
"Anak mama beneran mau naik kelas ya," celetuk Tari dengan tawa kecil nya, saat membuka pintu kamar anak nya itu, melihat Ardian tengah fokus belajar, hal yang sangat langkah untuk Tari lihat.
Minggu sore begini Ardian sudah belajar, karna besok mereka akan UAS. Hal yang sangat langkah cowok itu lakukan, karna selama Ardian sekolah, dia masa bodoh dengan pelajaran sekolah. Lagian, dia juga tidak terlalu bodoh-bodoh amat.
Ardian melirik sang mama, "iya, Ma. Biar lulus bareng sama Nanda," jawab nya santai membuat Tari menggelengkan kepala nya. "Demi mama sama papa juga," lanjut nya dengan senyuman.
Tari tidak salah lagi, mendukung Nanda menjadi kekasih anak nya. Karna kehadiran gadis itu, mampu membuat pikiran Ardian terbuka.
Tari duduk di tepi ranjang, sementara Ardian masik berkutat di meja belajar bersama bbuku tebal. Melihat Ardian belajar membuat hati nya menghangat, setidaknya anak nya mempunyai niat untuk naik kelas tahun ini.
"Ar," panggil Tari.
"Hmm." Ardian hanya membalas nya dengan deheman, karna ia tengah serius belajar.
"Kamu sama kak Fatur nggak pernah berantem lagi, 'kan?" tanya Tari, membuat mata Ardian memutar kursi nya, lalu ia berhadapan dengan sang mama.
"Mama harap, kamu sama kak Fatur saling melengkapi, saling menyayangi dan saling melindungi satu sama lain. Karna kalian berdua adalah anak mama," kata Tari dengan senyuman melekat di wajah nya, "mama nggak bedain kalian berdua. Meskipun kak Fatur bukan anak kandung mama, tapi mama tulus sayang sama kak Fatur. Mama harap, Ardian juga sayang sama kak Fatur ya, nak. Mau bagaimana pun, kak Fatur adalah kakak kamu. Harus kamu hargai," ucap Tari bijak dengan senyuman merekah di wajah nya, menatap anak nya itu.
Ardian menghembuskan nafas berat, "Ardian udah nerima Fat--"
"Ar... " Tegur Tari sembari melotot garang kearah anak nya.
"Iya, Ma. Maksud Ardian itu, Ardian udah nerima kak Fatur dengan tulus, kalau dia adalah saudara Ardian, kakak Ardian," jelas nya membuat senyuman di wajah Tari semakin mengembang. "Meskipun dia sebaliknya ke Ardian," jelas nya membuat Tari terkekeh pelan.
"Perlahan-lahan, kak Fatur akan nerima kamu. Seperti kamu nerima kehadiran kak Fatur. Ardian jangan berantem lagi sama kak Fatur ya nak," pintah nya lagi dan dibalas anggukan kepala oleh Ardian.
__ADS_1
"Satu lagi, Ar. Kalau manggil Kak Fatur harus sopan ya. Biarpun mama nggak lihat, kamu harus tetap manggil Fatur dengan kata Kak Fatur, harus ada 'kak' nya, biar sopan." Tari menjelaskan panjang kali lebar, dan Ardian hanya mengangguk saja.
"Iya, Ma."
"Janji ya, Ar."
"Iya, Ardian janji."
"Kalau sampai Ardian ngelanggar janji, mama bakalan nggak kasi izin buat bawa motor, mobil dan kendaraan lainnya." Ini pertama kalinya Tari mengancam kecil anak nya itu.
Ardian terdiam, lalu cowok itu menggeleng pelan, selama ini, mama nya tidak pernah mengancam nya dalam hal besar sekali pun. "Iya, ma."
Tanpa Tari dan Ardian ketahui, Fatur mendengar percakapan keduanya. Karna saat Tari masuk kedalam kamar Ardian, wanita itu tidak menutup pintu kamar anak nya, sehingga Fatur yang keluar dari kamar nya, tidak sengaja mendengar obrolan kedua nya. Dan ia terus-terusan mendengar obrolan keduanya hingga Ardian berjanji pada sang mama.
