
Mobil Alex terus melaju dengan kecepatan lumayan tinggi menembus jalanan yang lumayan padat. Sampai akhirnya setelah 30 menit perjalanan mobil mereka sampai juga di Restoran.
Alex pun kemudian segera memarkirkan mobilnya diparkiran khusus. Lalu mereka berdua berjalan masuk ke dalam menaiki lantai dua dimana disana adalah letak ruangan pribadi Alex.
"Duh capeknya, enak banget tiduran disini" cebik Afifah begitu dia masuk ke dalam ruangan Alex dan merebahkan tubuhnya disana.
"Woy, copot dulu sepatunya. Main asal naik aja, kalo spreinya kotor gimana? emang lo mau nyuciin?" seru Alex yang baru saja masuk ke dalam.
"Enak aja, ya enggak lah. Itu bukan tugas gue, suruh aja pelayan lo itu, ngapain nyuruh gue. Punya pelayan harus digunain biar nggak rugi bayarnya" jawab Afifah.
"Ya makanya kalo nggak mau ya copot dulu sepatunya, kebiasaan banget kalo habis keluar langsung tiduran" ucap Alex melirik sinis.
"Ck, iya iya ini juga mau gue copot. Cerewet banget jadi orang" cibir Afifah cemberut seraya bangun dan mencopot sepatunya.
"Gue mau ke ruang sebelah bentar mau nemuin sekertaris gue, lo disini aja. Jangan keluar ke bawah atau buat rusuh di bawah, awas aja lo kalo ganggu gue kerja. Bulan ini nggak gue kasih duit maampus lo" peringat Alex.
"Hmmm... santai aja, gue nggak bakal ganggu kok. Gue juga nggak bakal keluar dari ruangan ini. Jadi lo tenang aja" jawab Afifah mengangguk.
"Bagus kalo gitu, gue pegang omongan lo" ucap Alex.
"Tapi lo kerjanya juga harus yang bener biar dapat untung banyak, nanti kan kalo dapat untung banyak lo juga akan dapat duit banyak juga. Dan bisa tranferin gue 20 juta, inget ya 20 juta. Mulai bulan ini jatah gue naik, awas aja kalo masih 15 juta. Gue curi lama lama semua isi brankas lo yang ada di kamar" seru Afifah mengancam menatap tajam ke arah Alex.
"Iyaa.. dasar matre, untung bini gue lo" balas Alex sedikit jutek, ia lalu pergi keluar ruangan meninggalkan Afifah sendirian disana.
-_-_-_-_-_-
Justin berjalan setapak demi setapak menyusuri toko demi toko dengan senyum yang terus mengembang di kedua sudut bibirnya. Sekarang ini dia sedang ada didalam salah satu mall terbesar yang ada dikota itu.
Rencananya Justin ingin membelikan sesuatu untuk Afifah. Sejak kejadian tadi Justin tak henti hentinya menebar senyum lebar, hatinya merasa sangat bahagia mengetahui Vita wanita pujaanya menerima pemberian dia dan bersikap sedikit hangat.
Justin pikir Vitanya itu sudah tidak membenci dirinya, nyatanya Afifah hanya sekedar menerima kue pemberian darinya karna kue itu adalah makanan favoritnya tanpa ada niat apapun. Justin juga masih mengira jika hubungan antara Alex dan Afifah sedang dalam keadaan renggang padahal mereka sekarang sudah baikan.
Itu mengapa beberapa hari ini dia jadi lebih berani untuk menunjukan perhatian dan cintanya pada Afifah berharap jika Afifah akan mau kembali balikan dengan dirinya.
"Enaknya gue beliin dia apaan ya? kalo gue beliin dia boneka jelas tidak akan diterima. Secarakan Vita dulu sangat tidak menyukai benda itu" gumam Justin berfikir.
"Beliin dia coklat juga percuma, Vita tidak akan memakannya. Ya meskipun dia suka dengan makanan berbau coklat tapi kalo dengan coklat batangan dia tidak mau" gumam Justin yang yang masih nampak berfikir.
