
Pute kembali menyalakan keran air, membasuhi mulutnya dengan air berulang kali. Gadis itu menghembuskan nafas berat, menatap pantulan dirinya di depan cermin, wajahnya sedikit pucat, padahal saat pergi wajah nya masih fresh. Namun sekarang dia seperti seorang berpenyakitan.
Pute menyandarkan tubuh nya di dinding, memejamkan matanya, agar isi perut nua nya tidak bergejolak meminta untuk di keluarkan saat ini.
Pute berusaha menahan diri, namun sia-sia, karna gadis itu kembali muntah, bukan makanan yang keluar, hanya berupa cairan putih kental membuat Pute menggelengkan kepalanya, dia tidak bisa jika harus muntah seperti ini, karna fisiknya tidak kuat. Gadis itu mulai lemah, matanya terlihat memberat, hingga ketukan dari luar membuat gadis itu terdiam.
"Put, lo baik-baik aja, 'kan?" Suara khawatir itu adalah suara milik Leo, gadis itu menarik sudut bibir nya berbentuk senyum, dia tidak menyangka jika Leo akan menyusul diri nya kesini.
"Put!" panggil Leo dari luar, Pute dengan cepat kembali memperhatikan wajah nya di pantulan cermin yang nampak pucat. Dalam kondisi yang sedikit berantakan, membuat nya tidak PD jika bertemu Leo dan para sahabat nya.
Cek lek.
Pintu kamar mandi di buka oleh Pute, membuat Leo langsung memegang pundak gadis itu, "lo nggak apa-apa, 'kan?" tanya Leo khawatir, "muka lo pucat banget, Put. Gue anter kerumah sakit ya?"
Pute dengan cepat menggelengkan kepala nya, dia tidak suka jika harus kerumah sakit, sementara otak kecil nya belum sampai kesana, mengenai apa yang mereka selama ini perbuat, karna gadis itu berpikir jika dia hanya masuk angin, maka dari itu perut nya nampak kembung.
"Gue anterin pulang," ucap Leo lagi membuat gadis itu nampak berpikir sejenak.
"Tapi, kan. Kita lagi mau bahas soal liburan," ujar Pute, masa iya dia harus pulang.
"Entar gue tanya sama yang lain." Leo langsung menarik tangan Pute, membawa gadis itu pergi dari sini. Dia khawatir melihat wajah Pute sangat pucat.
Untung saja Leo membawa mobil, dia membuka pintu lalu menyuruh gadis itu untuk segera masuk.
"Mobil gue gimana?" tanya Pute, sebelum dia masuk kedalam. "Kita juga belum bilang ke yang lain, kalau kita balik duluan."
"Masuk dulu, Put. Urusan mobil lo nanti gue suruh Cika yang bawa. Dia kesini bareng Puri 'kan?" tanya nya memastikan dan dibalas anggukan kepala oleh Pute.
Akhirnya gadis itu masuk, dia ingin sekali merebahkan diri nya diatas tempat tidur, sembari memeluk bantal guling kesyangan nya itu.
Lebih dulu, Leo mengirim pesan WA di group mereka, jika dia pulang duluan mengantar Pute, karna gadis itu tengah sakit. Tak lupa pula, Leo menyuruh sahabat nya untuk memberitahukan teman gadis itu.
Leo langsung masuk kedalam mobil, lalu melajukan mobil nya meninggalkan cafe milik sahabat nya.
Di liriknya gadis yang berada di samping nya, tengah memejamkan mata. Mungkin gadis itu Tertidur. Tangan Leo bergerak menyentuh kening Pute, rasa hangat yang di rasakan cowok itu, ia pikir badan Pute tengah panas, ternyata dugaan nya salah.
Merasa ada yang menyentuh kening nya membuat gadis itu membuka mata, dia melihat Leo tengah tersenyum hangat pada nya, lalu ia kembali fokus menyetir. "Tidur aja, nanti gue gendong kalau udah sampai," kata Leo dan dibalas anggukan kecil oleh pute. Gadis itu kembali memejamkan matanya.
