
Setelah beberapa menit mengendarai motor akhirnya Afifah sampai juga di rumahnya.
Ia pun segera turun dari motor setelah ia memarkirkannya di dalam garasi.
"Assalamualaikum" teriak Afifah begitu dia masuk ke dalam rumah.
"Waalaikumsalam" sahut Mama Afifah.
"Baru pulang sayang?" tanya Mama Afifah saat anaknya berjalan mendekat ke arahnya.
"Iya, Ma baru pulang" jawab Afifah seraya mencium punggung tangan Mama nya.
"Ma, aku laper" cebik Afifah mengerutkan bibirnya.
"Kamu laper?" tanya Mama Afifah.
"Hmmmm.. laper banget ma" jawab Afifah mengangguk.
"Yaudah sekarang kamu mending pergi ke kamar dan bersih bersih. Nanti Mama akan kesana bawain makan siang kamu" perintah Mama Afifah.
"Oke" balas Afifah yang langsung berlari menaiki tangga untuk pergi menuju ke arah kamarnya.
Setelah sampai di kamar Afifah segera mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Kurang lebih sekitar 15 menit lamanya Afifah selesai mandi juga. Ia pun lalu pergi menuju walk in closet untuk memakai pakaian kemudian dia berjalan memuju ranjang dan duduk selonjor disana.
Ceklek
Suara pintu kamar terbuka membuat Afifah langsung tersadar dari lamunannya. Ia pun lantas menoleh, terlihat di sana Mama nya baru saja masuk ke dalam kamar sambil membawa nampan berisi makanan di tangannya.
"Mama" seru Afifah seraya menggeser duduknya agar Mama nya bisa duduk di sampingnya.
"Nunggu lama ya? I'm sorry, tadi Mama ada telpon masuk jadi mama angkat dulu. Pasti kamu sudah laper banget ya" tanya Mama Afifah sambil duduk di tepi ranjang.
"It's okay, santai aja Ma. Aku nggak masalah kok, lagi pula aku nggak terlalu lapar jadi Mama jangan merasa bersalah gitu" jawab Afifah.
Mama memangguk.
"Oh ya, ini makan siangnya udah jadi, buruan dimakan, jangan menundanya. Nanti keburu dingin dan jadi nggak enak kalo nggak segera dimakan" ucap Mama Afifah menyodorkan piring ke arah Afifah.
"Iya, makasih Ma" balas Afifah tersenyum menerima piring itu.
Ia kemudian menyendok dan mulai memakan makanan tersebut.
"Fi" panggil Mama Afifah membuat Afifah seketika menghentikan makannya sebentar, ia lalu menoleh menatap ke arah Mamanya.
"Iya Ma, ada apa?" sahut Afifah dengan alis terangkat satu.
__ADS_1
"Emm.. Itu, kamu tadi sekolahnya gimana? apa kamu bisa mengerjakan soal ujiannya?" tanya Mama basa basi.
Sebenarnya bukan ini yang ingin dia bicarakan, melainkan Mama Afifah hanya ingin tau apakah saat ini putrinya sudah bisa memaafkan suaminya atau belum. Sebab tadi saat hendak pergi menuju ke kamar Afifah untuk mengantarkan makan siang, dirinya sempat menghubungi Mommy Alex untuk sekedar bertanya tentang kabar mantunya.
Mama Afifah merasa sedikit khawatir dengan kondisi Alex karna semalam dia sempat mengintip dari jendela dan melihat jika Alex masih berdiri di depan pintu dengan tubuh menggigil dan pucat.
Melihat hal itu Mama Afifah menjadi tak tega, makanya dia memghubungi Mommy Alex. Dan betapa terkejutnya ia saat mendengar jika Alex sedang demam tinggi akibat memikirkan masalah rumah tangganya, lantas Mama Afifah berinisiatif untuk membantu masalah diantara mereka berdua.
Jujur, di sisi lain Mama Afifah ikut merasa sakit hati melihat putrinya diperlakukan seperti itu namun disisi lain Mama Afifah juga merasa tak tega jika terus melarang Alex untuk minta maaf sehingga membuat Alex menjadi sakit seperti itu.
"Bisa Ma, aku bisa mengerjakannya" jawab singkat Afifah.
"Kenapa Ma? tumben banget Mama nanya gitu sama aku?" tanya Afifah dengan kening berkerut.
"Ah nggak papa, Mama cuman pengen tau aja" jawab Mama tersenyum.
