WOLF PAI • Pasangan Barbar

WOLF PAI • Pasangan Barbar
Bab 233 : Hadiah


__ADS_3

"Mau gue coretin dimana ini?" tanya Mila.


"Di pantat" jawab asal Diki.


Plak


Seketika Mila langsung memukul keras lengan Diki.


"Semprul! lama-lama ngeselin juga ni bocah. Woy! lo yang bener aja, ya kali gue Mila gadis cantik jelita disuruh tanda tangan di pantat. Lo kira gue apaan" seru kesal Mila.


"Hahahahaa.. "Diki tertawa.


"Gelud teros gelud, dari dulu nggak pernah akur ni anak" cibir Iza yang sedari tadi diam melihat sahabat nya.


"Iya tuh, perasaan dari dulu nggak pernah akur. Lama-lama lo berdua mirip emak sama bapak loh, tiap hari nggak pernah damai. Adu mulut teros kerjaannya" sahut Sinta mencibir.


"Heh! kenapa lo malah jadi bawa² gue" seru Afifah tak terima.


"Lah emang kenapa? orang kenyataannya begitu. Lo sama bapak nggak pernah akur kan, gue lihat dari dulu lo berdua baku hantam mulu kerjaany, sampai sumpek kuping gue dengerin kalian berdua adu bacot di kelas" jawab Sinta.


"Dasar anak durhaka ya lo, orang tuanya sendiri di nyinyirin. Awas kualat, gue doain suatu saat lo dapet pacar yang kerjaanya ngajak debat"


"Eh eh jangan dong mak, aelah baperan amat sih. Gue kan cuman becanda" ucap Sinta merayu, Afifah hanya diam tanpa menanggapi.


"Ini yang bener gue tanda tangan dimana?" tanya Mila lagi setelah Diki berhenti tertawa.


"Terserah lo, mau di dada kek, mau di punggung kek, mau di pundak kek , gue nggak peduli. Mau di ketek pun gue juga nggak peduli, yang penting lo tanda tangan" jawab Diki.


"Oh ya, tapi tanda tangannya jangan gede². Kasih ruang buat yang lain, ini bukan cuman buat kelas kita doang tapi buat kelas lain juga jadi biar baju gue ada tanda coretan teman seangkatan" lanjut Diki, Mila mengiyakan.


Dia kemudian mulai menanda tangani baju Diki di dada dan setelah itu berganti Diki yang juga mencoret di dada.


"Eh Ka, Alex mana? kok dia nggak ada?" tanya Afifah yang sedari tadi celingukan mencari suaminya ditengah keramaian.


"Lah iya, Alex kemana ya. Kok gue juga baru sadar dia nggak ada sendiri disini" ucap Iza ikut celingukan.


"Tadi sih dia dipanggil bu Rini" jawab Aska memberitahu.


"Hah? di panggil bu Rini? mau ngapain?" tanya Afifah dengan dahi berkerut.


"Nggak tau gue, Alex nggak ngomong"


"Terus tadi dia jalan ke arah mana?"


"Ke arah sana, kayaknya ada di koridor tapi nggak tau juga gue karna Alex tadi nyuruh gue duluan ke sini. Coba aja lo cek kalo lo mau" jawab Aska.


"Yaudah deh gue kesana, kepo juga gue ada masalah apa sampai² Alex di panggil" ucap Afifah sambil berbalik.


"Mak, mau kemana lo? gue belum tanda tangan di baju lo" teriak Angga.


"Bentar gue mau nyari Alex, nanti gue kesini lagi" balas Afifah.


"Emang bapak pergi kemana mak? "


"Nggak tau makanya ini gue sedang nyari" jawab Afifah dan langsung pergi berjalan menuju arah yang di maksut Aska.


Afifah berjalan melewati segerombolan siswa siswi yang sedang asik berpesta di tengah lapangan. Tak jarang dia juga saling tabrakan dengan murid lain karna memang saking banyaknya murid yang berpesta.


