
"Agghhtt lepasin gue Wolf" teriak Afifah sambil terus berusaha lepas dari pelukan Alex.
"Lepasin gue!" teriak Afifah lagi.
"Sadar pai sadar. Astaga... kenapa lo jadi kayak gini" keluh Alex frustasi.
"Wolf, lo jangan halangin gue buat balas dendam sama dia. Ingat wolf, dia itu adalah penghancur hidup dan kebahagiaan gue. Gara gara dia gue kehilangan abang gue dan gara gara dia juga kehidupan gue jadi berantakan. Seorang pembunuh dan penghianat kayak dia pantas mati!" teriak Afifah dengan wajah memerah menatap tajam ke arah Justin yang berdiri tak jauh dari tempatnya.
"Istigfar Pai istigfar, ya allah kenapa keadaan lo jadi kacau begini. Gue nggak tega lihatnya" ucap Alex yang masih memeluk tubuh Afifah dari belakang.
"Gue bilang lepas ya lepas" berontak Afifah yang semakin lama semakin kuat membuat Alex sedikit merasa kewalahan.
Dia lalu melepaskan pelukannya dan sedikit menyeret tubuh Afifah ke arah kursi kantin lalu dia dudukan paksa Afifah disana. Kemudian Alex menyaut sebuah tali dan mengikat tangan Afifah jadi satu.
__ADS_1
Lalu Alex kembali memeluk tubuh Afifah dari depan dan membenamkan kepala Afifah di dadanya berharap istrinya itu akan meresa lebih tenang.
"Sabar Pai sabar, lo harus tenang. Tahan emosi lo" bisik Alex ditelinga Afifah.
"Agghtt minggir! kenapa lo ngikat gue! harusnya yang lo ikat itu dia bukan gue karna dia adalah penjahat" ucap Afifah didekapan dada Alex yang terdengar seperti sebuah gumaman.
"Wolf, kenapa lo larang gue buat bunuh dia. Ini namanya nggak adil, dia udah bunuh bang Fian tapi kenapa elo malah belain dia. Nyawa dibayar nyawa jadi kalo bang Fian mati ditangan dia maka dia juga harus mati ditangan gue!" berontak Afifah mencoba melepaskan ikatan ditangannya dan berusaha menjauh dari pelukan Alex.
"Dengerin gue pai. Nama lo sekarang adalah Afifah bukan Vita. Masa lalu sama masa depan nggak bisa dijadikan satu. Jika dulu dibelanda nama lo adalah Vita maka di indonesia nama lo adalah Afifah. Vita sama Afifah itu beda sifat dan beda karakter meskipun mereka itu satu orang"
"Setahu gue Afifah itu adalah gadis lugu. Dia orang baik bukan orang jahat, dia nggak akan tega melakukan perbuatan kejam seperti ini. Walaupun Afifah itu barbar, nakal dan terkesan urakan tapi dia punya hati yang lembut seperti malikat jadi dia nggak akan mampu berbuat hal gila seperti ini"
"Pai, Lo masih ingat kan sama perkataan gue dulu kalo lo itu orang baik bukan orang jahat. Lo itu cewek lembut penuh kasih sayang bukan cewek kejam penuh kebencian. Balas dendam bukanlah jalan keluar dari masalah, tapi malah akan semakin menambah masalah. Gue nggak mau lo jadi seorang pembunuh sama kayak Justin. Jadi gue mohon, lo harus tenang, lo harus sadar, kendaliin emosi lo jangan biarin emosi nguasain diri lo" ucap Alex sambil mengelus lembut pipi Afifah yang sudah mulai merasa lebih tenang.
__ADS_1
"Pai, lo harus inget. Lo itu nggak sendirian, masih ada gue yang akan selalu berada didekat elo dan akan selalu berusaha melindungi elo. Jadi jika ada masalah atau hal lain jangan lo pendem sendiri, kasih tau gue. Nanti gue akan berusaha membantu lo, intinya jika ada apa apa lo harus bilang ke gue. Jangan lo sembunyiin apalagi lo pendem sendiri" ucap Alex sambil kembali memeluk tubuh Afifah untuk menyalurkan rasa hangat berharap jika Afifah akan merasa lebih tenang dan nyaman.
Nggak bisa up banyak kata soalnya Author lagi ujian😌. Jika ada typo atau cerita agak kurang nggak nyambung mohon dimaklumi😊.
________________________________
Jangan lupa tinggalkan jejak😍
Like komen Vote gitu😁
See you next episode💙
Bersambung....
__ADS_1