Ia lalu mengedarkan pandangan kesekitar dan tak sengaja melihat sebuah toko perhiasan. Mata Justin seketika berbinar saat indera penglihatannya melihat ada sebuah jam mewah terpajang disana.
Tanpa menunggu lama Justin pun langsung melangkahkan kaki menuju toko itu.
"Permisi" ucap Justin begitu dia sampai disana.
"Iya, ada yang bisa saya bantu. Masnya mau nyari apa? gelang, kalung, atau cincin. Silahkan dipilih mas" sahut ramah pegawai toko mempersilahkan.
"Oh tidak tidak, saya bukan mau membeli emas. Tapi saya kesini karna ingin membeli jam tangan. Emm.. bisa ambilkan jam tangan yang itu, saya mau lihat" jawab cepat Justin menunjuk ke arah dimana jam tangan itu berada.
"Oh yang itu, sebentar saya ambilkan dulu" balas pegawai toko seraya meraih jam tangan itu dan meletakkannya di atas etalase.
"Kira kira harganya berapa mbk?" tanya Justin mendongak menatap sang pegawai setelah dirinya melihat jam tangan tersebut.
"Harganya lumayan cukup menguras kantong mas karna jam tangan ini merupakan produk terbatas dan hanya tinggal satu ini saja ditoko kami" ucap pegawai toko itu tersenyum.
"Nggak papa, sebutin aja mbk" ucap Justin.
"Untuk yang ini harganya sekitar 30 juta mas" jawab pegawai toko.
*Yaelah 30 juta dibilang mahal, ini mah murah banget. Kalo dibandingkan dengan uang jajan gue dua bulan aja kayaknya masih lebih banyak uang jajan gue* batin Justin menyunggingkan senyum tipis.
"Gimana mas? apa masnya tertarik beli?" tanya pegawai toko.
"Iya, saya beli. Tolong bungkuskan ya mbk, sekalian sama gelang yang itu. Jadi saya beli dua dan ini kartu debit saya" jawab Justin seraya memberikan kartu debit miliknya pada pegawai toko tersebut.
"Baik mas, akan saya bungkuskan" jawab pegawai toko sambil berlalu pergi membawa pesanan Justin.
****
Sedangkan Afifah.
Sekarang ini dia tampak tiduran di sofa ruangan Alex sambil melihat layar tv di depannya. Berada terus di dalam sana membuat Afifah meras bosan, makanya dia memilih untuk menonton tv.
"Huh! tu anak kenapa lama banget sih, masa dari siang sampai sore gini dia belum juga selesai" gumam Afifah menatap jengah ke arah layar televisi.
"Sebenarnya yang di bahas sama sekertarisnya itu apaan dah. Masa udah hampir setengah hari kagak kelar kelar. Gue curiga, jangan jangan tu orang berdua tidak berdiskusi melainkan main ps makanya lama begini" lanjutnya lagi.
Afifah tak henti hentinya menggerutu sambil sesekali melirik ke arah pintu berharap orang yang dia tunggu akan muncul. Tapi setelah menoleh beberapa kali Alex sama sekali belum datang, hal itu membuat Afifah semakin kesal.
"Agghhtt... lama lama gue lempar juga ni tv. Emosi gue lihatnya, dari tadi kagak balik². Mana gue laper lagi, mau minta makan sama pelayan tapi gue mager turun ke bawah" cebik Afifah sambil berjalan menuju kusri kerja Alex dan hendak duduk disana.
Tapi tidak jadi sebab tiba tiba saja Afifah teringat akan kue yang diberikan Justin. Dengan segera Afifah langsung mengambil kue itu yang ia taruh dalam tas.
"Untung gue inget kalo ada kue jadi kagak laper lagi" ucap senang Afifah setelah mengambil kue Itu dan membukanya.
"Wahhh.. mana bau dan tampilannya enak lagi, gue jadi nggak sabar makannya. Ambil satu ah" sambung Afifah seraya mengulurkan tangan dan mengambil salah satu kue yang berjejer disana lalu mengarahkan kue itu ke arah mulutnya.
Ceklek
Suara pintu terbuka membuat Afifah yang hendak memakan kue ditangannya menjadi di urungkan. Ia pun lantas menoleh ke samping dan mendapati Alex baru saja masuk ke dalam sambil membawa beberapa berkas di tangannya.