"Bisa nggak bawa mobil nya cepetan dikit?" tanya Pute, dia kembali berusaha memejamkan mata nya, namun sulit tertutup kembali. "Gue pengen muntah, Leo. Buruan!"
"Nggak papa, lo muntah di sini saja," kata Leo sedikit panik, melihat Pute menutup mulut nya menahan diri agar tidak muntah di sini.
"Gue nggak mau," tolak nya dengan keras, dia saja jijik melihat dirinya muntah, apa lagi jika orang lain yang melihat nya.
"Gue anter ke rumah sakit, gue nggak mau lo sampai kenapa-napa," jelas Leo, agar gadis itu tidak menolak nya.
"Buruan, Leo. Gue nggak mau kerumah sakit. Nanti gue telfon dokter pribadi papa gue, buat datang kerumah," jelas gadis itu membuat Leo akhirnya mengangguk mengiyakan ucapan gadis nya itu.
Dengan kecepatan tinggi, Leo melajukam mobil nya kerumah Pute, dia yang merasakan sakit saat melihat gadis itu menahan sesuatu yang ingin di muntah kan.
Mobil milik Leo masuk kedalam pekarangan rumah mewah, dengan cepat Pute langsung turun dari mobil membuat Leo mengikuti gadis itu.
Pute berlari menaiki anak tangga, smentara Leo berteriak agar gadis itu hati-hati, jika gadis itu keseleo lalu jatuh kebawa maka di pastikan Pute akan terluka.
__ADS_1
Pute langsung masuk kedalam kamar mandi yang berada di dalam kamar nya, jangan lupa dia menguncinya agar Leo tidak masuk.
Leo setia menunggu Pute dari luar pintu kamar mandi, dia bisa mendengar dengan jelas, suara Pute yang nampak kesakitan .
"Put, buka pintunya! Biar gue bantu pijat belakang leher lo!" teriak Leo dari luar yang hanya diabaikan oleh Pute.
Gadis itu saja bingung, mengapa dia tiba-tiba seperti ini, padahal tadi dia baik-baik saja dan sempat tertawa bareng dengan sahabat nya di cafe.
Pute mulai memejamkan mata nya, dia masih mendengar suara Leo dari luar yang nampak khawatir dengan kondisi nya.
"Gue baik-baik aja!" sahut gadis itu dari dalam kamar mandi, "gue minta tolong, hubungi dokter pribadi papa gue. Ponsel gue diatas tempat tidur. Pasword nya tanggal lahir gue!"
"Tapi lo baik-baik aja, 'kan?" tanya Leo memastikan.
"Iya, gue udah baikan," jujur nya, karna dia sudah tidak merasakan mual lagi, "gue mandi dulu!" lanjut nya.
"Mau gue temenin?" tanya Leo serius dari balik pintu membuat Pute tertawa keras, dia tau jika Leo sedang bercanda.
"Gue bisa mandi sendiri!"
"Ok!"
Leo berjalan menuju tempat tidur Pute, mengambil ponsel gadis itu, Leo sempat tertegun saat melihat wallpaper ponsel Pute, foto mereka berdua diatas tempat tidur, posisi mereka di foto itu tanpa menggunakan baju dan celana, tapi tenang saja karna di tutupi oleh selimut tebal.
Leo berpikir, apa gadis itu tidak takut, jika orang lain tanpa sengaja mengambil ponsel nya dan melihat wallpaper yang lumayan panas itu, jika itu tersebar maka lebih panas dari gosip Greta dan Kesya yang kemarin-kemarin.
Leo mulai mencari nomor dokter yang Pute suruh kan, tidak sulit untuk mencarinya karna di kontak gadis itu hanya ada beberapa nomor saja.
Leo mulai mengubungi nomor sang dokter, tak lupa pula ia menyampaikan apa yang seharusnya dia katakan pada sang dokter, menyuruhnya untuk cepat kesini.