Dari kejauhan nampak Justin yang kala itu tengah berdiri di pojok lapangan bersama teman sekelasnya tanpa sengaja melihat Afifah berjalan hampir di dekatnya membuat dia sedikit melotot.


*Vita, apakah itu dia* batin Justin agak bingung.


Ia pun lantas langsung melebarkan matanya untuk memastikan apa benar jika yang dia lihat itu memanglah sahabat kecilnya atau bukan.


*Tidak salah lagi, itu memanglah Vita. Cewek disatu sekolah ini yang rambutnya pirang cuman dia kan. Tapi sedang apa dia berjalan sendiri di tengah pesta kayak gini, bukannya teman sekelasnya tempatnya ada disana. Terus kenapa dia malah berkeliaran kesini?* batin Justin bertanya-tanya.


*Apapun itu bagi gue nggak penting. Yang terpenting sekarang gue harus nyamperin dia, ini adalah kesempatan emas gue buat mendekati dirinya mumpung Vita sedang sendiri* batin senang Justin yang langsung berjalan menyusul ke arah Afifah dengan sedikit terburu.


"Vita" panggil seseoramg membuat langkah Afifah memdadak berhenti. Dia lalu menoleh dan mendapati Justin sedang berjalan terburu ke arahnya.


"Vita, tunggu Vita jangan jalan dulu. Tungguin gue" teriak Justin melambaikan tangan.


"Jeje" gumam pelan Afifah.


"Ada apa? kenapa lo manggil gue?" sambung Afifah bertanya setelah Justin sampai di depannya.


"Sebentar gue atur nafas dulu, hah.. hah.. " ucap Justin mengangkat tangannya.


"Udah kan? ada apa? kenapa lo manggil gue?" tanya Afifah lagi saat dirasa nafas Justin sudah normal.


Justin tak menjawab, dia malah menyodorkan tangannya ke depan.


"Gefeliciteerd Vit met je afstuderen ( Selamat ya Vit, akhirnya lo lulus juga. Gue seneng lihatnya )" ucap Justin tersenyum manis.


"Ah ja, jij ook gefeliciteerd ( Ah iya, makasih. Selamat juga buat lo )" balas Afifah tanpa menerima jabatan tangan Justin bahkan tidak membalas senyuman Justin membuat Justin sedikit kecewa, ia lalu kembali menurunkan tangannya.


"Oh ya, ngomong-ngomong lo mau kemana, gue lihat dari sana lo kayak sedang kebingungan" tanya Justin basa basi.


"Gue sedang nyari Alex, dari tadi dia nggak ada di halaman" jawab jujur Afifah.


*Oh jadi tu cowok penikung nggak ada disini. Baguslah kalo gitu, gue bisa deketin Vita lebih bebas tanpa adanya gangguan. Hahaha.. baiklah gue akan manfaatin kesempatan ini sebaik mungkin mumpung tu cowok penikung sedang nggaka ada* batin Justin gembira.


"Eh Vit, gue boleh minta tanda tangan lo nggak?" tanya Justin dengan mata berbinar penuh


"Tanda tangan gue?"


"Iya tanda tangan lo, ya sekedar buat kenangan aja di baju gue. Gimana, lo mau kan?" tanya Justin berharap.


Afifah nampak berfikir, dia hanya diam melihat ke arah Justin seperti menimbang sesuatu.

__ADS_1


"Ayolah Vita, cuman tanda tangan doang kok. Nggak lebih, gue cuman pengen punya kenangan lo di baju seragam gue" pinta Justin lagi memelas membuat Afifah sedikit tak tega.


"Huh! yaudah deh, boleh. Mana spidol lo" ucap Afifah yang akjirnya mengiyakan.


"Ah benarkah? lo mau kasih tanda tangan lo sama gue? Baiklah kalo gitu, ini spidolnya" ucap Justin bahagia dan segera memberikan.