"Dari mana aja sih lo, lama banget. Sampe jamuran gue nunggu lo balik" seru Afifah meletakan kembali kue ditangannya.
"Ya habis dari ruang sebelah lah, emang mau kemana lagi" jawab singkat Alex sembari ikut mendudukan diri disamping Afifah.
"Kalo cuman disitu tapi kenapa lama, sampe laper tau nggak gue nunggu lo disini" ucap cemberut Afifah.
"Lah kalo lo laper kenapa nggak minta dibuatin makanan sama pelayan, kenapa malah nunggu gue?"
__ADS_1
"Ya karna gue mager ke bawah makanya nungguin elo. Lagian gue juga nggak mau makan makanan direstoran tapi gue pengennya makan makanan yang lo masak sendiri eh tapi elonya malah belum balik². Untung gue punya kue jadi bisa di ganjal sementara" jawab Afifah menunjuk kue di depannya.
"Kue? kue apaan?" tanya Alex dengan dahi berkerut.
"Brigadeiros curso, mau coba?" tawar Afifah tersenyum.
"Enggak, buat lo aja" tolak Alex.
"Beneran, ini enak lo Wolf. Coba lo lihat gue makan, hmmm enakan" ucap Afifah sambil memakan kue itu.
"Tuhkan, enak. Ada selai coklatnya lagi, terus yang ini juga lumer. Yakin lo nggak mau?" tawar Afifah lagi sembari menunjukan kue yang baru saja dia makan.
Alex hanya melirik sekilas tanpa minat.
"Ayolah coba sedikit aja, gue jamin deh lo bakal suka" paksa Afifah seraya menyodorkan satu kue ke arah Alex.
"Gue nggak mau Pai, perut gue mual lihatnya. Dari bentuknya aja udah ketahuan ini kue pasti kemanisan. Lo kan tau gue nggak suka makanan yang terlalu manis"cebik Alex menepis pelan tangan Afifah.
"Gue tau, tapi kue ini beda. Meski bentuknya begini rasanya nggak terlalu manis. Lo jangan sok nolak gitu, kalo habis nyesel ntar lo. Kue ini beneran enak, gue nggak bohong" paksa Afifah kembali yang masih kekeh menyuapi suaminya berharap suaminya mau membuka mulut.
"Ayo buka mulut lo, gigit sedikit juga nggak papa yang penting lo mau coba. Gue maksa lo gini itu karna lo biar tau rasanya" ucap Afifah.
Dengan terpaksa Alex pun menerima suapan kue. Satu gigi dua gigit, kue itu mulai masuk ke dalam mulut Alex.
"Gimana? enakan?"
"Iya enak, gue pikir bakal bikin mual karna dari tampilannya aja bikin enek. Banyak coklatnya, eh nggak taunya malah sebaliknya" seru Alex terus menguyah.
"Nahkan apa gue bilang, ketagihan kan lo. Makanya jangan sok nolak. Ini itu kue favorit gue sejak kecil" cibir Afifah.
Alex hanya tersenyum.
"Btw, lo dapat kue ini dari mana. Kok gue nggak pernah lihat ini kue sebelumnya. Dari kecil gue nggak pernah tau?" tanya Alex menoleh.
"Yaiyalah lo nggak pernah lihat, orang kue ini adanya hanya di Belanda" jawab Afifah.
"Di Belanda? jauh banget, pantes gue nggak pernah tau. Terus lo belinya dimana? di online shop atau di toko kue?" tanya Alex seraya mengambil satu kue lagi dan memakannya.
"Enggak, gue nggak beli. Disini nggak ada yang jual, ini gue dapat dari Jeje. Dia tadi ngasih ini sama gue waktu lo ambil mobil diparkiran, dia kemarin lusa sempet pulang ke Belanda karna di suruh Papanya" jawab Afifah.
"Wolf, Lo tau nggak. katanya dia itu beli kue ini khusus buat gue karna dia tau gue suka sama makanan ini. Gue nggak nyangka ternyata dia masih ingat, gue pikir dia udah lupa. Jeje ternyata baik juga ya, rasanya gue kayak lihat Jeje kecil bukan Jeje besar sebab tadi itu sikap dia beda banget sama gue" lanjut Afifah tersenyum.
