
"Mau kemana hmm? mau kabur. Ck, jangan harap, malam ini lo nggak akan bisa lolos dari gue" bisik Alex ditelinga Afifah dan ikut naik ke atas ranjang.
Ia kemudian melepas kaos yang dia pakai lalu segera menindih tubuh Afifah dan mengurungnya dibawah kungkungannya.
"Malam ini lo akan jadi milik gue seutuhnya" ucap Alex dengan tersenyum smirk sambil membelai pelan wajah pucat istrinya yang menahan takut.
Alex perlahan mendekatkan wajah spontan membuat Afifah memejamkan mata. Detik berikutnya tiba tiba saja dengan gerakan cepat sebuah benda kenyal dan lembut masuk kedalam mulutnya secara paksa.
Alex melumut bibir Afifah sedikit kasar sambil tangan kirinya menekan pelan tengkuk Afifah agar ciumannya semakin dalam.
"Emmm.. emmm" gumam Afifah mencoba berontak namun sepertinya tidak dipedulikan oleh Alex. Dia malah semakin memperdalam ciumannya.
Perlahan lidah Alex berhasil masuk menerobos bibir Afifah dan mengapsen setiap benda yang ada didalam sana.
Suara decapan antar mulut mereka begitu nyaring hingga memenuhi ruangan kamar. Setelah cukup lama berciuman, Alex melepaskan pangutan bibir mereka dan beralih mencium leher.
Dihisapnya dan digigit secara perlahan leher Afifah sampai membentuk sebuah kissmark sebagai tanda kepemilikan.
Ia mengulangi hal itu beberapa kali sehingga dileher Afifah terdapat begitu banyak tanda merah.
"Lex, gu-gue mohon. Tolong hentikan se-semua ini, gue nggak mau. Gu-gue belum siap, lepasin gue" pinta Afifah dengan suara parau yang kini sedang mati matian menahan agar tidak mendesah.
"Hentikan Lex, hentikan" pintanya lagi, bahkan kini Afifah memanggil suaminya dengan menyebut nama bukan dengan panggilan biasanya menandakan jika dia benar benar sangat kecewa dengan tindakan Alex.
Seakan tuli, Alex sama sekali tak mendengarkannya. Dia malah semakin bersemangat hingga dia mulai melucuti satu persatu pakaian yang dia pakai istrinya. Mulai dari sweter, ikat rambut, sepatu, serta celana jeans abu yang dipakai Afifah semuanya Alex lucuti dan hanya menyisakan pakaian dalam Afifah saja.
Perbuatan tersebut semakin membuat Afifah merasa kecewa bahkan air mata yang sedari tadi ia tahan kini mulai perlahan lahan turun dari kelopak matanya membasahi pipi mulusnya.
Sejenak Alex menghentikan perbuatan bejatnya, ia lalu mendongak menatap wajah istrinya yang sedang berurai air mata.
"Why sayang? kenapa kamu menangis? bukankah ini yang kamu mau hmm... kamu menginginkan aku melakukannya bukan, jadi nikmatilah dan berhentilah mengeluarkan air mata buaya itu. Aku sangat tidak suka melihatmu menangis seperti ini" ucap Alex dengan tersenyum miring sambil mengusap air mata yang ada dipipi istrinya.
Dia kemudian kembali menjilat dan mencium leher Afifah tak lupa tangan Alex yang satunya meraba tubuh Afifah berusaha untuk mencari sebuah gundukan sintal kembar milik istrinya.
__ADS_1
Setelah menemukannya Alex kemudian meremasnya secara kasar membuat Afifah meringis kesakitan. Alex terus meremas bukit itu secara bergantian.
Merasa pergerakan tangannya terhalang, Alex lalu melepas bra biru tua yang dipakai Afifah sehingga gundukan besar kembar milik Afifah terpampang jelas didepan matanya.
Bak bayi yang sedang kehausan tanpa aba aba Alex langsung menyambar dan men****t Pu***g Afifah. Disedotnya dengan kencang dan agresif lantas membuat Afifah yang sedang mati matian menahan agar tidak mengeluarkan suara laknat kini akhirnya terlepas juga.
Ahhh
Satu desahan berhasil lolos dari bibir mungil Afifah membuat satu sudut bibir Alex terangkat. Dia lalu kembali meneruskan kegiatannya.
"Lex, gue mo-mohon. Tolong hentikan, jangan la-lakukan" pinta Afifah yang kesekian kali. Matanya membengkak dan hidungnya sembab akibat terlalu lama menangis.
Sekuat tenaga Afifah kembali memberontak namun tampaknya Aelx tidak perduli, ia malah semakin memperdalam kegiatannya dan bermain secara kasar dan agresif. Dikeadaan seperti itu Afifah merasa tersiksa.
