
Setelah cukup lama berpelukan, Alex kemudian secara perlahan melepaskannya. Di lihatnya wajah Afifah yang masih tertunduk dengan rambut yang acak-acakan dan baju berantakan disertai suara isakan tangis masih terdengar.
"Jangan nangis lagi, gue paling benci lihat wanita lemah. Gue sukanya lihat wanita itu kuat" ucap Alex sambil menyibak rambut Afifah dan mengelap sisa air mata dipipi nya dan membenarkan baju Afifah yang berantakan.
"Sorry, gue jadi lemah banget hari ini. Sebenarnya gue sendiri juga benci lihat air mata jatuh dari mata gue, tapi apalah daya. Gue terlalu kebawa emosi dan perasaan sehingga gue jadi nangis dan gampang rapuh begini" balas Afifah tersenyum manis.
"Nah gitu dong, ini baru Afifah yang gue kenal. Cewek nyebelin yang ada dihidup gue, cewek sok jagoan didepan gue padahal nyalinya ciut kalo dideketin dan cewek yang nggak suka dirinya nangis tapi selalu bikin orang lain nangis" ujar Alex seraya menguncir cepol rambut Afifah agar terlihat rapi.
"Hhmmm" sahut Afifah.
"Apapun masalahhya lo harus tetap tenang, jangan biarin emosi nguasain diri lo karna nanti lo bakal rugi sendiri" ucap Alex.
"Yha" jawab singkat Afifah.
"Cih, sok bijak banget jadi orang. Cari muka" cibir Justin tak senang dengan Alex.
Afifah mendengar suara Justin langsung berbalik ke belakang, sesaat kemudian raut wajahnya yang semula sendu kini berubah jadi galak dengan kedua alis yang saling berkerut menyatu dan tangan terkepal serta sorot mata kebencian penuh dendam kembali terpancar dimanik matanya.
"Elo! Kenapa lo masih hidup haa? bukannya tadi udah gue bunuh. Tapi kenapa elo belum mati" ucap Afifah menatap tajam Justin.
" Vita, jangan marah dulu. Dengerin penjelasan gue Vit. Tolong maafin gue dan kembalilah sama gue dan tinggalin cowok itu" ucap Justin.
"Agghhttt... diem lo setan!! gue nggak akan pernah mau balikan sama elo dan gue nggak akan pernah maafin elo. Gue benci sama elo, elo penghancur hidup gue. Elo penyebab gue seperti ini" teriak Afifah yang kembali emosi.
"Maafin gue Vita, tolong maafin gue. Gue ngaku gue salah, gue nggak sengaja waktu itu jadi please vita.. maafin gue" ucap Justin memohon.
"Apa kata lo, maaf? lo pikir dengan minta maaf semua bakal balik kayak dulu. Lo pikir jika gue maafin lo abang gue kembali hidup, mental gue kembali stabil, nggak kan. Kata maaf lo itu nggak ngaruh apa-apa buat gue, kecuali jika lo mati baru akan ngaruh karna dendam gue terpenuhi. Hahaha.. lo denger, dendam gue akan terpenuhi dengan kematian lo. Jadi bersiaplah untuk mati jika lo pengen gue nerima permintaan maaf lo" teriak Afifah lagi dengan tawa mengerikan. Kemudian dia kembali meraih gucci kecil disampingnya dan melempar tepat ke arah Justin sehingga membuat lutut Justin terluka.
"Akhhkkk.. VIta!! " pekik Justin kesakitan.
"Ahh.. dasar beg0, gobl*k, nggak punya otak.Udah bagus bagus gue selamatin eh malah nyari gara-gara lagi. Jadi begini kan, terima tuh resikonya, dikasih tau suruh diem malah ikut ngomong, sukurin tuh luka lagi. lo pikir gampang apa nenangin orang depresi, susah nj*r!! giliran udah tenang dibikin tegang lagi. Bener-bener gobl*k, beg0, otak kok nggak dipake" makian demi makian Alex lontarkan pada Justin karna merasa greget sendiri.
__ADS_1
Sedangkan yang dimaki tidak mendengarkan, dia terus mengerang kesakitan.
"Mati lo mati! gue nggak mau lihat muka lo lagi" ucap Afifah sambil membawa pecahan kaca ditangannya hendak menancapkannya pada leher Justin dari belakang tapi Alex segera menggeret menjauh tubuh Afifah.
"Lepasin gue! lo jangan ikut campur, lo nggak tau seberapa kejamnya dia. Lo nggak tau seberapa licik nya dia. Jadi jangan halangin gue buat bunuh dia" ucap Afifah mencoba melawan.
"Tenang Pai tenang. Ingat kata-kata gue tadi, lo harus tenang, lo harus bisa ngendalikan emosi lo" ucap Alex.
Namun Afifah tetap melawan bahkan dia kembali berontak. Dengan sekuat tenaga Alex mencoba menahan sampai akhirnya lama kelamaan dia merasa kelelahan.
"MAMA!.. MAMA! TOLONG BANTU AKU, AFIFAH NGAMUK LAGI MA!! " teriak Alex meminta bantuan.
"MAMA CEPETAN KESINI MA"
"IYA SAYANG, ADA APA? " sahut Mama Afifah yang ikut berteriak.
