juga tante tolong tanda tangani kertas ini. Jika tante tidak menurut maka aku juga tidak akan mau ikut dengan mu" ucap Justin seraya memberikan sebuah kertas yang sebelumnya dia ambil dari dalam rumah.


"Iya akan aku tanda tangani" jawab Ellie lalu mulai menandatanginya tanpa membaca ulang membuat Justin menyunggingkan senyum miring.


*Lo akan hancur wanita nggak tau diri* batin senang Justin.


"Ini kertasnya, sudah Mama tandatangani sesuai permintaan mu" ucap Ellie sembari membalikan berkas tersebut.


"Okey, makasih. Sekarang tante bisa pergi"


"Baiklah, kalo gitu Mama pamit dulu. Besok Mama akan datang sore hari seperti yang kamu minta, see you sayang" pamit Ellie kemudian berbalik dan masuk ke dalam mobil lalu melajukannya menjauh dari sana.


"Hmm" balas Justin tanpa minat.


Brak


"Akhhht sakit Pa, kenapa Papa kasar padaku" seru Justin meringis sakit sambil memegang lengannya.


"Sakit kamu bilang? rasa sakit itu tidak sebanding dengan ras sakit Papa melihatmu bicara dengan wanita parasit itu. Bukankah kamu sudah tau, dia itu tidak menyayangimu. Sejak kecil Papa selalu bilangkan kalo jika suatu saat Mama mu datang kamu jangan mau diajaknya pergi lalu kenapa tadi kamu menerimanya hah!" bentak Papa Justin pada anaknya.


"Aku tau, tapi aku sedang membutuhkannya. Papa kemarinkan menolak permintaan ku jadi aku pikir nggak ada salahnya aku meminta bantuan dia" jawab Justin.


"Pa, aku sangat mencintai Vita. Aku menyayangi dia, aku tidak mau Pa berpisah dengan Vita. Sejak kecil dia sudah menjadi kehidupanku, semua kebahagiaan ku ada bersamanya. Jika Papa menolak untuk mengembalikan duniaku lalu aku harus bagaimana selain meminta bantuan darinya yang jelas jelas akan bersedia membantu, aku tidak mau kehilangan Vita untuk selamanya hanya demi menuruti ego Papa. Lebih baik aku ikut dengan Mama, memang mungkin dia tidak menyayangiku tapi setidaknya aku akan mendapat apa yang aku mau dari pada ikut Papa yang hanya membawa penderitaan karena harus kehilangan cintaku" balas Justin tak kalah kerasnya.


"Baik jika itu maumu Papa akan membantumu, tapi kamu harus menjauhi wanita parasit itu. Papa tidak mau kamu berhubungan dengannya" tegas Papa Justin seketika membuat Justin mendongak.


"Yang bener? Papa bersedia membantu? ini bukan akal akalan Papa doang kan? kalo ini cuman tipuan, lihat aja. Aku tidak akan pernah balik ke Belanda dan menemui Papa lagi"


"Tidak nak, ini beneran. Papa akan membantumu" jawab Papa Justin dengan suara sedikit tercekat, sebenarnya ia tak mau bicara hal ini.


Tapi apa daya, kalo dia bersikeras menolak maka dirinya akan kehilangan anak untuk selamanya.


Papa Justin sangat menyayangi putra semata wayangnya itu, bagi dia Justin adalah segalanya. Kebahagiaan Justin nomer satu di kehidupannya itu mengapa sejak bayi dia selalu menuruti apa saja yang menjadi keinginan anaknya, tak pernah sekalipun pria itu menolak atupun melarang keinginan putranya. Kemarin untuk pertama kalinya ia tidak mengiyakan permintaan anaknya.


Sejak dulu sebisa mungkin dia akan berusaha untuk memenuhinya, entah itu mustahil atau tidak dirinya akan terus berusaha. Itu mengapa Justin memiliki sikap keras kepala, egois dan arogan karena sejak kecil hidupnya tak pernah kesusahan. Apa yang dia inginkan selalu dia dapat dan hal itu membuat Justin selalu berfikir dan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang ia mau.


"Baiklah Pa, besok pagi kita akan terbang ke Indonesia. Aku akan segera memesankan tiket untuk kita berdua, jadi Papa tenang aja. Ketika wanita itu datang kita sudah tidak ada lagi di sini" ucap Justin sambil memegang kedua pundak Papanya.


"Kalo gitu aku masuk dulu ke kamar ya Pa, aku ingin mempersiapkan segalanya. Papa juga jangan lupa bersiap agar besok kita tidak terlambat. Byee Pa, aku menyayangimu" pamit Justin yang langsung berlari menuju kamarnya.

__ADS_1


*Ya tuhan maafkan aku, aku tau ini tidak benar tapi anakku lebih penting dari yang lain. Jika aku tidak menurutinya dia akan meninggalkanku, aku tidak mau hal itu terjadi* batin Papa Justin.


*Hahahaa akhirnya semuanya beres, sesuai rencana. Papa akhirnya menyetujuinya, sekarang tinggal dua langkah lagi gue akan bisa mendapatkan Vita kembali. Milik gue sejak kecil sebentar lagi akan jatuh di tangan gue lagi* batin Justin bersorak senang sambil berlari menuju kamar.


...➿ 🔅 ➿ 🔅 ➿ 🔅 ➿...


