WOLF PAI • Pasangan Barbar

WOLF PAI • Pasangan Barbar
Bab 274 : Jalan bareng Reza


__ADS_3

Beberapa saat berlalu, setelah bersiap Afifah kemudian berjalan turun menuruni tangga. Setelah itu ia lalu pergi menuju garasi.


Seperti yang dia katakan tadi, siang ini rencananya Afifah akan menghabiskan waktu sendiri. Berada di rumah sebesar itu sendirian membuat dirinya kesepian sehingga ia pun memutuskan untuk keluar.


"Lah lah kenapa nih? kok motornya nggak mau nyala? waduh ada yang nggak beres nih" ucap bingung Afifah saat motor sport miliknya tidak bisa menyala.


Sudah beberapa kali ia coba namun hasilnya sama saja, mesin motornya tidak mau nyala. Ia pun turun dari motor lalu mengecek seluruh mesin motornya, dan setelah dicek ternyata bensin nya habis.


"Pantas aja kagak nyala, orang bensinnya habis. Sampai kaki gue patah juga tetap aja nggak nyala" gerutu Afifah.


"Gue makai motor Alex aja deh, kebetulan kuncinya juga ada disana jadi tinggal pakek" lanjutnya kemudian Afifah mulai menaiki motor sport tersebut.


Tapi saat dia naik Afifah merasakan ada yang aneh, ia lalu kembali turun dan mengecek keadaan motornya. Dan betapa kesalnya Afifah saat tau jika ban motor suaminya kempes, hal itu semakin membuat amarah dalam dirinya memuncak.


"Agghht sialan! kenapa harus kempes sih!! kalo begini gue gimana perginya" kesal Afifah menendang keras ban motor sport milik Alex.


"Mana laper banget lagi, nggak ada cara lain!! terpaksa deh gue harus jalan kaki" sambungnya lalu Afifah berjalan keluar menuju gerbang dan ia mengunci gerbang itu setelah ia keluar.


Sepanjang berjalan di pinggir jalan Afifah tak henti hentinya menggrutu kesal, beberapa kali gadis itu tampak memaki ke arah jalan raya sebab sedari tadi ia tak menemukan satupun taksi lewat di depannya.


"Agghhtt resek resek, dasar nyebelin. Apes banget gue hari ini, udah ditinggal kerja suami, beres beres rumah sendiri, motor nggak bisa di pake eh sekarang harus jalan kaki karena nggak ada taksi" cebik Afifah menggrutu di sepanjang jalan.


"Benar benar nguji kesabaran gue, mana laper lagi. Aaaa... perut gue perih banget, Wolf.. gue laper. Gue pengen makan, lo kemana sih? dari pagi kagak ngabarin gue. Mau di telpon ponselnya juga di nonaktifkan, kalo begini gue mau ngeluh sama siapa?" teriak Afifah menendang batu yang ada di depannya.


"Huhu perut gue lapet banget, sumpah baru kali ini gue kelaperan. Dari dulu kagak pernah sekalipun ngerasain perut sampai selaper ini, kalo gue lapar pasti Mama ataupun Alex langsung bawain makanan"


"Agghtt benar benar ngeselin, Wolf... gue laper, gue kangen sama lo. Kalo lo tau keadaan gue sekarang pasti lo akan langsung masakin gue banyak makanan yang enak enak. Tapi sayangnya lo nggak ada di samping gue, baru sehari ditinggal kerja udah kayak gini nasib gue. Terus gimana besok besok, gue yakin yang ada badan gue makin lama makin tinggal tulang aja kalo setiap hari nahan laper" gumam Afifah mengerucutkan bibirnya sambil memegang perutnya.


Tin tin tin


Suara klakson motor dari samping yang tiba tiba berbunyi membuat Afifah menghentikan langkah kakinya, ia lalu menoleh menatap siapa orang yang ada di sampingnya.


"Astaga Reza!!" pekik Afifah kegirangan saat tau jika yang berhenti adalah Reza, sahabat cowok Afifah satu satunya.


"Ya mpun gue kira siapa. Hampir aja mau gue maki maki lo karena klakson orang sembarangan eh setelah noleh nggak taunya elo" lanjut Afifah sembari berjalan mendekat.


Reza tersenyum manis, lalu melepas helm di kepalanya.


"Kenapa emang? gue makin ganteng ya makanya lo terpesona lihat muka gue dan nggak jadi maki gue hm?" tanya Reza menaik turunkan alisnya.


