
Mereka berdua langsung bernafas lega. Karna api nya tidak sampai merambat kemana mana.
"Syukurlah apinya sudah padam. Nggak kebayang gue jika apinya makin besar dan melebar" ucap Afifah sambil mengelap wajahnya dengan tisu agar keringat yang menetes dari sana segera hilang.
"Makasih ya Wolf" ucapnya ketika melihat Alex berjalan mendekat dan duduk disofa seberang.
"Hmmm" jawab deheman Alex.
Afifah kemudian berdiri lalu pergi menuju kamar dan mengambil baju untuk Alex.
"Nih pakai" ucap Afifah sambil memberikan kaos biru langit ke arah Alex.
"Kenapa dapur bisa kebakar? " tanya Alex sambil memakai kaosnya.
"Tadi gue masak terus setelah masak gue lupa matikan kompor dan gue tinggal ke toilet terus saat gue balik eh udah ada api, mana gede lagi" jawab Afifah.
"Ceroboh banget sih lo! siang siang bikin orang mau jantungan. Untung cuman wajan sama kompor aja yang rusak. Bagaimana jika semua ikut kebakar, mau tidur dimana kita? masa iya mau nginep dirumah orang tua kita lagi. Ya malu lah, udah nikah eh masih ngegantung dan ngrepotin orang tua" cebik Alex berkata dewasa menasehati Afifah.
"Ya sorry. Gue kan nggak tau, lagian gue masak juga buat elo supaya lo nggak marah lagi sama gue" balas Afifah.
"Marah? siapa yang marah? " tanya Alex.
"Pake nanya lagi, ya elo lah siapa lagi" jawab Afifah.
"Kapan gue marah? " tanya Alex.
"Tadi malam" jawab Afifah.
"Gue nggak marah tapi gue cuman kesel doang sama elo" ucap Alex.
"Oh ya. Jadi maksutnya lo nggak marah sama gue?" tanya Afifah. Alex menggeleng.
"Yess!! itu artinya gue masih boleh dong ikut balapan liar lagi" ucap Afifah tertawa senang.
"Eh sembarangan. Siapa yang bilang boleh, lo tetep nggak boleh ikut" ucap Alex judes.
"Yaahh.. wolf, kok gitu sih. Tega banget lo sama gue. Masa iya elo masih tetap ikut balapan liar sedangkan gue elo larang, kan nggak adil" ucap Afifah cemberut.
"Ini bukan masalah adil nggak adil. Tapi ini masalah keselamatan dan keamanan lo Fi" ucap Alex tegas.
"Kalo soal itu lo nggak perlu pikirin. Gue kan bisa bela diri dan jaga diri jadi nggak akan ada yang bisa nyelakain gue" ucap Afifah.
"Gue tau lo bisa jaga diri, gue juga tau kalo lo bisa bela diri bahkan lo pernah juara saat lomba bela diri. Tapi meskipun begitu masih tetap bahaya karna biar bagaimana pun elo itu cewek dan cewek nggak akan pernah bisa menang melawan cowok"
"Kalaupun ia menang belum tentu jika dia bertarung dgn cowok lain dia bakal memang lagi. Karna wanita itu pada dasarnya lemah jadi sehebat apapun dia kalo dibandingkan dengan cowok masih kalah tenaga. Lo ngerti kan maksut gue? " ucap Alex yang tetap menolak.
Raut wajah Afifah langsung berubah datar mendengar Alex yang masih menolak permintaannya.
"Ngerti" balas Afifah jutek sambil beranjak dari duduknya.
*Kasian juga lihat mukanya* batin Alex tak tega.
Ia pun kemudian mendengus pelan.
__ADS_1
"Kecuali kalo lo perginya sama gue baru gue izinin" ucap Alex lagi.
Afifah yang kala itu baru berjalan beberapa langkah langsung berbalik menatap Alex.
"Maksutnya? " tanya Afifah.
"Maksut gue, elo boleh ikut balapan liar tapi perginya harus sama gue. Kalo lo pergi sendirian gue nggak bakal izinin" jawab Alex yang akhirnya menyetujui.
"Serius lo? " tanya Afifah tidak percaya dan dijawab anggukan kepala oleh Alex.
Kedua sudut bibir Afifah langsung terangkat ke atas membentuk sebuah senyuman yang sangat indah dan manis. Lantas dia langsung kegirangan.
"Bentar - bentar, kalo lo ikut berarti geng gue sama geng lo jadi satu dong? " tanya Afifah.
"Iya" jawab Alex singkat.
"Nggak.. nggak.. nggak. Gue nggak mau kalo geng kita jadi satu" tolak Afifah.
"Kenapa? insecure karna kalah jumlah sama anggota geng gue? " tanya Alex.
"Sialan!! Bukan seperti itu. Tapi kalo Racing Boy dan Wild Girlboy bersatu itu artinya musuh Wild Girlboy berkurang satu dong" jawab Afifah.
"Lah terus masalahnya apa? toh bukannya malah lebih baik karna jumlah kita akan semakin banyak dan semakin kompak" ucap Alex bingung.