Mama dan anak yang sangat harmonis bukan?
"Boleh, Ma," jawab Ardian.
"Ok, kamu tunggu di sini ya. Mama buatin kamu cemilan enak pokoknya," kata wanita itu menggebu-gebu, lalu berjalan pergi meninggalkan kamar Ardian.
Ardian kembali belajar, ia benar-benar fokus belajar.
Ardian yakin, jika ke empat sahabat nya juga tengah fokus belajar, buat persiapan UAS besok, terbukti dari group WA mereka yang senyap. Biasanya group WA mereka akan ribut karna Ethan dan Izam, atau sekedar mengirim sticker lucu-lucu di group.
Ardian mengambil ponsel nya, yang sedari tadi dia anggurin, karna ia tengah fokus belajar.
__ADS_1
Dia melihat pesan WA yang ia kirim untuk Nanda, masih ceklis 1.
Ardian menyandarkan tubuh nya di sandaran kursi belajar nya. Menghembuskan nafas berat, memikirkan kondisi Nanda saat ini. Ardian khawatir, jika gadis semakin larut dalam kesedihan, saat mengetahui kondisi sang mama.
Ardian tersenyum tipis, melihat foto Nanda yang ia jadikan wallpaper hp, senyuman yang sangat indah.
Ardian kembali mengingat momen semalam. Untuk pertama kali nya, dia memeluk seorang gadis, dengan rasa nyaman. Gadis yang tidak ingin ia lepas, setalah ia merasakan kenyamanan bersama gadis itu. Gadis yang membuat nya jatuh cinta, gadis yang kerap kali ia jumpai di lampu merah sembari mengunyah permen karet.
"Gue tiba-tiba kangen," gumam nya pelan, masih setia menatap wajah Nanda di layar ponsel nya dengan senyuman indah, senyuman yang sangat jarang orang lihat dari Ardian.
"Gue benar-benar jatuh di pelukan lo, Nanda. Gue nyaman sama lo. Jangan tinggalin gue." Ardian bermonolog pada diri nya sendiri, lalu kemudian ia menyimpan kembali ponsel nya, setelah memutar musik pelan untuk menemani nya belajar sore ini.
Sementara Tari sudah berkutat di dalam dapur. Dia sangat suka memasak, itu juga alasannya mengapa ia tidak memperkerjakan Art di rumah nya, rumah besar nya ini bisa ia urus sendiri, lagian kedua anak nya tidak membuat rumah berantakan. Tari hanya memperkerjakan tukang kebun dibelakang rumah dan juga satpam di rumah ini.
"Hmmm."
Seseorang berdehem dari belakang, membuat Tari membalikan tubuh nya, menatap Fatur dengan senyuman damai membuat siapapun yang melihat senyum itu akan nyaman.
"Kenapa, Tur? Kamu mau makan? Mama udah siapin makanan nya di meja makan," kata Tari lalu mulai menggoreng kentang nya..
"Bukan itu," kata Fatur, lalu Tari membalikan tubuh nya, menatap anak nya.
"Terus apa? Kamu mau uang jajan? Entar mama Tf ya, mama buatin adik kamu cemilan buat belajar dulu," celetuk Tari, ia masih sedikit takut dengan Fatur, dengan kejadian waktu itu Fatur menculik nya, namun melihat sikap Fatur yang sudah sedikit lunak, membuat nya harus menepis itu. "Oiya, kamu nggak belajar, Tur? Besok kamu udah UN loh, nak," lanjut nya seraya membolak-balikkan kentang yang ia goreng, agar matang nya merata.
Fatur bingung, harus mulai ngomong nya dari mana.
__ADS_1
"Saya cuman mau bilang, tahun ini saya nggak akan lulus dari SMA, seperti biasa," kata Fatur membuat Tari terdiam, wanita itu lebih dulu meniriskan kentang goreng nya, lalu kembali menatap Fatur.
"Kenapa?" tanya Tari lembut.