"Disini ya Vit, gue udah siapin tempat khusus buat lo. Dada gue ini special buat lo doang karna hati gue hanya milik lo jadi coretnya agak besaran dikit" ucap Justin menunjuk dada sebelah kiri.


Afifah mengangguk, ia lalu mulai menandatangani baju Justin. "Satu lagi Vit, gue boleh nyoretin baju lo dengan tanda tangan gue juga kan? biar samaan ada tanda tangan masing²" pinta Justin lagi dengan nada berhati-hati.


"Ya boleh, tapi jangan di dada. Tempat ini khusus buat Alex, lo nggak ada hak buat ngisi" jawab Afifah agak pedas tanpa ekspresi.


Seketika senyum Justin langsung pudar, hatinya merasa sedikit sakit mendengar ucapan Afifah.


"Iya nggak papa kok" ucap Justin tersenyum paksa kemudian dia balik mencoret baju Afifah dengan tanda tangannya.


"Makasih" ucapnya setelah selesai.


"Hmmm" balas Afifah mengangguk.


"Udah kan, kalau gitu gue pergi dulu" lanjut Afifah sambil berbalik.


"Eh tunggu dulu, jangan pergi dulu Vita" cegah Justin merentangkan tangan menghalangi jalan Afifah.


"Ck, apalagi" seru kesal Afifah.


"Emm.. itu, gue cuman mau ngasih ini sama lo" jawab Justin seraya memberikan paper bag mini pada Afifah.


"Apa ini?" tanya Afifah dengan alis terangkat satu.


"Buka aja" jawab Justin.


Afifah pun membukanya dan tampaklah sebuah jam tangan mewah berwarna putih dengan dikelilingi berlian. Jam tangan mahal limited edition yang Justin beli sewaktu di mall sebulan lalu dengan harga 30 juta.



Sebenarnya selama ini Justin sangat ingin memberikannya pada sahabat kecilnya, namun selalu gagal sebab Afifah tidak pernah sekalipun memberinya kesempatan untuk bicara. Setiap mereka bertatap muka atau berpas-pasan Afifah selalu memalingkan wajah, dia juga selalu menghindar jika Justin ingin bertemu. Itu mengapa Justin belum sempat memberikannya.


Dan hari ini adalah pertama kalinya bagi Justin bisa sedikit mengobrol dengan Afifah setelah sekian lama Afifah menghindar makanya ia langsung memberikan tak mau buang kesempatan.


"Jam tangan" ucap Afifah setelah melihat isi di dalamnya.


"Iya, jam tangan. Hadiah ini gue beli special buat lo sebulan lalu. Sebenarnya selama ini gue pengen ngasih ini sama lo tapi berhubung lo selalu ngehindari gue makanya baru sekarang gue bisa berikan ini langsung sama lo" cebik Justin memberitahu.


"Oh, makasih, tapi gue rasa nggak perlu. Jam tangan gue banyak di rumah, bahkan lebih bagus dari pada ini. Lo nggak usah buang² duit buat beliin gue beginian karna gue nggak mau nerima" ucap Afifah memberikan kembali paper bag tersebut.


"Loh kenapa? kenapa lo nggak mau nerima Vita, ini gue beli special buat lo loh" ucap bingung Justin.


"Karna gue nggak mau make barang sogokan" jawab Afifah to the point.


"Hah sogokan? sogokan gimana maksut lo, gue nggak nyogok Vita" ucap Justin agak terkejut sebab Afifah bisa mengetahui rencana dirinya.


"Enggak, siapa bilang. Gue nggak gitu, jam tangan ini gue beli murni sebab gue ingin ngasih lo sesuatu bukan untuk sogokan" elak Justin sedikit salah tingkah untuk berusaha sebisa mungkin menyakinkan Afifah agar percaya dengan dirinya.


