WOLF PAI • Pasangan Barbar

WOLF PAI • Pasangan Barbar
Bab 200 : Bukan ciuman tapi sekedar bantuan


__ADS_3

*Di toilet


______________________________


Brak.. brak.. brak..


"Woy bukain pintunya, gue mau keluar. Astaga.. siapa pun disana tolongin gue" teriak Afifah yang kesekian kali.


Sudah hampir setengah jam Afifah didalam toilet dan setengah jam itu pula dirinya terus berteriak meminta tolong namun tidak ada satupun orang yang membantunya.


Letak toilet yang berada dilantai dasar tepat bersebelahan dengan gudang membuat tempat itu terkesan sepi, tidak banyak pengunjung mall yang menggunakan toilet tersebut. Itu sebabnya sejak tadi tidak ada orang yang menolong Afifah.


Brak.. brak..


"Siapa pun tolongin gue, bantu gue keluar dari sini. Gue ke kunci" teriak Afifah lagi.


Merasa tidak ada siapapun yang merespon menbuat Afifah sedikit putus asa. Dia lalu duduk berjongkok sambil menyenbunyikan kepala diantara lututnya untuk berdoa berharap akan ada seseorang yang menolong dirinya.


**


Sementara didepan pintu toilet, Anas ( salah satu anak buah Afifah dari genk Wild Girlboy, balap liar ) sedang berdiri disana. Entah itu suatu kebetulan saat ini dirinya juga sedang ada disatu mall dengan Afifah.


Awalnya Anas hanya berjalan melewati toilet sebab dia ingin pergi ke parkiran namun telinganya tak sengaja memdengar suara dobrakan pintu disetai suara minta tolong didalam toilet membuat Anas memutuskan untuk mengecek.


Tok tok tok


"Hallo? apa ada orang didalam?" ucap Anas sambil mengetuk pintu.


Tok tok tok


"Apa ada orang?" ucap Anas lagi untuk sekedar memastikan jika yang dia dengar tadi adalah memang sebuah teriakan dari seseorang atau hanya halusinasi belaka.


-_-_-


Afifah yang mendengar ketukan pintu dari dalam lantas langsung berdiri dari duduk jongkoknya dengan senyum lebar.


"Ada ada.... Siapa pun elo, tolong bantu gue bukain pintunya, gue kekunci" sahut Afifah dengan wajah ceria sebab ada orang yang akan menolongnya keluar dari toilet.


"Baiklah tunggu sebentar, gue bukain dulu" balas Anas dari luar.


Dia lalu memegang gagang pintu dan membuka kunci yang sudah menempel disana.


Ceklek


Pintu toilet sudah terbuka, tanpa menunggu lama Afifah segera keluar.


"Hah.. hah... akhirnya gue bisa keluar juga. Huh.. segarnya udaranya diluar. Sumpah didalam pengap banget, sampe nafas gue sesak" ucap lega Afifah mengelus dada sambil menunduk saat baru keluar tanpa menoleh ke arah Anas.


"Lo nggak papa?" tanya Anas yang juga belum sadar jika gadis yang ditolongnya adalah bos nya alias ketua genk balap motor liar yang diikutinya.


"Iya nggak papa, gue baik. Btw, thank ya. Lo udah nolongin gue" jawab Afifah dengan masih menunduk.


"Iya sama sama" jawab Anas.


*Bentar bentar, kok kayaknya gue nggak asing sama suara cewek ini. Dari model pakaian dan cara bicaranya kayak kenal* batin Anas mulai sadar dan curiga.


*Tunggu dulu, suara ni cowok kok kayak familiar ditelinga gue. Kayak pernah dengar tapi siapa ya* batin Afifah juga mulai curiga.


Perlahan mereka berdua mulai menengok untuk melihat satu sama lain. Dan seketika mereka langsung spontan teriak saat tau siapa yang ada. didepannya.


"Anas"

__ADS_1


"Abel" Pekik kaget mereka berdua.


"Loh Nas, lo ngapain disini?" tanya Afifah pada Anas dengan raut wajah sedikit kaget.


"Lo juga ngapain ditoilet ini? terus kenapa lo bisa ke kunci?" tanya balik Anas. Dia memang mengenali wajah Afifah meskipun Afifah sering menutup wajahnya saat balap liar.


"Gue nggak tau, tapi kayaknya ada orang yang sengaja ngunciin gue deh. Soalnya pintunya dikuci dari luar bukan dari dalam" jawab Afifah.


"Tapi lo nggak papa kan? lo nggak ada yang luka kan?" tanya Anas khawatir sambil memegang kedua bahu Afifah.


"Iya gue nggak papa. Cuman rada sesak aja dada gue" jawab Afifah.


Anas hanya mengangguk


"Lalu ini leher lo kenapa merah²?" tanya Anas lagi sambil menunjuk ke arah leher Afifah.


