
Setelah acara perayaan kelulusan di sekolah selesai Alex dkk dan Afifah dkk memutuskan untuk pergi ke rumah pribadi Alex dan Afifah.
Mereka berenam berkumpul untuk sekedar merayakan pesta kecil bersama dan melepas penat setelah beberapa minggu ujian karena di dalam rumah pribadi mereka semua bisa sepuasnya bermain dan menikmati fasilitas yang ada di sana. Jadi baik Afifah dkk dan Alex dkk bisa bebas melakukan apa saja yang mereka mau di dalam sana.
Kini Afifah, Mila, dan Iza tengah berkumpul di ruangan bioskop sambil menonton film.
"Huh! selesai juga akhirnya, nggak nyangka banget endingnya bakal bersatu. Gue pikir tadi mereka akan pisah" seru Mila seraya merenggangkan otot tangannya setelah satu jam lamanya mereka menonton.
"Hmm bener banget, gue tadi juga sempet mikir gitu. Soalnya dari adegannya nggak mungkin banget kalo bakal bersatu eh nggak nyangkanya malah sebaliknya" ucap iza yang juga merenggangkan otot tangannya.
"Fi, lo kenapa? kok gue lihat dari tadi lo murung terus. Lo ada masalah ya?" tanya Iza yang sedari tadi memperhatikan sahabatnya yang nampak murung, diam, dan tidak bersemangat.
"Iya, lo kenapa? kalo ada masalah cerita aja sama kita. Nggak usah lo pendem sendiri, kebiasaan sih dari dulu kalo tiap ada masalah nggak mau kasih tau. Jadi pusing sendirikan" sahut Mila yang juga ikut bertanya.
"Gue nggak papa" jawab malas Afifah tanpa mengalihkan pandangannya dari layar.
"Alah nggak usah bohong, gue tau lo lagi ada masalah. Kelihatan banget dari sorot mata lo kalo lo itu sedang ada masalah. Ayolah Fi, cerita aja. Kita ini kan sahabat, kata lo di dalam persahabatan nggak boleh ada rahasia-rahasiaan bukan tapi ini kenapa malah lo sendiri yang langgar" cebik Mila memaksa sambil menggoyangkan lengan Afifah membuat Afifah menghela nafas panjang.
"Apasih Mil, gue emang beneran lagi nggak ada masalah. Gue itu cuman mikirin sesuatu doang" jawab Afifah melepas tangan Mila dari lengannya.
"Sesuatu apaan?" sahut Iza penarasan.
"Ya gitu" jawab Afifah.
"Gitu gimana sih? lo mikirin apaan, kasih tau kita dong. Barangkali kita bisa bantu" ucap Iza lagi semakin penarasan.
Afifah melirik sebentar sebelum akhirnya dia memutuskan untuk bercerita. Jujur sejak tadi pikirannya selalu terganggu dengan ucapan Nela, perkataan musuhnya yang bilang jika Alex tidak mencintai dirinya membuat Afifah benar-benar merasa pusing.
Meskipun apa yang di katakan belum tentu benar namun hanya dengan melihat sikap Alex selama ini yang memang tak pernah mengatakan cinta padanya membuat perasan Afifah jadi bimbang. Ia takut jika apa yang Nela katakan adalah suatu kebenaran mengingat jika diantara dia dan suaminya tak pernah sekalipun bilang sayang.
Jangankan sayang, memanggil dengan panggilan romantis aja tidak pernah. Mereka berdua hanya menggunakan nama special julukan mereka masing² yaitu 'Serigala ( Wolf ) dan Tupai'. Hal itu yang sedari tadi memenuhi isi kepala Afifah.
Mila dan Iza pun dengan cermat mengamati dan memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulut sahabat cantik keturunan blasteran berambut pirang bermata biru muda setengah bule itu.
"Jadi karna ini lo dari tadi diem terus?" tanya Iza setelah Afifah selesai bercerita.
"Hmmm" balas Afifah mengangguk.
