
Setelah beberapa menit berkendara akhirnya mobil Afifah dkk sampai juga di sekolah. Mila lalu memarkirkannya kemudian dia turun diikuti Iza dan Afifah yang juga ikut turun.
"Akhirnya sampai juga, huh! semoga aja kita belum telat" seru Iza begitu dia turun dari atas mobil.
"Semoga aja, tapi di lihat² kayaknya belum deh Za. Coba aja lo tengok di sana, murid lain masih pada di luar. Jadi sepertinya kita belum telat" sahut Mila setelah dia mengunci pintu mobil.
"Eh iya juga ya, masih banyak yang ada di luar" jawab Iza mengiyakan.
"Oh ya ngomong-ngomong gimana penampilan gue? apa ada yang kurang atau ada yang aneh?" tanya Iza meminta pendapat.
"Nggak ada, penampilan lo bagus. Nggak ada yang aneh" jawab Mila seraya memeriksa seluruh tubuh sahabatnya.
"Sip deh kalo gitu" balas Iza tersenyum.
"Terus kalo gue gimana? make up gue masih bagus kan? masih cantik kan?" tanya balik Mila sembari memegang kedua pipinya.
"Emm.. bentar, gue lihat dulu" ucap Iza sambil memeriksa wajah Mila.
"Masih bagus, make up lo masih rapi. Nggak ada yang rusak atau luntur, penampilan lo juga oke kok" jawab Iza setelah memeriksa.
"Benarkah? perfect lah kalo masih bagus semua. Yaudah yuk kalo gitu mending kita masuk ke dalam. Nanti keburu telat, bentar lagi udah mau jam tuju" ajak Mila yang hendak melangkah pergi.
"Eh tunggu Mil tunggu, jangan pergi dulu" cegah Iza menarik kembali tangan Mila.
"Kenapa sih? ada apa?" tanya Mila menoleh.
"Itu, Afifah mana? bukannya tadi dia ikut turun, tapi kenapa sekarang dia nggak ada?" pekik Iza kebingungan menyadari jika sahabatnya sedari tadi tidak ada di sampingnya.
"Lah iya tu bocah dimana? baru juga turun udah ngilang aja" seru Mila ikut kebingungan.
"Coba gue cari di dalam mobil, barangkali aja dia tadi masuk lagi" ucap Iza.
"Mana kuncinya?"
"Nih"
"Oke makasih, bentar gue cek dulu"
Setelah mengambil kunci dari tangan Mila, Iza pun kemudian segera membuka kunci mobil tersebut. Namun di dalam mobil Iza tidak menemukan siapa-siapa, hanya sebuah tas milik Afifah yang ia temukan.
"Gimana Za? apa Afifah ada di dalam?" tanya Mila penasaran.
"Nggak ada, di dalam kosong. Gue cuman nemu tas dia doang" jawab Iza menggeleng.
"Masa sih nggak ada, lo udah lihat dengan teliti kan? lo juga udah ngecek bagasi belakang kan? barangkali aja tu bocah nyempil di sana, lo kayak nggak kenal itu anak. Dia kan random banget tingkahnya" ucap Mila tak percaya.
"Udah, gue udah lihat. Di dalam mobil emang nggak ada siapa² alias kosong, kalaupun ada udah gue tarik tu anak buat keluar" jawab Iza.
"Nah terus kalo di dalam mobil nggak ada, dia dimana? " bingung Mila.
"Mana gue tau" balas Iza mengedikan bahu.
__ADS_1
Mila hendak berkata lagi tapi suara ketukan yang sangat keras dari tempat tak jauh dari dia berdiri membuat Mila mengurungkan niatnya.
"Za, lo denger suara orang ketuk² kagak?" tanya Mila.
"Haa? ketuk² gimana?" ucap Iza dengan dahi berkerut.
"Itu kayak suara orang yang lagi mukul. Tok Tok gitu bunyinya, masa lo nggak denger sih" jawab Mila.
"Kagak denger, kuping lo nih pasti yang bermasalah. Orang gue nggak denger suara apapun kok"
"Enak aja, kuping gue bersih ya, nggak kotor. Kuping lo kali yang bermasalah" cebik Mila melirik sinis.
Iza hanya melengos. Tak lama setelah itu tiba-tiba suara ketukan itu kembali berbunyi dengan keras lebih keras dari pada yang tadi. Iza dan Mila yang mendengar reflek langsung menoleh dan saling pandang.
"Tuh tuh tuh, lo denger kan. Suara ketok² nya?" tanya Mila .
"Iya Mil, gue denger. Kira kira itu suara apaan ya?" balas Iza.
"Lah mana gue tau, kalo tau mah ngapain gue tadi tanya elo" sahut Mila mencibir.
"Yaudah sih nggak usah ngegas. Orang gue cuman ngomong doang juga" ucap Iza cemberut.
Mila memutar malas bola matanya.
"Ah udahlah dari pada kita ribut gini mendingan kita cek aja dari mana asal suara itu, kepo banget gue" ajak Mila mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Ngecek? hmm boleh juga, lagian gue juga penasaran" jawab Iza menyetujui.
"Yok lah kalo gitu kita capcus" seru Mila yang langsung berjalan sambil menggandeng Iza menuju arah suara tersebut.
Mereka berdua lalu berjalan di sekitar mobil sambil celingukan ke kanan dan kiri untuk mencoba lebih jelas dari mana asal suara tersebut. Saat mereka hendak berbalik samar-samar telinganya kembali mendengar suara tersebut dari belakang mobil atau lebih tepatnya di taman dekat parkiran.