"Dih Pd banget, siapa juga yang terpesona sama lo. Ngarep, gantengan juga laki gue kali. Lebih cool dan berdamage dari pada lo" cibir Afifah, Reza tertawa.


"Seminggu nggak ketemu gue lihat lo makin cantik dan gemesin aja sih Fi tingkah lo"


"Apa! coba ulangi lagi? mau gue gampar mulut lo hah? gue udah punya suami, Alex denger dihajar habis sama dia, mau lo?"


"Eh jangan jangan, becanda kali Fi, nggak usah dibawa serius" ucap Reza. Afifah melirik sinis.


"Btw lo ngapain jalan di pinggir jalan? sendirian lagi, Alex kemana? tumben lo kagak sama dia. Biasanya kalian berdua selalu bareng bareng?" sambung Reza bertanya.


"Hari ini Alex udah mulai kerja di kantor Daddy, jadinya gue sendirian di rumah. Udah gitu gue lagi laper banget, dari tadi mau makan ada aja masalahnya. Mulai dari motor habis bensin lah bannya kempes lah, eh sekarang gue malah belum dapat taksi" jawab Afifah jujur apa adanya.


"Wah kebetulan dong, gue juga mau cari makan. Mau bareng nggak?" tawar Reza.


"Iyakah? yaudah ayo, kita makannya di resto biasanya ya. Udah perih banget perut gue dari tadi nahan laper" jawab Afifah yang langsung bergegas naik ke atas motor Reza.


"Oke tapi setelah makan lo temenin gue cari baju ya. Ada yang mau gue beli soalnya" ucap Reza.


Afifah mengangguk menyetujui. Reza pun mulai menyalakan mesin motornya dan melajukannya menuju arah restoran yang ingin mereka datangi.


Kurang lebih 10 menit perjalanan mereka berdua pun akhirnya sampai di restoran, tanpa menunggu lama Afifah dan Reza lantas masuk ke dalam.


Setelah sampai didalam mereka berdua langsung memesan makanan.


"Za" panggil Afifah setelah dia memesankan makanan pada pelayan resto.


"Hmm, kenapa?" sahut Reza.


"Habis ini lo mau lanjut kuliah kemana?" tanya Afifah.


"Nggak tau deh Fi, masih bingung" jawab Reza menggeleng.

__ADS_1


"Bingung apa? bukannya dulu lo bilang mau lanjut study di sini ya terus apa yang lo bingunin? nilai lo kan bagus pasti banyak univ yang mau nerima lo" tanya Afifah dengan Alis terangkat satu.


"Bukan itu yang gue bingunin"


"Lah kalo gitu apa dong?"


"Bokap gue minta gue buat lanjutin kuliah di London"


"What london?"


"Iya London, katanya disana bagus banget. Tapi gue maunya lanjutin disini aja biar nggak jauh jauh dari lo, dari dulu lo kan tau gue anaknya sulit berteman. Sifat gue juga dingin, kalo gue kesana gue mana punya temen" jawab Reza.


"Duh gimana ya.. kalo menurut gue sih lebih baik lo turutin aja mau bokap lo. Mungkin aja itu emang yang terbaik buat lo, kan setiap orang tua ingin yang terbaik buat anaknya so gue yakin bokap lo nyuruh gini pasti ada baiknya. Kalo untuk soal bergaul sih lo tinggal nyesuain aja. Dikit demi sedikit lo pasti bisa adaptasi kok, dan juga lo tenang aja. Meski jauh kita tetap bisa saling komunikasi, nanti kita bisa video call setiap hari atau telponan setiap hari jadi lo jangan takut tentang hubungan kita. Sampai kapanpun kita bakal terus sahabatan" ucap Afifah tersenyum tipis.


"Gue tau tapi gue maunya disini, lagi pula itu cuman rekomendasi dari bokap doang. Dia nggak maksa gue harus kuliah dimana so gue akan tetap milih disini. Meskipun kalo gue jadi ke London dan kita sering komunikasi tapi tetap aja, rasanya tidak seperti kita berjumpa langsung" ucap Reza.


"Kalo emang itu keputusan lo yaudah, terserah lo aja. Mau kemanapun lo pergi gue akan selalu dukung lo dan nggak akan lupain lo" ujar Afifah.


"Thank ya Fi, lo emang sahabat paling baik" ucap Reza tersenyum.


"Iya sama sama, lo juga sahabat gue yang paling baik" balas Afifah yang juga ikut tersenyum.