"Yaelah Fi, ulet bulu lo dengerin. Harusnya lo itu nggak usah tanggepin ucapannya, dia itu hanya ngomong kosong. Lo kayak nggak kenal sama tu anak aja deh, tau sendirikan Nela dkk kalo sama geng kita kayak gimana? dia itu suka banget nyari ribut dan nyari gara-gara sama kita bertiga. Kalo lo tanggepin yang ada itu cewek bakal kesenengen karena perkataannya lo respon dan rencananya buat bikin hubungan lo sama Alex jadi renggang akhirnya berhasil" ucap Mila panjang lebar.
"Iya sih, tapi kan Mil apa yang dikatakan sama ulet gatel itu ada benarnya juga. Kalo memang Alex cinta dan sayang sama gue lalu kenapa selama ini dia tidak ngungkapin?" tanya Afifah menoleh menatap kedua sahabatnya.
"Ya mungkin aja Alex bukan tipe cowok yang suka jujur sama perasaannya" jawab Mila menebak.
"Bisa jadi, kita semua paham bukan kalo Alex itu menderita penyakit gynophobia yaitu perasaan takut dan cemas bila berdekatan dengan wanita. Mungkin aja karena itu dia tidak terang-terangan mengungkapkan perasannya karena sebelumnya dia tidak pernah merasakan yang namanya jatuh cinta kayak gini jadi menurut Alex sangatlah asing dan tidak penting tentang suatu pernyataan" ucap Iza ikut berkata.
Afifah hanya diam, dia nampak berfikir dengan apa yang kedua sahabatnya ucapkan.
"Lagian ya Fi kalo memang Alex nggak cinta dan nggak sayang sama lo terus kenapa selama ini dia selalu bersikap hangat dan perhatian sama lo. Kenapa selama ini dia selalu menuruti apa kemauan lo dan memanjakan lo. Jika nggak cinta dan sayang mana mungkin seseorang rela berbuat hal seperti itu sama orang lain, lo pikir aja sendiri. Mana ada seorang cowok yang sikapnya cuek dan bodo amat sama keadaan sekitar tiba² mendadak jadi super duper peduli dan perhatian sama kita kalo bukan karena ada apa-apanya" tambah Iza melogika.
"Bener juga apa kata lo, selama gue mengenal dia Alex itu tipe orang yang jarang ngomong tentang perasaannya, dia cenderung lebih ke menunjukan dengan gimana sikapnya dia sama kita" balas Afifah membenarkan.
"Nah itu tau, lagi pula hal apasih yang sampai buat lo ragu begini hmm?" tanya Iza lagi.
"Itu, dulu Alex kan pernah bilang kalo tipe idealnya itu cewek yang berpakaian feminim dan pinter masak.
Sedangkan gue malah sebaliknya. Gue bukanlah cewek feminim ataupun jago masak, gue hanyalah cewek tomboy biasa yang ngga jago masak dan jauh dari kata sempurna. Jadi gimana gue nggak overthingking secarakan kedua hal itu sangat bertolak belakang sama gue" jawab Afifah menunduk.
"Astaga gue kira apaan ternyata karena itu doang? aelah kalo cuman masak sama feminim itu mah gampang banget" cebik Iza mencibir.
"Ayo ikut gue sekarang" lanjut Iza sambil menarik tangan Afifah dan mengajaknya keluar dari dalam bioskop.
"Eh.. eh.. mau di bawa kemana nih gue haa? ngapain pake acara di tarik segala" ucap bingung Afifah melihat Mila dan Iza tiba² menyeretnya.
"Dapur, hari ini gue ajarin lo masak biar lo bisa jadi tipe. idamannya suami lo" jawab singkat Iza.
"Hah masak? ah nggak.. nggak.. nggak.. gue nggak mau. Nanti dapur rumah kebakaran lagi kalo gue masak" tolak Afifah memberontak.
"Nggak ada penolakan, lo harus ikut kita masak" ucap Mila sambil terus menarik tangan Afifah menuju dapur.
"Aaaa gue nggak mau masak" rengek Afifah mencoba kabur namun tidak bisa sebab Mila dan Iza tidak membiarkan hal itu.
__ADS_1
...❇️ ➿ ❇️ ➿ ❇️...
