
Justin perlahan mulai menggercapkan matanya saat merasakan silauan cahaya dari balik gorden. Kepalanya terasa sangat pusing dan tubuhnya terasa sangat lemas.
Hal pertama yang ia lihat saat membuka mata adalah adanya sebuah ruangan asing yang dia temukan.
Ruangan yang selama ini tak pernah dia ketahui, mlihat itu kening Justin nampak berkerut, ia terlihat sedang bingung dengan lingkungan sekitarnya.
"Gue ada dimana? dan siapa yang bawa gue kesini. Perasaan semalam gue mau pulang lalu kenapa sekarang gue ada di sini?" gumam bingung Justin seraya menoleh kesana kemari.
Nyutt!
"Stttt sakit banget, ah mana pusing lagi" desis Justin meringis sambil memegang kuat kepalanya ketika merasakan sakit kepala hebat.
Mungkin efek minuman keras. Pengaruh alkohol yang terlalu banyak semalam benar benar membuat kesadaran cowok itu hilang. Bahkan sekarang Justin pun tidak ingat apa yang terjadi sehingga dia bisa ada di sini.
"Kamu sudah bangun" suara seseorang yang tiba tiba terdengar membuat Justin seketika mendongak, ia lalu menoleh dan mendapati seorang wanita masuk sambil membawa nampan.
"Loh itukan wanita yang ada di kantor Papa kemarin, ngapain dia disini?" gumam Justin pelan saat melihat Ellie berjalan ke arahnya.
"Bagaimana keadaanmu? apa kamu masih merasa pusing?" tanya Ellie begitu dia sampai di samping Justin.
"Sedikit tapi sudah mendingan" jawab Justin.
"Syukurlah, jika kamu sudah merasa lebih baik. Tante senang mendengarnya" balas Ellie tersenyum tipis.
"Siapa kamu? dan kenapa aku bisa ada di sini, apa kamu yang sudah membawaku kemari?" ucap Justin menatap Ellie dengan tatapan tajam.
"Aku Ellie, kemarin aku membawamu kesini karena semalam kamu pingsan di pinggir jalan" jawab Mama Justin.
"Pingsan?"
"Iya pingsan, karena aku tidak tau dimana rumah mu dan siapa kamu yaudah aku bawa aja daripada aku tinggalkan di jalan"
"Benarkah? kalo gitu terimakasih banyak tante karena sudah mau membawaku, aku sangat berterimakasih padamu" ucap Justin sedikit menunduk.
"Iya sama sama" jawab Ellie tersenyum.
"Ngomong ngomong semalam kamu habis dari mana? kenapa jam satu malam kamu masih ada diluar" lanjut Ellie bertanya.
"Aku habis ke bar bersama teman teman ku, kita semalam berpesta minuman keras. Mungkin karena terlalu banyak minum aku jadi pingsan di jalan, aku juga tidak tau kenapa aku bisa pingsan padahal selama lima tahun ini aku tidak pernah sampai pingsan tapi semalam untuk pertama kalinya aku pingsan karena alkohol " jawab Justin.
"Apa katamu, jadi selama lima tahun ini kamu sering mabuk? Ya ampun kenapa kamu melakukan itu, minuman keraskan tidak baik untuk kesehatan" pekik Ellie terkejut mendengar jawaban Justin.
"Aku tau tapi hanya itu yang bisa aku lakukan untuk mengurangi beban pikiranku. Tanpa minum aku tidak bisa tenang, bagiku minuman keras adalah obat semua masalah. Berkat dia aku jadi lebih baik dari sebelumnya itu kenapa aku selalu meminumnya selama lima tahun ini" jawab Justin jujur apa adanya.
"Lalu dimana orang tua mu berada? kenapa mereka membiarkan mu mabuk?"
"Papa ku tidak tau kalo aku sering mabuk karena selama lima tahun ini aku selalu pindah negara tidak pernah pulang ke Belanda"
"Terus mama mu? apa dia juga tidak tau tentang hal ini?" tanya Ellie lagi.
"Aku tidak punya mama, aku hanya hidup dengan Papa" jawab Justin tanpa minat.
"Ah maafkan tante, tante tidak tau kalo kamu sudah tidak punya mama. Tante doakan semoga mama mu tenang di atas sana" ucap Ellie turut prihatin karena dia pikir Mamanya Justin sudah meninggal tanpa ia tau padahal orang yang dia doakan adalah dirinya sendiri.
"Dia tidak mati" sela Justin sedikit ngegas.
"Loh terus kalo tidak meninggal lalu mama mu kemana?'
