
"Bagaimana keadaan putri saya dok, apa dia baik-baik aja?" seru Reta dengan nada khawatir saat dokter selesai memeriksa putrinya didalam kamar.
"Sebelumnya saya minta maaf, saya mau tanya apakah putri ibu sudah menikah?" ucap dokter itu dengan nada hati-hati.
"Sudah dok" jawab Reta.
"Kalo boleh tau sudah berapa lama?" tanyanya lagi.
"Tuju bulan dok" bukan Reta yang menjawab tetapi Afifah yang kini sudah siuman.
Dokter pun mengangguk menanggapi.
"Selamat ya, dari hasil pemeriksaan tadi nona positif hamil dan usia kehamilannya baru menginjak lima minggu" ucap dokter itu sambil tersenyum.
Jedarr
Bagai disambar petir disiang bolong Reta dan Afifah sangat terkejut mendengarnya. Ucapan dokter barusan mampu membuat mereka membungkam mulutnya yang menganga.
"Apa dok, sa-saya hamil" pekik Afifah melebarkan matanya.
"Iya"
"Se-serius, coba periksa ulang lagi ini pasti salah. Saya nggak mungkin hamil" ucap Afifah yang masih tak percaya.
"Sudah nona, saya sudah memeriksa ulang tadi dan hasilnya memang positif. Tolong dijaga kondisinya ya sebab kehamilan diusia muda seperti ini sangat rentan keguguran. Saran saya banyak konsumsi buah dan sayur agar bayinya tumbuh sehat, dan ini ada resep dari saya nanti jangan lupa diminum supaya keadaannya lebih baik" ucap dokter itu sembari memberikan secarik kertas dimeja.
"Kalo begitu saya pamit pulang" lanjut dokter yang kemudian dia berjalan keluar bersama dengan seorang pembantu.
__ADS_1
Sepeninggal dokter itu tangis Afifah langsung pecah. Ia sangat terpukul dengan ucapan dokter barusan.
"Kenapa ma, kenapa aku harus hamil disaat rumah tanggaku sedang hancur hiks.. hiks.. Ya Tuhan kenapa hidupku jadi berantakan seperti ini. Aku salah apa, kenapa dunia memberiku hukuman semenyakitkan ini hiks.. hiks..." teriak Afifah frustasi sembari menjambak rambutnya.
"Kamu yang sabar sayang, jangan menyakiti dirimu sendiri. Mama yakin kamu bisa melewati semua ini" ucap Reta memeluk erat tubuh anaknya yang sedang memberontak.
"Kenapa dunia ini nggak adil, disaat aku terluka Tuhan malah semakin menambahnya. Hiks.. hiks.. aku harus gimana sekarang? aku nggak mau jika hadirnya bayi ini menjadi penghalang perceraianku dan Alex. Aku nggak sudi tinggal bersama dengan lelaki bejat kayak dia ma, aku ingin pisah samanya hiks.. hiks... mama" tangis Afifah semakin menjadi.
"Tenanglah Fi, yakin sama mama semuanya akan membaik. Jangan terlalu memikirkannya nanti depresi kamu bisa kambuh sayang, mama nggak mau hal itu terjadi apalagi kondisi kamu sedang hamil nanti janin kamu akan terpengaruh juga" ucap Reta berusaha menenangkan putrinya.
...☰ ☱ ☲ ☳...
Alex turun dari mobil hitam sport mewahnya, ia kemudian bergegas lari menuju teras rumah Afifah. Siang ini dia kembali datang ke rumah mertuanya untuk melihat apakah istrinya ada didalam atau tidak.
Dengan perasaan gugup cowok tampan itu mulai mengangkat tangannya namun saat hendak mengetuk tiba-tiba saja pundaknya dipegang oleh seseorang dari belakang membuatnya reflek menoleh.
"Ngapain kamu kesini?" tanya Harry dengan nada dingin menatap datar menantunya.
"Ah ini Pa aku kesini karena ingin melihat saja apakah Afifah ada didalam atau tidak soalnya sejak tadi pagi aku mencari dia kemana-mana tapi tetap tidak bertemu"
"Afifah nggak ada jadi mending kamu pulang" jawab jutek Harry.
"Tapi Pa,feeling aku mengatakan jika istriku ada disini. Pa, boleh nggak jika aku izin masuk kedalam, aku hanya ingin memastikan apakah Afifah beneran ada atau tidak"
"Kenapa, apa kamu tidak percaya denganku?"
"Tidak, bukan seperti itu. Hanya saja aku merasakan jika istriku beneran ada disini, Pa aku mohon izinkan aku bertemu dengan dia. Sekali aja, aku ingin bertemu dengannya" pinta Alex memohon.
__ADS_1
"Untuk apa? bukankah kamu sudah tidak peduli lagi dengan putriku lalu kenapa memohon untuk ketemu. Apa kamu mau menyakiti dia lagi hm?"
"Pa.. "
"Dengar ya Lex, meskipun pernikahan kalian karena campur tangan kita tetapi kamu tidak ada hak untuk menyakiti istrimu. Jangan karena perjodohan kamu bertindak seenaknya sama rumah tangga kalian, kamu kira putriku apa ha? dia juga punya perasaan, jika kamu sudah tidak menyukainya kamu bilang jangan malah melukai hatinya. Papa kecewa sama kamu Lex, papa kira menjodohkan kalian adalah keputusan baik tapi nyatanya malah sebaliknya"
"Pa, maafin aku. Aku tau aku salah tapi semua ini hanya kesalahpahaman, aku tidak pernah menyakiti Afifah. Aku mencintainya Pa bahkan sangat mencintainya jadi mana mungkin aku melukai hatinya"
"Omong kosong, sudahlah lebih baik kamu pulang dan jangan sekali kali kamu datang kesini lagi karena Papa tidak akan membiarkan kamu bertemu dengan Afifah, sudah cukup selama ini kamu melukainya. Papa nggak mau anak Papa menjadi tertekan karena kedatanganmu, urus saja itu selingkuhan kamu" ucap Harry lalu dia berjalan masuk kedalam rumah dan mengunci pintu itu tanpa peduli teriakan menantunya yang memohon untuk menemui putrinya.
"Agghtt, kenapa semuanya jadi seperti ini" teriak Alex kesal memukul kasar tembok rumah Afifah.
"Pai, gue mohon keluarlah. Gue mau jelasin semuanya, kamu hanya salah paham" teriak Alex lagi tetapi sama sekali tidak ada sahutan.
"Gue mohon keluarlah sayang, gue nggak mau cerai. Lo itu adalah duniaku, gue tidak bisa jika harus berpisah. Gue mohon dengerin penjelasan gue dulu, Pai..." gumam Alex dengan mata berkaca-kaca.
___________________________________
Jangan lupa tinggalkan jejak.
Like komen vote gitu💙
Biar author juga makin semangat untuk up bab selanjutnya
See you next episode🤗
Bersambung...
__ADS_1