Alex yang kala itu baru saja memasukan kue ke mulutnya seketika langsung tersedak saat mendengar ucapan Afifah barusan.
Uhuk uhuk uhukkk
"Eh eh Wolf, lo kenapa? ya ampun makanya kalo makan tuh hati hati. Jangan buru buru, nih minum dulu" ucap spontan Afifah memberikan gelas kepada suaminya dan diminumnya.
"Apa kata lo tadi? kue ini dari Justin? dia yang kasih ini sama lo? " tanya Alex dengan mata melotot menunjuk bungkusan di depannya setelah minum.
"Brengsek, sini kuenya" umpat Alex yang langsung merebut paksa kue ditangan Afifah dan mengambil bungkusan di depannya lalu membuangnya ke dalam tempat sampah.
"Loh loh Wolf, kenapa lo buang. Itu masih banyak isinya, aduh astaga..." seru reflek Afifah berdiri memghampiri.
"Kenapa emangnya! kue ini dari Justin. Apa nggak boleh gue buang hmmm?" balas Alex berbalik.
"Enggak bukan itu, Wolf, lo seharusnya nggak buang kue ini. Sayang Wolf, jadi mubazir"
"Terus maksudnya lo mau tetap makan gitu haa? lo mau tetap menelan bahkan setelah tau ini kue dari siapa gitu?"
"Pai, kue ini dari Justin Pai dari Justin, orang yang sudah membunuh abang lo dan yang hampir melecehkan lo. Lo seharusnya tidak menerima apapun pemberian dia, dia itu jahat. Bisa jadi ini adalah bagian dari rencana busuknya buat dapetin lo. Lo tau sendirikan Justin itu licik, dia akan melakukan segala cara buat kembali milikin elo" ucap Alex.
"Nggak bakal, gue yakin kue ini nggak ada maksut tertentu. Ini itu cuman sekedar pemberian biasa, Justin nggak ada niat apapun, lo jangan asal nuduh" bantah Afifah.
"Asal nuduh gimana? yang gue omongin itu beneran Pai, Justin itu hanya cari muka sama lo. Dia ngasih kue ini supaya bisa mendapat simpati dari lo. Harusnya lo sadar bukan malah ngeyel kek gini. Kalo lo nanggepin dia yang ada tu anak akan makin ke ge'eran" ucap Alex.
"Yaudah sih, gue kan nggak tau. Kenapa lo malah jadi marahin gue? lagian gue itu cuman menerima pemberian dia doang apa salahnya, yang penting gue kan nggak suka sama dia" seru Afifah merasa terpojokan.
"Gue bukannya marahin elo, tapi gue cuman ngasih tau lo. Pai, lo itu istri gue udah jadi tanggung jawab gue buat lindungin lo. Gue ngomong kayak gini karna gue nggak mau lo masuk ke dalam jebakan dia, gue juga nggak mau nantinya lo kemakan rencana liciknya kalo lo nanggepin dia" ucap alex.
"Ya sama aja itu namanya lo juga nyalahin gue, ah udahlah males gue ngomong sama lo" ucap Afifah seraya berbalik.
"Mau kemana lo?"
"Keluar" jawab singkat Afifah tanpa minat sambil menutup pintu ruangan Alex sedikit keras.
"Ah sial! gue salah bicara lagi, aduh tu anak pasti ngambek sama gue" desis Alex frustasi.
"Pai tungguin gue" teriak Alex berlari menyusul istrinya.
~ ~ ~ • ~ ~ ~
"Pai, berhenti dulu" cegah Alex menarik tangan Afifah.
"Ck, apaan sih. Lepasin tangan gue, nggak usah pegang pegang" ucap Afifah melepas paksa tangan suaminya.
Saat ini mereka berdua tengah berada di halaman depan Restoran.
"Dengerin gue dulu, lo jangan ngambek gitu dong. Gue kan tadi cuman memberitahu elo, kenapa lo malah marah" ucap Alex.
