
Sementara itu.
Alex berjalan sambil mengendong tubuh Afifah ditangannya melewati setiap lorong dan koridor sekolah.
Dia berjalan tanpa memperdulikan setiap tatapan aneh dari para siswa siswi yang berada disana bahkan Alex juga tidak memperdulikan tatapan guru yang juga sedang melihat ke arah dirinya.
Alex tampak cuek dengan keadaan sekitar. Yang ada di pikirannya hanyalah kondisi istrinya.
Ia terus berjalan menuju ke arah parkiran. Setelah sampai disana Alex lalu memasukan dan membaringkan tubuh Afifah ke kursi belakang dengan sangat hati hati.
Kemudian Alex juga ikut masuk ke dalam mobil dan mulai mengendarai mobilnya menuju ke arah jalan pulang. Beruntung gerbang sekolah sedang tidak dikunci jadi Alex bisa dengan mudah keluar dari area sekolah tanpa harus mencari alasan sana sini.
Disepanjang perjalanan Alex melajukan mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi menembus jalanan yang sedikit padat.
Terdengar beberapa klakson dari pengendara lain saling bersahutan namun Alex sama sekali tak memperdulikannya, dia terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Suara klakson yang semakin lama semakin terdengar sangat jelas dan keras membuat Afifah menjadi tersadar dari pingsannya.
"Euuhh.. "
Lenguh Afifah ketika merasakan sebuah goncangan keras didalam mobil sehingga membuat kepalanya merasa pusing.
Afifah lalu bangun dan duduk bersandar dikursi belakang sambil memegang pelipis kepalanya.
"Ahh wolf, jangan ngebut bawa mobilnya. Kepala gue pusing" keluh Afifah membuat Alex yang sedang fokus mengemudi menjadi sedikit terkejut.
"Loh pai, sejak kapan lo sadar? " tanya Alex dengan wajah kagetnya sambil menengok sekilas kebelakang.
"Barusan, ahh.. pelan pelan aja bawa mobilnya. Jangan ngebut, kepala gue beneran pusing banget" jawab Afifah kembali mengeluh sebab mobilnya kembali bergoncang.
Seketika Alex langsung mengurangi kecepatan mobilnya sehingga laju kendaranya menjadi stabil.
__ADS_1
"Sorry, gue tadi panik makanya gue ngebut" ucap Alex tanpa menoleh.
"Lo nggak papa kan?" tanya Alex.
"Nggak papa, cuman rada sedikit pusing" jawab Afifah.
"Sabar ya, sebentar lagi mobil kita sampai dirumah. Lo tahan dulu ya" ucap Alex dan dijawab anggukan lemah oleh Afifah.
Suasana menjadi hening kembali, tidak ada pembicaraan diantara mereka berdua. Kurang lebih setelah 30 menit perjalanan akhirnya mobil yang dikendarai sampai dirumah pribadinya.
Alex pun segera memakirkan mobilnya ke dalam garasi lalu dia turun terlebih dahulu kemudian dia menbuka pintu mobil belakang.
"Nggak usah wolf, gue masih kuat. Gue bisa jalan sendiri" tolak Afifah saat Alex hendak menggendong tubuhnya.
"Tapi pai, tubuh lo masih lemes dan kepala lo juga masih pusing kan. Terus kalo nanti lo jatuh gimana? Mending gue gendong aja biar cepet nyampe kamar" ucap Alex tetap memaksa untuk menggendong.
"Ih, udah gue bilang gue baik baik aja. Gue bisa jalan sendiri, tubuh gue masih kuat. Lagian gue bukan cewe manja jadi gausah lebay gitu napa" tolak Afifah lagi.
"Jangan, gue bisa... "
"Nggak ada penolakan!" tegas Alex membuat Afifah langsung diam tak berkutik.
Alex kemudian langsung menggendong tubuh Afifah.
"Pegangan biar nggak jatoh" perintah Alex.
"Iya, ini juga mau pegangan" balas Afifah seraya mengalungkan tangannya dileher suaminya.
Mereka berdua lalu masuk ke dalam rumah. Alex berjalan dengan sangat hati hati saat menaiki setiap anak tangga untuk menuju ke lantai dua dimana disana adalah letak kamar pribadi mereka berdua.
Sesekali Alex melihat kebawah memastikan jika istrinya tidak jatuh. Setelah sampai didalam kamar, Alex lalu meletakkan tubuh Afifah secara perlahan ke atas ranjang.
__ADS_1
"Hah akhirnya sampai kamar juga" lega Afifah yang langsung merebahkan tubuhnya sambil memijat kepalanya.
"Kepala lo masih pusing ya?" tanya Alex yang berdiri disamping Afifah.
"Hmmm sedikit"
"Apa mau gue pijitin?" tawar Alex sambil duduk disamping Afifah dan mengelus kepala Afifah.
"Nggak usah, gue nggak papa kok. Mungkin ini efek obat yang lo kasih tadi, entar juga ilang sendiri pusingnya jadi lo nggak usah khawatir" tolak Afifah seraya menyikirkan tangan Alex dikepalanya.
"Kalo gitu gue bikinin teh ya biar badan lo hangat dan pusing nya cepet reda" tawar Alex lagi.
Afifah nampak berfikir sejenak sebelum menjawab.
"Emm.. boleh, tapi jangan terlalu manis" ucap Afifah mengiyakan.
"Oke, tunggu bentar ya gue buatin. Lo jangan kemana mana, tetaplah tidur disini" ucap Alex sambil berdiri dan dijawab anggukan kepala oleh Afifah.
Cup
Alex mengecup sekilas kening Afifah sebelum dia pergi ke dapur. Afifah yang mendapat kecupan dadakan hanya bisa geleng kepala sambil tertawa pelan.
*Hahahaha ada ada aja tu anak. Bisa banget bikin gue baper* batin Afifah menggelengkan kepala.
________________________________
Jangan lupa tinggalkan jejak😍
Like komen Vote gitu😁
See you next episode💙
__ADS_1
Bersambung....