Afifah mangut mangut, dia kemudian melanjutkan kembali memakan makanannya. Setelah beberapa menit akhirnya Afifah selesai makan juga. Ia lalu menaruh piring kosong ke atas nampan tadi.
"Fi" panggil Mama Afifah lagi.
"Iya Ma, kenapa?" sahut Afifah menoleh setelah menaruh piring kasong.
"Emm itu, Mama cuman mau tanya. Bagaimana hubungan kamu sama Alex sayang? Apakah kamu sekarang sudah bisa maafin dia apa belum?" ucap Mama Afifah hati hati.
Seketika raut wajah yang semula biasa kini mendadak berubah jadi datar.
"Nggak papa kok, Mama hanya ingin tau saja" jawab Mama tersenyum.
"Belum, aku belum maafin dia" jawab Afifah tanpa minat.
*Sudah kuduga* batin Mama Afifah memejamkan mata.
"Fi, saran Mama lebih baik kamu maafin Alex. Tidak baik sayang kalo kalian berantem terlalu lama, nanti malah akan dosa. Kamu tau kan kalo kita marahan sama seseorang lebih dari tiga hari itu nggak baik, apalagi sama suami sendiri" ucap Mama Afifah mencoba menasehati.
"Iya sih Ma aku tau itu, tapi untuk saat ini aku masih belum bisa maafin dia. Hati aku rasanya masih sakit setiap mengingat kejadian malam itu" jawab Afifah.
"Mama tau, tapi mama mohon sekali saja kamu coba untuk ikhlas. Mama yakin jika kamu mencoba untuk ikhlas kamu akan bisa memaafkannya"
"Ma, aku bilang nggak bisa ya nggak bisa. Mama jangan maksa dong. Kalo Mama maksa itu sama aja Mama seperti sedang membunuhku secara perlahan. Emang Mama mau kalo depresi ku makin parah jika aku memaksa untuk ikhlas dan memaafkan Alex haa? emang Mama mau lihat aku tersiksa karna tiap hari merasakan batinku yang menderita karna menuruti perkataan Mama hmm? enggak mau kan? makanya stop buat bilang itu sama aku" ucap Afifah dengan nafas naik turun mencoba mengendalikan amarah dalam tubuhnya.
"Lagi pula bukannya Mama sudah tau apa yang Alex lakukan malam itu. Dia menghinaku ma! dia menghinaku, dia mengatakan aku ja1ang bahkan dia juga bersikap kasar sama aku. Kenapa Mama malah membela dia? apa sekarang Mama sudah tidak sayang sama aku lagi haa? kenapa mama jadi berpihak sama Alex" sambung Afifah.
"Sayang, Mama bukannya berpihak sama Alex atau membelanya. Mama hanya mencoba membantu kalian menyelesaikan masalah" elak Mama Afifah menggelengkan kepala.
"Tidak perlu Ma, biarin aja semuanya begini. Mama jangan mencoba bujuk aku. Alex yang berbuat harusnya dia juga yang harus berusaha untuk memperbaikinya semuanya. Apa yang Alex lakukan itu sudah sangat keterlaluan Ma, perbuatan dia tidak pantas mendapat maaf. Semua itu terlalu menyakitkan jadi biarin saja dia berusaha sendiri, Mama jangan ikut membantu. Biarin ini menjadi pelajaran buat dia biar nggak semena mena lagi sama aku" ucap Afifah.
Mama nampak menarik nafas panjang mendengar ucapan putrinya sebelum dia kembali mulai bicara.
__ADS_1
"Fi, Mama kasih tau ya. Sedewasanya Alex, sepengertiannya Alex, dia tetaplah bocah berumur 18 thn sama seperti kamu. Kalo Alex bersikap seperti itu wajar saja karna dia masih labil, dia masih belum bisa mengendalikan dan mengontrol emosi dalam dirinya sebab di usia kalian berdua ini adalah masa proses baru tumbuh menjadi dewasa. Tidak bisa terus bersikap bijaksana, pasti sifat kekanak kanakan kalian masih terbawa.
Mungkin benar kesalahan Alex memanglah sangat fatal dan menyakitkan. Tapi kamu juga jangan egois, jangan semuanya kamu limpahkan sama Alex. Disini kamu juga ikut andil dalam masalah ini sayang. Jangan hanya melihat dari sisi kamu saja tapi cobalah kamu berfikir dengan sudut pandang Alex juga.
