
"Pa, buka pintunya. Izinin aku ketemu sama Afifah" ucap Alex yang masih setia berdiri di depan pintu sambil melipat kedua tangannya karna dirinya merasa dingin akibat terkena angin malam yang berhembus kencang.
Sudah hampir satu jam dia berdiri di sana memohon pada mertuanya agar memperbolehkan dirinya bertemu dengan istrinya. Namun sama sekali tak ada jawaban atau tanda tanda pintu akan dibuka.
Satpam rumah yang sedari tadi melihat dari kejauhan nampak merasa kasian pada anak majikannya. Meskipun dia tidak mengetahui apa masalahnya tapi melihat Alex seperti itu dia sudah bisa menebak jika masalah mereka sangat serius.
Apalagi melihat tubuh Alex yang sedikit menggigil membuat dia semakin merasa kasian. Ia pun kemudian berdiri dari duduknya lalu berjalan menghampiri Alex di depan pintu.
"Den, lebih baik aden pulang aja ya. Kalo mau ketemu sama non Afifah mending besok balik lagi" ucapnya begitu dia sampai di samping Alex.
"Nggak mang, aku nggak mau pulang. Aku mau di sini aja" tolak Alex dengan suara lemah.
"Ini sudah larut malam, nanti aden bisa sakit kalo terus terusan berada di luar. Apalagi udara malam ini sangat dingin sekali, lihat tuh bibir aden juga udah pucet dan badan aden juga menggigil. Mending aden pulang, jangan menyiksa tubuh aden sendiri" ucap satpam mencoba menasehati.
"Aku nggak papa mang. Ini cuman kedinginan, tidak akan membuatku sakit. Aku mau tetap di sini sampai Papa memperbolehkan aku masuk" tolak Alex lagi.
"Den, aden jangan keras kepala. Lebih baik aden pulang saja, jika aden terus berada di sini yang ada tuan tidak akan membukakan pintu tapi malah akan semakin melarang aden masuk" ucap satpam.
"Besok aden masuk sskolah bukan? jadi mending aden pulang biar besok tidak telat" sambung satpam.
Alex nampak diam, dia sedang memikirkan perkataan satpam itu.
*Benar juga apa yang dikatakan mamang, jika aku tetap disini nanti Papa akan semakin melarangku karna aku tidak mau menuruti ucapannya.
Lebih baik aku pulang agar Papa tidak marah padaku. Lagi pula besok sekolah sudah mulai masuk. Gue harap gue bisa ketemu sama Afifah di sekolah dan menjelaskan semuanya* batin Alex.
"Baiklah mang, aku akan pulang. Tapi aku titip ini pada mamang ya, nanti tolong kasih sama Afifah" pamit Alex sambil memberikan sesuatu pada satpam dan diterimanya.
"Iya den, besok saya akan kasih pada non Afifah" jawab satpam mengiyakan permintaan Alex.
"Kalo gitu aku pamit pulang dulu" ucap Alex dan dijawab anggukan kepala oleh satpam.
"Iya den, hati hati dijalan" balas satpam sambil tersenyum.
Alex pun lalu berbalik dan berjalan menuju gerbang kemudian dia menaiki mobilnya.
****
Sedangkan di sisi lain.
Didalam pesawat yang sedang lepas landas terlihat Justin sedang duduk disana. Malam ini dia memutuskan untuk pulang.
Berada di Belanda hanya akan membuat hati nya tidak tenang sebab dia merasa takut jika meninggalkan Vita terlalu lama. Tadi sore setelah bertengkar dengan Papa nya Justin kemudian membuka ponsel untuk memesan tiket pesawat.
Kebetulan malam itu ada jadwal penerbangan menuju Indonesia, tanpa banyak berfikir Justin segera memesan. Kini dirinya tengah duduk di dalam pesawat bersama penumpang lain.
"Sudah jam sebelas malam, itu artinya perjalanan ke Indonesia kurang empat jam lagi. Sebaiknya gue tidur dulu biar besok gue nggak ngantuk saat sekolah" gumam Justin saat melihat jam. Dia lalu memejamkan matanya untuk tidur.
...🥨 🥨 🥨...
Keesokan paginya, di dalam sebuah kamar yang bernuansa cat hitam nampak Mommy Alex baru saja masuk ke dalam sana untuk membangunkan anaknya.