Lastas mereka menoleh ke samping dan betapa terkejutnya Mila dan Iza saat tau bahwa suara ketukan itu berasal dari sahabat barbarnya yang rada gesrek, siapa lagi kalo bukan Afifah.
Gadis cantik setengah bule dengan segala tingkah random dan konyolnya itu tampak sedang memukul-mukulkan sepatu hak tinggi miliknya di batang pohon. Melihat hal itu Mila dan Iza langsung berlari menghampiri.
"Astagfirullahaladzim.... Afifah, jangan lo pukul. Ya ampun, sepatu mahal itu woy" teriak histeris Mila yang langsung merebut paksa sepatu tersebut dari tangan sahabatnya.
"Eh apa apaan ini, dateng dateng main srobot aja. Sini in sepatunya" ucap Afifah seraya mengulurkan tangan hendak merebut sepatu itu dari tangan Mila.
"Enggak, lo ngapain ha? mau lo apaain sepatu ini, segala pake di pukul di pohon" tolak Mila menjauhkan sepatu tersebut agar tak bisa di jangkau oleh sahabatnya.
"Ih siniin Mil, gue cuman mau nyopot hak nya doang bukan mau ngapa-ngapain yaelah elo mah" jawab Afifah.
"Apa! lo mau nyopot haknya dengan cara lo pukul" pekik Iza melototkan matanya.
Afifah mengangguk.
"Iya, habisnya kesel banget gue lihat bentuknya, ya kali belakang tinggi sedangkan depan rendah. Kalo gue pake bisa patah tulang gue, makanya rencananya mau gue copotin haknya biar seimbang" jawab enteng Afifah.
Pletak
__ADS_1
Seketika Iza langsung menjitak kepala Afifah membuat sang empu mengaduh sakit.
"Gila ya lo, woy! semua sepatu hak tinggi emang begitu modelnya. Lo kalo mau betindak pikir dulu, jangan asal lakuin. Sepatu mahal itu main patahin aja, mentang² kaya main seenaknya" seru kesal Iza.
"Resek ya lo, pala gue main lo jitak. Harga diri gue ni berani banget lo sama gue" balas Afifah mengelus lembut dahinya.
"Ya Habisnya lo bikin gue darah tinggi tau nggak, sepatu bagus² mau di patahin, kurang kerjaan banget. Lo kalo gabut mending tidur deh, jangan main aneh². Emang lo mau nanti saat masuk lo di ketawain sama anak² gara² lihat sepatu lo haa? emang lo mau jadi bahan bully an gara² sepatu lo hmm? enggak kan, kalo nggak mau ya jangan lo patahin" ucap Iza.
"Tapi nggak enak Za rasanya, kaki gue pake itu serasa lagi naik di atas jungkat jungkit. Oleng mulu tau nggak" balas Afifah.
"Gue tau Fi, ya tapi nggak harus lo patahin juga" ucap Iza.
Afifah hanya diam.
"Aish udah lah pusing gue mikirin elo. Dari pada ribut gini lebih baik kita langsung masuk aja deh, pesta kelulusannya juga kayaknya udah mau mulai tuh" ajak Mila.
"Ayok, ini juga tinggal 10 menit lagi jam tuju" jawab Iza mengiyakan.
"Fi, lo mau ikut masuk kagak?" tanya Mila menoleh.
"Ya mau lah, tujuan gue kesini kan buat ikut pesta. Masa iya gue nggak ikut" jawab Afifah.
"Kalo mau ikut buruan pake sepatu lo" perintah Iza.
"Ck, gimana sih, gue kan udah bilang gue nggak suka pake itu. Kenapa sih lo maksa mulu, kaki gue nggak nyaman pake itu" gerutu Afifah cemberut.
"Ya terus kalo lo nggak mau make ini sepatu lo mau pake apa hm? lo kan nggak bawa sepatu lain, ya kali lo mau nyeker kan nggk lucu"
"Dih kata siapa, gue bawa kok. Nih lihat, bagus kan" jawab Afifah seraya menunjukan sepasang sepatu kets di tangannya.
Pletak
Lagi lagi Iza menjitak kepala sahabatnya karena merasa gemas dengan pemikiran yang menurutnya aneh.
"Auu sialan! apaan sih Za, kenapa lo jitak gue ha? mau ngajak ribut lo, sakit tau nggak pala gue" ringis Afifah mengelus dahinya.
"Elo yang apa apaan, mana ada dress dipakein sepatu begituan ha? selama gue hidup gue nggak pernah tuh lihat baju pesta di pakein sepatu kets, yang ada mereka tuh make hig heels, flat shoes, ataus sepatu lainnya. Lah ini elo dengan santainya mau make? huh! nggak tau lagi gue sama jalan pikiran lo, terlalu random tau nggak"
"Lah emang kenapa? sepatu ini juga bagus kok"
"Yaiya emang bagus tapi ya kagak nyambung aja sama dress dan dandanan elo. Aish udah lah, jangan banyak omong. Kita bisa telat beneran nanti" ucap Mila.
Dia kemudian menarik tangan Afifah dan Iza lalu mengajaknya masuk setelah sebelumnya dia memakaikan sepatu itu pada Afifah. Meski menolak tapi Mila tetap menariknya.
___________________________________
Jangan lupa tinggalkan jejak.
Like komen vote gitu💙
Biar author juga makin semangat untuk up bab selanjutnya
__ADS_1
See you next episode🤗
Bersambung...