Apa kamu tidak akan marah jika kamu melihat suami mu berduaan bersama wanita lain di dalam toilet hmm? apa kamu tidak akan emosi jika kamu melihat dengan mata kepala kamu sendiri Alex dan seorang wanita lain berdiri berhadapan di pojokan hmm? meskipun tidak melakukan apapun namun dengan posisi seperti itu apa kamu masih bisa berfikir positif? apa kamu bisa gampang percaya gitu aja sama penjelasan mereka? enggak kan.
Mama yakin pasti kamu juga akan marah sama seperti Alex, tidak mungkin kamu nggak akan marah melihat suami kamu berbuat seperti itu. Jadi Mama mohon, tolong jangan egois. Jangan semuanya kamu serahkan sama Alex, kamu juga harus bisa bersikap dewasa sayang. Maafin dia, kasian Alex kalo kamu terus bersikap egois seperti ini" ucap panjang lebar Mama Afifah mencoba menasehati anaknya.
Afifah nampak diam mendengarkan semua ucapan Mamanya.
*Benar juga apa yang Mama katakan. Tidak seharusnya gue seperti ini sama Alex. Biar bagaimanapun usia kami seumuran, tidak akan mungkin dia akan terus bersikap dewasa. Pasti sifat kekanakan dia akan muncul sama seperti gue. Seharusnya gue nggak bersikap egois dengan terus menyalahkan dia* batin Afifah.
"Fi, kasian Alex kalo kamu terus bersikap seperti ini. Dia akan menderita jika kamu nggak mau maafin kesalahannya. Mama takut Alex menjadi gila karna terus dihantui rasa bersalah dikepalanya" lanjut Mama Afifah.
"Terus aku harus gimana Ma?" tanya Afifah menatap bingung ke arah Mamanya.
"Cobalah untuk sedikit saja membuka hatimu dan belajarlah untuk ikhlas. Lupakan semua kejadian kemarin, jangan terus kamu pendam. Mama nggak mau kamu menyesal sayang" jawab Mama.
"Iya ma, aku akan mencoba untuk iklas" putus Afifah.
Seketika Mama Afifah langsung tersenyum lebar mendengar keputusan anaknya. Ia pun merentangkan tangan lalu menarik kepala Afifah dan memeluknya.
"Nah gitu, Mama senang mendengarnya akhirnya kamu bisa maafin Alex" gumam Mama di dalam pelukan.
Afifah hanya mengangguk menanggapi.
"Sekarang lebih baik kamu siap siap. Tadi Mama sempat menelpon mertua kamu, katanya Alex sedang demam tinggi. Keadaan dia sedikit mengkhawatirkan. Demamnya terus meningkat karna dia terlalu merasa cemas berlebihan. Sayang, mendingan kamu jenguk dia, dan cobalah untuk memaafkannya. Kasian Alex, dia harus sampai sakit karna terlalu memikirkan masalah kalian" ucap Mama Afifah seraya melepas pelukan mereka.
"Astaga sampai segitunya... " ucap Afifah menutup mulutnya.
"Hmmm...." jawab Mama mengangguk
"Baiklah Ma, nanti sore aku akan kesana untuk menjenguk sekalian aku juga ingin bicara sama Alex" sambung Afifah.
Mama tersenyum. Ia pun lantas berdiri lalu membawa nampan itu keluar dari dalam kamar meninggalkan Afifah sendiri disana.
.
______________________________________
𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐥𝐮𝐩𝐚 𝐭𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚𝐥𝐤𝐚𝐧 𝐣𝐞𝐣𝐚𝐤
𝙇𝙞𝙠𝙚 𝙠𝙤𝙢𝙚𝙣 𝙫𝙤𝙩𝙚 𝐠𝐢𝐭𝐮
𝐁𝐢𝐚𝐫 𝐀𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐦𝐚𝐤𝐢𝐧 𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐮𝐩𝐝𝐞𝐭 𝐛𝐚𝐛 𝐬𝐞𝐥𝐚𝐧𝐣𝐮𝐭𝐧𝐲𝐚.
𝐒𝐞𝐞 𝐲𝐨𝐮 𝐧𝐞𝐱𝐭 𝐞𝐩𝐢𝐬𝐨𝐝𝐞
__ADS_1
𝐁𝐞𝐫𝐬𝐚𝐦𝐛𝐮𝐧𝐠.....