
Alex dan Reza berjalan mondar-mandir di depan ruang operasi. Wajahnya nampak gelisah, sudah sejak lama dia berdiri di sana namun belum ada dokter yang keluar dari dalam pertanda jika operasinya belum selesai.
Hal itu semakin membuat Alex khawatir, berbagai macam ketakutan terus hinggap di kepalanya membuat pikirannya benar-benar kacau. Tak hanya dia saja namun semua orang yang ada di sana juga nampak khawatir, rasa takut, gelisah, dan cemas bercampur menjadi satu.
Hingga tak lama kemudian, terdengar suara tangisan bayi menggema didalam ruangan operasi bersamaan dengan matinya lampu operasi seketika membuat wajah yang semula nampak gusar dan cemas langsung berubah menjadi ceria.
Oekk
Ooeeekkk
Ooooeeeekkkk
"Pa, cucu kita pa" ucap Mama dengan mata berkaca-kaca.
"Iyah ma, baby twins kita udah lahir, mereka berdua sudah ada di dunia ini" jawab Papa yang juga ikut berkaca-kaca.
"Daddy , mommy nggak salah dengarkan? i-itu beneran suara bayikan?" ucap Mommy dengan wajah tak percaya.
"Iya mom, mommy nggak salah dengar. Itu memang suara bayi, suara cucuku kita" sahut Dsddy dengan senyum sumringah.
"Seriusan? ya Allah terimakasih engkau telah mengabulkan doa kami akhirnya operasinya berjalan dengan lancar dan baby twins kita lahir dengan selamat"
__ADS_1
"Iya mom, daddy juga sangat bersyukur"
"Dad, mommy udah nggak sabar untuk masuk. Mommy sangat ingin sekali menggendong cucu mommy"
"Sama, daddy juga nggak sabar tapi kita tunggu dokter keluar dulu" balas Daddy dan dijawab anggukan kepala oleh Mommy.
Sedangkan Alex dan Reza hanya diam, entah karena masih syok mendengar suara tangisan bayi yang tiba-tiba terdengar atau masih tidak percaya dengan kenyataan dua pria itu nampak tak bereaksi apa-apa.
Hingga suara pintu terbuka membuat lamunan mereka buyar, terlihat dokter baru saja keluar dari ruangan itu.
"Selamat operasinya berjalan dengan lancar dan bayi kembar anda lahir dengan selamat" ucap dokter itu sambil tersenyum.
"Apa ba-bayi? dokter ini beneran kan? a-anakku sudah lahir?" tanya Alex dengan nada terbata antara percaya dan tidak percaya.
"Dok apakah saya sudah boleh masuk? saya ingin melihat anak saya" pinta Alex tidak sabaran.
"Silahkan tuan" ucap dokter itu mempersilakan. Tanpa menunggu lama Alex segera masuk ke dalam diikuti beberapa orang di belakangnya.
Dari depan pintu Alex bisa melihat anaknya sedang dibersihkan oleh salah satu suster yang ada disana. Dengan langkah perlahan Alex berjalan menuju ke arah anaknya.
"Tuan, ini anak anda. Dia sangat tampan seperti anda, mereka lahir dengan keadaan sempurna dan memiliki wajah yang sama persis hanya saja warna rambut mereka beda. Bayi pertama yang berambut hitam dan bayi kedua berambut pirang tapi meski begitu keduanya sama-sama sehat, tidak ada kecacatan sedikit pun. Ini bayinya, tolong di adzani dulu" jelas suster sambil tersenyum seraya memberikan baby twins pada Alex.
__ADS_1
Dengan tangan bergetar Alex menerima gendongan kedua bayinya di tangannya. Senyuman Alex seketika langsung merekah menatap kedua bayi kembarnya yang kini berada di gendongannya.
Untuk pertama kalinya dia bisa melihat sekaligus bisa memegang anaknya, rasa gembira langsung menyelimuti hatinya. Sungguh ia tak menyangka bahwa kini dirinya sudah menjadi orang tua, keinginannya memiliki bayi kembar terkabul juga.
Namun meski begitu dirinya juga merasa sedikit menyesal, Alex merutuki semua yang terjadi dimasa lalu. Ia merasa sangat bersalah pada istrinya. Harusnya di kehamilan Afifah dia adalah orang pertama yang selalu ada tapi nyatanya dialah orang yang paling akhir mengetahui tentang kehamilan istrinya.
Sejenak Alex terdiam menatap dalam wajah mungil baby twins sebelum akhirnya Alex mulai melantunkan adzan di telinga mereka.
"Maafin papi sayang, papi memang orang tidak berguna. Selama kalian didalam kandungan papi lah orang terakhir yang mengetahui kehamilan mami, harusnya disaat itu papi selalu ada di samping kalian tapi nyatanya malah sebaliknya.
Maafin papi ya sayang maafin papi, papi sangatlah menyesal, andai saja papi tau mungkin sekarang ini nasib kalian tidak akan begini" bisik Alex di telinga kedua bayinya dengan mata berair, sungguh hatinya merasa tersayat setiap kali melihat wajah polos bayi mungilnya.
Dia merasa berdosa pada keluarganya sebab gagal menjadi suami sekaligus ayah yang baik untuk mereka.
___________________________________
Jangan lupa tinggalkan jejak.
Like komen vote gitu💙
Biar author juga makin semangat untuk up bab selanjutnya
__ADS_1
See you next episode🤗
Bersambung...