*Dert dert dert


Suara dering telpon dari ponsel milik Afifah tiba tiba berbunyi. Afifah lalu mengulurkan tangan dan mengambil ponsel dari dalam tas.


Tertena nama 'Serigala Hutan_🐺' di layar ponsel.


"Siapa Fi yang nelpon?" tanya Reza dengan alis terangkat.


"Alex, husst lo diam dulu ya. Jangan bersuara, gue mau angkat sebentar" jawab Afifah mengkode Reza dan di acungi jempol oleh cowok tampan tersebut.


Tanpa menunggu Afifah segera menggeser ikon hijau di layar ponsel.


📞 Afifah : "Iya Hallo Wolf" sapa Afifah kala sambungan itu terhubung.


📞 Alex : "Hallo Pai, lo ada dimana? sorry ya baru nelpon, gue tadi lupa nggak ngabarin lo karena gue lupa aktifin ponsel"


📞 Alex : "Iyanih sibuk banget, ini aja gue habis selesai meeting"


📞 Alex : "Oh ya ngomong ngomong sekarang lo ada dimana? apa lo udah makan siang hm? ini udah jam dua, biasanya gue selalu masakin elo tapi sekarang gue lagi sibuk"


📞 Alex : "Lo ada di rumah kan? gue kirimin makanan dari restoran kita aja gimana? jangan nungguin gue, gue masih belum bisa balik. Ya sayang? gue kirimin makanan ya, pasti sekarang lo belum makan kan?" tanya Alex dari seberang dengan nada khawatir.


📞 Afifah : "Eh nggak usah Wolf"


📞 Alex : "Loh kenapa? lo harus makan Pai, jangan sampai telat. Gue nggak mau lo sakit gegara gue nggak bisa bikinin lo makanan"


📞 Afifah : "Bukan seperti itu, masalahnya sekarang gue ada di luar sama Reza"


📞 Alex : "Sama Reza?" ucap ulang Alex dengan suara tertahan seperti menahan kesal dari seberang begitu mendengar istrinya makan bersama pria lain.


📞 Afifah : "Iya sama Reza, tapi lo jangan salah paham dulu. Kita nggak janjian kok, gue tadi sama dia nggak sengaja ketemu di jalan waktu gue nunggu taksi, kebetulan dia juga mau beli makan yaudah sekalian aja bareng"


📞 Alex : "Bohong, untuk apa lo nunggu taksi. Bilang aja kalo emang janjian yakan? tega banget sih lo Pai, gue disini sibuk berjuang cari uang buat menuhin kebutuhan rumah tangga kita eh elo di luar malah seneng seneng jalan sama cowok lain"


📞 Afifah : "Eh enggak Wolf, sumpah gue nggak janjian. Gue nunggu taksi karena tadi waktu mau keluar motor sport kita dua duanya nggak bisa di pakai makanya gue nyari taksi.


Eh waktu dijalan taunya nggak ada yang lewat lalu Reza datang yaudah gue terima aja tawarannya buat bareng. Lagian tadi perut gue udah laper, perih banget rasanya. Gue udah nggk bisa nahan buat nunggu taksi yang entah kapan lewatnya. Kalo lo nggak percaya lo bisa tanya sendiri sama Reza"


Afifah kemudian mengarahkan kamera ponsel ke depan wajah Reza. Dari sana Reza bisa melihat tatapan tajam menyeramkan terpancar dari manik mata Alex. Seketika ia pun menegak kasar ludahnya.


*Buset, tajem banget pandangannya. Jadi takut gue lihatnya, dari sekian banyaknya orang yang gue temui cuman Alex yang punya tatapan setajam ini dan bikin gue merinding. Pantas aja Afifah selalu memanggilnya dengan sebutan serigala taunya emang ganas* batin Reza.


"Heh buruan ngomong jangan malah bengong, nanti dia bisa semakin salah paham dan marah. Emang lo mau lihat gue diamuk sama dia?" bisik Afifah menyenggol pelan kaki sahabatnya yang ada di bawah meja.


"Enggak lah, yakali gue setega itu" jawab Reza menggeleng.


"Ya makanya buruan ngomong " bisik Afifah lagi.


Reza mengangguk lalu menghirup nafas panjang sebelum mulai bicara.

