ARDIAN

ARDIAN
ARDIAN BAB 191


__ADS_3

Kesya mengusap air matanya dengan kasar, dia tahu jika cowok yang menegur nya adalah Fatur. Ia juga sudah tahu, jika Ardian dan Fatur saudara beda ibu.


"Nggak usah sok kenal lo!" ketus Kesya merapikan penampilan nya.


Dia merapikan rambut nya yang agak berantakan, lalu berjalan melewati Fatur.


Fatur tersenyum tipis melihat gadis itu, lalu dengan santainya dia mengikuti langkah kaki Kesya dari belakang.


"Ngapain lo ikutin gue!" Kesya membalikkan tubuhnya melihat kearah Fatur.


Tatapan mata tidak suka Kesya layangkan pada cowok itu.


Fatur menaikkan alisnya sebelah, "yang ngikutin lo siapa?" tanya Fatur santai membuat Kesya membalikkan tubuhnya kembali, lalu berjalan kembali.


"Lo kenal sama Salsa?" tanya Fatur, masih setia berjalan di belakang Kesya.


"Gue tahu, lo yang suka Salsa dari kecil," ketus Kesya membuat Fatur menyungkirkan senyuman tipisnya, "tapi sayang banget, Rafael yang beruntung dapetin Salsa."


"Gue juga nggak nyangka, kalau cowok sinis itu udah ngikat Salsa," curhat nya pada Kesya dengan nada kesal.


Tentu saja Fatur tidak menyangka, jika Rafael mengikat Salsa di detik-detik gadis itu ingin ke Jepang. Padahal Fatur masih ingat jelas, dia menembak Salsa malam itu, saat dia mengantarnya. Namun gadis itu hanya tertawa, tidak menanggapi dengan serius ucapan nya itu.


Kesya berhenti berjalan, saat melihat pesan dari Pute.


"Sya, lo kesini. Di atraksi tong Setan. Ada Ardian yang mau main. Buruan kesini!"


Itu adalah pesan yang di Terima Kesya, membuat gadis itu tersenyum. Dia pikir, Ardian tidak datang. Namun dugaannya salah.


"Nanda nyariin lo juga."


Belum sempat Kesya membalas pesan Pute, gadis itu kembali mengirim kan nya pesan. Sudah pasti bukan, jika Ardian datang karena Nanda.


Lantas, apa yang Kesya harapkan?


Huft...

__ADS_1


Kesya menghembuskan nafas berat, andai saja Ardian berpacaran dengan gadis lain, mungkin dia bisa menerima nya sedikit, namun cowok itu pacaran dengan Nanda.


Fatur berjalan lebih dulu meninggalkan Kesya, karna gadis itu hanya berhenti di jalan.


"Lo mau kemana?" tanya Kesya, membuat langkah kaki Fatur tertenti, cowok tampan itu membalikkan tubuhnya lalu menatap Kesya.


"Lo tanya sama gue?" tanya Fatur menunjuk dirinya sendiri.


"Iya, lo pikir gue ngomong sama angin? Cuman gue sama lo di sini," ketus nya.


Di dekat pintu masuk pasar malam, hanya mereka berdua saja. Karna pengunjung lainnya sudah pasti sudah berada di dalam.


"Gue mau masuk kedalam," jawab Fatur. "Kenapa? Lo mau ikut?" tanya nya lagi membuat Kesya nampak berpikir sejenak.


Kesya akhirnya mengangguk mengiyakan ucapan Fatur. Setidaknya dia menghindari hal yang membuatnya sakit hati. Melihat Nanda dan Ardian dekat, adalah sebuah patah hati yang mendalam, apa lagi jika ia melihat nya secara langsung.


Kesya berjalan beriringan dengan Fatur, banyak pasang mata menatap mereka. Apa lagi Fatur yang tampan malam ini, di tambah gadis cantik nan seksi di samping nya itu.


Kesya menatap tajam cowok-cowok jelalatan, yang wajah nya biasa-biasa saja, namun berani menatap nya dengan penuh minat.


"Mendingan lo diam. Gue juga nggak tahu, kalau gue bakalan kesini," greget Kesya.