Hingga tiba tiba saja sekelebat bayangan masa lalu muncul dikepala Afifah. Bayangan Justin yang dahulu hendak memperkosa dirinya kembali muncul. Teriakan ketakutan dan suara tawa Justin terdengar menggema ditelinga Afifah.
Rentetan kejadian demi kejadian masa lalu bergantian keluar masuk dikepala Afifah dengan sangat jelas.
Merasa tak tahan dengan semua ini Afifah lantas dengan sisa tenaga yang dia punya Langsung berusaha mendorong tubuh Alex dari atas tubuhnya dan--
Bruk
"Aggghhtt.. " desis Alex kesakitan sebab terjatuh dari atas ranjang dengan posisi tengkurap.
Afifah yang melihat suaminya terjatuh lantas segera bangun dan duduk bersandar disandaran ranjang sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
Sedangkan Alex yang menyadari jika dirinya terjatuh langsung segera bangun. Ia lalu menoleh menatap sang pelaku dengan tatapan tajam menusuk andalannya.
"Beraninya lo nolak gue.. " teriak Alex sambil kembali berjalan mendekat dan mencengkram kuat lengan Afifah membuat Afifah meringis kesakitan.
"Auu... lex, jangan kayak gini. Gue nggak mau, tolong lepasin gue. Gue belum siap, auu.. lepasin Lex, ini sakit sekali" rintih Afifah mencoba melepaskan diri.
"Kenapa? apa lo nggak sudi gue sentuh haa? apa lo maunya disentuh sama baj**gan itu?" teriak Alex dengan emosi kembali menggebu.
__ADS_1
Deg!
Seketika air mata Afifah kembali meluncur keluar dari kelopak matanya. Hatinya merasa sakit, ia tak menyangka suaminya akan bicara seperti itu padanya. Afifah merasa direndahkan. Ia lalu reflek menampar keras pipi suaminya.
Plak
"Diem Lex! jangan kurang ajar lo kalo ngomong! gue nggak serendah dan semurahan itu. Asal lo tau ya, meskipun gue selama ini centil tapi gue sama sekali nggak pernah melakukan perbuatan bejat seperti apa yang lo tuduhkan barusan. Gue masih punya harga diri" teriak Afifah membela diri dengan berurai air mata.
"Terus kalo gitu kenapa lo nolak gue haa? gue ini suami lo harusnya lo nurut sama gue. Tapi apa? lo malah nolak gue sentuh dan lo malah dengan terang terangan berciuman dengan cowok lain. Kalo bukan murahan terus apa namanya? jalang atau wanita pernghibur?" balas Alex yang juga berteriak.
"Cukup Lex! lo itu hanya salah paham, gue sama sekali nggak pernah ciuman dengan cowok lain. Lo jangan asal nuduh, kalaupun gue tadi nolak elo itu bukan berarti gue nggak mau lo sentuh tapi karna gue belum siap. Gue masih belum mau berhubungan saat gue masih sekolah. Lagian bukannya lo dulu pernah berjanji sama gue kalo lo nggk mau nyentuh gue sebelum gue lulus.
Tapi apa? sekarang lo malah melanggar janji lo sendiri. Lo tau nggak, lo itu munafik. Lo cowok munafik, kelakuan lo itu sama aja kayak Justin. Kalian berdua sama sama brengsek. Sukanya cuman buat gue menderita. Kalian berdua tidak ada bedanya. Lo dan Justin sama sama bejat" ucap Afifah dengan tatapan terlukanya, terlihat jelas dari sorot matanya dia sangat merasa kecewa.
"Dan lagi tadi lo dengan seenaknya ngata ngatain gue murahan! dasar nggak punya hati. Gue benci sama lo" lanjut Afifah lalu dia beranjak dari ranjang dan berjalan keluar kamar sambil menutupi tubuh polosnya dengan selimut.
"Terserah, gue nggak peduli. Mau lo benci kek mau apa kek gue udah nggak peduli" balas Alex berucap asal. Dia tak berfikir sebelum berkata karna amarah dalam dirinya sedang meledak.
Brakk
Afifah menutup keras pintu kamar miliknya lalu dia berjalan masuk kedalam kamar sebelah dimana dulu itu adalah kamar miliknya saat masih pisah ranjang.
"Mama Papa, hiks.. hiks..." tangis Afifah pecah diatas kasur menumpahkan segala perasaan yang dia rasakan saat ini.
________________________________
Jangan lupa tinggalkan jejak🐾
Like Komen Vote ya biar author juga cepet untuk up bab berikutnya.
See you next episode...
Bersambung...
__ADS_1