
"Ya ampun pak akhirnya lo muncul juga, dari mana aja sih. Yang lain udah pada seneng² eh baru nonggol" pekik Mike saat Alex baru saja berdiri di samping dirinya dan bergabung dengan semua teman sekelasnya.
"Gue habis di panggil sama Bu Rini" jawab jujur Alex.
"Ngapain?" tanya Mike dengan dahi berkerut.
"Di suruh buat ngurus acara pesta kelulusan besok malam"
"Lah kok elo sih Pak, kan ada anak osis? kenapa nggak mereka aja, kok malah elo yang disuruh" sahut Angga bertanya sambil berjalan mendekat.
"Mana gue tau, tanya aja sendiri sono sama Bu Rini" balas Alex melirik sinis.
"Yee si bapak sensi banget, orang cuman nanya juga" cibir Angga mencebik namun tak ditanggapi oleh Alex.
"Oh ya btw lo semua udah pada selesai tanda tangan?" lanjut Alex bertanya.
"Belum pak"
"Loh Kenapa belum?"
"Yaiya, kita semua lagi nunggu lo sama emak. Karena tinggal kalian berdua aja yang belum tanda tangan di baju kita. Mau kita skip nanti takutnya di cap jadi anak durhaka karna nggak minta tanda tangan kalian berdua yang notabenya adalah orang tua anak kelas XII-3 " jawab Agung mewakili.
"Hmm, bener tuh. Takut kualat kita, lagian kalo enggak ada kalian rasanya tuh kayak nggak asik banget ini pesta. Yaudah lah kita putusin aja buat nunggu kalian dari pada kita terusin tapi jatuhnya garing mending milih nunggu sebentar tapi acara jadi heboh dan asik sebab ada lo sama emak" tambah Angga menimpali.
Alex hanya mengangguk menanggapi.
"Lex, Afifah mana? bukannya tadi dia bilang mau nyari elo ya, tapi kenapa dia nggak ada. Kalian sempat ketemu kan?" tanya Iza yang sedari tadi celingukan mencari keberadaan sahabatnya.
"Iya sempet, kita berdua tadi ketemu di koridor. Tapi dia nggak ikut bareng gue jalan kesini karna izin ke toilet, sedang kebelet makanya gue sendirian" jawab Alex memberitahu.
"Oh gitu, syukur deh. Gue kira ilang" balas Iza mangut-mangut.
Tak berselang lama Afifah pun datang setelah dia selesai dari dalam kamar mandi. Alex yang melihat kedatangan istrinya lantas langsung berjalan menghampiri.
"Pai, lama banget sih lo, kenapa baru selesai? anak-anak nungguin kita tuh. Ayo kita kesana" ucap Alex seraya berjalan mendekat lalu hendak memegang tangan Affiah untuk mengajaknya berkumpul bersama teman mereka namun ditepis oleh Afifah.
"Nggak usah pegang pegang, gue bisa kesana sendiri" ucap datar Afifah tanpa ekspresi sambil melangkah ke samping agar tidak berdekatan.
Alex pun kembali ingin menggandeng namun lagi-lagi di tepis oleh Afifah membuat kening Alex seketika berkerut sebab bingung dengan sikap istrinya.
"Pai, ada apa? kenapa lo nepis tangan gue?" tanya Alex menatap bingung.
"Gue bilang jangan pegang ya jangan pegang" jawab Afifah agak ketus.
"Tapi kenapa? apa salah gue sama lo, kenapa lo nggak mau gue pegang. Emang gue buat sesuatu sama lo" tanya Alex.
__ADS_1
"Enggak, gue cuman risih doang. Udahlah lo minggir aja, gue mau lewat. Jangan deket-deket sama gue" jawab Afifah sambil mendorong keras tubuh suaminya membuat Alex hampir saja oleng namun untung saja dia tetap bisa menjaga keseimbangan tubuh sehingga ia tidak jadi terjatuh.
Afifah hanya melirik, ia lalu kembali berjalan meninggal Alex yang sedang menatap bingung ke arah dirinya tanpa menolong suaminya.
