
"Tapi Vita, selama ini gue juga menderita sama kayak elo. Setelah kejadian itu hidup gue jadi nggak tenang, setiap hari setiap saat gue selalu dihantui rasa bersalah dan itu membuat gue sedikit terganggu. Makanya selama lima tahun ini gue selalu pindah negara buat nyari keberadaan elo. Gue pengen minta maaf sama elo" ucap Justin.
"Jujur aja, selama ini gue merasa sangat menyesal karna telah melakukan semua itu. Gue beneran merasa bersalah sama elo. Maka dari itu gue kesini datang dihadapan elo buat ngucapin kata maaf. Tolong maafin gue Vita, tolong. Plesee Vita... tolong maafin gue. Gue akan lakuin apa aja asal elo bisa maafin gue" lanjut Justin dengan wajah memelas yang membuat Afifah semakin emosi melihatnya.
"Kata maaf lo itu nggak ngaruh apa-apa buat gue, kecuali jika lo mati baru akan ngaruh karna dendam gue terpenuhi. Hahaha.. lo denger, dendam gue akan terpenuhi dengan kematian lo. Kematian bang Fian nggak akan sia sia jika lo ikut menyusul dia. Jadi bersiaplah untuk mati jika lo pengen gue nerima permintaan maaf lo" teriak Afifah lagi dengan tawa mengerikan.
Ia kemudian meraih sebuah gelas yang ada diatas meja kantin dan melemparkannya ke arah Justin.
"Rasakan ini Justin!" teriak Afifah.
Wuss
Pyar
"Akkhtghhh Vita" pekik Justin kesakitan karna rahangnya terkena serpihan kaca sehingga darah segar menetes dari sana.
"Astaga Pai, apa yang lo lakuin" ucap spontan Alex.
"Hahahaa... mati lo mati. Dasar cowok brengsek!" tawa Afifah sambil membawa serpihan kaca ditangannya hendak menancapkan ke arah leher Justin namun dengan cepat Alex segera menggeretnya dari belakang.
"Ya ampun Pai, apa yang lo lakuin. Jangan nyerang dia Pai, lo jangan bunuh dia" ucap Alex.
"Akkhh minggir Wolf, jangan ikut campur. Lepasin gue, lo jangan halangin gue buat menyerangnya. Dia itu kejam, dia juga licik, cowok kayak dia nggak pantes hidup didunia ini. Jadi jangan nyegah gue buat bunuh dia" ucap Afifah mencoba melawan.
"Tenang pai tenang. Inget kata kata gue tadi, lo jangan kebawa emosi kayak gini. Kendaliin amarah lo pai" ucap Alex berusaha menenangkan.
__ADS_1
Namun Afifah tetap melawan bahkan dia kembali berontak. Dengan sekuat tenaga Alex mencoba menahan.
"MINGGIR! JANGAN HALANGIN GUE" teriak Afifah.
"Sadar pai sadar, lo harus tenang" ucap Alex sambil terus menahan berontakan Afifah meski sedikit kesusahan.
"DIA HARUS MATI DI TANGAN GUE. NYAWA DI BAYAR NYAWA" teriak Afifah semakin tak terkendali membuat Alex sedikit merasa kewalahan.
Beruntung Mila dan Iza cepat datang membawa botol yang dimaksud Alex.
"Oh syukurlah kalian berdua udah datang. Cepat kesini dan tolong lo ambil satu pil didalam botol itu lalu berikan pada Afifah" ucap lega Alex saaat melihat kedatangan Mila dan Iza.
"Hah! apa?" tanya Mila yang tidak mendengarkan ucapan Alex.
"Loh memang sahabat gue kenapa? kok sampai harus dikasih pil?" tanya Iza yang sedari tadi kepo.
"Iya, Afifah kenapa?" tanya Mila yang juga ikutan kepo.
"Ceritanya panjang, nanti aja gue ceritain. Sekarang buruan lo kasih pil itu, gue udah nggak tahan lagi buat nahan berontakannya" jawab Alex sambil meringis menahan berontakan Afifah yang semakin lama semakin kuat.
Tanpa banyak bertanya lagi Mila segera memgambil pil dan meminumkan pada Afifah. Sedangkan Iza dia membantu Alex untuk memegang tubuh Afifah agar tidak melawan saat akan diberi pil.
Seketika tubuh Afifah mendadak jadi lemas hingga membuatnya tak sadarkan diri. Mungkin pil itu sudah mulai bekerja sehingga emosi dalam diri Afifah lebih tenang dan terkontrol dan membuatnya pingsan.
Alex pun langsung mengendong tubuh Afifah dan membawanya pergi dari sana. Rencananya Alex akan membawa Afifah pulang ke rumah tanpa memberitahu pihak sekolah alias bolos.
__ADS_1
Sementara itu, didalam kantin terlihat Justin dan Reza yang masih berada disana.
"Lihat tuh gara gara elo keadaan Afifah jadi kayak gitu, lo nggak kasian apa lihat dia teriak teriak kayak orang gila haa? dan lo juga nggak kasian lihat depresinya kambuh" ucap Reza pada Justin.
"Ck, diem lo. Ini urusan gue sama Vita. Lo nggak ada hak buat ikut campur" ucap Justin.
"Gue emang nggak tau ada masalah apa diantara lo sama Afifah. Tapi setidaknya lo ngerti dikit kenapa sih, ini masih berada dilingkungan sekolah. Nggak seharusnya lo nyari ribut disini" ujar Reza mencoba memberi Justin nasehat meskipun Reza sendiri tak tau dengan apa yang sebenarnya terjadi karna baik Justin maupun Afifah mereka berdua belum ada yang memberitahu dirinya tentang masa lalu mereka. Walaupun Reza adalah sahabat mereka berdua.
Yang Reza tau, Afifah berteriak karna dia merasa terganggu dengan kehadiran Justin. Padahal sebenarnya Afifah sedang mengamuk.
"Lo kalo nggak tau apa apa mending diem aja deh. Nggak usah sok nasehatin orang! gue nggak butuh ceramah elo" ucap jutek Justin.
"Gue mau pergi. Lo jangan ikutin gue!" lanjut Justin lalu dia mulai melangkahkan kakinya meninggalkan Reza sendirian disana.
*Brengsek! kenapa lagi lagi tu cowok penikung yang selalu saja menang. Kenapa Vita lebih memilih dia dibanding sama gue. Emang gue kurang apa sama dia! Aggghhhttt sialan* batin kesal Justin sambil terus berjalan.
________________________________
Jangan lupa tinggalkan jejak😍
Like komen Vote gitu😁
See you next episode💙
Bersambung....
__ADS_1