"Ya nggak asik dong karna nggak bisa baku hantam lagi sama anak geng lo. Kan anggota lo itu pada songong songong masa iya disatukan sama anak buah gue yang kalem kalem" ucap Afifah.
"Eh buset!! Nggak salah denger gue, yang ada anak buah lo yang pada songong. Kalo anak buah gue mah pendiem semua, mereka nggak akan melawan kalo nggak ditantang" seru Alex tak terima anak buahnya diremehkan.
"Hilih diem dari mana. Yang ada pada ngeselin semua persis kayak ketua nya" ucap Afifah meledek Alex.
"Lo ngatain gue? " seru Afifah.
"Lo juga ngatain gue. Jadi impas kan" ujar Alex.
Afifah pun membalas perkataan Alex sehingga mereka kembali perang adu mulut.
Krucukk
Lagi lagi perut Alex berbunyi membuat mereka berhenti berdebat.
"Lo laper? " tanya Afifah.
"Nggak. Gue nggak laper, cuman lagi haus"
"Haus kok perutnya bunyi? udahlah nggak usah bohong lo, gue tau kok kalo lo laper" ucap Afifah.
"Kalo udah tau napa masih nanya!!" cebik Alex.
"Aelah baperan amat sih lo" ucap Afifah.
"Oh ya gue tadi udah masakin makanan kesukaan lo loh" ucap Afifah sambil tersenyum.
"Masak? emang lo bisa masak? " tanya Alex.
__ADS_1
"Bisa. Kalo lo nggak percaya ayo ikut gue ke meja makan" ajak Afifah sambil menarik tangan Alex.
Mereka berdua pun duduk saling berhadapan dimeja makan. Afifah mulai melayani Alex dengan memgambilkan makanan dan minumannya.
"Bisa dimakan kagak nih? terus aman dikonsumsi apa nggak? " tanya Alex menatap makanan didepannya.
"Setan!! Lo kira gue apaan. Ya kali gue kasih racun ke dalam makanan lo, gue masih waras yah dan juga gue nggak mau jadi janda muda kalo lo mati" jawab Afifah ngegas.
"Masa? kok gue nggak percaya ya. Jangan jangan makanan ini beneran ada zat berbahaya nya lagi. Iya kan?" tanya Alex.
"Lama lama gue bunuh juga ya lo. Ngeselin banget jadi orang, curigaan mulu sama gue" jawab nyolot Afifah.
Alex hanya diam.
"Buruan nib dimakan. Gue sendiri tu yang masak dengan susah payah sampe sampe dapur hampir kebakaran " perintah Afifah.
Alex dengan sedikit ragu mulai menyendok makanan itu lalu mulai memasukan dan mengunyah sambil mengecap dan merasakan rasa masakan itu.
"Widih... enak banget Fi masakan lo" puji Alex setelah memakan suapan pertama.
"Yeee tadi ngatain sekarang muji muji" cibir Afifah.
"Tadi kan gue belum merasakan nah kalo sekrangkan udah ngrasain. Eh nggak taunya enak banget" balas Alex.
"Beneran. Lo nggak bohong kan sama gue? Soalnya gue baru belajar tadi itupun dengan bantuan Youtube" tanya Afifah ragu mendengar pujian suaminya.
"Gila.. gila. gila.. baru belajar aja udah enak begini rasanya apalagi kalo udah bisa. Sumpah ya Fi, masakan lo rasanya sama persis kayak rasa makanan direstoran bahkan lebih enak punya elo" puji Alex lagi sambil terus makan.
Afifah yang mendengar pujian Alex sedikit tidak percaya. Dia pun kemudian menyendok masakannya itu lalu memakannya dan benar saja ternyata masakannya memang beneran enak.
"Gimana? Benerkan apa kata gue? " tanya Alex.
"Iya lo bener, masakan gue emang beneran enak. Gue aja yang masak juga nggak nyangka kok bisa gitu gue bikin makanan seenak ini. Hahahaha.. " jawab Afifah tertawa.
"Tuh kan. Baru belajar aja udah seenak ini apalagi kalo lo udah bisa pasti lebih enak lagi dan mungkin rasa masakan gue bakal kalah" ucap Alex.
"Lebay. Nggak mungkinlah makanan gue bisa ngalahin rasa makanan elo. Secara masakan lo kan paling enak dikota ini terbukti dengan Restoran lo yang selalu ramai pengunjung" ucap Afifah.
"Bisa aja kalo lo mau terus belajar masak" jawab Alex.
"Nggak deh. Lo aja yang masak, nanti kalo gue yang masak dapur kita kebakaran lagi" ucap Afifah.
"Ya makanya hati hati, jangan ceroboh!! untung nggak parah kerusakannya jadi masih bisa dibenerin" ucap Alex.
Mereka berdua pun kembali melanjutkan makan siang + sarapan mereka.
.
Jangan lupa Like Komen 🤗
Supaya Author juga makin semangat untuk Up bab selanjutnya 💙
jangan cuman baca doang, masa tinggal pencet tombol susah banget sih. wkwkkwk becanda😂
__ADS_1
See You Next Episode 😘