WOLF PAI • Pasangan Barbar

WOLF PAI • Pasangan Barbar
Bab 146 : Mantan pacar lo


__ADS_3

Sementara itu


Di kediaman rumah ortu Afifah tepatnya di dalam kamar Afifah.



Tampak Alex yang baru saja masuk kedalam sambil menggendong tubuh Afifah yang tak sadarkan diri setelah disuntik obat penenang.


Ia meletakkan tubuh Afifah ke atas kasur secara perlahan lalu dia ikut naik sekalian dan membaringkan diri disamping Afifah sambil memeluknya.


"Lo sebenarnya kenapa sih Pai? kok sampai sekejam itu, apa separah itu kah masa lalu lo sampe lo depresi berat kayak gini" gumam Alex sambil memandang wajah Afifah.


"Gue jadi nggak tega lihat keadaan lo begini" lanjut Alex.


Dia pun terus memandangi wajah Afifah sambil sesekali mengusap kepala Afifah sampai akhirnya Alex ketiduran.


-_-_-_-_-_-_-


Afifah mulai membuka matanya secara perlahan setelah beberapa jam tidur dalam pengaruh obat. Dia nampak duduk bersandar disandaran ranjang sambil sesekali mengucek matanya agar pandangannya jernih.


"Ahh kepala gue kenapa pusing banget ya" rintih Afifah seraya memijat pelan pelipis kepalanya.


Afifah berulang kali menggeleng gelengkan kepalanya agar pusingnya hilang. Setelah beberapa menit kepala Afifah kembali normal dan tak pusing kembali.


"Lah, kok gue bisa ada dikamar sih? perasaan tadi gue sama Alex baru sampai didepan rumah" ucap bingung Afifah.


Ia pun menengok ke bawah dan melihat Alex sedang Tertidur sambil memeluk kakinya dengan kepala berada diatas pahanya. Tangan Afifah secara reflek bergerak untuk mengusap rambut Alex dengan pelan.

__ADS_1


"Dasar bocah, kebiasan banget kalo tidur selalu meluk kaki gue. Nggak sengaja ketendang tau rasa nanti" cibir Afifah sambil menyentil pelan telinga Alex.


"Auuu.." desis Afifah saat merasakan perih ditangan kirinya akibat terkena pecahan kaca saat dia mencoba ingin menusuk leher Justin dengan pecahan kaca itu tadi.


"Aduh kenapa tangan kiri gue bisa luka ya. Perasaan gue nggak habis jatoh" ucap Afifah kebingungan sambil meniup-niup tanganya.


Detik berikutnya Afifah Langsung teringat kejadian tadi saat dia dan Justin sempat bertengkar. Afifah juga ingat jika dia juga sempat mengamuk bahkan akan membunuh Justin. Lantas dia pun langsung menunduk, lalu secara perlahan dari balik tatapan matanya mengalir setitik demi setitik air mata.


Entah kenapa hari ini Afifah benar-benar merasa sangat lemah dan cengeng. Ia merasa tak bisa menahan air matanya untuk tidak keluar, setiap kali dia mengingat masa lalu hatinya selalu merasa sakit. Luka lama yang berusaha dia kubur dalam-dalam kini secara mendadak tiba-tiba muncul begitu saja membuat sebagian jiwanya tergoncang dan mengakibatkan depresi nya kambuh.


Apalagi saat mengetahui bahwa selama ini ternyata dia sempat kehilangan ingatan, itu yang membuat jiwa Afifah makin tergoncang sehingga suasana hatinya menjadi cepat berubah.