Fatur menghentikan langkah kakinya, membuat Kesya ikutan berhenti. Dia melihat Fatur melepaskan jaket kebanggaan nya, tinggal menyisahkan kaos oblong di tubuhnya.


"Pakai, buat nutupin paha mulus lo itu." Fatur menyerahkan jaketnya. "Lu cewek pertama yang pake nih jaket. Sebelumnya gue nggak izinin siapapun pake."


Kesya mengambil jaket yang di berikan Fatur. "Termasuk pacar lo, Naya?"


Kesya mengikat jaket Fatur di pinggulnya, meski tidak seluruhnya tertutup, namun setidak nya tidak terlalu ****. Banyak pasang mata yang akan menatap nya lapar, mereka saja yang kampung menurut Kesya, seperti tidak perna melihat cewek seksi saja.


Tapi kembali lagi, ini adalah pasar malam. Hiburan nya para rakyat kelas bawa. Jarang-jarang orang kaya main di tempat ini.


"Gue udah putus, udah lama. Dia cuman gue anggap pacar pelampiasan, di saat gue nggak dapetin Salsa," jelasnya pada Kesya, kedua nya melanjutkan langkah kaki mereka.


Tidak ada yang angkat suara, Kesya juga penasaran Fatur ingin membawanya kemana.

__ADS_1


"Lo mau kemana sih?" tanya Kesya, karna mereka terus-terusan berjalan kaki entah ingin ke wahana mana.


"Nonton atraksi di tong setan," jawab Fatur membuat Kesya terdiam.


Tempat yang harus dia hindari, karna di sana ada Nanda dan Ardian. Andai Nanda tidak ada, dengan senang hati dia menonton cowok itu.


"Lo nggak tahu siapa yang main?" tanya Kesya dan dibalas gelengan kepala oleh Fatur. "Adik lo yang main, Ardian."


Fatur tidak bereaksi mendengar jawaban Kesya, seakan-akan dia sudah tahu.


Kesya dan Fatur sudah sampai, sudah banyak orang-orang mengelilingi tempat berlangsung nya atraksi tong setan.


Fatur melangkah mendekat dan di berikan jalan oleh orang-orang. Siapa coba yang tidak mengenal Fatur, cowok yang hampir setiap minggu mengunjungi pasar malam, hanya untuk melihat atraksi tong setan.


Dibawa sana, Fatur melihat Ardian tengah siap-siap untuk menjalankan atraksi tong setan malam ini.


Fatur tahu, jika kelebihan Ardian itu lebih unggul dari nya.


Dari bawah, tatapan mata Fatur dan Ardian bertemu, membuat Ardian sedikit terkejut dengan kedatangan cowok itu di sini. Dia saja tidak tahu, jika tempat ini adalah tempat yang Fatur sukai, hanya untuk menonton atraksi tong setan.


Mata Fatur dan Ardian masih setia beradu, lalu tatapan Ardian jatuh pada gadis di samping Fatur, dia adalah Kesya.


Membuat Ardian mengerutkan keningnya dalam-dalam, "mereka dekat?" gumam Ardian penasaran, karna ia melihat Kesya berada di samping Fatur.


"Ar." Nanda masuk menghampiri Ardian yang tengah siap-siap, karna sudah banyak penonton yang ingin melihat atraksi tong setan malam ini, di mainkan oleh cowok tampan.


"Lo jangan gila deh, ini tuh bahaya tau nggak." Nanda kesal kepada Ardian, dia baru tahu jika cowok itu yang ikut andil dalam permainan ini.


"Bahaya buat orang yang baru belajar," balas Ardian santai. "Bukan pertama kalinya gue ngelakuin atraksi begini."


Dari atas, Kesya mengepalkan tangannya, dia membuang muka. Agar tidak melihat Nanda dan Ardian. Meski kesya tidak tahu apa yang mereka obrolkan, namun Kesya melihat raut wajah khawatir terpancar di wajah Nanda.


Sementara Ardian hanya membalasnya dengan senyuman.


Kesya sakit hati melihat ini. Mengapa dia harus di ciptakan seperti gadis antagonis saja? Mengapa bukan dia yang menjadi protagonis.

__ADS_1


__ADS_2