WOLF PAI • Pasangan Barbar

WOLF PAI • Pasangan Barbar
Bab 219 : Mau mati?


__ADS_3

Brak


Suara dobrakan yang terdengar amat sangat kencang saat pintu itu berhasil terbuka.


Alex yang pada saat itu tengah berbaring membelakangi pintu langsung berjingkat kaget, ia lantas membalikan badan dengan wajah merah menahan emosi dan bersiap akan menyemprot amarahnya.


"Woy, bisa nggak sih kalo buka pintu itu pelan, jangan asal dob.... astagfirullahaladhim" teriak terkejut Alex setelah membalikan badan.


Seketika tubuhnya mendadak kaku, Matanya membulat sempurna dan amarah dalam dirinya hilang begitu saja saat melihat siapa yang mendobrak pintu kamar miliknya tersebut.


"Afifah" gumam Alex pelan dengan suara nyaris tak terdengar.


"Heh! lo mau mati atau mau bunuh diri haa? kenapa lo nggak mau makan sejak pagi. Punya nyawa berapa lo hmm? sok jagoan banget. Heran gue sama lo, kayaknya hobi banget nyiksa diri sendiri sampai² tiap sakit nggak mau makan" seru Afifah begitu masuk ke dalam kamar.


"Fi... " ucap Alex yang masih nampak ragu dengan penglihatannya.


"Apa! nggak usah nyari alasan. Gue udah hafal sama sifat lo jadi tanpa lo bilang gue udah bisa nebak" sela Afifah memotong ucapan Alex sambil berjalan ke arah ranjang.


"Eh Lex, gue kasih tau ya sama lo. Meskipun lo sakit lo harus tetap makan. Biarpun perut lo mual atau lidah lo pahit, lo harus makan. Kalo lo nggak makan kapan mau sembuh. Yang ada bukannya membaik malah nambah parah. Gue nggak mau ya lo mati gara² sifat keras kepala lo yang tiap sakit nggak mau makan. Gue masih sekolah, ya kali udah nyandang status janda. Jangan aneh aneh lo, awas aja kalo sampe itu terjadi. Gue akan beri perhitungan. Kan nggak lucu gitu, masa baru lulus sma udah jadi janda" lanjut Afifah mengomeli Alex.


"Lihat aja tuh keadaan lo. Lusuh banget tau nggak, baju berantakan, rambut acak acakan, bibir pucet, badan panas. Harusnya lo nurut sama apa kata Mommy, bukan malah ngebandel sesuka lo. Baru sehari sakit aja penampilan lo udah begini apalagi kalo dua hari, mungkin udah kayak gembel" ucap Afifah mengomel lagi.


"Sekarang ayo buka mulut lo dan makan bubur ini. Setelah itu baru ganti baju, risih gue lihat penampilan lo kayak gitu" sambung Afifah seraya menyahut mangkok yang ada di atas nakas lalu dia meyendok dan mengarahkan ke depan mulut suaminya.


Alex terdiam tanpa merespon sepatah kata pun. Pikirannya masih bingung dan sedikit syok melihat kemunculan istrinya secara tiba tiba.


*Ini beneran Afifah atau hanya halusinasi gue aja. Kenapa semua terlihat nyata, teriakan dia dan omelan dia benar benar sangat mirip dengan aslinya.


Apa ini gara gara kepala gue pusing makanya gue halu kayak gini, sampai sampai saking pusingnya gue membayangkan Afifah ada disini* batin Alex menatap lurus ke samping.


"Woy, ayo buka mulut lo, malah bengong" cebik Afifah menggeplak pelan lengan Alex membuat Alex langsung tersadar jika di depannya itu memang istrinya.


Reflek Alex langsung bangun dari tidurnya, tak peduli dengan kepalanya yang berdenyut nyeri, badannya panas dan tubuhnya lemas ia tetap berusaha duduk.

__ADS_1


"Eh... eh.. mau ngapain lo, udah tidur aja. Lagi sakit nggak usah banyak bertingkah" ucap Afifah memegangi tubuh Alex yang sedikit oleng.


"Fi, jadi ini beneran elo! lo datang kesini. Ini gue sedang nggak lagi halusinasi kan" ujar Alex mengangkat tangannya berusaha memegang wajah istrinya.


"Yaiyalah ini gue Afifah bini lo. Emang lo kira siapa? Monyet" balas Afifah sedikit ngegas dan melirik sinis.


Moodnya memang sedang agak sensi makanya dia kalo bicara asal ceplas ceplos.


Bruk


Tanpa aba aba Alex langsung memeluk erat tubuh Afifah membuat Afifah hampir saja menjatuhkan bubur di tangannya jika saja dia tidak segera menahannya.


"Aduh sialan! heh! lo kalo mau meluk orang lihat lihat dong. Jangan asal nubruk, lo pikir gue banteng apa. Untung aja buburnya nggak tumpah, kalo tumpah bisa berabe ini" cerocos Afifah menggerutu.


"Fi, maafin gue. Tolong maafin gue, hiks... hiks.." tangis Alex dipelukan Afifah.


"Gue bener bener sangat menyesal. Gue sadar kalo perbuatan gue kemarin sangat keterlaluan, gue juga sadar jika perkataan gue juga menyakitkan. Tapi plis Fi, maafin gue. Hiks.. hiks.. tolong maafin gue. Jangan tinggalin gue fi, gue mohon"


"Gue nggak sanggup kalo harus pisah sama lo. Gue nggak bisa hidup terpisah terlalu lama sama lo. Fi, kasih gue kesempatan. Gue janji bakal perbaiki semuanya, gue janji akan merubah semua sifat jelek gue. Tapi gue mohon, jangan tinggalin gue lagi dan maafin gue. Hiks.. hiks... hiks... maafin gue Fi" isak tangis Alex sambil terus memeluk Afifah.