*Sorry Wolf, gue nggak bermaksud nyelakain elo. Tapi gue cuman berusaha untuk sedikit menjaga jarak karna gue nggak mau jatuh terlalu jauh. Gue takut perasaan gue sama lo akan semakin besar dan semakin dalam jika gue nggak mengontrol diri gue* batin Afifah menunduk lesu.
Ia pun terus berjalan ke depan menuju ke arah teman sekelasnya. Setelah sampai disana Afifah pun mulai mengobrol dengan mereka semua.
Saat ia hendak menandatangani baju milik temannya tiba tiba saja matanya tak sengaja melihat ke arah Reza, sahabat cowok satu-satunya yang kala itu sedang berdiri di samping segerombolan anak kelas XII-3.
Afifah pun lantas segera memanggilnya.
"REZA.. " teriak kencang Afifah sambil berlari menghampiri.
"Afifah" gumam Reza saat tau siapa yang memanggilnya.
"Aaa ya ampun Reza, akhirnya kita bisa ketemu. Lo kemana aja sih selama ini haa? Di telpon nggak diangkat, di chat nggak di balas, di cariin nggak pernah ketemu. Gue rindu banget sama lo, udah hampir sebulan kita nggak jumpa" seru senang Afifah yang langsung memeluk erat tubuh Reza membuat Reza sedikit terkejut dengan tindakan tiba tiba sahabatnya.
Bukan hanya Reza saja yang terkejut namun Alex yang berdiri tak jauh dari mereka juga ikut terkejut. Ia bahkan langsung melototkan matanya menatap tajam ke arah Reza sambil mengepalkan tangan membuat Reza menelan ludah.
"Eh aduh Fi, jangan meluk gue" ucap Reza berusaha melepaskan pelukan mereka karena merasa tak enak dengan Alex.
"Huwaa Reza, tega banget sih lo sama gue. Gara-gara lo sering nggak respon gue dan sering hindarin gue, gue sampai mikir kalo lo udah lupa sama gue dan nggak mau lagi jadi sahabat gue tau nggak." Ujar Afifah perlahan melepaskan pelukan mereka.
"Ya nggak mungkin lah gue kek gitu. Lo kan tau sendiri kalo temen dan sahabat cewek gue itu cuman lo, nggak ada yang lain. Masa gue mau jauhin nanti yang ada malah gue sendiri yang merasa kesepian karna nggak ada temen ngobrol " ucap Reza tersenyum.
"Gue nggak sedang menjauhi atau menghindari elo tapi gue cuman berusaha untuk jaga jarak sama lo. Gue tau diri lah Fi, lo itu udah nikah jadi nggak seharusnya gue terus main bareng sama lo nanti Alex bisa salah paham, lo kan tau betul gimana sikapnya. Dia kalo lihat gue bawaanya sensi mulu, makanya itu gue jaga jarak supaya hubungan lo sama Alex tetap akur nggak berantem" ucap Reza mencoba memberi pengetian. Padahal sebenarnya dia menjauh dari Afifah supaya perasaannya tidak semakin menjadi, meski dia sudah ikhlas namun tidak bisa dipungkiri. Dalam hati Reza masih ada rasa cemburu, itu mengapa dia memilih untuk menjauh dari pada merasa sakit hati.
"Ya tapi nggak gitu juga, kalaupun lo jaga jarak tapi setidaknya lo bales dong chat dan telpon gue. Bukan malah lo abaikan" ucap Afifah yang masih cemberut.
"Hehehe.. sorry, lain kali gue nggak begitu lagi deh" ucap Reza cengingisan.
"Cengar cengir, lo tau nggak, lo. itu udah bikin gue kangen gobl*k!!" ucap kesal Afifah.
"Hustt.. ni mulut lemes banget kalo disuruh ngumpatin orang!! Inget lo nggak boleh ngomong kasar. " Peringat Reza menutup mulut sahabatnya.
"Habisnya lo ngeselin sih" cebik Afifah sambil mengerucutkan bibirnya.
Reza terkekeh melihatnya.
"Udah dong jangan marah mulu, tu bibir jangan di manyun manyunin. Nanti kalo gue khilaf dan kebablasan nyium bibir lo gimana? entar syok lo nanti" goda Reza menoel noel dagu Afifah.
"Mau gue tampol pakai knalpot?" tanya Afifah dengan nada sinis.