"Alah udah deh lo nggak usah bohong, gue tau kok yang ada di pikiran lo. Orang licik kayak lo itu nggak mungkin ngasih barang tanpa ada niat. Eh Je, gue kasih tau sama lo ya. Sampai kapan pun gue nggak akan mau maafin lo sebelum abang gue dapat keadilan, meskipun lo udah berusaha sekuat mungkin gue nggak akan maafin lo" ucap Afifah bersedekap dada.


"Tapi Vita gue---"


"Husttt!! udah diem ya mulut lo, jangan bicara lagi. Gue udah muak sama pembelaan lo atau omong kosong lo itu. Semua yang lo omongin itu nggak ada gunanya, lebih baik lo diem dari pada ngomong nggak jelas" sela Afifah memotong perkataan Justin.


"Vita--"


"Udah ah mending gue pergi aja dari sini, berlama-lama di dekat lo buat hati gue semakin benci. Mending gue nyari Alex aja dari pada ladenin elo" lanjut Afifah menyela lagi sambil berbalik dan pergi meninggalkan Justin sebelum ia menyelesaikan perkataanya.


*Agggtt sialan... lagi-lagi Vita lebih milih tu cowok penikung dari pada gue. Kenapa sih selalu dia mulu yang Vita pikirin, kenapa bukan gue. Agggtt.. resek banget* batin Justin geram memukul pohon dengan kencang.


*****


"Bu, ini kenapa malah jadi saya? kenapa nggak sama murid lain bu, anak kelas XII kan nggak cuman saya. Anak Osis juga ada kan. Kenapa Bu Rini malah milih saya, ganti ajalah bu, jangan saya" ucap Alex pada wali kelasnya.


"Hey, ibu milih kamu karna ibu percaya sama kamu kalo kamu bisa bertanggung jawab dengan semua ini Alex. Ibu itu paham betul dengan sifat kamu, meskipun selama ini kamu itu nakal, suka bolos dan terlambat tapi ibu tau kamu itu orang yang sangat bertanggung jawab. Kamu orang yang bisa diandalkan, harusnya kamu senang dari sekian banyaknya murid hanya kamu yang ibu pilih. Eh ini malah suruh ganti, aneh" ucap Bu Rini.


Sekarang ini Alex dan Bu Rini sedang ada di koridor gedung sebelah, mereka berdua sedang membahas tentang acara pesta yang akan di adakan besok malam untuk merayakan hari kelulusan mereka sekaligus untuk acara perpisahan.


Tadi saat Alex hendak ikut pergi bersama istrinya dan semua temannya ke lapangan tiba tiba saja wali kelasnya datang dan mengajak dia mengobrol sebentar. Setelah mengobrol ternyarta Bu Rini meminta Alex untuk mengatur acara besok. Hal itu tentu saja membuat Alex merasa sedikit kaget, ia tak menyangka jika dirinya yang di pilih wali kelasnya untuk mengatur semua itu.


"Pokoknya kamu harus mau, ibu nggak mau dengar kata penolakan atau bantahan. Kamu itu pria mandiri dan bertanggung jawab, ibu yakin kamu bisa memgatasinya, kamu dengar kan?" lanjut tegas Bu Rini.


Dengan terpaksa Alex akhirnya mengangguk.


"Iya dengar bu, saya mau" jawab pasrah Alex.


"Good kalo gitu, jadi semuanya ibu serahkan sama kamu. Udah itu aja yang mau ibu bicarakan, nanti kalo kamu butuh bantuan atau butuh sesuatu kamu tinggal hubungi ibu saja, sebisa mungkin ibu akan bantu jadi kamu tenang saja" ucap Bu Rini.


"Iya bu"


"Baiklah, urusan kita udah selesai. Ibu harap kamu tidak keberatan. Sekarang ibu mau balik ke kantor guru, kamu kembalilah dan bersenang senanglah dengan temanmu. Rayakan hari kelulusan mu" ucap Bu Rini tersenyum sambil menepuk pelan pundak Alex lalu dia berjalan pergi dan diikuti Alex yang juga ikut pergi.


******


Sedangkan Afifah.