"Fi, jangan menjauh dari gue lagi. Hiks.. hiks... jangan tinggalin gue, gue minta maaf atas semua yang udah gue lakuin sama lo. Izinin gue perbaiki semuanya. Kasih gue kesempatan, hiks.. hiks.. hiks.. gue mau berubah" ucap Alex memohon.


Afifah hanya diam sambil menggigit bibir bawahnya. Ia sama sekali tak bisa berkata. Entah kenapa mendengar suaminya menangis sesenggukan dipelukannya membuat hatinya mendadak jadi ikut sesak.


Matanya berkaca kaca dan akan keluar jika saja Afifah tak segera menghapusnya.


"Fi, gue minta maaf sama lo itu tulus. Gue benar benar merasa sangat menyesal karna udah pernah sekasar itu sama lo. Jadi gue mohon, kasih gue kesempatan. Gue mau kita memperbaikinya sama sama. Gue akan berusaha untuk lebih bersikap dewasa" ucap Alex seraya melepaskan pelukannya lalu meraih tangan Afifah dan menggenggamnya tapi Afifah melepaskannya secara perlahan.


"Lex, udah jangan nangis. Gue udah maafin lo kok, gue juga udah ikhlasin dan mencoba untuk melupakan semuanya. Gue rasa kesalah pahaman ini bukanlah salah lo doang, disini gue juga ikut bersalah karna jika saja gue nggak mulai mungkin masalah ini nggak akan ada. Soo, jangan nangis lagi" ucap Afifah seraya menghapus air mata yang ada di pipi suaminya.


Reflek Alex langsung mendongak kaget.


"Ah benarkah? ini seriusan? lo udah maafin gue" tanya Alex tak percaya.

__ADS_1


"Iya, ini serius. Gue udah maafin lo" jawab Afifah tersenyum.


"Lo beneran udah maafin gue?" tanya nya lagi sekedar meyakinkan.


"Iya Lex iya, astaga.. gue udah maafin lo" jawab Afifah.


Seketika Alex kembali memeluk Afifah dengan erat bahkan sangat erat ketimbang sebelumnya.


"Huwaa Makasih Fi makasih, gue sangat bersyukur lo mau maafin gue. Nggak nyangka banget akhirya kita kembali baikan. Gue janji nggak akan ngulangin kesalahan lagi, gue janji nggak bakal berbuat kasar sama lo lagi. Gue akan berusaha menjadi suami yang baik sama lo" ucap Alex di dalam pelukan.


"Sebisa mungkin untuk kedepannya gue akan berfikir dulu sebelum betindak. Ah ya ampun Fi, gue sangat senang mendengarnya. Gue bahagia mengetahui kalo lo mau maafin gue" tambahnya tersenyum lebar.


Afifah hanya mengangguk menanggapi.


"Sekarang mending lo makan dulu. nanti keburu buburnya nggak enak, ini udah dari tadi soalnya" ucap Afifah melepaskan pelukannya.


Kemudian ia mulai kembali meyendok dan menyodorkan ke arah suaminya. Alex pun dengan senang hati menerima, meski tubuhnya menolak tapi Alex tetap memakakannya demi istrinya.


*Huh! berdamai dengan keadaan tidak terlalu buruk juga. Walaupun sebenarnya hati gue masih sakit setiap melihat Alex tapi gue akan mencoba untuk lapang dada. Gue yakin perlahan lahan gue pasti bisa melupakannya.


Kalo gue tetap menjauh gue takut rumah tangga gue akan berantakan. Gue juga nggak bisa terus menerus bersikap egois. Gue harap setelah ini gue sama Alex bisa lebih dewasa lagi dalam menghadapi segala situasi dan masalah yang mungkin ada di masa depan* batin Afifah.


____________________________________


𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐥𝐮𝐩𝐚 𝐭𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚𝐥𝐤𝐚𝐧 𝐣𝐞𝐣𝐚𝐤


𝙇𝙞𝙠𝙚 𝙠𝙤𝙢𝙚𝙣 𝙫𝙤𝙩𝙚 𝐠𝐢𝐭𝐮


𝐁𝐢𝐚𝐫 𝐀𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐦𝐚𝐤𝐢𝐧 𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐮𝐩𝐝𝐞𝐭 𝐛𝐚𝐛 𝐬𝐞𝐥𝐚𝐧𝐣𝐮𝐭𝐧𝐲𝐚.


Oh ya, aku nggak bisa up tiap hari ya. Soalnya aku lagi daring jadi banyak tugas yang numpuk. Aku up nya kalo aku sedang nggak sibuk.


Mungkin dua hari sekali baru bisa up bab baru. Sebenarnya aku juga ingin up tiap hari tapi keadaan sangat tidak memungkinkan. Soo, mohon pengertiannya ya guys🤗

__ADS_1


𝐒𝐞𝐞 𝐲𝐨𝐮 𝐧𝐞𝐱𝐭 𝐞𝐩𝐢𝐬𝐨𝐝𝐞


𝐁𝐞𝐫𝐬𝐚𝐦𝐛𝐮𝐧𝐠.....


__ADS_2