__ADS_1


📞 Reza : "Iya Lex, lo jangan salah paham dulu. Gue sama bini lo nggak janjian kok, kita pure murni bertemu di jalan. Lagian gue juga tau diri kali, gue kan udah pernah bilang. Gue tidak akan merebut Afifah dari lo, gue itu tulus cinta sama dia so gue akan dukung apapun yang bikin dia bahagia"


📞 Afifah : "Nah udah denger sendirikan, gue mana mungkin bohongin elo Wolf. Gue nggak berani selingkuhin elo, cinta gue hanya untuk lo seorang. Lo satu satunya orang yang udah berhasil dan bikin hidup gue seceria ini lagi" ucap Afifah.


📞 Alex : "Baiklah gue percaya, kalo gitu hati hati ya. Ingat jaga diri baik baik selama gue nggak ada, terus makan yang banyak biar makin sehat"


📞 Afifah : "Siap laksanakan"


📞 Alex : "Gue tutup telponnya dulu ya, masih ada kerjaan soalnya. Gue nelpon lo tadi cuman mau kasih kabar dan mastiin kalo lo udah makan, begitu dengar sekarang gue jadi lega kalo lo nggak telat jam makan"


📞 Afifah : "Iya, lo juga jaga diri baik baik. Kalo capek istirahat jangan terlalu maksain, kesehatan lo berharga bagi gue"


📞 Alex : "Pasti itu mah, gue akan berusaha untuk jaga kesehatan buat lo. Udah ya gue tutup dulu, ada Dddy nih lagi dateng"


📞 Afifah : "Iyah, bye Wolf"


📞 Alex : "Byee juga sayang"


Setelah telpon itu berakhir Afifah pun mematikan ponselnya, tak lama pesanan mereka datang. Afifah dan Reza pun langsung menikmatinya.


...🌷 🌷 🌷...


"Fi, menurut lo gue cocokan pakai baju mana? kuning atau coklat?" tanya Reza pada sahabatnya menjukkan dua kaos di tangannya.


Sekarang ini mereka berdua sedang berada di toko baju, seperti yang dikatakan Reza tadi setelah makan Afifah pun menemani dirinya berbelanja baju.


"Apa ya, coklat kayaknya cocok deh. Lebih kalem dan elegan aja gitu dilihatnya, kalo yang kuning terlalu cerah" jawab Afifah.


"Gitu ya? yaudah kalo gitu gue ambil yang coklat aja" ucap Reza.


"Sekarang tinggal cari celana, sebentar ya gue lihat dulu. Lo mau ikut atau disini aja?" sambung Reza bertanya.


"Em disini aja deh, capek kalo harus ikut keliling" jawab Afifah.


"Yasudah lo tunggu disini, gue cuman sebentar nggak akan lama"


"Ya, buruan keburu sore"


"Siap"


Sepeninggal Reza Afifah lalu melihat sekitar dan tanpa sengaja matanya melihat sebuah jas cantik berwarna abu terpajang rapi tak jauh darinya.


Dengan senyum mengembang gadis itu lantas berjalan mendekat.


"Wih bagus banget jasnya, jahitannya juga rapi. Udah gitu warnanya cantik lagi, cocok nih kayaknya untuk di pake di kulit Alex. Dia kan belum punya baju formal" decak kagum Afifah memegang jas tersebut.


"Apa gue beliin aja ya buat dia sekalian sama sepatu dan dasi kerjanya. Ya itung itung untuk hadiah kejutan di hari pertama dia yang sudah mulai kerja. Pasti dia seneng banget dengan pemberian gue" lanjut Afifah antusias.


"Kenapa Fi, apa lo juga mau belanja baju?" tanya Reza yang tiba tiba datang dari belakang.


"Aggtt sial ngagetin aja sih lo" seru kaget Afifah sambil memukul pelan dada Reza.


"Maaf, gue nggak sengaja" ucap Reza.


"Btw, jawab pertanyaan gue. Lo mau belanja juga?" tanya ulang Reza.


"Iya, gue mau beliin Alex jas, sepatu sama dasi dia untuk kerja. Kira kota warna ini cocok nggak dipakai sama Alex?"


"Cocok banget ini mah, lo emang paling best ya kalo soal milih warna dan model baju"


"Yee gombal, biasa aja kali" cibir Afifah. Reza tertawa.


Tak lama mereka berdua segera memberikan belanjaannya ke kasir untuk membayar. Setelah selesai keduanya lalu keluar toko dan naik ke atas motor untuk pulang.


*Hah.. semoga aja Alex suka, nggak sabar banget gue lihat reaksinya waktu gue kasih hadiah ini* batin senang Afifah.


__________________________________


Jangan lupa tinggalkan jejak.


Like komen vote gitu💙

__ADS_1


Biar author juga makin semangat untuk up bab selanjutnya


__ADS_2