"Aku tidak tahu, sejak kecil dia sudah meninggalkan ku jadi sampai sekarang aku tidak tau dimana dia dan bagaimana wajahnya. Yang aku tau dia sudah tidak peduli lagi denganku ketika aku masih bayi"
"Ya ampun keterlaluan sekali mama mu itu"
"Sudahlah jangan membahas hal ini lagi. Aku muak jika harus berbicara tentang wanita parasit dan nggak tau diri itu" ucap Justin tanpa minat.
*Huh! malang banget nasib anak ini, tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu sejak bayi* batin Ellie menatap kasian ke arah Justin.
* Ya tuhan melihat dia kenapa aku semakin mengingat Justin, kisah hidupnya sama persis dengan putraku hanya saja aku sempat merawatnya sampai umur dua tahun sedangkan anak ini malah ketika masih bayi.
Dari sorot matanya dan cara dia menyebut mamanya sudah kelihatan sekali kalo dia tidak suka dan sangat membenci sosok mamanya. Ckk, apakah nanti Justin akan sama seperti anak ini, aku takut jika dia juga membenci diriku. Ya ampun aku harus bagaimana, aku tidak mau anakku membenci diriku. Semoga saja setelah aku menemukan Keberadaanya Justin mau memaafkan ku dan mau menerima kehadiran ku* batinnya lagi.
"Oh ya ini tante bawakan kamu sup ayam dan yogurt, makanan ini bisa meredakan rasa pusing karena alkohol" ucap Ellie sembari meletakkan nampan di tangannya ke atas nakas.
"Makasih tante" ucap Justin.
"Iya sama sama, nih buruan dimakan nanti baru kamu boleh pulang" ucap Ellie.
Justin mengangguk kemudian dia mulai memakannya.
...☜☆☞ ☜☆☞ ☜☆☞ ☜☆☞ ☜☆☞...
__ADS_1
Sedangkan di Indonesia.
Pagi ini Afifah tengah sibuk membantu suaminya bersiap siap karena hari ini Alex akan bekerja di kantor Daddy nya.
Seperti seorang pekerja pada umumnya mulai sekarang ia akan berangkat pagi dan pulang sore, berbeda dengan kemarin kemarin yang hanya bekerja dari rumah untuk saat ini dirinya akan lebih sibuk.
"Pai buruan aelah mau ngapain lagi sih, ini gue udah telat" teriak Alex dari luar rumah.
"Iya iya tunggu sebentar dulu, sabar napa" sahut Afifah dari dalam.
Tak lama ia pun datang.
"Nih gue udah keluar nih, nggak usah teriak lagi" ucapnya begitu sampai di luar.
"Iya, gue juga lihat" balas Alex.
"Loh kok lo make baju casual? katanya mau ke kantor?" tanya Afifah dengan kening berkerut melihat penampilan suaminya dari atas sampai bawah yang hanya memakai celana jeans, kaos panjang dan jaket.
"Ya emang mau ke kantor"
"Lah terus ngapain make pakaian begini? harusnya kan lo make kemeja atau jas gitu"
"Gue nggak suka baju gituan, lagi pula selama inikan setiap gue dateng ke kantor Daddy saat libur sekolah selalu makai ginian so nggak masalah bukan" jawab Alex.
"Itu dulu sekarang beda, sana ganti. Masa iya lo seharian mau berpenampilan begini" perintah Afifah.
Namun Alex menggeleng.
"Ayo ganti" perintah Afifah lagi.
"Nggak mau Pai, gue udah terlanjur nyaman make ini. Lagian ngapain sih pake acara ganti segala toh yang pentingkan make baju" tolak Alex kembali.
"Yee dasar, keras kepala banget sih lo dibilangin" cibir Afifah.
"Biarin" balas Alex.
"Oh ya nanti lo jadi ke Restoran?" tanya Afifah.
"Iya jadi, ini rencananya gue mau kesana dulu baru pergi ke kantor" jawab Alex, Afifah mangut mangut.
"Enggak kok gue cuman nanya aja soalnya tadi sekertaris lo sempet telpon elo waktu lo mandi tapi pas mau gue angkat eh udah mati panggilannya dan saat mau gue telpon balik malah nggak aktif ponselnya" jawab Afifah memberitahu.
"Emm gitu gue pikir mau nitip sesuatu" balas Alex mengangguk.
"Nggak kok, yaudah sana buruan berangkat nanti lo bisa kesiangan sampai resto. Biasanya jam segini jalanan udah mulai macet" ujar Afifah.
"Hmm, ini juga mau otw kok. Lo hati hati di rumah, jangan aneh aneh, kalo misal lo takut atau bosen lo boleh kok nanti nyusul gue atau enggak pulang ke rumah mama nanti malam gue jemput" ucap Alex seraya memeluk tubuh istrinya.
"Iya, lo tenang aja. Nggak usah khawatir, gue akan baik baik aja kok" jawab Afifah tersenyum manis sembari membalas pelukan suaminya.