"Yaiyalah gue marah, lo pikir aja sendiri. Orang mana yang nggak kesel kalo dirinya terus disalahkan, padahal dirinya cuman menerima pemberian doang eh tapi malah di marahi. Kalaupun gue salah seenggaknya lo jangan terus nyalahin gue dong, guekan nggak tau kalo tindakan gue itu salah. Harusnya lo ngomong baik baik bukan malah langsung nyerocos, kesel gue dengernya" jawab Afifah bersedekap dada.
"Iya iya gue minta maaf, gue tadi cuman reflek doang. Gue nggak ada maksut nyalahin elo, jangan ngambek lagi nanti cepet tua lo" ucap Alex menarik Afifah ke dalam pelukannya.
Namun Afifah hanya diam tak membalas balik pelukannya.
__ADS_1
"Pai" panggil Alex menunduk sedikit merenggangkan pelukan mereka untuk melihat wajah istrinya.
"Hmmm" jawab Afifah berdehem.
"Jangan diem mulu. Senyum dong"
"Males"
"Ck, lo mah gitu, udah dong jangan ngambek lagi. Gue kan udah minta maaf" seru Alex.
"Pai"
"Apa lagi sih Wolf?"
"Jangan diemin gue. Lo masih ngambek ya sama gue?"
"Nggak"
"Kalo nggak kenapa lo diem aja"
"Lagi hemat suara" jawab cuek Afifah.
Alex nampak mendengus kasar. Namun sesaat tiba tiba saja dia teringat sesuatu. Dengan tubuh yang masih saling berpelukan Alex nampak mengeluarkan sesuatu dari balik jaket miliknya. Ia kemudian melepas pelukan mereka secara perlahan.
"Pai, gue minta sekarang tutup mata lo" ucap Alex.
"Haa? tutup mata, buat apaan?" tanya bingung Afifah.
"Udah tutup mata aja, gue punya sesuatu buat lo" jawab Alex. Afifah pun menurutinya.
"Oke, dalam hitungan ke tiga lo baru boleh buka mata. Kalo gue. belum menghitung lo jangan melek dulu, tunggu gue kasih aba² dulu ya" ucap Alex dan dijawab anggukan kepala oleh Afifah.
"Iya, udah ah cepetan. Lo mau ngasih gue apaan? kepo banget gue, segala pake acara tutup mata lagi" ucap Afifah.
"Nanti lo juga tau sendiri" balas Alex.
"Oke gue mulai ya, ,... 1... 2.... 3.... nah sekarang buka mata lo" perintah Alex agak mengeraskan suaranya.
Afifah lalu perlahan membuka matanya. Seketika matanya langsung mendelik, mulutnya terbuka dengan wajah sedikit terkejut setelah melihat apa yang ada di depan matanya.
Sebuah ponsel dengan merk yang sangat terkenal berdiri rapi di depannya, ponsel yang selama ini dia idam idamkan kini ada ditepat di depan matanya.
HTC one caviar edition, adalah merk ponsel yang di belikan oleh Alex untuk Afifah. Merk ponsel yang terkenal dengan harga yang amat sangat mahal karna terbuat dari campuran sedikit emas dan berlian di body ponselnya. Setelah mendengar permintaan istrinya tadi pagi yang menyuruh dirinya untuk membelikan ponsel baru siang ini setelah pulang sekolah Alex langsung bergegas membelikan. Sebenarnya Alex tadi berbohong, sejak siang sampai sore dia tidaklah berada di ruangan sekertarisnya melainkan dia pergi keluar untuk membeli ponsel tersebut tanpa sepengatauan Afifah, Alex ingin memberikan kejutan untuk istrinya. Itu mengapa dia pergi terlalu lama.
"Wolf, ponsel ini buat gue? lo lagi nggak sedang ngeprank gue kan? ini beneran HTC one caviar edotion yang gue minta?" tanya Afifah sedikit tidak percaya menatap mata suaminya.
"Iya, ponsel ini buat lo. Gue nggak sedang ngeprank, di depan lo ini memang merk ponsel yang lo mau" jawab Alex tersenyum.