Reflek Afifah langsung meraba lehernya.


"Mungkin tadi kena gigitan nyamuk, biasalah ditempat seperti ini kan memang banyak nyamuk" jawab Afifah.


"Mau gue obatin Bel, kebetulan gue bawa minyak dijaket gue. Biar merah merah lo cepet pudar dan nggak gatal" tawar Anas sambil merogoh saku jaket untuk mengambil minyak.


"Eh eh lo mau ngapain? gue bisa sendiri" ucap Afifah saat Anas hendak memberikan minyak itu dileher Afifah.


"Udah biar gue aja Bel, mata lo nggak bisa lihat yang mana yang merah, nanti bisa bisa bukan leher yang lo oles tapi rambut lo yang lo olesin" sahut Anas lalu kembali mengulurkan tangan dan mulai mengoleskan minyak tersebut dileher bosnya.


"Yaudah iya, tapi awas aja lo macem macem. Gue bantai lo disini" ancam Afifah memperingatkan.


"Iya, tenang aja Bel, gue nggak akan macem macem sama lo. Ya kali gue mau nglawan bos gue, yang ada sebelum gue ngapa ngapain lo, lo udah hajar gue sampe babak belur duluan dan ngeluarin gue dari genk Wild Girlboy" balas Anas. Afifah hanya diam.


"Btw Bel, lo disini sama siapa? tumben banget lo sore sore gini ke mall? Apa lo sedang sama Zizi (iza) dan Melly (Mila) ya?" tanya Anas sambil masih mengoleskan minyak.


"Nggak, Zizi sama Melly nggak ikut. Gue kesini sama cowok gue" jawab singkat Afifah.


"Ya itu dulu sekarang gue udah punya. Pacar gue ketua genk Racing Boy, musuh kita" jawab Afifah.


"What, pacar lo ketua genk Racing Boy? astaga Bel.. lo ngapain pacaran sama dia, ingat bel dia Itu musuh kita masa' lo pacarin sih" gerutu Anas sedikit tidak terima.


"Ya terus kenapa? orang dia baik, banyak duwit, humoris, udah gitu ganteng lagi. Ya kali gue tolak. Lagi pula genk kita sama genk dia udah damai, malahan jadi satu. Jadi masalahnya apa? toh bukannya malah enak karna anggota genk kita jadi banyak" jawab Afifah.


"Iya deh iya, terserah lo. Debat sama lo itu emang nggak bisa menang ya, kalah omongan mulu gue. Nasib punya bos matre dan mandang fisik ya gini. Lihat yang bening dan tajir dikit aja udah oleng, lupa segalanya sampe musuh dipacarin. Kayak nggak ada cowok lain, padahal gue juga ganteng kali" cebik Anas mengcibir sambil masih mengoleskan minyak namun tak ditanggapi oleh Afifah.


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sedang melihat ke arah mereka dengan tatapan menusuk. Tatapan yang amat sangat tajam yang bagi siapa pun yang melihat akan langsung mati kutu bahkan membuat nyawa ditubuhya terasa hilang seketika saking tajamny.


Raut wajahnya yang nampak garang menahan amarah dan tangan yang mengepal kuat disertai nafas yang memburu membuat orang itu benar benar sangat menakutkan. Dan dia adalah Alex.


Saat ini dia dan Nela sedang berdiri didepan toilet, awalnya Alex hendak masuk namun langkahnya terhenti kala matanya tak sengaja melihat pemandangan yang amat dia benci dimana orang yang sedari tadi dikhawatirkan ternyata sedang asik berduaan dengan cowok lain.


Apalagi posisi mereka sangat berdekatan bahkan jika dilihat tidak ada jarak sekalipun. Posisi Anas yang membelakangi Alex membuat seolah olah jika dirinya tengah mencium Afifah, apalagi ditambah tangan Afifah yang memegang kedua pundak Anas membuat Alex semakin salah paham.


Nela yang melihat wajah marah Alex dan posisi Afifah seketika terlintas ide licik.


"Omg.. apa apaan itu, ya ampun yang sabar ya Lex. Lo harus kuat, jangan marah dulu, mungkin ini cara tuhan buat lihatin sama lo kelakuan asli Afifah selama ini"


"Sumpah, gue nggak nyangka banget dia bisa main gila dibelakang lo. Lihat aja tuh, padahal elo lagi pusing karna cemasin dia eh yang dicemasin malah asik asikan ciuman ditoilet sama cowok lain. Astaga.. bener bener ya si Afifah itu, dasar cewek murahan. Lo yang sabar aja ya" ucap Nela yang sengaja mengompor ngompori Alex berharap setelah ini Alex akan menghampiri Afifah dan bertengkar sehingga ada peluang dirinya untuk mendekati Alex.


Dan ya, seperti dugaannya. Setelah memdengar ucapan kompor Nela, Alex lantas langsung berjalan masuk dengan langkah terburu.