__ADS_1
Semalam Alex memang memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya sebab dia merasa malas jika kembali ke rumah pribadinya untuk tidur disana. Ia tak mau bayang² tentang kejadian malam itu menghantui pikirannya, Alex takut jika dia akan merasa semakin bersalah yang nantinya akan mengakibatkan trauma nya kambuh karna rasa cemas terlalu berlebihan menyerang hatinya. Itu mengapa dia pulang ke rumah orang tuanya.
"Alex bangun sayang, ini sudah pagi" panggil Mommy sambil berjalan menghampiri putranya yang masih terlelap di alam mimpi.
"Alex bangun, sudah pagi"
"Lex"
"Alex, bangun"
"Ish.. ayo bangun, nanti kamu telat sekolah loh" panggil Mommy lagi namun Alex hanya diam sambil masih menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
Merasa sedikit kesal karna anaknya tak kunjung bangun, Mommy Alex pun langsung menarik paksa selimut tebal yang menutupi tubuh Alex hingga jatuh di lantai.
Seketika matanya langsung melotot kaget saat dia tak sengaja menyentuh kulit Alex yang terasa panas dan juga saar dia melihat keadaan putranya yang terlihat sangat lemas dengan bibir pucat.
"Astagfirullahaladhim sayang, Kamu demam ya?" pekik terkejut Mommy Alex sambil kembali menjulurkan tangannya di dahi anaknya hanya sekedar memastikan.
"Ya ampun, badan kamu panas banget. Bibir kamu juga pucat dan tubuhmu juga sangat lemas sekali. Kita pergi ke dokter ya, hari ini kamu izin nggak masuk sekolah dulu aja, biar dokter bisa memeriksa keadaaan mu" ucap Mommy setelah dia menyentuh dahi anaknya
"Ti-Tidak Mom, aku ba-baik baik saja. Aku tidak papa, aku mau pergi sekolah" tolak Alex dengan suara lemah.
"Baik baik saja bagaimana? jelas jelas badan kamu lemas dan demam tinggi seperti ini kamu bilang baik baik saja? kamu itu demam sayang, kamu itu demam jadi kamu harus periksa ke dokter"
"Ta-tapi aku ingin masuk se-sekolah Mom, aku ingin bertemu de-dengan Afifah untuk menjelaskan semuanya. Aku ti-tidak bisa tenang Mom, aku takut ji-jika aku tidak berusaha menjelaskan na-nanti Afifah malah akan semakin membenci di-diriku. Aku tidak mau hal itu terjadi" tolak Alex lagi dengan suara yang masih lemah.
"Enggak akan, Mommy yakin Afifah tidak akan membencimu. Dia hanya sedang merasa kecewa saja dengan mu jadi kamu jangan khawatir. Nanti kalo Afifah sudah tenang dia akan kembali lagi padamu. Lebih baik kamu fokus sama kesehatanmu dulu, jangan memikirkan hal lain. Jika kamu terus memikirkannya maka demam kamu akan semakin parah"
"Sayang, jangan ngeyel. Lihat kondisi kamu, kamu itu sedang sakit. Kamu duduk aja tidak bisa kan? lalu bagaimana kamu mau pergi ke sekolah. Bisa bisa kamu akan jatuh pingsan kalo memaksa. Sudahlah kamu itu diam dan turuti saja perkatan Mommy, jangan membantah. Ini juga demi kebaikan kamu sendiri, urusan Afifah nanti kamu juga bisa menyelesaikan nya di waktu lain. Intinya sekarang kamu fokus dulu sama kesehatanmu, jangan terlalu stress" ucap tegas Mommy.
Dengan terpaksa Alex mengiyakan meskipun di dalam dirinya sangat ingin sekali menolak. Namun apa daya, jika difikir fikir apa yang dikatakan Mommy nya juga ada benarnya.
Keadaan dirinya saat ini sangatlah lemas jadi bagaimana bisa dia pergi ke sekolah sedangkan untuk duduk saja dia tidak kuat.
....................
Sementara di sekolah.
Terlihat Afifah baru saja sampai di sana. Setelah memarkirkan motornya Afifah kemudian berjalan menuju kelas. Hari ini dia memang sengaja berangkat pagi karna dia sedang ujian.
"Assalamualaikum" ucap salam Afifah begitu masuk ke dalam kelas.
"Waalaikumsalam" jawab serentak semua anak yang ada di dalam kelas.
"Eh buset mak? ini beneran lo? astaga.. ngimpi apa lo mak semalem, tumben banget lo berangkat pagi" cebik Angga saat melihat siapa yang datang.
"Iya mak, tumben banget. Kesambet setan mana lo sampai mendadak jadi murid rajin begini?" timpal Mike menyahut.
