
Setelah panggilan telponnya berakhir, Mama Afifah beranjak dari duduknya lalu masuk ke dalam rumah dan menaiki tangga berjalan menuju kamar.
Di dalam kamar, Mama Afifah sedang bersiap-siap dengan mengambil tas dan dompet. Setelah itu ia keluar kamar menuju halaman.
"Mau kemana Ma? " tanya Papa Afifah yang sedang duduk diruang keluarga.
"Eh Papa. Ini Mama mau pergi ke supermarket " jawab Mama Afifah.
"Mau belanja apa? bukanya kemarin baru belanja? " tanya Papa Afifah.
"Mau beli camilan sama minuman dingin Pa, soalnya nanti Alex dan Afifah mau kesini kalo nggak ada makanan mereka mana betah dan juga katanya mereka sekalian mau nginep" jawab Mama Afifah.
"Nginep? tumben banget mereka nginep, kan biasanya mereka nggak mau nginep katanya takut ngrepotin kita" tanya Papa Afifah lagi.
"Iya Pa karna dapur mereka lagi direnovasi makanya mereka nginep" jawab Mama Afifah.
"Renovasi? kenapa direnovasi kan dapur mereka sudah bagus dan mewah gitu, mau dimodel apa lagi? " tanya Papa Afifah.
"Bukan ganti model Pa, tapi lagi dibenerin soalnya habis kebakar" jawab Mama Afifah.
"Hah kebakar!! kok bisa" ucap kaget Papa Afifah.
"Ya ini ulah anak gadis nakal kamu. Udahlah ya Pa, Mama mau pergi nanti keburu sore" pamit Mama Afifah lalu segera keluar rumah.
"Astaga.. ada aja ulah dua bocah nakal itu. Hari ini dapur yang kebakar, terus besoknya apa lagi yang dirusak, kalo mereka terus buat ulah bisa-bisa rumah mereka lama-lama akan hancur karna dibuat ribut terus" gumam Papa Afifah sambil menggelengkan kepalanya.
****
********
****
Disisi lain
Disebuah bangunan yang berukuran sedang yang dinamakan club malam, nampak seorang pemuda berambut pirang tengah terbaring disalah satu sofa disana. Dia adalah Justin.
Dengan penampilan yang sangat berantakan dan acak acakan Justin tertidur setelah semalam ia kebanyakan minum. Padahal jam sudah menunjukan pukul 13.30 wib tapi Justin sama sekali belum membuka matanya.
Tak lama setelah itu nampak Justin mulai membuka matanya dan mengerjap pelan seraya merubah posisi nya menjadi duduk sambil merenggangkan otot tubuhnya yang terasa pegal dan kaku.
"Kayaknya tadi malem gue kebanyakan minum deh. Pusing banget kepala gue" gumam Justin sambil memijit pelipis kepalanya.
"Jam berapa sih ini. Astaga.. jam setengah dua siang, pantesan aja sepi banget club nya" ucap Justin saat melihat ruangan club malam tersebut nampak sunyi dan hanya ada beberapa orang saja.
Justin pun memutuskan untuk pulang dan mengendarai mobilnya menuju apartemen miliknya.
Ia berjalan sedikit terseok seok karna kepala nya masih agak pusing. Kemudian dia naik ke dalam mobil dan mulai mejaukannya dengan kecepatan rendah karna kondisinya masih belum fit untuk berkendara.
Sepanjang perjalanan Justin hanya diam melamun, entah apa yang ia pikirkan sampai sampai dia tak sadar jika gedung apartemennya terlewat.
__ADS_1
Justin terus melajukan mobilnya dengan pikiran kosong dan tiba-tiba ketika dia melewati sebuah gang, ia hampir saja menabrak orang tapi untungnya Justin langsung menginjak rem.
Ckiitttt
Bunyi yang dihasilkan mobil Justin saat dia menginjaknya.
"Hah. Gue nabrak orang" ucap Justin sedikit panik.
