
Beberapa menit kemudian Justin akhirnya sampai di depan pintu ruangan milik Papanya.
Ia tak langsung masuk melainkan berdiri sebentar di depan sana, entah kenapa tiba tiba saja jantungnya berdetak kencang, dadanya merasa berdebar-debar dan perasaan gugup menyelimuti hatinya.
*Brengsek! kenapa badan gue jadi begini sih. Ya ampun gue beneran takut* batin Justin memegangi dadanya.
*Oke gue harus tenang, gue nggak boleh kelihatan gelisah di depan Papa sebisa mungkin gue harus terlihat santai. Huh.. tarik nafas buang.. tarik nafas buang... ayo Justin lo pasti bisa* batinnya lagi mencoba meyakinkan dirinya.
Sedangkan di dalam ruangan.
Terlihat Papa Justin sedang berjalan masuk ke dalam, ia baru saja kembali dari rapat tadi.
"Justin apa kamu di dalam?" teriak Papa Justin ketika baru saja meletakkan beberapa lembar berkas ke dalam laci.
"Justin, apa kamu masih di sini?"
"Justin"
"Nak, kamu masih di kantor Papa kan?" teriak Papa Justin lagi namun tak ada sahutan.
"Ckk, kemana anak itu. Disuruh nunggu sebentar malah ngilang, apa dia lagi tidur di dalam kamar ya? tapi nggak mungkin juga. Dia kan paling nggak bisa tidur di sembarang tempat apalagi di kantor" decak bingung Papa Justin.
"Koper sama tasnya juga masih ada disini itu artinya dia belum pergi"
"Aku coba cek ke dalam kamar aja deh, siapa tau dia ada di dalam" ucap Papa Justin sembari berjalan menuju kamar pribadi yang ada di dalam ruangan miliknya.
Namun belum sempat dia membuka pintu itu tiba-tiba saja pintu ruangannya terbuka. Seketika Papa Justin pun lantas menoleh dan mendapati putra kesayangannya muncul dari balik pintu.
"Ya ampun kamu habis dari mana sih, kan tadi Papa sudah bilang. Tunggu Papa di ruangan, kenapa kamu malah keluyuran?" seru Papa Justin yang langsung berjalan menghampiri anaknya
"Keliling kantor sebentar, aku bosan disini sendirian" jawab Justin.
"Lain kali sebelum pergi bilang dulu sama Papa, jangan main asal keluar. Papa jadi bingung nyari kamu"
"Iya, aku minta maaf. Lagian Papa tadikan rapat, biasanya kalo rapat otomatis ponselmya kan Papa selalu matikan daya jadi percuma saja aku bilang toh Papa juga nggak bakal bisa lihat kan" balas Justin sambil mendudukan dirinya di sofa.
"Nggak usah ngejawab, udah salah juga. Meskipun ponsel Papa matikan daya tapi kamu harus tetap kasih kabar biar sewaktu waktu Papa nyalakan ponsel Papa bisa tau kamu di mana" ucap Papa Justin seraya ikut mendudukan diri di samping putranya.
"Iya iya" jawab Justin.
Suasana kembali hening, tidak ada pembicaran apapun di antara mereka.
Hanya hembusan nafas yang bisa dua orang itu dengar sampai tak lama Justin membuka suara setelah mengumpulkan keberanian.
"Em ehem Pa. aku mau ngomong sebentar" ucap Justin membuka obrolan.
__ADS_1
"Mau ngomong apa?" sahut Papa Justin sejenak menghentikan kegiatannya yang sedang menandatangi dokumen.
"Anu itu..." ucap Justin sedikit ragu.
"Apa? kalo nggak penting lebih baik diam, Papa lagi sibuk"
"Eh penting kok Pa penting"
"Yaudah buruan bilang, kamu mau bicara apa?" tanya Papa Justin.
Justin melirik sekilas sebelum dirinya kemudian mulai bicara dengan Papanya.
"Apa katamu! kamu mau memisahkan Vita dengan suaminya? Heh Justin, kamu sudah gila hah! apa apaan itu. Nggak.. nggak.. nggak... Papa nggak setuju" tolak mentah Papa Justin setelah Justin bicara dengan dirinya.
"Tapi Pa, aku mencintai Vita. Aku sayang sama dia, Papa tau sendirikan dia itu sahabat kecilku. Dia adalah orang spesial yang ada di hidupku, jadi kumohon tolong bantu aku" pinta Justin memohon.
"Justin dengerin Papa, meskipun kamu mencintai Vita tapi bukan berarti kamu berhak merusak hidupnya. Papa tidak pernah mengajarimu untuk menjadi orang jahat bukan lalu kenapa kamu mau merusak rumah tangga orang lain
Justin perlu kamu tau satu hal, meskipun dulu kamu dan dia sangat dekat namun jalan hidup kalian sekarang beda. Vita sudah menikah jadi kamu jangan coba-coba untuk mengganggunya" ucap Papa Justin sedikit keras.