Sedangkan disisi lain


Malam harinya, suara derap langkah kaki yang sedang melangkah terdengar amat sangat keras di dalam rumah pribadi dua pasutri barbar tersebut.


Langkah kaki yang berasal dari seorang pria yang tengah mencari sosok istrinya, siapa lagi kalo bukan Alex. Cowok tampan yang mempunyai sikap cuek dan bodo amat dengan wanita lain selain istrinya.


Saat ini dirinya sedang cemas mengkhawatirkan Afifah, tak sesuai ekspetasinya ternyata dugaan dia yang mengira akan pulang cepat justru malah sebaliknya. Hari ini pria itu justru pulang larut malam, bayangannya yang menebak pulang sekitar jam lima atau empat sore kini malah bablas sampai jam sebelas malam.


Ya sebelas malam, makanya itu Alex sangat khawatir dengan Afifah. Karena sore tadi Afifah sempat menelpon dirinya lagi dan mengatakan jika dia mengajaknya makan malam bersama sebab hari ini Afifah tengah mencoba memasak makanan dengan resep baru dan ingin suaminya yang pertama kali merasakannya.


Ajakan Afifah sore tadi tentu saja sangat mengganggu pikirannya, selama di kantor tak henti hentinya Alex menatap ke arah jam berharap semuanya segera berakhir dan dia pulang tepat waktu.


Namun alih alih cepat selesai Alex malah tak konsentrasi dalam bekerja sehingga membuat dia beberapa kali membuat kesalahan dan harus mengulang semuanya dari awal dan menjadikan dirinya pulang larut malam.


*Ckk, semua ini gara gara gue. Ya ampun moga aja Afifah nggak marah dan dia mau memaafkan gue* batin Alex gelisah.


Dengan langkah terburu laki laki itu terus berjalan setapak demi setapak menelusuri area rumah. Setelah dia sampai di ruang keluarga yang letaknya berdekatan dengan dapur dan meja makan lantas ia segera menghentikan langkahnya.


"Pai sorry gue telat, tadi gue lembur dan nggak sempat kasih lo kabar kaerena baterai ponsel gue lowbet. Sekali lagi maafin gue, gue nggak berniat mempermainkan lo kok. Gue nggak tau aja kalo bakal dapat kerjaan lembur" ucap Alex setelah sampai disana tanpa melihat ke arah Afifah.


"Gimana? apa lo jadi masak resep baru, ah gue yakin pasti enak masakan lo. Gue percaya sama lo, sekarang mana gue mau coba, katanya lo mau gue kasih pendaa... loh tidur" seru Alex begitu menoleh ke meja makan dan melihat Afifah sedang tidur pulas disana sambil memegang sendok ditangannya dan di depannya banyak sekali makanan.


"Astaga kasian banget, sampai ketiduran disini. Dia pasti nunggu gue dari tadi, Agghht ini semua salah gue" ucap Alex merutuki dirinya sendiri.


"Sayang maafin gue, gara gara nunggu gue pulang lama lo harus sampai ketiduran dan belum makan malam. Pasti kamu capek banget ya habis masak sebanyak ini, dan juga gue denger lo tadi beresin rumah sebesar ini sendirian. Gue beneran minta maaf" cebik Alex membelai lembut rambut pirang istinya.


Ia pun kemudian perlahan mengangkat tubuh Afifah dan menggendongnya secara hati hati menuju kamar. Sesampainya di kamar dengan perlahan ia mulai meletakkan tubuh Afifah di atas ranjang.


Di pandangnya wajah Afifah dari dagu sampai ujung rambut. Ucapan maaf dan pujian tak henti hentinya terucap di bibir Alex saat dia membelai halus wajah isrtinya.


Wajah yang cantik, alis tebal, hidung mancung, rambut pirang, bibir seksi, dan manik mata indah biru laut terlihat begitu menawan di matanya.


"Sempurna" itulah kalimat yang cocok untuk mendeskripsikan istrinya.


Alex begitu sangat memuji apa yang ada di dalam diri istrinya, tak peduli sebanyak apapun kelemahan atau kelebihan yang dimiliki Afifah, Alex akan tetap mengagumi.


Baginya Afifah adalah gambaran sosok bidadari yang tuhan turunkan untuknya. Menjaga dan membahagiakannya adalah tugas utama dalam hidupnya, tidak akan Alex biarkan setetes pun air mata jatuh di kelopak indah mata cantik istrinya.


Ia akan berusaha untuk menghilangkan air mata itu dan menggantikannya dengan sejuta kasih sayang kebahagiaan. Rasa cinta yang dia miliki untuk Afifah begitu dalam, makanya itu dia tidak mau membuat Afifah sedih dan kecewa pada dirinya.


"Pai, gue sayang benget sama lo. Maafin gue ya, jangan tinggalin gue"


"Gue benar benar mecintai lo, sekarang dunia gue milik elo. Semesta gue hanya elo jadi jangan menjauhi gue, entah kenapa tiba tiba aja gue takut jika suatu saat lo bakal ninggalin gue. Perasaan ini kayak mendadak aja ada di hati gue" bisik Alex mencium lembut kening istrinya sebelum dia ikut tidur disampingnya sambil memeluknya.


Udah crazy up so jangan lupa buat kasih likenya😀


___________________________________


Jangan lupa tinggalkan jejak.


Like komen vote gitu💙


Biar author juga makin semangat untuk up bab selanjutnya

__ADS_1


See you next episode🤗


Bersambung...


__ADS_2