"Leo balik duluan, dia nganterin Pute balik," ujar Ethan saat membaca pesan yang di kirim Leo di group.
"Ya ampun," kata Puri, "kita kerumah Pute jengukin dia," ajak Puri kepada kedua teman nya itu.
"Untuk sekarang jangan dulu, dia butuh istirahat," celetuk Rafael santai dan dibalas anggukan setuju oleh yang lain.
Akhirnya Puri membatalkan niatnya untuk menjenguk sahabat nya, karna apa yang di katakan Rafael emang ada benar nya juga.
"Ok, gue yang ambil alih. Karna Leo nggak ada," kata Ethan dengan raut wajah serius, siap di dengarkan oleh para gadis yang sedari tadi menunggu, terutama Nanda yang sudah mau mati penasaran.
"Tujuan kita ngumpul di sini, mau ngajakin kalian liburan ke Bali." Ethan langsung bicara pada inti yang ingin ia sampaikan, jika ia berbasa-basi, dia yakin piring diatas meja akan melayang di wajah nya, karna Cika dan Nanda sudah penasaran.
"Seriusan? Kalian ngajak kita ikutan?" pekik Puri heboh, membuat Ethan mengangguk mengiyakan ucapan Puri, jika mereka serius mengajak mereka.
Nanda diam, sementara Cika kembali meminum es jeruk nya, "kalau gue ikutan aja. Kalau kalian pergi, gua bakalan ikut," kata Cika santai.
"Gue sama Pute udah pasti pergi," ucap nya dengan yakin, seratus persen Puri yakin akan hal itu, karna ada Leo untuk Pute. Lalu Puri kembali melirik Nanda yang masih diam, "dan gue juga yakin, kalau Nanda bakalan ikut, karna ada Ardian," lanjut Puri dengan bangga.
"Berarti cuman Cika aja ya, yang pergi tanpa adanya doi," celetuk Rafael membuat Izam melirik cowok itu, padahal nama Cika yang mereka sebut, tapi mengapa dia yang sensi?
Rafael tertawa melihat wajah milik Izam.
"Jadi fix ya, kalian ikutan?" tanya Ethan memastikan dan dibalas anggukan semangat oleh mereka.
__ADS_1
"Berangkat nya kapan?" tanya Cika, sembari mengeluarkan ponsel nya dari saku sweater nya itu.
"Besok lusa. Jadi, entar malam atau besok, kalian sudah bisa packing," jelas Ethan lagi.
"Berapa lama?" kini Puri yang angkat bicara lagi, "biar kita sesuaikan baju yang kita bawa nantinya," jelas nya lagi.
"Semingguan," kini Izam yang menjawab.
"Cie, udah nggak ngambek lagi," goda Ethan dengan tawanya membuat mereka ikutan tertawa juga.
"Lo bisa ikut, 'kan?" tanya Ardian pada Nanda, karna sedari tadi gadis itu hanya diam saja, seluruh atensi menatap kearah Nanda, meminta jawaban jelas dari gadis itu.
"Entar gue hubungi, gue nggak bisa ninggalin mama gue dalam waktu lama. Apa lagi kalian tahu, bang Boy baru aja nikah," jelas Nanda membuat mereka manggut-manggut mengerti, mereka lupa mengenai hal ini.
Jawaban dari Nanda membuat Puri menjadi sedih, kemungkinan besar temannya itu tidak akan pergi. Padahal Puri sangat senang melihat Nanda dan Ardian bucin.
"Tapi gue bakalan usahain," kata Nanda lagi, karna dia bisa melihat raut wajah Ardian yang sedikit lesun, namun cowok itu tidak bisa memaksa juga. Karna prioritas Nanda saat ini adalah sang mama, kesembuhan Gina yang gadis itu harap kan.
Mereka kembali mengobrol kecil, Nanda bahagia jika para teman nya mengajak nya liburan. Apa lagi ini Bali, selama hidupnya Nanda belum pernah ke Bali, karna dia sangat sibuk dengan dunianya sendiri, sampai lupa dengan nama nya liburan.