Sementara Alex dkk.
Sore ini mereka bertiga sedang ada di dalam ruangan gym yang ada di lantai dua. Mereka berdua tengah menemani Alex berolah raga, ini adalah kebiasaan Alex setiap hari.
Makanya tidak heran jika Alex memiliki tubuh yang sangat atletis karena memang dia rajin nge gym setiap sore.
"Hah capeknya" keluh Alex dengan nafas sedikit ngos-ngosan dan keringat bercucuran di dahinya setelah dua jam lamanya berolah raga.
"Nih minum" sodor Diki memberikan sebotol air mineral.
"Thank" jawab Alex menerima sambil mulai meminumnya lalu mendudukan dirinya di atas sofa.
"Oh ya Lex, sebenarnya lo tadi dari mana aja sih ha? gue lihat lo kayak sedang nyari seseorang. Emang lo sedang nyari siapa? sampai² lo belain ngilang dari pada ikut anak² senang²" tanya Aska mengingat kejadian di sekolah tadi di mana dirinya melihat Alex berjalan kesana kemari di gedung sekolah.
"Nela" jawab singkat Alex.
"Apa Nela! ngapain lo nyari cewek itu?" ucap Aska dengan kening berkerut.
"Untuk beri dia pelajaran karena udah racuni pikiran Afifah" jawab Alex.
"Asal lo berdua tau ya, itu cewek gila udah berani ngomong yang enggak² sama bini gue, dia bilang kalo hubungan kita itu hanya setingan kerena selama ini gue nggak pernah bilang sayang ataupun cinta. Dia juga sudah ngaku² kalo dia itu calon pacar gue sehingga membuat Afifah jadi jaga jarak sama gue" lanjut Alex berkata dengan wajah kesal.
"Eh buset, itu cewek titisan setan ternyata masih berani godain elo dan gangguin hubungan lo berdua?" pekik Diki melototkan matanya.
Alex mengangguk.
"Gila.. gila.. gila.. berani banget dia, heran gue tu cewek sebenarnya masih punya malu kagak sih. Udah berapa kali di tolak masih aja berani deketin" seru Diki menggelengkan kepala.
"Ya namanya juga cewek gatel, harga diri aja kagak punya apalagi malu"
"Terus ngomong-ngomong selama ini emang lo kagak pernah nyataian perasaan lo?"
"Enggak"
"Lah kenapa?"
"Ya karna menurut gue omongan itu nggak ada gunanya, yang penting tindakan bukan. Selama ini gue udah nunjukin ke dia gimana perasaan gue lewat perlakuan gue ke dia jadi gue rasa tanpa gue ngomong harusnya Afifah udah tau" jawab Alex membuat Aska dan Diki merasa gemas.
"Iya tuh, harusnya lo ngomong sama Afifah biar dia kagak jaga jarak. Nih ya Lex gue kasih tau, menurut lo omongan itu emang nggak penting tapi bisa jadi menurut Afifah itu penting. Cewek itu butuh kepastian bukan sekedar tindakan. Kadang kala hal yang menurut kita sepele bisa jadi itu adalah pengaruh besar untuk seseorang.
Gue tau kalo lo tipe orang yang memang sulit mengungkapkan perasaan tapi setidaknya lo itu ngomong sama bini lo tentang perasaan lo sebenarnya. Kalo lo cuman nunjukin dengan tindakan dan perlakuan Afifah mana bisa ngerti, pikiran orang tidak ada yang tau Lex. Bisa aja Afifah mengartikan semua tindakan lo selama ini hanyalah rasa kepedulian dan tanggung jawab lo sebagai suaminya bukan sebagai rasa menunjukan perasaan sebenarnya jadi wajarlah dia sekarang menghindar karena mungkin Afifah nggak mau berharap terlalu lebih sama lo. Gue aja yang dulu udah jelas² nembak dan nyatain perasaan gue sama Iza aja kadang kala harus berulang kali bilang cinta biar Iza nggak ragu sama gue apalagi elo yang sama sekali nggak pernah ngomong, wajar aja lah Afifah ngehindar. Jika gue jadi dia mungkin gue juga bakal seperti itu karena nggak semua orang itu peka sama seseorang" jelas Aska panjang lebar.