"Aduh.. ibu itu terluka atau nggak ya" gumam Justin.
Ia pun segera turun dari mobil dan berjalan menghampiri ibu-ibu yang hampir dia tabrak tadi. Untung jalanan itu sedang sepi jadi tidak ada pengendara lain yang melintas.
"Tante nggak papa kan? Maafin saya ya, saya tadi sedikit melamun saat nyetir akhirnya nggak tau kalo ada tante yang mau nyebrang. Tante nggak papa kan atau apa ada yang luka? " Seberondong pertanyaan dan ucapan maaf Justin lontarkan pada wanita yang hampir ia tabrak tadi seraya membantunya berdiri dan mengajaknya duduk dikursi yang ada dipinggir trotoar.
"Maaf ya tante, belanjaan tante jadi berantakan" ucap Justin sambil memunguti beberapa barang yang berserakan dijalan.
"Udah tante nggak papa kok. Kamu lanjutin aja perjalanannya" ucap wanita itu.
"Nggak tante. Tante duduk disini dulu ya, biar saya belikan minuman. " ucap Justin lalu segera membeli minuman.
Tak berapa lama Justin kembali sambil membawa sebotol minum air mineral lalu ia berikan pada tante itu.
"Makasih ya, kamu baik banget. Padahal tante nggak papa loh, cuman hampir ketabrak doang jadi kamu nggak perlu khawatir gitu. " ucap wanita itu sambil meminum minuman yang diberikan Justin.
"Ya tapi tetap aja saya yang salah tante karna saya nyetir sambil melamun jadi tidak fokus depan akhirnya nabrak tante, sekali lagi saya minta maaf ya tante. " ucap Justin.
"Iya, santai aja. Jangan merasa nggak bersalah begitu" ujar Wanita itu tersenyum sambil memegang telapak tangan Justin.
Seketika Justin merasa ada hal yang aneh.
*Sentuhan ini, aku sangat merindukan sentuhan ini. Udah selama lima tahun aku tidak merasakan sentuhan hangat seperti ini* batin Justin sambil melihat ke arah tangan yang sedang digenggam wanita itu.
"Kamu kenapa? kok ngalamun sepeti itu, apa kamu sedang ada masalah?" tanya wanita itu.
"Nggak tante, aku sedang tidak ada masalah kok" jawab Justin terseyum.
"Jangan bohong. Kelihatan banget kok kalo kamu lagi ada masalah" ucap Tante itu.
"Emang terlihat jelas banget ya tan? " tanya Justin.
"Iya, terlihat jelas dari sorot mata kamu ditambah dengan penampilan kamu yang berantakan dan acak acakan semakin membuat kamu terlihat seperti sedang ada masalah. Atau jangan-jangan kamu lagi frustasi ya? " tanya tante itu memperhatikan Justin dari atas sampai bawah.
"Kalo boleh jujur sih emang iya tan, aku sedang frustasi karna ada masalah yang selama lima tahun ini selalu membayangi pikiran ku " jawab jujur Justin.
"Apapun masalah mu kamu harus tetap semangat jangan putus asa karna seorang lelaki itu diajarkan untuk bertanggung jawab bukan malah lari dari masalah" nasehat tante itu.
"Iya makasih tan atas semangat nya. Ngomong-ngomong nama tante siapa ya?" tanya Justin.
"Nama saya Reta" jawab wanita itu yang ternyata adalah Reta, Mamanya Afifah.
__ADS_1
Justin yang mendengarnya sedikit kaget.
"Reta. Tante Reta" seru Justin seraya menatap lekat wajah Mama Afifah.
"Iya, saya Reta. Kenapa ya? apa ada yang salah? " tanya Mama Afifah saat melihat raut terkejut Justin.
"Ini beneran tante Reta istrinya om Harry yang dulu tinggal di Amsterdam, Belanda kan? " tanya Justin memastikan.
