
Sekitar 15 menit, Greta berada di dalam ruangan Gerald. Gadis itu memutuskan keluar lebih dulu, karna dia tahu Ardian risih melihatnya ada di sini.
''Gue duluan,'' pamit Greta pada Ardian yang hanya di abaikan oleh cowok itu. Greta pergi dari ruangan Gerald, lalu matanya terpaku saat membuka pintu, dia melihat sosok pria yang beberapa jam ini ada di pikiranya, karna pembicaranya saat di rumah pria itu tadi.
''Hai, Gre,'' sapa Dokter Boy dan dibalas anggukan kepala oleh Greta.
''Iya,'' balas gadis itu sekenanya, lalu pergi dari depan dokter Boy.
Boy menyungkirkan senyuman tipis, saat melihat Greta sudah pergi meninggalkan dirinya di ambang pintu.
''Gue suka,'' gumam dokter Boy, pria itu menggelengkan kepalnya pelan, lalu tersenyum tipis.
''Suka sama?'' Nanda datang, melayangkan pertanyaan kepada Boy, membuat sang kakak langsung melirik adiknya.
‘’Teman lu,'' jawab Boy dengan santai membuat Nanda sedikit terkejut, dengan jawaban santai dari kakaknya itu.
‘’Maksud lo, Greta?'' tanya Nanda memastikan dan dibalas anggukan kepala oleh Boy.
''Iya,'' balas Boy, lalu melangkahkan, kakinya masuk kedalam ruangan Gerald, membuat Nanda menggelengkan kepalanya.
‘’Abang gue suka anak belasan tahun?'' menolog Nanda, dia tidak habis pikir jika kakaknya yang berusia 26 tahun itu, menyukai gadis belasan tahun, yang kisaran umurnya sama denganya.
Nanda kembali duduk di kursi, seraya menunggu Ardian keluar dari dalam, setelah Ardian keluar dia yang akan masuk.
''Ganti baju dulu.'' Seseorang menyerahkan paper bag berisi pakaian untuk Nanda, sehingga Nanda langusng menatap tangan sedikit kasar itu.
Baru saja dia membicarakan Greta, gadis bar-bar itu muncul, membawa paper bag, berisi pakain.
‘’Thanks.'' Nanda dan Greta mengobrol kecil, hingga Nanda pamit lebih dulu, untuk ke toilet, sementra Greta sudah kembali ke ruangan milik mamanya.
__ADS_1
Nanda berterimakasih pada Greta, karna gadis itu mau menberikan nya pakaian, sehingga dia tidak menggunakan seragam sekolah untuk masuk.
***
Cafe....
Nita dan Dio, sebagai anggota osis sedang bertemu di cafe, membahas mengenai acara pentas seni. Acara itu mereka bentuk, sebelum Gerald mengalami musibah, mereka berdua akan berunding. Sebelum melakukan rapat osis di sekolah besok, tanpa Gerald.
''Kita nggak tahu, sampai kapan acara ini tertunda,'' ucap Nita, seraya menghembuskan nafas berat.
Dio mengambil minuman diatas meja, lalu menyesapnya. ''Apa kita ambil alih aja. Ini acara setahun sekali,'' ucap Dio, ''kita juga nggak tahu, sampai kapan Gerald terbaring koma,'' ucap Dio, dia memikirkan pentas seni yang di lakukan, setahun sekali.
Dia bukan egois, dia hanya memikirkan banyak orang, apa lagi satu sekolah sudah tahu, mereka akan melaksanakan pentas seni, yang di lakukan setahun sekali.
''Gue nggak yakin,'' balas Nita, menatap mata Dio. ''Gue nggak yakin, kalau acaranya bakalan sesempurna tahun lalu, saat ada Gerald. Kita osis, tanpa Gerald kita nggak akan bisa. Kita udah bernaung sama Gerald,'' lanjut Nita, gadis itu tidak bisa membayangkan, bagaimana jika pentas Seni ini berlangsung, tanpa adanya Gerald di antara mereka.
Dio menyandarkan punggungnya di kursi, menatap Nita. ''Kita atau lo aja?''
Dio langsung meng-skakmat Nita, membuat gadis manis itu menatap Dio dengan tatapan tajam.
''Lo pikir kita anggota lainya nggak bisa? Justru Disini tempat kita, buktiiin sama semua orang-orang, kalau osis di sekolah kita, tanpa Gerald bisa berkembang.'' Dio memperjelas ucapanya.