"Terus kalo gitu gue harus gimana Ka Dik?" tanya Alex menoleh.
"Ya lo nyatain perasaan lo sama Afifah lah, bilang sama dia kalo lo itu cinta dan sayang sama dia biar Afifah nggak jaga jarak" jawab Diki, Aska mengangguk membenarkan.
"Iya deh coba nanti gue pikirin" putus Alex menghela nafas panjang.
"Nah gitu dong" ucap Diki tersenyum.
"Woy!" ucap seseorang dari depan pintu membuat ketiga laki² tampan itu berjingkat kaget.
"Bangs*t, lo kalo datang bisa nggak sih ketuk pintu dulu. Jangan asal masuk, ngagetin kita tau nggak. Untung kagak jantungan" ucap Aska memegang dadanya saat tau jika yang datang adalah Afifah.
"Ngapain harus ketuk pintu, orang ini rumah² gue" balas Afifah membuat Aska merasa greget.
"Yaiya ini rumah lo tapikan nggak gini juga, mentang² jadi tuan rumah" cibir Aska namun tak ditanggapi oleh Afifah.
"Ada apa? ngapain lo kesini?" lanjut Aska bertanya.
"Itu lo berdua di suruh turun sama Mila dan Iza"
"Mau ngapain di suruh turun?"
"Mau makan lah, tadi kita bertiga udah masak jadi lo berdua di suruh kesana. Kita bakan bareng"
"Hah makan? Widih tau aja lo kita lagi laper, kalo gitu ayok Ka kita turun" ajak Diki seraya berdiri dari duduknya.
"Gas kuy" sahut Aska mengiyakan. Merkea berdua pun berjalan keluar ruangan gym Meninggalkan Alex dan Afifah berduaan disana.
"Nih handuknya, lo mandi dulu sana habis itu baru turun. Gue tadi udah siapin air dan baju di kamar" ucap Afifah sambil memberikan handuk dan di terima oleh Alex.
__ADS_1
"Gue pergi dulu, lo buruan kesana jangan lama²" lanjut Afifah yang langsung berlari keluar dari sana tanpa menunggu Alex bicara membuat Alex hanya bisa menghela nafas.
-_-_-_-_-
"Gimana enak nggak masakannya? ini tadi yang masak Afifah sama Mila" ucap Iza bertanya pada semua orang yang ada di meja makan.
"Hah Afifah masak? yang bener lo?" tanya Diki tak percaya.
"Iya, dia yang masak sama Mila" jawab Iza mengangguk.
"Gila enak banget masakannya, nggak nyangka gue ternyata si tarzan bisa masak juga. Gue pikir dia hanya bisa rebahan santuy eh nggak taunya malah sebaliknya, mana enak lagi makanannya" puji Diki sambil menguyah.
"Hmm bener tuh, andai saja kalo lo mau terus belajar gue jamin pasti rasa makanan lo nggak beda jauh sama Alex secara ini aja lo masih amatiran udah enak apalagi kalo pro" sahut Aska ikut memuji.
Afifah tersenyum tipis mendengarnya. Sedangkan Alex dia hanya diam tanpa ikut berkomentar.
Mereka berenam terus memakan makanannya sampai habis. Setelah itu mereka semua bermain bersama, entah itu bermain ps, kartu, tebak-tebakan sampai bermain permainan lainnya. Intinya ke enam remaja itu asik dengan dunia mereka sendiri. Tak jarang suara tawa mereka terdengar keras sampai ke halaman.
****
"Lex, kita pamit dulu ya lo jangan lupa sama kata gue tadi, nyatain perasaan lo sama bini lo sebelum terlambat" ucap Diki sedikit berbisik di telinga Alex.
Sekarang ini Aska, Diki, Iza, dan Mila sedang ada di depan rumah. Mereka berempat hendak pamit pulang.
"Iya gue nggak akan lupa. Lo hati-hati kalo nyetir, ini udah malam jalan raya minim pencahayaan kalo udah jam segini" balas Alex tersenyum.
