WOLF PAI • Pasangan Barbar

WOLF PAI • Pasangan Barbar
Bab 201 : Mengambil hak


__ADS_3

Suara tangisan dan suara keributan terdengar sangat jelas dan keras dari dalam rumah pribadi Alex dan Afifah.


Tangisan dan jeritan ketakutan yang berasal dari mulut Afifah saat dia melihat suaminya tengah mengamuk hebat didalam rumahnya.


Sebagian benda yang ada didalam kamar hancur berantakan akibat ulah suaminya.


Saat ini Alex tengah marah besar sehingga dia memghancurkan benda apa saja yang ada didepan matanya. Tak peduli apakah itu barang penting atau tidak Alex akan tetap melemparkannya.


Afifah yang melihat hal itu tentu saja merasa ketakutan. Seumur hidupnya baru kali ini dia melihat kemarahan seseorang, sejak kecil baik papa, mama, atau (alm) bang Fian nya sama sekali tak pernah berlaku kasar pada Afifah.


Jika Afifah membuat kesalahan mereka hanya akan menegur, itu pun dengan kata kata halus tidak dengan membentak atau sampai melempar barang.


Sedangkan Alex sejak kecil dia, (alm) bang Brian dan (alm) adik kembarnya Juan selalu di didik tegas oleh Mommy dan Daddy nya, jadi tak heran ketika marah Alex akan mengamuk dan menghancurkan benda disekitarnya.


Sungguh dua pribadi yang sangat berbeda, Afifah yang tidak pernah dikasari oleh keluarga dan Alex yang tidak bisa bersikap lembut saat marah.


Prangg!


Brak!


Cetarr!


Suara benda yang baru saja Alex lempar.


"Wolf, udah dong jangan ngamuk lagi. Gue takut, hiks.. hiks.. hiks.." tangis Afifah yang kini tengah berdiri dipojok kamar sambil menutup telinganya.


Sebarbarnya dia, sekuat kuatnya dia, dan sejago jagonya dia, Afifah tetaplah seorang wanita yang pada dasarnya adalah seorang yang lemah. Sehebat apapun wanita mereka akan tetap kalah jika dibandingkan dengan seorang pria karna tenaga mereka sangat berbeda.


Meskipun dia terlihat sangat tangguh namun aslinya dia sama dengan wanita lainnya yang mana jika dia dibentak dan dimarahi afifah akan menangis.


Kalian semua sudah tahu bukan jika Afifah menderita depresi yang sangat berat, yang artinya mental Afifah sebenarnya tidaklah sekuat yang dilihat.


Walaupun dia sering berkata kasar, membuat masalah dan juga bertingkah konyol bukan berarti batin Afifah dalam keadaan baik. Bisa jadi itu semua hanyalah sebuah strategi dia untuk bisa melupakan semua penderitaannya.

__ADS_1


Sama halnya dengan Alex, mungkin saja tingkah konyol dan barbar nya selama ini hanyalah cara dia untuk melampiaskan rasa rindunya terhadap abang dan adik kembarnya yang sudah meninggal sekaligus untuk pengalihan pikiran sementara waktu agar tidak terus menerus larut dalam kesedihan.


Bayangkan saja diusia Alex yang baru menginjak usia 8 thn dia harus menyaksikan secara langsung bagaimana abang dan adik kembarnya meninggal secara tragis karna dibunuh orang menggunakan benda tajam tepat didepan matanya.


Anak kecil yang masih sangat dibawah umur dan sangat polos harus melihat adegan kejam secara nyata.


Adegan yang seharusnya tidak boleh dilihat anak seumuran Alex yang mana mental dan batinya masih sangat labil dan sensitif. Jadi tak heran jika Alex menderita trauma setelah kejadian tersebut.


Brakk!


"Brengsek! Akkhhh..." teriak Alex kencang sambil menyahut benda disekitar dan membantingnya secara kasar.


Prangg!


"Wolf, berhenti. Gue beneran takut, hiks.. hiks.." tangis Afifah lagi yang semakin ketakutan.


Namun seakan tuli Alex tetap melempar barang ke arah tembok. Bahkan dia sama sekali tak peduli dengan suara tangisan dan teriakan istrinya untuk memintanya berhenti.


Cetarr!


"Wolf, udah jangan lempar barang lagi. Gue minta maaf, gue janji nggak bakal kayak gitu lagi. Hiks.. hiks.. tolong berhenti, jangan lempar barang lagi" ucap Afifah yang kesekian kalinya dengan suara tertahan menahan tangisannya agar tidak semakin kencang.


