
"Hadiah yang mana sih, perasaan gue nggak pernah janjiin lo hadiah apa²" ucap Afifah yang masih bingung. Bukan pura pura polos tapi memang Afifah tidak mengerti.
"Ya itu deh pokoknya, nanti aja gue kasih tau saat di rumah. Intinya lo siap-siap aja, karna mulai sekarang gue udah nggak bisa nahan lagi. Cepat atau lambat gue bakal minta sama lo" jawab Alex tersenyum menyeringai.
Afifah yang melihat senyum Alex merasa sedikit merinding. Namun dia masih belum mengerti maksud dari ucapan suaminya barusan.
"Yaudah yuk, mending sekarang kita pergi ke halaman. Gue mau lihat anak-anak sekalian mau ikut merayakan, baju gue masih belum ada tanda tangannya" ajak Alex seraya menarik tangan Afifah hendak mengajaknya pergi.
"Eh bentar" ucap Afifah menghentikan kaki Alex yang hendak berjalan.
"Ada apa?" tanya Alex menoleh.
"Lo duluan aja, gue mau pergi ke toilet. Kebelet pipis gue" jawab Afifah melepaskan genggaman tangan suaminya.
"Mau gue anterin?" tawar Alex.
"Nggak usah, gue bisa sendiri. Lo kesana duluan aja" tolak Afifah.
"Oh oke, lo hati-hati. Kalo udah selesai langsung balik ke halaman, jangan keluyuran. Awas aja lo gue tungguin kagak balik-balik, gue bakal iket lo di rumah" ancam Alex memperingati.
"Iya iya, santai aja kali. Gue balik kok, udah ah lo duluan sana. Gue mau ke toilet, udah nggak tahan nih" pamit Afifah yang langsung berlari menuju toilet, begitu pula dengan Alex yang juga berjalan menuju halaman.
Setelah sampai di toilet, Afifah lalu masuk ke dalam sana. Tak beberapa lama ia pun selesai juga. Afifah tak langsung balik melainkan dia berdiri dahulu di depan cermin toilet untuk memperbaiki penampilannya yang sedikit acak-acakan.
"Duh berantakan banget sih rambut gue, ini pasti gara² di acak² sama anak-anak dan Alex nih, jadi kusut kan rambut gue" gerutu Afifah sambil menyisir ulang rambut pirang miliknya dengan sisir yang ada di toilet.
"Ini baju gue kenapa ikut berantakan juga sih, kayak gembel aja penampilan gue" gerutunya lagi sembari menata seragam miliknya dengan membenarkan kancing baju yang hampir terlepas.
Setelah di rasa cukup Afifah lalu kembali berjalan menuju pintu dan hendak keluar dari sana. Namun suara seseorang dari dalam membuat dirinya urung dan menghentikan langkahnya.
Ia lalu berbalik menatap orang yang memanggilnya. Seketika wajahnya berubah datar saat tau jika yang memanggilnya tadi adalah Nela alias si ulat bulu gatel, musuh bebuyutan di sekolahnya.
__ADS_1
"Oh ternyata elo, gue kira siapa. Ada apa? ngapain lo manggil gue?" tanya Afifah dengan nada jutek.
"Gue nggak mau basa basi sama lo. Gue minta sekarang juga lo jauhin Alex" ucap Nela to the point.
"Hah apa, nggak salah denger nih gue. Lo minta gue buat jauhin Alex? punya hak apa lo sama dia haa? segitu beraninya nyuruh gue buat jauhin Alex" tanya Afifah sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Gue calon pacarnya, kenapa emang" jawab Nela menantang.
"What, apa lo bilang? elo calon pacarnya! hahahaa... yang bener aja, duh nggak usah lawak lo neng, gue ini pacarnya. Lo jangan ngaku² napa sih, nggak capek apa haa? udah berapa kali di tolak masih aja ngejar, nggak tau malu banget. Kelihatan kalo nggak laku, makanya ngaku jadi calon pacarnya Alex yang jelas² udah punya cewek. Hahaha.." tawa Afifah meledek menertawakan ucapan konyol Nela.
"Gue nggak ngaku², gue ini emang calon pagarnya Alex. Kalo lo nggak percaya yaudah" balas Nela semakin percaya diri.
"Astaga masih berani ngomong. Woy, gue kasih tau ya, lo itu kalo jadi cewek jangan banyak halu. Cewek modelan kayak elo nggak bakal bisajadi pacarnya Alex" ucap Afifah.
"Kenapa nggak bisa? " tanya Nela mengangkat dagu.
"Ya nggak bisa lah, lo lihat aja penampilan lo dari atas sampai bawah. Ya kali bentukan cewek gatel kayak lo mau jadi pacar Alex. Is enggak banget lah ya, jangankan suka, masuk tipe aja kagak mungkin eh ini malah dengan entengnya ngomong kalo dia calon pacarnya! astaga ngakak banget sih" jawab Afifah yang masih meledek.
Nela terdiam, memang benar apa yang di katakan oleh musuhnya itu. Dia sama Afifah memanglah jika dilihat masih bagusan Afifah, dari segi manapun Afifah memanglah masih unggul di banding dirinya. Namun Nela tidak menyerah, meskipun begitu dia tetap mau berusaha untuk memiliki Alex.
Cinta di hatinya membuat Nela menutup mata, dan berani mempermalukan harga dirinya untuk mengemis cinta Alex yang notabenya tak pernah sekalipun melirik dirinya.