"I Love you sayang" bisik Alex tepat di telinga Afifah sembari sedikit mencium sekilas pipinya.
"Hmm" balas Afifah berdehem karena dia masih sedikit malu membalas mendengar kalimat cinta dari suaminya.
"Kok cuman hmm?" protes Alex sedikit merenggangkan pelukan mereka.
"Terus lo maunya gue gimana?" tanya balik Afifah.
"Balas dong ucapan gue" jawab Alex memanyunkan bibirnya.
"Iya"
"Iya apa?"
"Ya gitu, udah ah buruan sana. Keburu macet entar jalanannya" ucap Afifah sambil mendorong tubuh suaminya agar terlepas namun Alex malah semakin mempererat sehingga kini keduanya sama sekali tidak ada jarak.
"Nggak mau, balas dulu baru gue mau berangkat" tolak Alex.
"Wolf.. "
"Apa? buruan bilang atau gue nggak mau lepasin" ucap Alex semakin mempererat pelukan mereka.
"Nggak mau, gue malu" jawab jujur Afifah sambil menunduk.
"Malu sama siapa? nggak ada yang lihat juga"
"Ada"
__ADS_1
"Siapa emang?" tanya Alex sedikit mengangkat dagu miliknya.
"Setan, kan katanya kalo berduaan yang ketiga setan" jawab ngawur Afifah.
"Ngaco, udah buruan bilang, disini nggak ada orang cuman kita berdua" ucap Alex.
Afifah menatap sebentar sembari menghembuskan nafas pelan sebelum akhirnya dia memberanikan diri untuk membalas.
"Huh.. iya nih gue balas tapi janji ya nanti lepasin" ucapnya sebelum bicara.
"Iya, gue janji" jawab Alex.
"I Love you too" ucap Afifah dengan pelan bahkan nyaris tak terdengar.
"Hah apa? gue nggak denger" ucap Alex.
"I Love you too.. " jawab ulang Afifah.
"Apaan sih, kalo ngomong tuh yang keras jangan bergumam" cebik Alex.
"AKU JUGA MENCINTAIMU ALEX SAPUTRA!!" teriak kencang Afifah yang merasa greget.
Senyum lebar pun seketika langsung terbit indah di kedua sudut bibir cowok tampan itu.
"Nah gitu dong baru istri gue" ucap Alex dengan senyum semakin mengembang.
"Udah kan, kalo gitu buruan berangkat" ucap Afifah sedikit cemberut.
"Iya, ini juga mau berangkat" ucap Alex.
Afifah pun lalu berbalik dan hendak masuk ke dalam rumah tapi baru selangkah Alex memanggil membuat dirinya kembali berbalik.
"Pai tunggu, jangan masuk dulu" seru Alex sedikit mengeraskan suaranya.
"Ada apa lagi kan tadi udah gue jaw... "
Cup
Cup
Belum sempat Afifah menyelesaikan ucapannya tiba tiba saja Alex menarik pinggangnya dan langsung mencium keningnya dan mengecup bibir miliknya.
"Ciuman penyemangat sebelum pergi" ucap Alex tersenyum setelah ia mencium istrinya.
"Aku pamit pergi dulu ya sayang. Jangan cemberut, jelek tau nggak, senyum dong biar makin cantik dan jangan nakal di rumah, awas kalo lo aneh aneh gue akan kasih lo hukuman" ucap Alex lalu berjalan masuk ke dalam mobil meninggalkan Afifah yang terdiam paku di tempat.
"Sampai jumpa Pai" teriak Alex sambil melambaikan tangan ke arah istrinya dan mulai menjalankan mobilnya keluar gerbang rumah.
*Astaga apa tadi? Alex mencium keningku? omegat dia beneran nyium gue? ya tuhan mimpi apa semalem gue sampai Alex mendadak jadi romantis gini.
Ya meskipun dia sering bikin kejutan atau berbuat hal soswit dan mecium gue tapi dia tidak biasa mencium kening* batin Afifah menatap cengo ke arah gerbang.
*Ah kenapa gue jadi seneng gini sih, padahal cuman gitu doang. Ckk, emang deh tu anak paling bisa bikin gue baper* batinnya lagi lalu Afifah masuk ke dalam rumah sambil terus tersenyum dan memegangi kening yang dicium Alex tadi.
___________________________________
Jangan lupa tinggalkan jejak.
Like komen vote gitu💙
Biar author juga makin semangat untuk up bab selanjutnya
See you next episode🤗
Bersambung...
-
-
Sama satu lagi, yuk baca novel baru dengan judul
"Kekuatan hati Wanita" dari Author Rifa_Fizka
Jangan lupa ya, dari Author Rifa_Fizka, dijamin bagus deh novelnya.
Dan jangan lupa kalo baca tinggalkan jejak disana okeyy🥰😘
__ADS_1