
"Tamat sudah riwayat kehidupan lo Jeje. Hahaha.. Mati lo mati!" teriak Afifah sambil mengangkat tangannya hendak menancapkan gunting itu pada bola mata Justin.
"ASTAGA.. SAYANG, APA YANG KAMU LAKUKAN!! " teriak histeris Mama Afifah.
"ASTAGFIRULLAH... PAI, JANGAN BUNUH DIA!! " teriak Alex kaget.
Dengan cepat Alex langsung berlari ke arah Afifah dan merebut paksa gunting itu dari tangan Afifah lalu membuangnya ke lantai kemudian mendorong keras tubuh Justin agar menjauh.
Mama Afifah pun langsung membantu Justin berdiri lalu mendudukannya disofa.
"Apa apaan nih, siapa lo? Jangan halangin gue atau elo yang akan gue bunuh" ucap Afifah dengan menatap tajam Alex.
"Sadar pai sadar" ucap Alex.
"Siapa lo? kenapa lo lindungin dia? oh. gue tau, jangan-jangan lo temennya dia makanya lo mau bela dia kan" teriak Afifah marah.
"Bukan pai, astaga.. kenapa lo jadi gini" ucap Alex.
"Heh, gue kasih tau ya. Temen lo ini orang jahat, dia udah hancurin hidup gue. Jadi lo jangan halangin gue buat balas dendam sama dia" ucap Afifah yang akan kembali mengambil gunting itu namun langsung dicegah oleh Alex dengan cara mencekal tangan Afifah.
"Sialan!! Apa apaan lo? lepasin gue. Lo jangan sok jadi pahlawan buat dia ya, atau gue akan benar-benar ngebunuh elo juga" teriak Afifah berontak.
__ADS_1
"Ma, ini gimana? kenapa Afifah jadi begini. Kenapa dia nggak ngenalin aku" ucap bingung Alex.
"Sayang, depresi dia lagi kumat makanya dia ngamuk begitu" ucap Mama Afifah.
"Terus apa iya kita cuman diem aja lihat dia ngamuk begini? apa nggak ada obat penenangnya Ma? kasian Afifah kalo dia terus terusan kambuh" tanya Alex.
"Obatnya sih ada cuman Mama nggak punya stok nya. Tapi tadi Mama udah suruh Papa buat manggil dokter jadi kita hanya bisa nunggu Papa kesini. Kamu tahan sebentar ya, Mama mau keluar sebentar barang kali Papa udah sampai" ucap Mama Afifah lalu langsung berlari keluar rumah.
"Istigfar Pai istigfar, ya allah kenapa keadaan lo jadi kacau begini. Gue nggak tega lihatnya" ucap Alex yang masih menahan tangan Afifah.
Alex sedikit kewalahan menahan brontakan Afifah akhirnya memilih untuk mengikat tangan Afifah jadi satu lalu memeluk tubuhnya berharap agar istrinya sedikit tenang.
"Tenang pai tenang, lo harus tenang. Tahan emosi lo" bisik Alex ditelinga Afifah.
"Lihat mata gue pai, lihat mata gue" ucap Alex sedikit merenggangkan pelukannya agar bisa bertatap muka.
"Gue suami lo dan elo istri gue. Nama lo sekarang Afifah bukan Vita. Afifah itu orang baik bukan orang jahat, dia nggak akan tega melakukan perbuatan kejam seperti ini. Meskipun Afifah nakal dan terkesan urakan tapi dia punya hati lembut dan mulia seperti malikat jadi dia nggak akan mampu berbuat hal gila seperti ini" ucap Alex sambil mengusap lembut pipi Afifah.
"Afifah sama Vita beda karakter meskipun dia satu orang. Di belanda nama lo adalah Vita tapi jika Indonesia nama lo berubah jadi Afifah. Masa lalu sama masa depan nggak bisa disamain atau pun dijadikan satu"
"Jadi gue mohon lo harus tenang, lo harus sadar. Gue nggak mau nanti lo masuk penjara gara-gara lo nggak bisa ngontrol emosi lo. Gue nggak tau seberapa berat masa lalu lo tapi perlu lo ingat. Gue akan selalu ada untuk lo, gue akan selalu mendukung elo, dan gue akan selalu melindungi elo jadi lo jangan merasa sendiri" lanjut Alex seraya kembali memeluk erat Afifah yang sudah sedikit tenang.
__ADS_1
"Pai, Lo orang baik bukan orang jahat. Lo itu cewek lembut penuh kasih sayang bukan cewek kejam penuh dendam. Jadi gue mohon, lo harus tenang, lo harus sadar, jangan biarin emosi nguasain diri lo" bisik Alex ditelinga Afifah.
Seketika tubuh Afifah langsung merasa lemas, dia pun menengok kesamping dimana Alex sedang menyenderkan kepalanya dipundak dan saat itu juga dia langsung sadar lalu ia pun reflek langsung membalas pelukan Alex.
"Wolf" ucap lirih Afifah.
"Iya, kenapa? Jika lo pingin nangis, nangis aja. Jangan lo tahan" ucap Alex seakan ngerti maksud Afifah.
Dan benar saja, setelah mengatakan itu. Tangis Afifah langsung pecah.
"Dia jahat Wolf, dia jahat! Hiks.. hiks.. hiks.. gue nggak suka sama dia. Gue juga benci sama dia, sampai kapan pun gue nggak mau maafin dia. Udah terlalu banyak luka yang dia tinggalkan buat gue. Udah terlalu banyak kenangan menyedihkan yang dia berikan pada gue, gue nggak mau dia ganggu hidup gue lagi. Gue pengen hidup tenang Wolf, gue pengen hidup nyaman tanpa bayang-bayang masa lalu. Pokoknya gue nggak suka jika dia kembali lagi dan ngerusak hidup gue lagi. Gue benci sebenci bencinya sama dia" isak tangis Afifah didalam pelukan Alex.
"Udah yah, percaya sama gue. Nggak akan terjadi sesuatu sama elo. Gue akan selalu melindungi elo jadi lo tenang aja, jangan khawatir dan jangan takut " balas Alex seraya mengusap rambut Afifah dan sesekali menciumnya agar tangis Afifah reda.
Mereka terus berpelukan tanpa terganggu oleh tatapan tajam dan tatapan tak suka Justin yang sedari tadi melihat mereka.
*Berani sekali mereka berdua bermesraan didepan gue. Tapi lihat aja, mungkin hari ini lo berdua masih bisa berpelukan tapi gue bakal pastiin, sebentar lagi lo berdua nggak akan bisa berpelukan lagi karna kalo sudah waktunya tiba nanti gue akan mengambil apa yang sudah menjadi milik gue sejak kecil* batin Justin .
________________________________________
Nah, aku udah turutin nih permintaan kalian buat up sore ini. jadi kalian jangan pelit - pelit buat ninggalin jejak😋.
__ADS_1
Sumpah ini tu aku nulis nya dadakan banget. Tadi siang aku baru saja selesai daring terus lihat komentar kalian katanya minta up, yaudah aku coba nulis yah meskipun agak kesusahan tapi alhamdulillah sore ini selesai juga dan langsung aku up.
Jadi jangan lupa tinggalin jejak. Like komen gitu😆 biar akunya juga makin semangat😅.