"Aku tidak mengganggu Pa, aku hanya ingin merebut apa yang seharusnya jadi milik aku. Dari kecil dia sudah bersama diriku, kita berdua selalu bersama sama. Asal Papa tau ya, Vita itu adalah segalanya bagi aku, berkat dia aku bisa merasakan bagaimana rasanya memiliki teman dan berkat dia juga aku bisa merasakan bagaimana rasanya memiliki sosok Mama" balas Justin tak kalah kerasnya.
"Pa, sejak aku kecil mama sudah meninggalkan kita berdua, aku tidak pernah tau apa itu kasih sayang seorang ibu.Tapi berkat Vita dan kekuarganya aku jadi mengerti apa itu sosok ibu. Karena mereka aku juga bisa merasakan hangatnya sebuah keluarga.
Dulu waktu aku kecil Papa sangat sibuk kan, tidak pernah ada sedikitpun waktu untuk ku. Obsesi Papa untuk menjadi orang sukses dan kaya supaya Mama menyesal karena sudah meninggalkan kita membuat Papa selalu bekerja keras untuk meraih mimpi itu sehingga membuat aku merasa kesepian. Kemana pun aku pergi Papa tidak pernah mau menemaniku, aku seperti hidup sendirian. Untung saja aku bertemu dengan Vita yang mampu merubah hidupku jadi berwarna lagi. jadi aku mohon bantu aku pa. Bantu merebut kembali semuanya" pinta Justin kembali.
"Papa emang egois" teriak Justin yang kemudian langsung berbalik dan berjalan pergi dari sana.
"Justin mau kemana?" teriak Papa Justin.
"Bukan urusan papa" balas jutek Justin.
Brak
Justin langsung membantimg keras pintu ruangan itu membuat Papa Justin hanya bisa mengelus dada melihat kelakuan anaknya.
...◐.̃◐ ◐.̃◐ ◐.̃◐ ◐.̃◐ ◐.̃◐...
Sementara di depan kantor terlihat seseorang baru saja turun dari taksi, orang itu nampak melihat sebentar gedung kantor Justin sebelum ia masuk ke dalam.
Sepanjang berjalan orang itu tampak menegok kanan kiri seperti sedang mencari seseorang sampai akhirnya ia berhenti di meja resepsionis.
"Maaf, ada yang bisa saya bantu" sapa hangat resepsionis itu.
"Lantai ruangan Jeff dimana ya?" tanya orang itu.
__ADS_1
"Maaf sebelumnya, apa anda sebelumnya sudah membuat janji pertemuan dengan tuan Jeff?"
*Huh! kenapa pakai nanya gini sih. Terpaksa deh gue harus bohong, kalo tidak gue nggak bakal bisa masuk* batin orang itu.
"Sudah, dia memintaku untuk datang ke ruangannya"
"Baiklah kalo gitu, ruangan tuan Jeff ada di lantai paling atas"
"Oke terimakasih"
"Sama sama"
Orang itu pun segera berlalu dari meja resepsionis dan pergi menuju lift. Setelah beberapa saat akhirnya ia sampai juga di lantai atas, ia pun lantas langsung keluar dari sana.
Bruk
Karena tidak hati hati orang itu terjatuh setelah menabrak dada bidang seseorang di depannya.
"Punya mata nggak sih lo! jalan luas gini masih aja nabrak orang, untung ponsel gue nggak jatuh. Kalo jatuh emang lo mau ganti rugi" bentak Justin dengan mata melotot.
"Maaf, saya tidak sengaja"
"Maaf maaf, bisanya cuman minta maaf doang. Udah sana minggir, gue mau lewat. Ganggu orang aja" balas Justin seraya mendorong kasar orang itu lalu kembali berjalan pergi.
*Sialan! siapa anak itu, berani banget dia dorong gue* batin kesak orang itu.
*Eh tapi kok gue kayak nggak asing dengan wajah anak itu, seperti ada yang berbeda dari dia tapi apa ya? Ah udahlah ngapain juga mirikin hal itu, lebih baik gue lanjut jalan aja. Pokoknya gue harus ketemu sama Jeff* sambung orang itu.
Dia pun kemudian kembali meneruskan jalannya.
"Hm apa ini ruangan Jeff, dari info yang gue dapet ruangan ini adalah ruangan tempat Jeff berada" ucap bingung orang itu saat dia berdiri di depan pintu ruangan Papa Justin.
"Gue langsung masuk aja deh, kalaupun bukan gue kan bisa keluar dan cari yang lain dari pada pusing disini" putus orang itu lalu segera membuka pintu tersebut.
Ceklek
"Oh jadi ini ruangan kamu" ucap orang itu begitu dia masuk ke dalam.
Papa Justin yang kala itu sedang duduk bersandar di kursi sofa sambil memejamkan mata seketika langsung menoleh dan detik berikutnya matanya nampak membulat sempurna begitu melihat siapa yang datang.
"Kamu... " pekik Papa Justin sedikit terkejut.
Sedangkan yang di tatap hanya tersenyum tipis melihat reaksi kaget Papa Justin.
___________________________________
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak.
Like komen vote gitu