Sekarang ini dia tengah mengerutu sebab sedari tadi dia belum juga menemukan keberadaan suaminya. Padahal Afifah sudah menyusuri setiap sudut sekolah, mulai dari kantin, perpustakaan, taman belakang, halaman depan, kantor guru, rooftoop bahkan disetiap kelas dia datangi untuk mencari Alex namun belum juga menemukan.


"Ck, Alex sebenarnya ada dimana sih. Dari tadi gue cariin kagak ketemu², kata Aska dia ada di koridor tapi nyatanya gue lihat kagak ada. Sampe capek gue keliling sekolah. Di telpon juga nggak diangkat, bikin orang khawatir aja" gerutu kesal Afifah celingukan.


"Sebenarnya maunya apasih tu anak, suka banget bikin orang dag dig dug mikirin dia. Untung gue orangnya sabaran jadi nggak marah, coba aja kalo misalnya gue yang ilang. Gue yakin Alex pasti ngamuk² sama gue karna di telpon nggak di angkat²" gerutu Afifah lagi semakin kesal.


"Awas aja kalo. ketemu, gue bakal bikin dia me--"

__ADS_1


Sret


Dep


"Akkhhttt..." jerit kaget Afifah saat seseorang di belakangnya tiba tiba saja menarik bahunya dan mendorongnya hingga terpentok di dinding dengan posisi tubuh saling berdempetan satu sama lain sebelum Afifah selesai mengucap perkatannya.


"Woy bangsat! apa apaan lo haa? berani banget lo dorong gue. Maksut lo apa, lo mau nyari ribut sama gu... Astaga Wolf" ucap Afifah melotkan matanya saat tau siapa yang mendorongnya.


Sedangkan yang di tatap hanya tersenyum tanpa dosa.


"Iya, ini gue. Kenapa hmm? lo mau apain gue kalo ketemu sama gue?" sahut Alex tepat di depan wajah Afifah dengan posisi saling berdempetan bahkan hidung mereka nyaris menempel satu sama lain saking dempetnya.


"Ih wolf, lo dari mana aja sih. Kenapa lo pergi nggak bilang, gue khawatir tau sama lo. Gue takut lo kenapa-napa. Udah gitu kenapa ditelpon nggak diangkat, suka banget sih lo bikin gue cemas. Lo tau nggak, gue dari tadi sampai muter² nyariin lo eh nggak taunya lo malah ada disini" cerocos Afifah mendorong tubuh Alex menjauh dari tubuhnya sambil cemberut.


Alex tertawa, dia kemudian kembali menarik tubuh Afifah ke dalam pelukannya.


"Ututu.. ada yang ngambek nih, udah dong jangan cemberut gitu. Gue nggak papa kok, lihat aja nih. Gue masih utuh, jadi lo nggak usah khawatir lagi. Nggak ada yang perlu lo cemasin" ucap gemas Alex memeluk erat tubuh sang istri.


"Iya sih, tapikan nggak gini juga. Lain kali kalo mau pergi bilang dulu kek jangan asal nyelonong. Gue kan juga nggak bakal uring uringan gini" omel Afifah yang masih cemberut.


"Iya iya gue minta maaf. Lain kali gue nggak akan ulangin lagi deh, udah dong jangan cemberut. Jelek tau nggak" ucap Alex mencubit gemas pipi mulus Afifah.


"Lagian gue tadi habis ketemu sama Bu Rini, bukan keluyuran" lanjut Alex.


Seketika Afifah langsung mendongak menatap wajah suaminya dari bawah.


"Ketemu Bu Rini, mau ngapain? lo ada urusan apa? perasaan lo nggak buat masalah deh tapi kok lo di panggil" tanya kepo Afifah.


"Gue disuruh sama Bu Rini buat urus acara pesta besok" jawab singkat Alex.


"Acara besok? tapi kenapa? bukannya udah ada anggota Osis ya?"