"Hah yang bener, Aaaa... akhirya gue punya ponsel baru. Astaga, lo tau nggak, ini itu model ponsel yang selama ini gue incar, sejak dulu gue pengen banget punya model ponsel yang ini tapi sama Papa nggak dibolehin. Duh ya ampun, gue seneng banget. Nggak nyangka gue lo bakal beliin gue secepat ini, padahal baru tadi pagi gue minta, makasih ya Wolf" ucap senang Afifah berteriak heboh.
"Iya sama sama" balas Alex tersenyum.
"Ini gue boleh buka sekarang kan? gue udah nggak sabar pengen pegang" tanya Afifah mendongak.
"Buka aja" jawab Alex menyetujui.
Lantas Afifah pun tanpa basa basi segera membuka bungkusan ponsel. Senyum ceria pun lagi lagi tercetak jelas di kedua sudut bibir saat Afifah melihat ponsel miliknya.
"Widihh keren banget, model flip lagi. Eh tapi ini kok ada bungkusan satu lagi? itu buat siapa?" tanya Afifah menunjuk bungkusan satunya.
"Ini buat gue, bungkusan ini isinya ponsel milik gue. Kan ponsel gue juga hancur sama kaya lo, makanya gue beli aja sekalian" jawab Alex.
"Boleh gue buka?" tanya Afifah.
"Buka aja" jawab Alex. Afifah dengan senang hati langsung membukanya dan tampaklah ponsel milik Alex.
"Tenang aja, Biarpun kamera di ponsel gue lebih banyak ketimbang dengan yang ada di ponsel lo tapi harganya lebih mahalan punya lo. Kalo lo nggak percaya lo bisa lihat catatan notanya, jadi jangan sedih lagi. Punya lo sama punya gue lebih bagusan punya lo" ucap Alex yang seolah paham dengan tatapan Afifah saat melihat model ponsel miliknya.
Afifah yang mendengar ucapan Alex hanya tersenyum kikuk.
"Hehehe... kok lo bisa tau apa yang ada dipikiran gue"
"Ya tau lah, orang modelan kyak lo itu gampang ditebak. Jadi meski lo nggak ngomong gue tau apa maksut lo" jawab Alex.
Afifah hanya tercengir.
"Yaudah yuk, mending kita pulang. Ini udah sore nanti keburu kemaleman" ajak Afifah dan dijawab anggukan kepala oleh Alex.
Mereka berdua kemudian berjalan menuju ke arah parkiran mobil dan naik kesana. Alex lalu mulai menyalakan mesin mobil dan melajukannya keluar dari area restoran.
*Gue kayaknya harus lebih hati² sama Justin, manusia licik itu pasti akan kembali mendekati Afifah mengingat dia itu orang yang sangat nekat.
Dia tidak akan menyerah sebelum apa yang dia inginkan menjadi miliknya. Huh! kalo saja sekarang gue udah dapat bukti yang cukup, gue pasti akan langsung menjebloskan dia ke penjara. Orang seperti Justin sangat berbahaya jika dibiarkan keluyuran bebas. Semoga aja orang gue cepet nemuin bukti, gue bener² nggak sabar ingin memenjarakan dia* batin Alex ditengah perjalanan.
____________________________________
𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐥𝐮𝐩𝐚 𝐭𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚𝐥𝐤𝐚𝐧 𝐣𝐞𝐣𝐚𝐤
𝙇𝙞𝙠𝙚 𝙠𝙤𝙢𝙚𝙣 𝙫𝙤𝙩𝙚 𝐠𝐢𝐭𝐮
𝐁𝐢𝐚𝐫 𝐀𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐦𝐚𝐤𝐢𝐧 𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐮𝐩𝐝𝐞𝐭 𝐛𝐚𝐛 𝐬𝐞𝐥𝐚𝐧𝐣𝐮𝐭𝐧𝐲𝐚.
𝐒𝐞𝐞 𝐲𝐨𝐮 𝐧𝐞𝐱𝐭 𝐞𝐩𝐢𝐬𝐨𝐝𝐞
__ADS_1
𝐁𝐞𝐫𝐬𝐚𝐦𝐛𝐮𝐧𝐠