
Setelah sampai di bawah pohon, Afifah dan Alex pun langsung bersiap akan memetik jambu tersebut dengan cara dipanjat.
"Pai, ini yang manjat lo atau gue?" tanya Alex menoleh.
"Ya elo lah, lo kan laki! masa iya gue yang manjat" jawab Afifah.
"Yaudah kalo gitu gue yang manjat, tapi lo tunggu dibawah aja jangan pergi. Nanti kalo jambunya udah gue petik lo tangkep biar nggak jatuh ke bawah tanah" ucap Alex sambil melintingkan lengan hodie miliknya.
"Hmmm, iya" sahut Afifah menyetujui.
Alex pun kemudian mulai berjalan mendekat ke arah pohon. Setelah sampai dia lalu berancang ancang akan naik. Tapi saat baru saja memegang batang pohonnya tiba tiba saja segerombolan semut yang kebetulan ada di sana langsung mengerubungi tangan Alex membuat Alex reflek melepaskan pegangan tangannya.
"Akhht, aduh.. aduh.. aduh.. " teriak Alex mengipatkan jari tangannya sambil melompat lompat.
"Eh Wolf, ada apa? kenapa lo?" tanya kaget Afifah melihat suaminya tiba tiba saja berteriak.
"Digigit semut gue" jawab Alex menoleh sekilas lalu kembali mengipatkan tangannya
"Haa semut? dimana?" tanya Afifah.
"Di pohon, gila banyak banget semutnya. Mana sakit lagi gigitanya" jawab Alex meringis.
"Ya ampun, coba sini gue lihat" pinta Afifah berjalan mendekat dengan raut wajah khawatir.
Alex pun memberikan kedua tangannya ke arah Afifah.
"Duh sampai merah gini. Pasti sakit ya?" ucap Afifah mendongak setelah memeriksa.
"Sakit sih enggak tapi cuman gatel. Soalnya semutnya banyak dan besar" jawab Alex jujur.
"Aishh ada ada aja, makanya hati hati, kalo mau naik dilihat dulu jangan asal megang jadi gini kan akibatnya. Untung gue tadi bawa minyak" omel Afifah seraya mengambil minyak di saku jaket miliknya lalu memengusap ngusapkan minyak itu secara lembut ditangan suaminya.
"Gimana? tangan lo masih gatal atau enggak?" tanya Afifah pada Alex.
"Udah agak mendingan, gatelnya udah nggak terlalu berasa" jawab Alex apa adanya.
"Syukur deh kalo gitu" lega Afifah menghela nafas.
"Oh ya Pai, kita ambil jambunya pakai batu aja ya. Kan pohonya banyak semut kagak mungkin kita panjat. Lagipula disini nggak ada galah jadi nggak ada cara lain" usul Alex menengok ke samping melihat ke arah Afifah.
__ADS_1
"Pakai batu? emang bisa, gimana caranya?" tanya Afifah dengan kening berkerut.
"Ya kita lempar batunya ke arah jambu, nantikan lama kelamaan kalo kita lempar terus tu jambu juga bakal jatuh" jawab singkat Alex.
"Emm.. boleh, bagus juga ide lo" ucap Afifah mengangguk menyetujui.
"Okelah kalo gitu, sekarang ayo kita mulai cari batunya. Tapi nyarinya yang agak besar dikit jangan yang kecil biar cepat jatuhnya" ajak Alex dan dijawab anggukan kepala oleh Afifah.
Mereka berdua lalu langsung mencari batu disekitar tempat mereka. Dan setelah mendapatkannya mereka kemudian mulai melempar batu itu ke arah jambu sesuai permintaan Alex.
Namun beberapa kali Alex dan Afifah mencoba melempar batu yang dia pegang tak ada satupun yang kena sasaran. Semua batu yang mereka lempar meleset semua, hal itu membuat Afifah merasa kesal dibuatnya.
"Agghtt sialan! ni pohon maunya apasih. Dari tadi kagak kena mulu batu gue. Perasaan udah gue lempar sesuai arah tapi kenapa meleset terus. Kalo kayak gini yang ada tangan gue keburu pegel" gerutu kesal Afifah mengomel sambil kembali melempar.
Namun tetap sama, lemparannya tidak tepat sasaran.