Alex seketika langsung berhenti melempar, dia lalu berbalik menatap Afifah dengan tatapan kebencian disudut kamar.


"Janji apa yang lo maksut haa? jadi bener kalo selama ini lo main dibelakang gue?" bentak Alex menatap tajam Afifah.


"Ti-tidak Wolf, gue nggak main belakang. Sumpah demi apa gue sama Anas tadi tidak melakukan apapun. Dia cuman nolongin gue karna pintu toilet yang gue pakai ke kunci" jawab Afifah.


Alex berdecih.


"Lalu gue harus percaya gitu sama lo? gue harus percaya jika ucapan lo adalah kebenarannya sedangkan apa yang gue lihat didepan mata gue tadi salah gitu? Lo pikir mata gue buta haa? jelas jelas gue lihat lo lagi mojok sama cowok sialan itu sambil ciuman dan lo bilang kalo kalian tidak melakukan apapun?


Ck, gue nggak sebego itu Fi. Gue punya otak jadi gue bisa mikir, mana ada seorang cewek dan cowok sedang berduaan ditempat sepi tidak melakukan apa². Udahlah Fi, lo jangan munafik, kalo emang iya ya akuin aja jangan sok nangis didepan gue, jijik tau nggak lihatnya" ucap pedas Alex yang memanggil Afifah tidak dengan panggilan specialnya melainkan menggunakan panggilan 'Fi', itu artinya saat ini Alex benar benar merasa sangat marah dengan istrinya itu.

__ADS_1


"Terserah lo mau percaya atau enggak tapi itu emang kenyataannya. Gue sama Anas nggak ada hubungan apa², kita berdua hanya sebatas teman. Dan untuk soal kenapa tadi posisi kita berdekatan itu karna Anas hanya sedang mengoleskan minyak dileher gue bukan ciuman. Lo itu hanya salah paham sama gue" lanjut Afifah mencoba menjelaskan dengan suara bergetar menahan tangis.


"Salah paham hmm... lo bilang gue cuman salah paham?" tanya ulang Alex sembari menunjuk ke arah dirinya sendiri.


"I.. iya, lo hanya salah paham. Anas nggak salah, dia hanya nolongin gue aja tidak lebih. Lo harusnya jangan mukul dia, kasian dia jadi kesakitan" jawab Afifah Seketika membuat emosi Alex kembali mendidih.


Brakk!


Alex menggebrak meja dengan keras sampai tubuh Afifah berjingkat kebelakang.


"Cukup Fi! sepertinya selama ini gue terlalu manjain elo sehingga dalam keadaan begini lo masih berani belain laki laki lain didepan gue hanya untuk menyelamatkan dia dari amukan gue. Baiklah, mulai sekarang gue akan betindak tegas sama lo biar lo tau bagaimana cara menghormati gue sebagai suami lo dan biar lo nggak berani cari masalah atau belain laki laki lain didepan gue" ucap Alex sambil berjalan mendekat membuat Afifah reflek memundurkan tubuhnya.


"Lo..lo mau apa?" ucap terbata Afifah saat Alex semakin mendekat ke arah dirinya.


Tanpa menjawab Alex langsung menarik kasar tangan Afifah dan mendorong kuat hingga tubuh Afifah terpental kebelakang dan jatuh ke atas ranjang dengan posisi terlentang.


Senyum miring langsung tercetak jelas dikedua sudut bibir Alex.


"Wolf, lo mau apa?" tanya Afifah dengan perasaan waspada.


"Mau ngambil hak gue sebagai seorang suami, memangnya mau apa lagi" jawab Alex dengan tatapan mesum seraya melepas kancing baju yang dia pakai satu persatu.


Mendengar hal itu sontak membuat Afifah kaget setengah mati. Ia lalu buru buru bangun dan berusaha kabur namun sayang, sebelum dia berhasil turun dari ranjang Ale terlebih dahulu menarik kakinya sehingga membuat dirinya kembali terlentang.


"Mau kemana hmm? mau kabur. Ck, jangan harap, malam ini lo nggak akan bisa lolos dari gue" bisik Alex ditelinga Afifah dan langsung ikut naik ke atas ranjang.


Bersambung.....


Jangan lupa tinggalkan jejak


Like, komen, vote gitu.


Kalo banyak yang komen dan like akunya juga makin semangat buat up bab selanjutnya. Jadi jika ingin author sering up maka kalian juga harus sering tinggalkan jejak.

__ADS_1


So jangan pelit pelit buat like komen dan votenya.


See you next episode...


__ADS_2