"Afifah ngamuk lagi Ma, gara-gara cowok nggak ada otak itu. Disuruh diem eh malah ikut ngomong jadinya ya ngamuk lagi. Mana makin kuat lagi berontakannya, Alex nggak kuat Ma. Tolong bantuin" ucap Alex. Mama Afifah pun segera membantu menantunya.
Beruntung Papa Afifah cepat datang membawa dokter pribadi yang selama ini menangani penyakit Afidah jadi Afifah langsung diberi obat penenang serta suntikan membuat Afifah tak sadarkan diri.
Afifah pun langsung digendong Alex dan dibawa naik ke atas untuk menuju kamar mereka. Sedangkan Justin, setelah menyuntik Afifah dokter itu langsung mengobati luka ditubuhnya.
Sesekali ringisan dan keluhan muncul dibibir Justin saat luka tersebut diberi obat.
"Aduh.. dok, Pelan-pelan. Lukanya jangan ditekan, perih dok" ucap Justin menahan sakit.
"Sekarang kamu lihat kan gimana bahaya nya Afifah kalo udah kambuh. Dia bisa berubah jadi kejam jika merasa terusik, hampir saja nyawa kamu melayang, untung ada Alex yang nyelamatin kamu" ucap Mama Afifah.
"Bukan karna dia tan aku bisa selamat. Tapi emang dasarnya Vita aja yang sebenarnya nggak mau nyakitin aku karna aku yakin Vita pasti masih cinta sama aku tan makanya dia nggak jadi bunuh" ucap Justin yang tidak suka mendengar pujian Mama Afifah pada Alex.
"Kamu salah, justru karna Alex dia nggak jadi bunuh kamu. Coba aja Alex nggak datang pasti hari ini kamu sudah dimakamkan. Lagian dari awal tante sudah memperingatkan kamu untuk tidak ketemu sama dia. Namun kamu malah ngeyel ingin bertemu sama dia dan berjanji nggak akan aneh-aneh. Tapi nyatanya apa, kamu malah bikin anak tante kumat lagi. Kenapa sih kamu nglanggar janji kamu tadi? emang kamu senang melihat dia kesakitan, kamu senang melihat dia menderita? "
__ADS_1
"Nggak tan, aku cuman nggak suka aja lihat Vita sama cowok itu bahagia. Hati aku sakit tan lihatnya, selama ini aku nahan rindu dan nahan kangen sama dia eh giliran ketemu dia udah ada yang lain. Aku nggak terima tan" ungkap jujur Justin.
"Tapi nggak gitu juga caranya Justin! kamu nggak bisa seenaknya sama dia, akibat ulah kamu Afifah jadi kambuh lagi. Tante udah peringatin kamu tapi kamu nggak mau denger, tante jadi nggak percaya lagi sama kamu" ucap Mama Afifah kesal.
"Tante, aku ngelakuin ini semua karna aku cinta sama Vita tante. Aku juga sayang sama dia. Dari kecil aku dan dia selalu bersama tan, kita selalu jalan berdua. Tapi setelah kejadian lima tahun lalu semuanya berubah, aku dan dia mejadi terpisah. Dan hari ini kita kembali bertemu tapi keadaan berbeda, jika dulu dia milikku tapi sekarang dia milik orang lain dan aku nggak bisa menerima itu tan"
"Kamu salah Justin! Jika kamu beneran cinta sama dia harusnya kamu bisa menerima, karna cinta nggak harus memiliki" ucap Mama Afifah.
"Nggak tan, aku nggak bisa. Dari kecil Vita milikku dan selamanya hanya akan menjadi milikku, nggak ada yang boleh merebutnya dariku karna aku dan Vita sudah ditakdirkan untuk bersama"
"Cukup Justin! jika kamu terus menerus membuat dia tersiksa, tante nggak akan izinkan kamu untuk menemuinya lagi" ucap Mama Afifah sedikit emosi.
Mereka berdua terus berdebat. Hingga akhirnya Mama Afifah menyuruh Justin pulang karna merasa kesal dengannya.
Justin pulang diantar Papa Afifah karna melihat kondisi Justin yang terluka cukup parah tidak memungkinkan untuk mengemudi sendiri. Sebelum masuk ke dalam mobil, Justin terlebih dahulu menengok ke belakang menatap kembali menatap rumah orang tua Afifah.
Entah apa yang sedang dipikirkan Justin tapi terlihat dia sedikit menyunggingkan senyum smirk disudut bibirnya.
Sebelum akhirnya dia berbalik dan masuk ke dalam mobil bersama Papa Afifah.
________________________________________
Maaf man teman, hari ini telat up. Soalnya aku lagi sibuk banget, lagi kerjar tugas daring takut nanti nggak dapat nilai. Kan bisa berabe urusannya... apalagi ini udah semester 2 jadi harus lebih rajin biar dapet nilai diatas kkm dan biar naik kelas😁😁.
Ini aja baru selesai ngetik langsung aku updet. Jadi mohon pengertiannya😊.🙏..
Jangan lupa tinggalkan jejak. Like komen gitu😋 biar aku juga makin semangat😅.
See you next episode😘.
__ADS_1