"Dasar bajingan!! pebinor nggak tau diri"


Bugh

__ADS_1


Umpat Alex seraya melayangkan bogeman mentah dipipi Anas, spontan membuat Afifah melepaskan tangan dipundak Anas.


"Wo-Wolf" ucap terbata Afifah dengan ekspresi terkejut bukan main. Sama halnya dengan Anas yang juga ikut terkejut.


Kini mereka berdua berdiri bersampingan menatap Alex dengan tatapan takut bercampur kaget.


"Oh jadi ini yang lo lakuin, pantas aja gue tungguin direstoran nggak balik balik. Ternyata lagi asik berduaan sama selingkuhannya, Ck, jadi ini alasannya nggak mau bawa ponsel, takut keganggu sama gue ya?" bentak Alex setelah dia sampai didepan Anas dan Afifah.


"Wolf, jangan salah paham dulu. Kita berdua nggak ngapa ngapain. Lo jangan mikir aneh aneh, Anas tadi nolongin gue karna pintu toilet gue ada yang ngunciin dari luar" ucap Afifah dengan raut wajah pucat mencoba menjelaskan.


"Iya bro, lo jangan salah paham. Gue ini Anas, anak buah Abel digenk Wild Girlboy. Tadi Abel kekunci didalam jadi gue bantuin, lo jangan mikir sembarangan. Gue sama Abel nggak ada hubungan apa apa atau ngelakuin apapun" sahut Anas yang juga ikut turut menjelaskan sambil memegang pipinya yang terasa ngilu saking kerasnya tonjokan Alex.


"Terus gue percaya gitu sama omongan lo? Heh! gue tadi lihat dengan mata kepala gue ya, lo berdua tadi ciuman. Gue nggak buta jadi jangan coba coba bohongin gue dengan alasan nggak masuk akal itu" teriak Alex tak percaya.


"Wolf, sumpah demi apa. Gue sama Anas nggak ciuman, lo itu salah paham. Anas tadi sedang ngolesin minyak dileher gue makanya kita deketan" ucap Afifah mencoba membela diri.


Namun Alex hanya diam dengan raut wajah yang masih merah menahan amarah.


"Nah iya bener tu. Leher Abel itu merah merah karna terkena nyamuk makanya tadi gue olesin minyak sebab nggak mungkin Abel ngasih sediri secara mata dia kan nggak bisa lihat ke arah leher. Lo jangan salah paham sama Abel, kita berdua nggak ngapa ngapain" timpal Anas mencoba meluruskan agar Alex tak salah paham pada bosnya.


Namun alih alih meluruskan justru ucapannya malah semakin membuat Alex naik pitam.


"Diem lo bangs*t! nggak usah ikut ngomong. Dasar cowok murahan, setan, pebinor nggak tau diri. Rasain nih balasan gue, beraninya lo godain cewek gue" teriak Alex sambil mengangkat tangan dan--


Bugh


Bugh


"Akhhtt"


Bugh


Bugh


"Astaga wolf, apa yang lo lakuin. Kasian Anas, berhenti wolf. Jangan pukul dia" teriak heboh Afifah yang langsung menarik lengan Alex agar menjauh dari Anas.


"Kenapa gue nggak boleh mukul? takut selingkuhan lo mati haa?" bentak Alex menghempaskan tangan Afifah.


"Bu-bukan gitu wolf" jawab Afifah gugup, dia bingung ingin mengatakan apa sebab sedari tadi jantungnya tak bisa berhenti berdetak kencang.


Afifah ketakutan dengan raut wajah Alex yang menurutnya sangat galak itu sebabnya mulutnya seakan mendadak bisu membuat dirinya hanya bisa terdiam kaku.


"Pulang sekarang" ucap dingin Alex.


"Nggak mau, gue nggak mau pulang sebelum lo dengerin penjelasan gue" tolak Afifah.


"Pulang atau kesabaran gue habis disini" ucap dingin Alex lagi.


Seketika Afifah langsung mengagguk cepat. Alex pun segera menarik kasar tangan Afifah keluar dari toilet meninggalkan Anas sendirian didalam dengan wajah babak belur.


Dari kejauhan Nela nampak menyunggingkan senyum licik dikedua sudut bibirnya.


"Sukurin, emang enak. Setelah ini hubungan lo bakal hancur dan Alex akan benci lalu ninggalin lo" gumam Nela dengan wajah bahagia melihat Alex menyeret kasar tangan Afifah.


___________________________________


Jangan lupa tinggalkan jejak🐾


Like komen gitu,


Ini lebih dari 1500 kata dan hampir 2000 kata, so jangan pelit pelit buat ninggalin jejaknya😊.

__ADS_1


SEE YOU NEXT EPISODE...


BERSAMBUNG...


__ADS_2