"Iya benar, kok kamu bisa tau nama suami saya dan juga dulu saya pernah tinggal di Amsterdam, Belanda? " tanya Mama Afifah.
Seketika Justin langsung memeluk erat Mama Afifah sambil menangis dan sedikit mengeluarkan air matanya membuat Mama Afifah menjadi sedikit bingung.
"Heyy.. ada apa? kenapa kamu menangis? " tanya Mama Afifah heran melihat reaksi Justin.
"Tante, tante selama ini kemana aja. Aku kangen loh sama tente, udah lima tahun ini aku pergi bolak balik pindah negara hanya untuk mencari keberadaan keluarga tante tapi belum ketemu juga dan akhirnya hari ini aku bisa ketemu sama tante lagi. Pantesan aja tadi aku merasakan sentuhan hangat yang selama ini aku rindukan, ternyata memang beneran tante" ucap Justin sambil menangis dibahu Mama Afifah.
"Kamu siapa ya? apa kita saling kenal?" tanya Mama Afifah bingung.
"Tante, aku ini Justin tante Justin, tetangga tante waktu di Belanda. Masa tante lupa sih sama aku" jawab Justin sambil melepaskan pelukannya.
"Astaga... jadi kamu Justin. Ya ampun, Justin kamu ternyata sudah besar. Ganteng lagi, Maaf ya tante sempat nggak ngenalin kamu" ucap Mama Afifah sambil memeluk kembali tubuh Justin.
"Iya tan, nggak papa. Wajar aja kan kita udah lama nggak ketemu, tadi nya juga aku nggak ngenalin tante" ucap Justin tersenyum seraya membalas pelukan Mama Afifah.
"Kamu apa kabar sekarang? tante kangen banget loh sama kamu" ucap Mama Afifah melepaskan pelukannya.
"Kabarku sangat buruk tan sejak kalian pindah dari Belanda. Tante bisa lihat sendiri kan keadaan ku sekarang ini?" jawab Justin dengan ekspesi sendu yang menunjukan betapa tersiksanya dia selama ini.
"Kenapa buruk? apa Papa kamu meninggalkan kamu lagi atau Mama kamu balik lagi dan berselingkuh dibelakang Papa kamu kembali? " tanya Mama Afifah yang memang mengetahui tentang masalah keluarga Justin.
Sejak kecil Justin memang anak Broken home jadi tak heran jika Mama Afifah menganggap Justin seperti anaknya sendiri begitupun sebaliknya .
"Nggak tan. Papa sekarang sudah jauh lebih baik dan juga Mama udah nggak pernah gangguin kita lagi" jawab Justin.
"Terus kenapa kamu bilang buruk? ceritalah Justin, jangan kamu pendam sendiri" ucap Mama Afifah seraya mengelus-ngelus pundak Justin membuat Justin sedikit merasa tenang.
"Tan, Vita kemana? gimana keadaan dia? aku bener-bener kangen banget sama dia. Aku pengen ketemu dia. Jujur tan, selama lima tahun ini aku kepikiran terus sama Vita, aku sampe rela bolak balik pindah negara hanya untuk ketemu Vita tapi belum juga tercapai. Kasih tau aku tan, Vita ada dimana dan gimana kabarnya? " tanya Justin dengan sorot mata sendu sekaligus memohon.
*Aduh.. ini gimana cara jelasin dan ngomongnya sama Justin. Aku bingung ingin mulai dari mana bicaranya * batin Mama Afifah.
.
Jangan lupa Like Komen dan vote 🤗
Supaya Author juga makin semangat untuk Up bab selanjutnya 💙
jangan cuman baca doang, masa tinggal pencet tombol susah banget sih. wkwkkwk becanda😂
Aku up 2 hari sekali ya, soalnya lagi sibuk daring. Jadi harus bagi waktu dan sambil nunggu ini up kalian bisa membaca karya novel saya yang satunya.
__ADS_1
" ♥ MENIKAH KARNA DIJEBAK ♥ "
See you next episode😘