"Enggak, gue nggak bakal berhenti. Eh Fi, lo kira gue nggak tau apa? lo sama Alex itu cuman pacar pura-pura kan? iya kan" ucap Nela.
"Maksud lo?"
"Alah pake segala gaya nggak ngerti lagi. Nih, gue beritahu ya. Lo sama Alex pacaran karena tantangan kan? kalian berdua pacaran karena kalian kalah main game kan, iya kan. Ngaku aja deh lo. Kalian berdua pacaran karena elo kalah main game kan sama Alex, lo pikir gue nggak tau apa hmm?" tuduh Nela yang memang sejak awal dia mengira jika diantara Alex dan Afifah itu hanya pacaran pura² makanya dia berani nekat mendekati Alex.
"Buset, sembarangan aja lo kalo ngomong, mana ada gue sama Alex cuman pacar pura². Kita berdua itu pacaran beneran, bukan setingan" balas Afifah.
"Hilih masih nggak mau ngaku lagi. Eh Fi, kalo lo sama Alex emang pacaran beneran terus kenapa selama ini Alex nggak pernah bersikap hangat sama lo? kenapa selama ini gue lihat lo berdua selalu adu mulut terus, nggak pernah sekalipun gue lihat Alex bilang sayang atau mengatakan cinta sama lo haa? kenapa? karna kalian berdua hanya pura² bukan. Iya kan" ucap Nela.
__ADS_1
"Udah deh Fi, lo nggak usah ngelak lagi. Gue tau kok, kalian berdua itu emang setingan. Kalian berdua itu hanya pura², kalo enggak ngapain selama ini Alex selalu adu mulut tiap ketemu sama lo, kenapa nggak bersikap hangat dan soswit seperti pasangan lain?" tanya Nela.
Afifah hanya melihat tanpa minat menjawab.
"Ya gua tau nggak semua hal romantis itu harus di umbar di depan publik, enggak semua hal mesra di tunjukan depan umum. Tapi ini udah keterlaluan tau nggak, biarpun Alex adalah tipe cowok cuek namun dia selama ini sama sekali nggak pernah manggil lo sayang kan? dia nggak pernah ngomong cinta kan sama lo, atau bahkan dia nggak pernah bersikap mesra sama lo kan? kalo bukan setingan namanya apa. Secuek cueknya orang, sebodoamat amatnya orang mereka nggak bakal bersikap kayak gitu sama pasangannya, pasti ada kalanya mereka manggil sayang, ada kalanya mereka bersikap mesra, dan ada kalanya mereka bilang cinta. Tapi lo berdua apa? selama ini gue nggak pernah tuh denger Alex ngomong gitu sama lo" ucap Nela panjang lebar seketika membuat Afifah terdiam dan kehabisan kata kata.
Jika di pikir² ada benarnya juga ucapan Nela. Selama ini dia tidak pernah mendengar suaminya memanggilnya sayang, dia juga tidak pernah mendengar pengakuan cinta dari mulut suaminya. Kalau hangat dan mesra Alex memanglah pernah bersikap seperti itu, tetapi untuk kedua itu. Afifah rasa suaminya tidak pernah bilang pada dia, apa mungkin Alex tidak merasakan apa yang dia rasakan makanya selama lima bulan nikah suaminya tak pernah mengucapkannya. Batin Afifah berfikir.
Nela yang melihat Afifah terdiam kaku langsung menyinggingkan senyum tipis, ia lantas berjalan mendekat ke arah musuhnya.
"Jangan terlalu mengharap balasan cinta dari Alex, kalian berdua itu hanya pura². Gue saranin lebih baik lo menjauh dari pada terluka lebih dalam" bisik Nela tepat di telinga Afifah yang kemudian langsung berjalan keluar toilet.
Sedangkan Afifah, dia masih diam membisu. Gadis blasteran Indo Belanda itu masih mencerna setiap kata yang musuhnya ucapkan.
*Nela benar, nggak seharusnya gue mengharap cinta dari Alex. Kita berdua hanyalah sepasang suami istri yang di jodohkan dan di paksa nikah jadi mana mungkin Alex cinta sama gue sedangkan tipe Alex berbanding balik dengan karakter gue.
Tipe Alex yang feminim dan pinter masak sangatlah bertolak belakang dengan kepribadian gue yang tomboy dan nggak bisa masak, jangankan masak. Ngerti bahan dapur aja enggak jadi mana mungkin gue bisa dapetin hatinya.
Justin saja yang hampir setiap saat selalu manggil gue sayang dan mengatakan cinta aja bisa berkhianat apalagi Alex yang sama sekali nggak pernah. Lebih baik untuk sementara ini gue jauhin Alex sebelum perasaan gue sama tu cowok semakin besar. Ya benar, gue harus jaga jarak sama dia supaya nantinya saat kita pisah gue nggak terlalu merasa menderita* batin Afifah tersenyum getir, ia kemudian berjalan menuju wastafel dan membasuh wajahnya agar tidak terlihat kusam. Afifah lalu menarik tisu dan mengelap wajahnya, setelah itu Afifah kembali berjalan keluar toilet.
.
.
Masih ada lanjutannya, tunggu aja. Tapi sebelum itu kalian harus ninggalin jejak biar author makin semangat dan cepat updet:)
____________________________________
𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐥𝐮𝐩𝐚 𝐭𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚𝐥𝐤𝐚𝐧 𝐣𝐞𝐣𝐚𝐤
𝙇𝙞𝙠𝙚 𝙠𝙤𝙢𝙚𝙣 𝙫𝙤𝙩𝙚 𝐠𝐢𝐭𝐮
__ADS_1