WOLF PAI • Pasangan Barbar

WOLF PAI • Pasangan Barbar
Bab 296 : Aku hamil anak kita


__ADS_3

"Cepat panggil ambulan jangan diem aja" bentaknya lagi.


"Ya Tuhan siapa yang udah berani lakuin ini sama lo, kenapa bisa seperti ini" gumam Reza dengan mata berkaca-kaca.


“Afifah bangun, maafin gue karena udah gagal lindungi elo. Kalo aja tadi gue tetap kekeh mau nemenin elo pasti kejadian ini nggak akan terjadi, astaga Justin juga kemana lagi” ucap Reza kebingungan.


Sementara Alex pria itu sudah tak bisa berkata lagi, matanya nampak memanas melihat istrinya dalam keadaan mengenaskan.


Dengan tangan yang bergetar Alex meraba wajah cantik istrinya yang sebagian berlumur darah.


Tangisnya pun seketika pecah, hatinya merasa ngilu melihat tubuh istrinya. "Sayang bangun hiks.. hiks.. jangan tinggalin gue"


"Bangun Pai gue mohon bangun, jangan becanda gue nggak suka. Ayo bangun" tangisnya seraya menggoyangkan badan istrinya.


"Sabar Lex, gue tau Afifah kuat. Dia pasti bisa bertahan demi kita semua" ucap Reza berusaha menenangkan meski hatinya juga sakit.


Tetapi Alex malah semakin mengencangkan tangisnya, dirinya masih merasa tak rela istrinya pergi meninggalkannya.


Dalam keadaan setengah sadar Afifah samar-samar yang mendengar suara tangisan suaminya lantas dengan perlahan mulai membuka mata.


"Wolf"


Kata pertama yang keluar dari mulutnya saat membuka mata. Alex yang saat itu tengah menangis histeris seketika langsung mendongak.


"Pai, lo sadar hm? syukurlah, bertahan sebentar ya Reza sedang cari ambulan. Elo yang kuat" ucap Alex tak percaya dengan senyum mengembang.


Dengan susah payah dalam keadaan sulit sekuat tenaga Afifah berusaha membuka mulutnya. Dia seperti ingin mengatakan sesuatu dengan suaminya, Alex yang menyadari hal itu langsung mengerti.


"Katakan pai, lo mau ngomong apa sama gue haa?" ucap lembut Alex sebisa mungkin dia menahan air matanya meski dadanya terasa sangat sesak namun Alex tak ingin menangis.


Alex tidak mau terlihat lemah didepan istrinya sebisa mungkin Alex ingin menunjukan jika dirinya kuat walaupun sebenarnya malah sebaliknya.


"Wolf, ma-maafin gue ya. Se-selama ini gue ba-banyak salah sama elo. Hah.. gu-gue minta maaf karna be-belum bisa jadi istri yang ba- hah... baik buat lo. Maafin gue juga ji-jika selama menikah gu-gue selalu ngrepotin e-elo hah.. dan juga selalu bi-bikin lo kesel" Afifah menjeda ucapannya sebentar karna dadanya semakin sesak membuat dirinya kesulitan bernafas.


"Gu-gue sadar, gue e-emang bukan istri yang ba-baik hah.. gue istri yang nggak ber- hah.. berguna. Dari awal pe-pernikahan gue emang selalu nyu-nyusahin hah.. gue juga cu-cuman jadi beban buat lo" ucap Afifah dengan suara yang semakin melemah.


Sedangkan Alex kini sudah tak bisa berpura pura kuat lagi, setelah mendengar ucapan maaf istrinya air mata yang ia tahan langsung lolos dari matanya bergitu saja.


Nggak pai, lo berguna bagi gue, lo istri yang baik dan lo juga bukan beban buat gue jadi jangan minta maaf. Lo nggak ada salah sama gue" ucap Alex menggelengkan kepalanya dengan air mata yang sangat deras dipipinya.


"Gue nggak pernah me-melakukan pekerjaan yang seharusnya di-di kerjakan oleh seorang istri dan parahnya gu-gue malah selalu melawan sama elo hah.. dan se-selalu mengabaikan perintah elo. Padahal elo i-itu suami gue hah.. tapi gue sama sekali nggak ngehargain elo"


"Gue em-emang istri durhaka, gue is-istri biadap, gue ju-juga istri yang nggak ber-berguna hah... intinya gue itu istri pembawa si---"

__ADS_1


"Hustt cukup pai" sela Alex yang langsung menutup mulut Afifah dengan jari telunjuknya karna ia merasa tak sanggup mendengarnya.


"Cukup pai cukup, jangan ngomong kayak gitu lagi, hiks.. hiks.. hiks.. gue nggak mau denger"


"Tapi ke-kenyataannya memang be-begitu wolf, gue emang bu-bukan istri yang ba-baik"


"Enggak, Lo itu istri yang baik, selama menikah lo sama sekali nggak pernah nyusahin gue apalagi buat beban. Bagi gue elo itu istri yang sempurna. Lo denger, lo itu istri yang sempurna jadi stop minta maaf dan ngomong kayak gitu lagi, hiks.. hiks.. hiks... "


"Pai, gue cinta sama elo. Gue juga sayang sama elo, jadi gue mohon lo harus kuat, jangan tinggalin gue. Hiks... hiks.. lo harus bertahan demi gue" ucap Alex dengan tangis yang semakin deras.


