
"Hah seriusan lo udah nemuin dia?" pekik teman lainnya sedikit terkejut sambil melototkan matanya.
"Iya"
"Di negara mana? New York? Australia? London? Swiss atau Prancis?" tanya mereka penasaran.
"Nggak semuanya"
"Terus dimana?"
"Indonesia"
"Apa Indonesia?"
"Iya, Vita sama keluarganya ternyata selama ini tinggal disana"
"Jadi itu kenapa lo beberapa bulan ini milih menetap disana dari pada pindah negara lagi karena lo udah nemuin pacar lo?"
"Hmm, kurang lebih beberapa hari kedepan gue juga bakal balik lagi kesana"
"Yah nggak bisa main bareng lagi dong kita, sayang banget. Baru juga ketemu udah mau pergi lagi" decak sebal teman Justin.
"Asal kalian tau ya, gue seneng banget akhirnya setelah bertahun tahun gue bisa ketemu lagi sama Vita. Gue sangat bahagia banget waktu tau jika dia baik baik aja, rasanya gue pengen banget meluk dia tanpa melepas dan bilang kalo gue sangat merindukannya.
Sumpah masih nggak nyangka banget kalo gue sekarang udah berhasil menemukan keberadaanya. Gue bener bener nggak mau jauh ataupun berpisah lagi sama dia, gue ingin selamanya sama dia . Vita adalah kehidupan gue, tanpa dia gue nggak sanggup jalanin dunia ini sendirian" ucap Justin dengan senyum lebar mengingat bagaimana senangnya dia dulu ketika pertama kali bertemu dengan Afifah setelah lima tahun berpisah.
"Jika begitu lalu kenapa lo nggak ajak dia tinggal di Belanda lagi? ya biar lo nggak bolak balik sana sini dan juga supaya Om Jeff nggak sendirian, selama lo pergi diakan hidup sendiri. Lagi pula rumah Vita yang dulu masih ada kan, belum dijual so kenapa lo nggak bujuk dia buat balik"
"Nggak semudah itu, sekarang Vita udah berubah. Dia juga sekarang benci sama gue jadi gue masih berusaha buat dapetin lagi hatinya" jawab Justin menunduk.
"Tapi kenapa? bukannya hubungan lo sama dia akur ya" tanya teman Justin dengan alis terangkat satu.
"Ya itu dulu, saat ini Vita udah beda. Dia sekarang lebih badas dan barbar, bahkan Vita yang dulunya feminim sekarang berubah jadi tomboy. Tetapi meski begitu dia masih kelihatan cantik bahkan sangat cantik" jawab Justin tersenyum tipis membayangkan Afifah.
"Yaelah cuman perkara sifat sama pakaian doang kenapa di permasalahin. Gaya orang bisa berubah kapan aja"
"Ckk, masalahnya bukan itu. Selain gayanya yang berubah saat ini Vita udah punya pasangan lain. Dia udah menikah"
"APA!! VITA UDAH MENIKAH!!" teriak kaget mereka semua dengan mata melotot.
"Lo yang bener, jangan becanda lo. Nggak lucu tau!"
"Iya, jangan becanda lo. Mana mungkin Vita udah menikah, dia kan baru lulus sekolah sama kayak kita masa iya baru keluar sekolah udah ngadain acara pernikahan"
__ADS_1
"Gue nggak ngada-ngada Vita memang sudah menikah" jawab Justin menunduk.
"Sama siapa? sama elo?"
Justin menggeleng.
"Bukan, sama teman sekelasnya. Cowok badboy yang memiliki sifat cuek dan sama barbarnya kayak Vita" lirih Justin.
"Ya ampun sadboy banget sih lo, udah belain nyari sana sini eh nggak taunya ternyata ceweknya udah nikah. Lo yang sabar ya, gue yakin lo dapat pengganti yang lebih baik dari Vita" ucap teman Justin sambil merangkul pundak cowok bule itu.
"Iya yang sabar ya, ikhlasin aja. Itu artinya kalian belum jodoh, mungkin takdir lo sama Vita hanya sebatas sahabat doang" sahut teman satunya yang ikut merangkul pundak Justin.
Sedangkan Justin hanya menyunggingkan senyum tipis mendengar nasehat temannya.
*Cih enak aja, mana bisa gue ikhlasin. Vita udah punya gue duluan dari dulu, hubungan gue dengan dia udah 10 tahun jadi mana mungkin gue lepasin dia begitu aja.
Cepat atau lambat gue pasti akan pisahin mereka berdua karena sejak awal dia milik gue. Calon istri gue, nggak akan gue biarin Vita bahagia bersama laki laki selain gue* batin Justin.
Mereka semua pun kemudian kembali mabuk, Justin beberapa kali terlihat menegak minuman keras itu sampai tandas.
Bahkan setelah botol yang ia pesan tadi habis dia membelinya lagi, malam ini Justin benar benar tak terkontrol. Rasa kesal, marah, dan kecewa terhadap Papanya yang menolak membantu dirinya untuk melancarkan rencananya membuat pria itu melampiaskan semuanya dengan alkohol.
Sampai tak beberapa lama kesadaran dalam dirinya mulai berkurang, hanya tinggal 15% yang tersisa.
Suara nontifikasi pesan masuk yang tersengar beberapa kali membuat cowok itu terpaksa memperhentikan tegukan terakhir di botol miras.
