ARDIAN

ARDIAN
Fatur dan Ardian


__ADS_3

Kesya dan keempat sahabatnya menunggu Nanda keluar dari bilik toilet, dia sedang membersihkan tubuhnya serta rambutnya yang lepek, karna siraman minuman dari Greta.


Gerald datang, sehingga Kesya dan keempat sahabatnya melihat Gerald membawa paper bag.


''Itu baju buat, Nanda?'' tanya Salsa langsung mengambil paper bag di tangan Gerald.


''Gue duluan,'' pamit Gerald dan dibalas anggukan kepala oleh keempat gadis cantik itu.


''Ci...'' Salsa menyenggol lengan Cika, karna gadis itu masih menatap punggung Gerald.


‘’Jangan-jangan cowok yang kamu suka itu, Gerald,'' ucap Salsa, sehingga yang lainya langsung menatap Cika.


‘’Nggak, lah,'' protes Cika.


''Terus...ngapain kamu lihatin Gerald sampai segitunya,'' terang salsa, dia bisa melihat bagaimana sahabatnya itu menatap kepergian Gerald.


Ke empat sahabat Cika, menatapnya dengan penasaran.


Benarkan jika cowok yang selama ini Cika suka dan kagumi adalah sosok Gerald? Sih ketua osis.


Cika memutar bola matanya malas. ‘’Gue lihat Gerald, karna dia bela-belain beli baju sekolah di koprasi. Dia juga yang membawa Nanda kesini,'' jelas Cika membuat ke empat sahabatnya mampak berpikir.


‘’Jadi, stop...bilang kalau cowok yang gue suka adalah Gerald,'' ungkap Cika.


''Apa jangan-jangan, Gerald suka sama Nanda,'' Puri menutup mulutnya, bagaimana jika yang dia ucapkan memang benar-benar.


Jika Gerald menyukai Nanda.


Ceklek


Pintu kamar mandi terbuka, mereka melihat Nanda keluar dari bilik toilet.


''Ganti baju dulu, Nan. Keburu masuk pelajaran. Di beliin sama Gerald.'' Salsa menyerahkan paper bag berisi baju untuk Nanda.


''Makasih.''


Nanda kembali masuk, lalu kelimanya melanjutkan gosipnya.


''Wajar-wajar aja sih kalau Gerald suka sama Nanda,'' kata Kesya. ''Nanda cantik, tentu saja banyak cowok yang suka sama dia, terutama sih Gerald yang dinginya kayak gunung es.''


''Selama gue sekolah di sini, gue baru lihat Gerald dekat sama cewek, seperhatian itu sama cewek,'' jelas Pute, dan di balas anggukan setuju oleh yang lainya.


Lima menit menunggu Nanda ganti baju, akhirnya gadis itu keluar. Mereka langsung pergi dari toilet untuk segera masuk kedalam kelas.


''Lo hebat banget tadi, Nan,'' puji Pute kepada Nanda.


Mereka saat ini sudah berada di kelas, seraya menunggu kedatangan guru yang akan mengajar mereka.

__ADS_1


''Iya, Nand. Gue pikir lo bakalan diam aja,'' ucap Puri seraya tertawa kecil.


''Bahkan...lo balas Greta lebih dari yang dia lakuin ke lo,'' sahut Cika, lalu kembali membaca bukunya.


''Aku nggak bisa bayangin kuah bakso yang panas dan pedas itu, mengguyur tubuh Greta. Sampai-sampai dia nggak bisa ngelihat bebera menit,'' ngeri Salsa melihat dengan mata kepalanya. Bagaiamana Nanda menyiram Greta dengan kuah bakso. Mereka tadi langsung berlari ingin menghampiri Nanda, namun melihat pelawan gadis itu membuat mereka tidak percya.


Jika Nanda menyiram Greta dengan kuah bakso.


‘’Gue suka tindakan lo tadi, Nan. Jangan mau di tindas,'' ucap Kesya dengan senyuman tipisnya.


Nanda hanya tersenyum tipis saja, tangannya refleks menyiram Greta dengan kuah bakso. Dia greget dengan gadis itu, dia tidak punya salah. Tiba-tiba saja gadis itu menyiramnya dengan es jeruk yang dingin.


Untung saja ada Gerald, sehingga tubuhnya langsung di tutupi oleh jaket milik Gerald.


Dia memberikan acungan jempol kepada Nanda, karna tindakan gadis itu.


Ting


Ponsel Kesya bergetar, menandakan adanya pesan masuk.