"Nggak tau juga gue, tapi tadi kata Bu Rini sih gue disuruh urus karna gue bisa di percaya dan juga gue orangnya bertanggung jawab makanya beliau menunjuk gue buat atur semuanya" jawab Alex.


Afifah mengangguk menanggapi.


"Oh ya, ngomong-ngomong apa acara di sana udah mulai ya? gue lihat baju lo udah banyak banget tanda tanganya" tanya Alex saat melihat coretan tanda tangan di baju Afifah.


"Iya udah, anak-anak lagi senang² disana makanya itu gue nyari elo" jawab Afifah.


"Terus sekarang udah selesai?"


"Belum, acaranya belum selesai" jawab Afifah.


"Kalo gitu, mana spidolnya" pinta Alex mengatongkan tangan.


"Hah spidol, buat apa?" tanya Afifah.


"Ya buat tanda tangan lah, gue kan belum tanda tangan sendiri. Lihat nih baju gue masih bersih" jawab Alex.


"Ah iya gue lupa, hahaha.. yaudah nih spidolnya. Ini lo duluan atau gue duluan yang nyoret?" tanya Afifah mengeluarkan spidol miliknya.


"Gue duluan, masih ada tempat kan buat nama gue" jawab Alex.


"Ya masih lah, dada gue ini semuanya milik elo. Gue sengaja nggak ngijinin anak² tanda tangan disini karna gue udah buat khusus ini tempat buat elo" ucap Afifah tersenyum memberikan spidol itu pada Alex dan diterimanya.


Ia lalu mulai mencoret baju seragam milik Afifah dengan tanda tangannya. Tak lupa Alex juga mengukir namanya di sana dengan huruf besar.


"SERIGALA HUTAN ( WOLF )_🐺"


Afifah tersenyum, tak mau kalah. Ia lalu berganti mencoret baju suaminya. Ia juga ikut mengukir nama julukannya di dada Alex.


"TUPAI CENTIL_🐿"


Sehingga kini nama julukan mereka terukir indah dan besar di dada mereka masing masing. Alex dan Afifah lalu tertawa bersama, melihat hasil coretan masing masing.


"Emm.. Pai" panggil Alex setelah mereka selesai tertawa.


"Iya, kenapa" sahut Afifah menoleh.


"Sekarang ini kan kita berdua udah lulus" ucap Alex.


"Terus?"


"Gue boleh nggak nanti malam gue minta hadiah sama lo" jawab Alex sedikit ragu.


"Boleh, lo mau apa? motor? mobil? uang? atau barang? lo ngomong aja nanti gue beliin" ucap Afifah.


"Tidak, bukan hadiah yang itu"


"Ya terus yang mana?"


"Itu loh, hadiah yang selama lima bulan ini nggak gue ambil. Boleh nggak kalo misal gue minta, sekarang ini kan kita berdua udah lulus jadi nggak ada yang perlu lo khawatirin lagi kan. Soo, gue boleh ambil kan" tanya Alex lagi dengan hati hati.


"Hadiah yang mana sih, perasaan gue nggak pernah janjiin lo hadiah apa²" ucap Afifah yang masih bingung. Bukan pura pura polos tapi memang Afifah tidak mengerti.


"Ya itu deh pokoknya, nanti aja gue kasih tau saat di rumah. Intinya lo siap-siap aja, karna mulai sekarang gue udah nggak bisa nahan lagi. Cepat atau lambat gue bakal minta sama lo" jawab Alex tersenyum menyeringai.


Afifah yang melihat senyum Alex merasa sedikit merinding. Namun dia masih belum mengerti maksud dari ucapan suaminya barusan.


_________________________________


Jangan lupa tinggalkan jejak


Like, komen, vote gitu.


Kalo banyak yang komen dan like akunya juga makin semangat buat up bab selanjutnya. Jadi jika ingin author sering up maka kalian juga harus sering tinggalkan jejak.


So jangan pelit pelit buat like komen dan votenya.

__ADS_1


See you next episode...


__ADS_2