Dengan gerakan lambat ia pun meraih ponsel tersebut. Setelah di buka Justin merasa terkejut saat melihat ada banyak sekali nontifikasi panggilan tak terjawab dari papanya serta beberapa pesan masuk yang mengatakan jika dia disuruh untuk pulang.
Melihat hal itu Justin menjadi cemas.
"Papa? tumben banget Papa menelponku sebanyak ini dan mengirimiku banyak pesan. Biasanya Papa nggk pernah seperti ini, ada apa ini? apa ada sesuatu yang terjadi sama Papa?" gumam Justin gelisah.
"Apa tadi gue udah keterlaluan samanya karena udah dengan lancang menyebut Mama. Selama ini kan Papa benci banget sama dia, duh gue kok jadi khawatir sama Papa. Ngapain sih gue tadi pake acara nyebut nama orang nggak tau diri itu, sekarang jadi gelisah sendirikan.
Kira kira Papa gimana keadaanya, apa gue balik sekarang? tapi gue sama Papa kan lagi bertengkar. Ah masa bodo lah, lebih baik gue pulang dari pada ovt begini lagi pula gue benar benar khawatir sama Papa" ucap Justin seraya berdiri dari duduknya.
"Eh mau kemana lo?" tanya temannya.
"Pulang, Papa gue nyuruh gue balik" jawab jutek Justin.
"Mau gue anterin?"
"Kagak usah, gue sendiri aja"
__ADS_1
"Tapi lo sedang mabuk berat, lihat aja tuh kaki lo aja nggak bisa di buat berdiri tegak. Gue anterin aja ya"
"Gue bilang nggak usah, udahlah lo senang senang aja sama yang lain. Gue cabut duluan" ucap Justin yang kemudian dia pergi dari sana meninggalkan teman temannya yang masih asik minum dan menari di club malam tersebut.
Dia berjalan dengan langkah terseok-seok di pinggir jalan, kesadaran dalam dirinya yang tersisa sangat sedikit membuat cowok bule itu kesusahan berjalan.
"Aghhtt kepala gue sakit banget ya tuhan kayaknya gue kebanyakan minum deh. Taksi juga dari tadi kenapa belum ada yang lewat, gue udah nggak sanggup jalan" desis Justin kesakitan sambil terus berjalan.
"Agghtt sakit banget"
"Sialan, rasanya kepala gue mau pecah aja. Ini beneran pusing" desisnya lagi.
Berulang kali Justin terlihat hampir terjatuh saat mencoba melangkah namun dia kembali berdiri tegak.
"Aghhtt sakit, Papa.. sakit" erang Justin sambil memegang kuat kepalanya di pinggir jalan sampai akhirnya ketika kesadaran dalam dirinya benar benar hilang dan kakinya tak kuat lagi untuk melangkah Justin pun jatuh pingsan.
Bruk
"Astaga.. siapa itu" pekik seseorang yang berada tak jauh dari sana kala melihat tubuh Justin ambruk di pinggir jalan.
"Ya ampun, inikan pemuda yang ada di kantor Jeff tadi. Kenapa dia, kok bisa pingsan begini. Huh ternyata kebanyakan minum, nyengat banget lagi aromanya"
"Sepertinya gue harus bawa dia ke apaetemen, kasian juga dia kalo di biarkan di pinggir jalan dalam keadaan mabuk berat dan sepi begini. Meski menyebalkan tapi dia masih anak anak, lagi pula aku tidak tau rumahnya dimana jadi nggak ada salahnya juga aku membawanya pergi" ucap orang itu yang tenyata adalah Ellie.
"Sopir tolong bantu saya angkat anak ini ke dalam mobil" pintanya pada sopir pribadinya.
"Baik nyonya" jawab sopir tersebut lalu mulai mengangkat tubuh Justin dan memasukannya di dalam mobil diikuti Eliie yang juga ikut masuk ke dalam.
Setelah itu mobil mereka pun mulai berjalan untuk menuju apartemen miliknya.
*Wajah ini, kenapa setiap kali melihat anak ini aku selalu merasakan perasaan aneh. Kayak ada yang berbeda dalam diri anak ini yang membuat ku selalu ingin dekat dengan dia* batin Ellie sambil membelai pelan wajah Justin sebab posisi Justin sekarang tengah tidur di mobil dengan kepala berada di paha Ellie.
*Hah.. melihat anak ini aku menjadi kepikiran dengan Justin. Apa mungkin dia sekarang sudah sebesar ini ya, pasti dia jadi pria yang sangat tampan. Namun sayang sekali, sampai detik ini Jeff masih belum mengizinkan aku bertemu dengan putraku. Andai saja dulu aku tidak bertindak bodoh pasti sekarang aku bisa bersama dengan anak ku*
*Sayang, mama sangat merindukanmu. Di manapun kamu berada mama harap kamu dalam keadaan baik dan juga semoga aja setelah kita bertemu kamu tidak membenci mama* batin Ellie.
Updet lagi nanti sore untuk part Alex dan Afifah, untuk bab ini memang part khusus Justin.
___________________________________
Jangan lupa tinggalkan jejak.
Like komen vote gitu💙
__ADS_1
Biar author juga makin semangat untuk up bab selanjutnya