"Iya pasti itu" balas Diki mengacungkan jempol.
"gue sama Mila juga pamit dulu ya" ucap Iza ikut pamit.
"Iya, lo berdua pulangnya sama mereka kan?"
"Iya, gue pulang bareng Aska kalo Mila nebeng sama Diki jadi lo tenang aja. Kita berdua nggak ada yang pulang sendirian" jawab Iza.
"Syukur deh kalo gitu, lo hati² juga ya" ucap Alex.
"Iya" balas Iza.
Mereka berenam pun kemudian masuk ke dalam mobil dan mulai melajukannya ke luar gerbang rumah.
Sepeninggal sahabatnya Alex lalu berjalan masuk ke dalam rumah setelah sebelumnya dia mengunci gerbang. Saat sampai di ruang keluarga terlihat di sana istrinya sedang duduk meringkuk di kursi sofa dengan mata terpejam.
Tadi Afifah memang ketiduran saat bermain bersama, mungkin karena dia lelah setelah acara perayaan di sekolah makanya dia tidur lebih awal. Melihat hal itu Alex tanpa sadar menyunggingkan senyum tipis, ia lalu berjalan mendekat dan menggendong tubuh istrinya menuju ke arah kamar mereka di lantai dua.
Setelah sampai di kamar Alex pun meletakkan tubuh Afifah secara perlahan. Kemudian dia ikut naik ke atasnya, di lihatnya wajah cantik istrinya yang tengah tertidur pulas, sungguh pemandangan yang sangat indah.
Menurut Alex sebelum tidur memandang wajah cantik istrinya adalah suatu kebahagiaan sendiri, wajah Afifah bagaikan candu untuk dirinya. Setiap dia merasa suntuk dengan pekerjaan kantor dan restorannya Alex selalu menyempatkan diri untuk memandang foto Afifah yang ada di meja kerja untuk sekedar menghilangkan penat dan stress akibat banyaknya beban fikiran.
Hadirnya Afifah benar-benar mengubah kehidupan pribadinya, dari yang dulu sangat nakal dan urakan sekarang jadi lebih dewasa. Sebelum melakukan sesuatu Alex selalu berfikir ulang agar tidak beresiko fatal, Alex tidak mau kehilanhan istri kesayangannya.
Sama halnya dengan Alex, Afifah pun juga merasakan hal serupa. Adanya Alex membuat Afifah merasa tidak kesepian lagi. Sosok figur suami dari Alex membuat Afifah merasa punya teman, meskipun selama ini dia di kelilingi orang² namun tidak bisa dipungkiri. Rasa kesepian selalu melanda dirinya tapi setelah adanya Alex semua yang dulu dia rasakan seakan sirna. Hadirnya Alex benar-benar mengubah segalanya.
Sejenak Alex kembali terdiam, perkataan Aska dan Diki tiba-tiba saja melintas di dalam pikirannya.
*Jika di pikir² Sepertinya apa yang dibilang Aska dan Diki ada benarnya juga, tidak semua orang paham dan peka terhadap tindakan kita.
Kayaknya gue memang harus menyatakan perasaan gue, jika tidak hubungan rumah tangga kita akan tetap merenggang. Mengingat Afifah sekarang sudah mulai menjaga jarak, gue takut kalo misal gue nggak segera bilang Nela akan kembali menyerang* batin Alex membenarkan ucapan kedua sahabatnya.
*Baiklah, kalo gitu cepat atau lambat sesegera mungkin gue bakal jujur sama Afifah tentang perasaan gue sama dia* batin Alex lagi.
Cup
Cup
Alex mengecup sebentar kening dan bibir Afifah sebelum akhirnya dia ikut tertidur dengan posisi saling memeluk satu sama lain.
______________________________________
Jangan lupa tinggalkan jejak
Like komen Vote gitu😁
Sumpah part ini panjang banget, hampir nembus 3000 kata. Jadi kalian jangan pelit² buat ninggalin jejaknya, kalo nggak bisa komen kalian cukup like doang. Yang penting ninggalin jejak:)
__ADS_1
See you next epsode
Bersambung...