
Seketika Afifah langsung melihat pantulan wajahnya dari kamera ponsel.
"Haa masa ada belek, mana? nggak ada kok. " ucap Afifah sambil melihat matanya dari pantulan kamera.
"Tapi bo'ong. Hahahhahah.." tawa Justin karna berhasil menjahili Afifah.
"Ih.. resek banget sih lo jadi orang. " kesal Afifah sambil melempar bantal sofa kearah Justin.
"Aduh.. Berhenti woyy, gue kan cuman becanda. Kenapa lo jadiin serius. " keluh Justin seraya menghindar dari lemparan bantal sofa.
"Suruh siapa bikin gue kesel. " balas Afifah.
"Iya iya gue minta maaf, udah dong berhenti napa? capek gue ngehindar terus. " ucap Justin. Afifah pun berhenti melempar.
"Oh ya, Btw nama lo siapa? Gue Justin." ucap Justin memperkenalkan diri sambil menyodorkan tangan.
Afifah pun menerima jabatan tangan tersebut.
"Nama gue Af.. " belum sempat Afifah menyebutkan namanya, tiba tiba saja kepalanya terasa pusing.
Lantas Afifah langsung melepaskan genggaman tangannya lalu memegang kepalanya dengan kencang karna sakit kepala semakin pusing.
"Akkhh.. kepala gue." jerit Afifah karna merasa sangat kesakitan.
*Aduh.. kenapa harus kambuh lagi sih?! Bikin orang tersiksa aja* batin Afifah.
__ADS_1
"Heh lo kenapa? sakit?. " tanya Justin yang melihat Afifah sedang memegangi kepalanya. Namun Afifah tak menjawab.
*Ah sial!! Jangan disini, gue mohon jangan disini, nanti kalo ada yang lihat keadaan gue kayak gini orang bisa curiga* batin Afifah memohon.
Pusing dikepala Afifah semakin menjadi bahkan sampai berdenyut hebat serta nafas Afifah mulai naik turun tidak teratur, keringat dingin pun tidak berhenti hentinya mengalir membasahi wajah dan dahi Afifah dan keadaan seperti itu sangat menyiksa tubuh Afifah.
"Aggghhh.. Sakit banget kepala gue, hah hah hah. Nafas gue juga sesak. " keluh Afifah sambil memegang kepala dan dadanya yang terasa sesak.
"Eh lo kenapa sih? jangan bikin gue takut gini?." tanya Justin merasa khawatir melihat keadaan Afifah.
"Aggghhtt.. Gue udah nggak tahan lagi. Gue butuh obat, tapi gue nggak punya stok nya. " erang Afifah kesakitan karna sakit yang ia rasakan semakin menjadi jadi.
"Sepertinya gue harus cari bantuan, kasian juga gue lihat ni cewek kesakitan begini. " gumam Justin lalu dirinya segera berlari keluar rooftoop.
Tapi ketika dia sedang menuruni tangga, dia berpas pasan dengan Reza yang baru selesai dari kamar mandi.
"Kebetulan ada lo. buruan ikut gue." jawab Justin sambil menarik tangan Reza dan mengajaknya kembali naik keatas.
"Apa apaan sih lo?! Jangan narik gue, sebenarnya lo mau ajak gue kemana sih? . " tanya Reza.
"Udah lo ikut aja. Pokoknya ini gawat banget. " jawab Justin.
Setelah sampai dirooftop. Justin kemudian memberitahukan Reza jika ada cewek yang sedang kesakitan disofa, lantas Reza pun melangkah mendekati sofa.
Betapa terkejutnya Reza ketika tahu bahwa cewek yang dimaksud Justin adalah Afifah. Dilihatnya Afifah berbaring dibawah sambil memengangi kepalanya dan menjambak rambutnya seperti orang kesetanan.
__ADS_1
"Astaga Afifah!! Kenapa lo kayak gini?." tanya Reza khawatir sambil menarik Afifah dan mengajaknya duduk diatas sofa.
"Za tolongin gue, depresi gue kambuh lagi. Gue nggak punya obat. " jawab Afifah dengan suara lemah.
Reza langsung memgambil obat didalam saku lalu segera memberikan pada Afifah. Setelah meminum obat, Afifah tampak memejamkan mata selama beberapa menit.
"Makasih banyak." ucap Afifah setelah keadaannya lebih baik.
"Iya sama sama." jawab Reza.
"Oh ternyata bener kalo cewek yang lo jadiin walpaper itu cewek ini?. " tanya Justin pada Reza.
"Hmm.. namanya Afifah, dia sahabat gue. " jawab Reza membenarkan.
"Apa Afifah?! Jadi cewek yang namanya Afifah ternyata dia." ucap terkejut Justin. Reza memganguk.
"Itu artinya elo Vita dong. " ucap Justin lalu langsung memeluk Afifah yang kala itu sedang berdiri.
"Eh setan!! Apa apaan lo? Lepasin gue. " berontak Afifah ketika Justin memeluknya.
.
Jangan lupa Like KOMEN nya🤗
Karna itu sebagai dukungan kalian pada Author, supaya Author juga makin semangat untuk updet bab selanjutnya💙.
__ADS_1
So jangan pelit pelit untuk tinggalin jejaknya.
See you next episode😘