"Aelah dari pada buang waktu mending gue duduk aja. Capek lama lama berdiri disini" lanjutnya kemudian Afifah berbalik dan berjalan menuju ke arah kursi yang dia duduki tadi.
"Lah woy! mau kemana lo?" teriak Alex saat melihat Afifah pergi.
"Duduk, pegel tangan gue. Dari tadi kagak ada yang kena sasaran batu gue" jawab Afifah berbalik.
Dia pun kembali meneruskan kegiatannya. Alex terus melempar batu yang dia pegang ke arah jambu, tapi hasilnya tetap sama. Baik Afifah atau Alex batu mereka berdua sama sama tidak ada yang terkena sasaran.
Merasa geram sebab lemparannya terus meleset, Alex lalu memgambil batu berukuran besar yang ada di samping kanannya dan melemparkannya secara keras ke sembarang arah untuk melampiaskan kekesalannya.
Dugh
"Akkhhttt.. " tiba tiba terdengar suara teriakan kesakitan dari seseorang membuat Alex berjingkat kaget. Ia pun reflek menoleh ke samping.
"Hah! suara apaan itu. Kedengarannya kayak suara orang kesakitan. Apa batu yang gue lempar kena orang, kalo iya bisa gawat ini" gumam Alex gelisah sambil celingukan.
Dan betapa terkejutnya dia saat melihat seorang wanita dengan rambut acak-acakan dengan pakaian lusuh tengah duduk di atas genteng tepat disebelah kiri pohon jambu sedang menatap ke arah dirinya dengan tatapan mengerikan.
"What the fu*k, de-demi apa. Di-dia kan gadis gila, Astaga kenapa gue bisa lupa kalo ini daerah kekuasaannya" pekik Alex meletotkan matanya kala ia mengingat jika wanita yang ada didepannya adalah orang gila yang ada dikomplek rumah miliknya.
"Maampus gue, kayaknya batu yang gue lempar kena dia. Gue harus cepat cepat pergi nih sebelum dia ngamuk" ucap Alex merinding.
__ADS_1
Dengan langkah perlahan Alex pun melangkah kakinya mundur ke belakang. Tapi tiba tiba saja orang gila itu turun dari atas genteng dan berlari ke arah Alex sambil marah.
"Loh.. loh.. loh.. AAAAAA..... " jerit spontan Alex yang langsung berlari secepat kilat menjauh dari area sana.
~•~•~•~•~
Sedangkan Afifah.
Sekarang ini dia tengah duduk santai di kursi jalan menunggu kedatangan Alex.
"Ck, tu anak masih lama atau enggak ya. Dari tadi kagak balik balik" ucap Afifah.
"Apa dia belum dapat jambunya makanya dia belum kesini" lanjut Afifah.
"Ah samperin aja deh, dari pada gue bengong disini" putus Afifah lalu berdiri dari duduknya.
"PAI, TOLONGIN GUE! HUWAA.. GUE DI KEJAR ORANG GILA" teriak Alex dari kejauhan sembari berlari terbirit birit ke arah Afifah.
"Hah apa? orang gila, kok bisa" pekik Afifah kaget.
"Ceritanya panjang, intinya batu yang gue lempar buat jambu kena dia. Dan sekarang dia tengah ngamuk sama gue" jawab Alex ngos ngosan.
"La terus kenapa elo malah lari ke gue. Nanti gue akan ikut di amuk juga kalo lo nyamperin gue" seru Afifah.
"Kalo gue nggak lari ke elo terus gue harus lari kemana. Lo kan istri gue, jadi kita harus bersama" ucap Afifah.
"Et dah, nggak gitu juga konsepnya. Aelah, elo mah" cebik Afifah.
Alex hendak menyahuti namun suara erangan kemarahan dari orang gila membuat dia mengurungkan niatnya.
"Ah sial! dia udah kesini lagi" ucap panik Afifah.
Dengan cepat ia pun segera menarik tangan suaminya dan mengajaknya berlari sambil membawa belanjaan di tangan mereka.
____________________________________
𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐥𝐮𝐩𝐚 𝐭𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚𝐥𝐤𝐚𝐧 𝐣𝐞𝐣𝐚𝐤
𝙇𝙞𝙠𝙚 𝙠𝙤𝙢𝙚𝙣 𝙫𝙤𝙩𝙚 𝐠𝐢𝐭𝐮
__ADS_1