"Dih, kejem amat. Masa knalpot motor buat nampol orang" ucap Reza sambil bergidik ngeri.
__ADS_1
"Lagian gue cuman becanda kale. Jangan dibawa serius napa. " lanjutnya.
"Becanda lo nggak lucu. " sahut Afifah dengan nada ketus. Reza terkekeh.
"Oh ya, ngomong ngomong ini masih ada tempat buat tanda tangan gue nggak?" tanya Reza saat melihat coretan baju Afifah yang sudah hampir penuh.
"Ya tentu ada dong, masa iya buat sahabat cowok gue yang paling the best nggak gue kasih tempat" jawab Afifah.
"Dimana?"
"Di sini, nih lo tanda tangan di bawah sini" tunjuk Afifah pada seragamnya.
Reza mengangguk. Ia lalu mulai mencoret seragam Afifah dengan tanda tangannya.
"Perfect, nah sekarang giliran gue" seru Afifah melihat hasil coretan Reza.
"Ini gue dimana? lo sediain buat gue juga kan, awas aja kalo emggak. Gue nggak mau lagi sahabatan sama lo" ancam Afifah bertanya.
"Ada lah, masa iya buat orang special di hati gue nggak gue beri tempat. Kebangetan kalo gitu mah" jawab Reza. "Ini nih, dada kiri gue, tempat ini special buat lo. Dada ini letaknya dekat dengan hati jadi biar lo selalu dekat dengan gue" ucap Reza memperlihatkan dada sebelah kirinya pada Afifah.
"Yee dasar kampret! bisa aja lo gombalnya" seru Afifah memukul pelan lengan Reza.
"Bukan gombal tapi kenyataan, bukan hanya dada tapi hati gue itu pun semuanya milik elo. Cinta gue hanya buat lo Fi, makanya gue kasih tempat di sini. Biar pun cuman tanda tangannya dan bukam orangnya gue tetap bersyukur, setidaknya masih ada sedikit kenangan tentang lo di diri gue" balas Reza semakin menjadi.
"Terserah lo, dasar buaya darat. Dari dulu selalu aja ngegombal," cibir Afifah memutar malas kedua bola matanya yang memang sedari dulu tak pernah menganggap ucapan Reza serius, itu mengapa ketika dulu Reza menyatakan perasaanya Afifah malah tertawa dan mengangap itu hanyalah sebuah candaan belaka.
Semua anak angkatan kelas XII pun terus berpesta di halaman, mereka berpesta dengan sangat meriah. Tak jarang banyak sekali terdengar sorakan gembira dari mulut anak anak tersebut dan suara kembang api yang sengaja di nyalakan untuk sekedar menbuat suasana semakin asik.
Suara musik yang terus mengiri mereka menambah kesan tersendiri. Mereka semua pun begitu menikmati momen kelulusan, tak. terkecuali dengan Alex. Dia juga nampak sedang menikmati pesta itu meskipun sesekali matanya melirik istrinya dengan tatapan bingung sebab melihat perubahan sifat istrinya.
*Aneh, sebenarnya apa yang sedang terjadi. Kenapa Afifah hindarin gue? apa gue buat salah. Perasaan tidak, gue nggak merasa berbuat salah apapun sama dia. Tapi kenapa dia bersikap gini sama gue?
Kayaknya ada yang tidak beres, sejak kembali dari toilet sikap Afifah mendadak berubah sama gue, dia kayak sengaja jauhin gue. Hmm, gue harus cari tau, gue yakin pasti di dalam toilet sedang terjadi sesuatu makanya Afifah jadi seperti ini. Kayaknya gue harus cek cctv biar bisa lihat apa yang sebenarnya terjadi disana sehingga membuat Afifah menghindari gue* batin Alex yang langsung berjalan menuju ke arah gedung sebelah untuk mengecek cctv di toilet itu meninggalkan pesta tanpa pamit dengan sahabat atau teman sekelasnya.
...🐺 ♥ 🐿...
____________________________________
Jangan lupa tinggalkan jejak.
Like komen vote gitu💙
Biar author juga makin semangat untuk up bab selanjutnya
See you next episode🤗
__ADS_1
Bersambung...