Afifah yang melihat itu hanya tersenyum samar dengan bibir yang semakin pucat sebab darah terus mengalir keluar dari tubuhnya namun Afifah masih berusaha untuk tetap sadar.


"Wolf, ada yang ma-mau gue bi-bicarain sama lo"


"Iyah bicara aja, lo mau ngomong apa"


"Se-sebenarnya hasil USG kemarin ya-yang lo lihat itu emang be-beneran punya gue"


"Maksudnya?"


"Gu-gue hamil Wolf gue hamil"


Jedarr..


"Apa lo hamil?"


"I-iya, gue ha-hamil, u-usianya sudah menginjak de-delapan bulan"


"What delapan bulan?"


Afifah mengangguk


"Gu-gue hamil anak ke-kembar. Mereka ber-berjenis laki-laki seperti apa ya-yang lo inginkan Wolf" ucap Afifah lagi-lagi membuat Alex terkejut.


"Itu artinya sebentar lagi gue akan jadi orang tua? anak gue udah hadir, bayi yang selama ini gue impikan jadi kenyataan? ya ampun kenapa lo nggak bilang? kenapa nggak jujur kalo lo hamil" ucap Alex seraya meraba pelan perut Afifah yang membuncit dengan tangan yang bergetar.


"Ma-maafin gue ka-karena udah bohong sa-sama lo dan ma-maafin gue juga ka-karena udah me-menyembunyikan kehamilan i-ni. Gue mi-minta maaf hiks.. hiks.. gu-gue lakuin itu ka-karena gue masih sa-sakit hati sama lo hiks..hiks.. ma-maafin gue" tangis Afifah dengan suara tercekat.


"Hust udah-udah jangan nangis, harusnya yang minta maaf itu gue karena jika malam itu gue lebih waspada mungkin kejadian itu nggak akan terjadi. Sekarang yang penting semuanya udah jelas, masalah kita udah selesai jadi jangan nangis lagi" bisik Alex.


Afifah kemudian mengangkat tangannya secara perlahan untuk memegang pipi suaminya.


"Wolf, gu-gue boleh nggak mi-minta satu permintaan sam-sama lo" ucap lembut Afifah menatap dalam manik mata hitam pekat suaminya.

__ADS_1


"Boleh pai boleh, boleh banget malah. Lo mau minta apa haa? katakan lo mau apa, gue janji bakal mengabulkannya" jawab antusias Alex dengan seulas senyum lebar.


"Tolong pe-peluk gue dan juga to-tolong cium gu-gue, gue kangen sam hah... sama pelukan dan ci-ciuman hangat lo. Gue rindu sama rangkulan da-dan sentuhan lo" ucap Afifah terbata bata.


Tanpa banyak berkata Alex langsung segera memeluk erat tubuh Afifah, tak peduli dengan bajunya yang terkena darah. Alex tetap memeluk erat Afifah.


Sesekali Alex juga tampak mencium bagian wajah Afifah, mulai dari kening, kedua mata, hidung, pipi, dagu, dan bibir semua Alex cium.


Jujur saja, bukan hanya Afifah namun Alex sendiri juga merindukan istrinya itu. Dia rindu dengan semua yang ada pada istrinya.


*Thank wolf, mungkin setelah ini gue nggak akan bisa merasakan pelukan ini lagi. Gue udah nggak kuat, setidaknya di detik terakhir kehidupan gue ada elo yang menemani* batin Afifah menangis sebelum akhirnya perlahan matanya tertutup.


"TIDAK... " teriak Alex histeris menangis keras.


"Sayang bangun, hiks.. hiks.. jangan tinggalin gue. Ayo bangun. Bangun Fi bangun" teriak Alex semakin kencang.


"Eh ada apa, Afifah kenapa?" ucap kaget Reza yang baru saja datang setelah mencari ambulan.


"Afifah Za Afifah"


"Afifah kenapa ha? ada apa dengan dia?" tanya Reza penasaran.


"Denyut nadinya melemah"


"APA! KALO GITU CEPAT BAWA DIA MASUK AMBULAN, KITA HARUS SEGERA MEMBAWANYA KE RUMAH SAKIT SEBELUM TERLAMBAT" teriak Reza.


Afifah pun kemudian segera diangkat dan dimasukkan ke dalam ambulan.


"Fi bertahan ya, lo yang kuat ingat ada baby twins yang ada didalam perut lo" bisik Reza mengelus pelan kepala sahabatnya.


"Lebih cepat lagi, dia harus segera mendapat perawatan" bentak Reza pada supir ambulan.


"Pai bangun jangan tinggalin gue hiks.. hiks.. ayo bangun" tangis Alex memeluk erat tubuh pucat istrinya.


__________________________________


Jangan lupa tinggalkan jejak.


Like komen vote gitu💙


Biar author juga makin semangat untuk up bab selanjutnya


See you next episode🤗

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2