Namun Afifah hanya diam tak menjawab, moodnya sedang tidak baik jadi dia malas untuk bicara apalagi menanggapi ucapan teman temanya.
"Mak lo kenapa? muka lo kok bete gitu?" tanya santi melihat emaknya yang hanya diam tak menanggapi dengan wajah datar tanpa ekspresi.
__ADS_1
"Hooh mak, lo kenapa? kok muka lo sedih gitu? lo sedang ada masalah ya mak? nggak biasanya lo kayak gini. Terus juga tumben banget lo berangkat sendiri, bapak mana?" sahut Siska ikut bertanya.
"Gue nggak tau" jawab singkat Afifah tanpa melihat sambil berjalan menuju meja miliknya.
Siska hendak bertanya kembali namun dengan cepat Afifah menyelanya.
"Ck, udahdeh lo semua bisa diem nggak sih. Nggak usah nanya nanya gue, gue sedang nggak mau ngomong" cebik Afifah sedikit berteriak.
Seketika semua temannya langsung diam. Tidak ada yang berani bersuara dan bertanya. Mereka sedikit merasa takut jika melihat Afifah sudah dalam mode galak seperti itu.
Melihat semua temannya diam Afifah lalu kembali berjalan, setelah sampai di meja miliknya dia pun segera mendudukan diri disana tepat di samping Mila sebab dia memanglah sebangku dengan Mila, sementara Iza dia duduk didepan bangkunya bersama murid lain.
"Fi, lo habis pergi kemana? kemarin Alex datang ke rumah gue nyari nyariin keberadaan lo" tanya Mila ketika Afifah baru saja duduk.
"Iya Fi, lo pergi kemana? kemarin Alex juga sempat datang ke rumah gue dan bertanya apa lo sedang ada dirumah gue atau enggak sama seperti Mila. Katanya lo kabur, emang lo kabur kemana?" sambung Iza sambil duduk menghadap ke belakang untuk menatap Afifah.
"Gue nggak kabur, gue cuman ke rumah mama. Untuk sementara ini gue pisah rumah dulu dengan dia" jawab Afifah.
"Hah pisah rumah? memang kenapa? apa lo sama Alex sedang ada masalah?" tanya Mila dengan alis terangkat.
"Sedikit, ya biasalah masalah rumah tangga. Lo berdua pasti paham kan, tapi untuk saat ini gue belum bisa cerita. Lain kali aja lo gue ceritain" ucap Afifah.
Mila dan Iza mengangguk paham. Obrolan merek berakhir sebab bell masuk sudah berbunyi pertanda ujian akan segera di mulai bersamaan dengan seorang guru yang masuk ke dalam kelas XII-3.
*Kok Alex belum datang juga ya, padahal ini kan sudah bell. Apa dia masih dijalan* batin Afifah saat menyadari suaminya belum ada di kelas.
"Ka, Alex mana? Kok dia belum berangkat sekolah, jangan jangan dia lupa lagi kalo sekarang sedang ujian" tanya Diki pada sahabatnya yang juga menyadari Alex belum ada di kelas.
"Alex hari ini izin, dia nggak masuk karna sakit. Tadi Mommy nya sempat nelpon gue untuk ngizinin Alex sama gue" jawab Aska.
"Hah? Alex sakit? sakit apa dia?" tanya Diki lagi.
"Gue juga nggak tau Alex sakit apa, tadi gue lupa nanya sama Mommny nya" jawab Aska.
"Kalo gitu nanti pulang sekolah kita jenguk dia ya, gue jadi cemas sama keadaannya" ucap Diki dan diiyakan oleh Aska.
Afifah yang kebetulan tak sengaja mendengar obrolan mereka nampak terkejut mendengarnya.
* Apa? jadi Alex sakit, pantas saja dia belum berangkat sekolah. Ya tuhan, kok gue jadi merasa cemas dan khawatir sama dia. Meskipun gue sama Alex sedang marahan tapi mendengar kondisi dia seperti ini hati gue jadi merasa nggak enak. Apalagi semalam kata mamang Alex pulang larut malam dalam keadaan pucet dan menggigil kedinginan. Ya ampun, gue harus gimana? gue takut Alex kenapa napa* batin Afifah gelisah.
__________________________________
Jangan lupa tinggalkan jejak😍
Like komen vote gitu💙
Biar Authornya juga makin semangat untuk up bab selanjutnya♨️
See you next episode😘
Bersambung....
__ADS_1