WOLF PAI • Pasangan Barbar

WOLF PAI • Pasangan Barbar
Bab 95 : Depresi


__ADS_3

Perlahan afifah mendongak kesamping untuk melihat siapa orang yang duduk disampingnya.


"Hah elo!!. "ucap kaget Afifah karna saking terkejutnya setelah tau siapa orang yang memberinya obat tadi adalah Reza.


Sedangkan yang ditatap hanya tersenyum menanggapi jeritan kaget Afifah.


"Kenapa lo? kaget?. " tanya Reza ketika melihat ekspresi Afifah


"Ya ampun.. Kemana aja lo selama ini!! di telpon nggak diangkat, di chat nggak dibalas, di cariin malah ngilang. Gue sampe mikir kalo lo udah nggak mau lagi jadi Sahabat gue lagi atau nggak elo udah lupa sama gue tau nggak." Ujar Afifah.


"Ya nggak mungkin lah gue kek gitu ke Elo!! lo kan tau sendiri kalo temen dan sahabat gue itu cuman lo, nggak ada yang lain. Masa gue mau jauhin nanti yang ada malah gue sendiri yang merasa kesepian karna nggak ada temen ngobrol. " Ucap Reza.


"Habisnya gue ngrasa akhir² ini lo kayak berusaha ngejauhin gue. Terakhir kita jalan dan ngobrol bareng juga waktu kita sedang nongkrong dicafe bareng anak² malam itu sebelum Alex datang dan ngamuk² nggak jelas begitu dan kejadian itu udah terjadi dua minggu lalu. Gimana gue nggak mikir coba?!. " Ucap Afifah.


"Hehehee... Sorry." Ucap Reza sambil cengingisan.


"Cengar cengir!! Lo tau nggak? Lo itu udah bikin gue kangen gobl*k!!." Kesal Afifah.


"Hustt.. ni mulut lemes banget kalo disuruh ngumpatin orang!! Inget lo nggak boleh ngomong kasar. " Peringat Reza.


"Habisnya lo ngeselin sih?!. " Cebik Afifah sambil mengerucutkan bibirnya.


"Tu bibir jangan dimanyun manyunin!! Kalo gue kebablasan nyium ntar syok loh. " Ucap Reza menggoda.


"Mau gue tampol pake knalpot motor?." Tanya Afifah dengan nada sinis.

__ADS_1


"Dih, kejem amat!! Masa knalpot motor buat nampol orang!!. " Ucap Reza sambil bergidik ngeri. "Lagian gue becanda kale?! Jangan dibawa serius napa. " lanjutnya.


"Becanda lo nggak lucu. " sahut Afifah dengan nada ketus.


"Oh ya, lo ngapain disini sendirian?." Tanya Reza basa basi mengalihkan pembicaraan biar Afifah lupa jika ia sedang marah dengan dirinya.


"Apa?. " Seperti dugannya, Afifah berbalik bertanya dan melupakan jika dia sedang marah.


"Lo ngapain disini sendirian?. " Tanya ulang Reza.


"Gue disini ikut Alex buat ngecek² dan mantau perkembangan Resto." jawab Afifah.


"Lah emang Restoran ini punya Alex?. " tanya Reza penasaran.


"Wah gila.. gila.. gila!! Nggak nyangka gue, Suami lo ternyata mandiri ya bahkan sejak kecil dan dia juga sangat Bertanggung jawab sama Elo. Nggak mau ngrepotin orang tua buat masalah rumah tangga kalian. Duh, Salut banget gue sama Alex, dia nggak cuman Jago buat Ulah dan Nakal tapi juga Jago dalam berpikir dewasa. " Ucap Reza memuji Alex.


"Siapa dulu istrinya." Ucap sombong Afifah.


"Heleh, lo mah bisa apa? Palingan lo cuman bisa bac*t sama buat ulah doang!! Gue jadi kasihan sama Alex karna dapet istri yang bisanya cuman nyuruh dan bermalas malasan doang. " Cibir Reza.


"Lo nyindir gue apa ngeledek gue!!." ucap Afifah.


"Dua duanya." balas Reza


"Bangs*t, ngeselin banget sih lo jadi orang!!. " Ucap Afifah. Reza hanya tertawa menanggapinya.

__ADS_1


"Ketawa aja terus. Gue doain semoga tu mulut nggak bisa mingkem." Ucap Afifah.


"Dasar ngambekan. " Ledek Reza.


"Biarin." balas Afifah.


"Btw, kok tadi lo tau kalo gue butuh obat yang lo kasih ke gue tadi dan darimaan lo dapat obat itu? setahu gue kan obat itu hanya bisa didapat dari dokter aja karna diapotik nggak dijual. " tanya Afifah.


Seketika raut wajah Reza menjadi agak sedikit tegang.


"E em, gue dapet dari... dari... "


"Dari mana? Aih.. lama banget sih lo jawabnya." Sela Afifah.


"Gimana gue mau jawab kalo lo nyela omongan gue." Ucap Reza. Afifah langsung diam menutup mulutnya dengan tangan.


"Gue dapet dari.. " reza tampak berfikir untuk mencari alasan yang tepat agar Afifah tak curiga jika dia juga penderita depresi.


"Lo depresi?." tanya Afifah tiba² membuat Reza sedikit tersentak kaget.


.


Jangan lupa Like Komen🤗


Biar Author juga makin semangat untuk Up bab selanjutnya 💙

__ADS_1


__ADS_2