Sudah satu jam lebih mereka di cafe, akhirnya mereka beranjak untuk segera pulang, terutama Puri yang sangat semangat untuk packing malam ini.
"Gue anterin ke rumah sakit atau kerumah?" tanya Ardian saat dia dan Nanda sudah berada di parkiran.
"Kerumah sakit aja, bang Boy lagi ada di rumah," jawab nya dan dibalas anggukan paham oleh Ardian.
Seperti biasa, Ardian memakaikan gadis itu helm lebih dulu, membuat Nanda mulai terbiasa di perlakukan seperti ini oleh Ardian.
"Nggak apa-apa, 'kan, kalau gue nggak ikutan?" tanya Nanda, mata mereka berdua beradu dengan jarak mereka yang lumayan dekat. Tatapan mata indah Ardian selalu sukses membuat nya jatuh cinta.
"Nggak apa-apa. Lain kali kita bisa liburan bareng, kalau lo nggak bisa untuk saat ini," jawab Ardian, meski dalam hatinya dia berharap gadis itu ikutan pergi, namun dia tidak memaksa karna dia tahu kondisi Nanda sekarang.
Ardian mulai naik ke atas motor, menyalakan mesin motor nya lalu Nanda naik keatas motor sport milik cowok itu.
Motor Ardian berjalan lambat meninggalkan cafe milik Ethan.
Karna jarak cafe Ethan dari rumah sakit tidak jauh, membuat mereka cepat sampai di rumah sakit.
"Gue nggak bisa jengukin mama lo, tapi sampein salam gue," kata Ardian setelah Nanda turun dari motor nya, dia membantu gadis itu membuka helm yang nampak kesusahan Nanda buka.
Helm yang di kenakan Nanda terlepas, lalu dia tertawa pelan karna membuka helm saja dia tidak becus, maklum saja efek salah tingkah karna di tatap terus menerus sosok Ardian.
Ardian merapikan rambut milik Nanda, lalu tersenyum manis, senyum yang tidak semua orang bisa lihat dari cowok di depannya. Nanda sampai bertanya-tanya, kenapa Ardian selalu menampilkan raut wajah datar tanpa senyum. Padahal jika cowok itu senyum, membuat nya semakin tampan tentu nya, bahkan Nanda memuji Ardian sangat tampan saat ini.
"Jangan lupa mandi, makan, terus istirahat. Jangan lupa, pukul Boy kalau dia bucin di depan lo," tutur Ardian membuat Nanda langsung menatap cowok itu dengan tatapan horor. "Karna itu nggak baik buat lo," lanjut Ardian dengan santai.
"Paham?" Ardian memastikan setelah dia merapikan rambut milik gadis cantik di depan nya.
"Iya-iya. Lagian, bang Boy nggak akan lakuin hal seperti yang lo bilang, kalau ada orang yang lihatin," jelas Nanda, "gue masuk dulu, udah lumayan lama gue ninggalin mama. Lo pulang nya hati-hati, jangan lupa kabarin gue kalau lo udah sampai." Nanda langsung meninggalkan Ardian sembari melambaikan tangannya membuat Ardian membalas lambaian tangan Nanda dengan semangat.
Dia seperti orang bodoh, karna Nanda sudah menghilang dibalik lorong rumah sakit, namun cowok itu masih saja melambaikan tangannya.
Ardian kembali melajukan motor nya meninggalkan rumah sakit, dia langsung pulang ke rumah atas perintah dari sang papa Ibnu.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan cowok itu terus mengembangkan senyum, bahkan dia beranggapan jika saat ini dia mimpi mendapatkan cinta gadis itu.
Ardian sudah sampai di rumah, dia turun dari motor nya dan langsung di sambut hangat oleh sang mama. Ini adalah kebiasaan Tari yang membuat Ardian harus bangga, karna mempunyai mama yang sangat baik, yang nggak semua orang beruntung akan hal ini.