‘’Mendingan lo diam aja, lo nggak tahu apa-apa. Lo emang wakil ketu osis, tapi lo nggak tahu apa-apa, Di,'' greget Nita. ''Gue heran aja, kenapa Gerald mau lo jadi wakil, padahal skill lo nggak ada,'' sinis Nita membuat Dio mengepalkan tanganya.
‘’Gue kesini, ngajakin lo ketemu, buat kerja sama.'' Dio geram kepada gadis di depanya itu. ''Bukan mengundang adu mulut sama gue,'' ucap Dio lagi.
''Emangnya lo tahu mau mulai dari mana?'' tanya Nita, membuat Dio diam lebih dulu. ''Lo tahu'kan, tahun lalu itu, yang arahin kita semua anggota itu adalah Gerald, kita cuman tahu jadinya doang. Lo yang buang kesempatan, tahun lalu Gerald nyuruh lo belajar, tapi lo cuman diam,'' lanjut Nita, karna apa yang dia katakan adalah hal yang sesungguhnya. Andai saja Gerald tidak ada, mungkin program osis ini akan berjalan berantakan.
''Gue mikirin orang banyak.'' Suara milik Dio mengecil, karna dia mengundur volume suaranya itu.''Banyak teman sekolah kita, bakalan kecewa kalau acara ini tertunda.''
__ADS_1
''Lo aja sendiri yang urus.'' Nita berdiri dari kursi yang dia duduki, beranjak pergi meninggalkan Dio.
''Gue butuh bantuan lo juga.'' Dio memanggil Nita, membuat gadis itu menghentikan langkah kakinya, lalu membalikkan tubuhnya menatap Dio.
‘’Gue nggak bisa ngapa-ngapain. Kalau orang yang gue suka sedang berada di ambang kematian.'' Nita berkata dengan tegas, lalu gadis itu melanjutkan langkah kakinya.
***
Nanda berdiri dari kursi yang dia duduki, setelah dia melihat Ardian keluar dari ruangan Gerald.
‘’Gue pulang duluan,'' pamit Ardian pada Nanda, tanpa menunggu jawaban gadis itu, Ardian langusng melenggang pergi meninggalkan Nanda.
Nanda hanya menatap punggung milik Ardian yang sudah menjauh.
''Hati-hati, Ar,'' gumam Nanda, meskipun Ardian sudah tidak mendengarkan lagi suaranya.
''Nggak mau masuk lo, Ra.'' Boy tiba-tiba muncul, membuat Nanda mengusap dadanya, perasaan Boy masih ada dalam ruangan Gerald, namun tiba-tiba saja dia berada di dekat Nanda.
''Ngagetin aja lu,'' gerundel Nanda menbuat Boy terkekeh, lalu kemudian dia mengusap rambut panjang milik Nanda.
''Yuk, masuk,'' ajak Boy, menggandeng tangan adiknya dengan senyuman menerkah di wajahnya.
‘’Tunggu-tungu.....'' Boy menatap Nanda dari ujung kaki, sampai ujung rambut, gadis itu mengenakan baju kaos, celana pendek. Perasaan, Boy saat masuk melihat Gerald, Nanda masih mengenakan seragam sekolah.
''Yang kasi lo baju siapa?'' tanya Boy pensaran, dia mengusir nama Ardian, karna Ardian tadi bersama dirinya didalam.
''Greta.'' Satu kata, satu nama, namun mampu membuat Pipih Boy merona, saat Nanda menyebut nama Greta.
Nanda menghembuskan nafas berat. ''Gue bukanya nggak suka, kalau lo suka sama Greta. Tapi lu mikir juga kali bang, Greta masih kecil. Sama kayak gue, bang. Greta pantas jadi adik lu, bukan pacar,'' dumel Nanda membuat Boy mengucel pipi milik Nanda.
__ADS_1
''Sok tahu lo, emangnya gue udah tua? Jadi lo larang gue suka sama Greta? Jodoh itu nggak mandang umur, Ra. Biar Greta kecil, kalau dia jodoh gue? Yah gue terima aja, gue nggak bisa nolak,'' balas Boy dengan yakin. ‘’Seperti yang lu bilang tadi, Ra. Kayaknya gue beneran suka sama Greta. Bukan kayaknya lagi, tapi ini fakta.''