Setelah membaca pesan tersebut, Kesya berdiri dari kursinya untuk pamit.


''Gue duluan, nyokap gue udah di ruangan kepala sekolah. Kalau guru udah masuk, izinin gue,'' pamit Kesya dan dibalas anggukan kepala oleh sahabatnya.


Kesya berjalan di koridor sekolah, langkah kakinya membawanya keruangan kepala sekolah.


Namun saat dia ingin membelokkan kakinya menuju ruangan kepala sekolah, dia tidak sengaja melihat Greta berciuman dengan seseorang.


Kesya merogoh saku bajunya, memotret Greta yang sedang berciuman panas dengan seseorang.


‘’Lo bakalan malu seumur hidup,'' Kesya tersenyum smirk lalu melanjutkan langkah kakinya menuju ruangan kepala sekolah.


Kesya terlebih dahulu mengetuk pintu ruangan kepala sekolah, setelah di persilahkan masuk, gadis itu langsung masuk.


Dia sudha melihat mamahnya Raisa duduk diatas sofa, berhadapan dengan kepala sekolah.


Kesya langsung duduk di samping Raisa.


''Karna Kesya sudah datang, langsung saja ibu mengatakan, jika Kesya melakukan tindakan seperti kemarin-kemarin, maka saya akan memberikan scorsing kepada anak ibu,'' ucap kepala sekolah dengan name tag Ibu Arma.


Raisa mengangguk, paham.


‘’Kesya, kamu paham maksud ibu?'' Tanya ibu Arma.


''Iya, bu.''


''Baiklah, sebenarnya saya malas mengurus hal seperti ini. Karna ketua osis di sekolah ini menyuruh saya untuk mempertegas hal ini, maka saya turun tangan. Bisa saja Gerald mengatasi hal ini, namun melihat Kesya yang selalu melanggar, maka saya turun tangan, atas permintaan ketua osis,'' jelas ibu Arma membuat Raisa menatap kepala sekolah.

__ADS_1


‘’Kenapa ibu tunduk sama anak murid ibu sendiri,'' cecar Raisa membuat kepala sekolah tersenyum tipis.


‘’Karna ketua osis di sekolah ini saya berikan kewenangan yang tinggi. Termasuk mengurus murid seperti Kesya .''


***


''Apa?''


Nanda terkejut saat Boy mengatakan, jika Dika tidak ada di ruanganya.


''Gue yakin, Dika di culik,'' ucap Nanda dengan gregetan.


''Bagaimana lu bisa tau, Ra. Nggak boleh nuduh sembarangan,'' ucap Boy membuat Nanda menatapnya dengan tatapan keasal.


''Gue yakin, ,yang culik Dika adalah Ardian sama Gerald, lebih jelasnya anak ARIGEL!'' beber Nanda.


''Terserah lu, dah.'' Boy berjalan meninggalkan Nanda.


Jangan sampai dia salah omong, membuat dirinya menjadi sasaran Nanda, dan dibenci oleh adiknya sendiri.


Karna dia juga ikutan.


***


‘’Lo yakin kalau Dika udah nggak ada?'' tanya Fatur seraya menyesap rokonya.


''Gue yakin.''


Fatur dengan temanya sedang nongkrong di markas barunya.


''Arya,'' panggil Fatur.


‘’Gimana Salsa?'' lanjutnya membuat Arya tersenyum.


‘’Cewek yang lu incar dari kecil masih cantik,'' ucap Arya.


Fatur menatapnya tajam, membuat Arya tertawa kecil.


''Dia masih tetap sama. Dia masih mengejar cinta Rafael,'' lanjutnya membuat Fatur tersenyum tipis.


''Tur, kenapa lo macarin Naya kalau lu suka sama Salsa? Kenapa nggak berani ungkapin perasaan lo ke dia,'' ucap Fatur.


‘’Gue cuman anggap pelampiasan Naya, jika waktunya sudah tiba, gue bakalan bawa salsa dalam pelukan gue. Gue harus balas dendam sama Ardian dulu,'' ucap Fatur, seraya mengepalkan tanganya.


Sampai sekarang, mereka masih tidak tau. Ada dendam apa antara Fatur dan Ardian.


Mereka hanya mengikut saja, apa yang di katakan oleh Fatur.

__ADS_1


Jika niat Fatur sudah terselesaikan, dia akan membawa Salsa dalam pelukanya, dan tidak membiarkan gadis itu mengemis kepada Rafael.



__ADS_2