"Kenapa Je? kenapa, kenapa lo balik lagi. Hiks... hiks.. hiks... Gue benci sama lo Je, gue benci. Dulu Lo hancurin hidup gue dan lo juga merebut kebahagiaan gue sekarang lo mau apa lagi? mau nyiksa gue lagi haa? Hiks... hiks... hiks.. Apa belum cukup selama ini lo berbuat jahat sama gue, apa belum cukup lo ninggalin trauma dihidup gue haa? kenapa sih, kenapa lo jadi sekejam ini sama gue. Gue salah apa sama lo hingga lo nekat merebut paksa kebahagiaan gue" ucap Afifah diiringi dengan isakan tangis dengan air mata yang tak berhenti turun.


Setetes demi setetes air mata Afifah semakin keluar dengan deras membuat sebagian menetes kebawah tepat diatas pipi Alex yang sedang tidur dipahanya dengan posisi memeluk kakinya. Sedangkan dirinya sekarang sedang duduk bersandar dikepala ranjang.


"Air apaan ini" gumam Alex seraya meraba pipi nya yang nampak basah.


"Hiks.. hiks.. hiks... " isak tangis Afifah tertahan yang berusaha dia tahan agar tak menimbulkan bunyi, namun sepertinya gagal karna Alex langsung buru-buru bangun dari tidurnya setelah mendengar suara tangisan.


"Astaga Pai.. sejak kapan lo bangun? terus kenapa lo nangis? apa ada yang sakit atau gue nyakitin lo?" Seberondong pertanyaan Alex lontarkan dengan ekpresi wajah khawatir.


Afifah hanya menggelengkan kepalanya lalu buru-buru mengelap air matanya.


"Nggak, siapa juga yang nangis. Orang gue lagi main coba mengeluarkan air mata doang" elak Afifah tersenyum.


"Lo pikir gue beg0. Lo sebenarnya kenapa sih Pai? hari ini lo aneh banget tau nggak, kalo lo ada masalah lo cerita dong. Jangan lo pendem sendiri nanti malah akan nambah beban pikiran lo, gue nggak mau nanti keadaan lo jadi drop. Bilang sama gue, sebenarnya lo kenapa?" tanya Alex sambil merubah posisinya menjadi duduk lalu menarik tubuh Afifah kedalam pelukannya.

__ADS_1


Seketika tangis Afifah langsung pecah. Dia semakin tak bisa menyenbunyikan air matanya. Rasa nyaman yang ia rasakan saat Alex memeluknya mampu membuat hatinya sedikit tenang.


"Wolf, dia balik lagi. Dia balik lagi Wolf, dia kesini lagi. Gue takut Wolf, gue takut kalo nanti dia rebut kebahagiaan gue lagi" ucap Afifah disela sela tangisannya.


"Siapa?" tanya Alex dengan alis terangkat satu.


"Justin, dia datang lagi. Dia kesini karna mau hancurin kehidupan gue lagi, dia juga mau merebut kebahagiaan gue" jawab Afifah.


"Justin cowok pirang tadi? emang lo sama dia ada hubungan apa sih? terus juga kenapa lo sampe ngamuk parah sama dia tadi? " tanya Alex penasaran.


"Dia masa lalu gue Wolf, dia mantan pacar gue"


"Hah. Jadi lo sama dia dulu pernah pacaran?!" pekik Alex kaget.


"Iya, tapi cuman 2 tahun doang. Abis itu kita putus karna dia selingkuh. Nggak cuman itu aja, dia juga hampir perkosa gue karna gue nggak mau balikan dan akhirnya dia bunuh bang Fian" jawab Afifah yang kembali terisak.


"APA! DIA PERNAH MAU PERKOSA LO DAN JUGA DIA YANG UDAH BUNUH BANG FIAN" teriak Alex terkejut setengah mati.


Afifah menggangguk.


"Dasar cowok brengs*k!! awas aja kalo gue ketemu sama tu anak, gue akan kasih pelajaran sama dia. Bisa-bisanya dia mau perkosa lo dan bunuh bang Fian" ucap Alex dengan tatapan geram.


________________________________________


Jangan lupa Like komennya🤗


See you next episode😘

__ADS_1


__ADS_2