ARDIAN

ARDIAN
Mau nembak Nanda lagi?


__ADS_3

Ucapaan Gina sukses membuat Tari terdiam, dia tidak menyangka jika suami temannya itu menikah lagi.


Tari menggelengkan kepalnya kecil. Dia tidak habis pikir, mengapa Iksan mau meninggalkan Gina, wanita baik, cantik dan tentunya dia wanita yang berada dan berpendidikan tinggi, meski Gina tidak terlalu pandai memasak.


''Wanita seperti apa yang Iksan dapatkan? Hingga dia meninggalkan istrinya sendiri. Apa dia lebih dari Gina?'' gumam Tari yang terdengar samar di telinga Nanda.


Nanda tersenyum tipis. ''Yang jelas, istri kedua papa, yang pintar masak,'' ucap Nanda dengan tawa kecilnya membuat Gina menjadi kikuk, lalu kemudian wanita itu ikutan tertawa, karna pernyataan yang Nanda berikan.


Nanda hanya bercanda, membuat Gina tertawa juga dengan apa yang anaknya itu katakan.


''Kamu bisa aja, Ra,'' ucap Gina, karna dia sadar jika dia tidak pandai memasak seperti istri orang.


''Bisa jadikan, Ma. Papa yang cari pandai masak, bukan wanita yang pandai cari uang,'' kata Nanda lagi yang di benarkan oleh Gina.


''Mungkin yang anak kamu bilang, ada betulnya juga,'' canda Tari.


''Saya emang nggak tahu urusan dapur apa lagi memasak, tapi saya tahu bagaimana caranya mencari uang. Karna saya nggak tega membiarkan suami saya kerja sendiri.'' Apa yang di katakan Gina memang betul adanya, jika dia tidak tega melihat suaminya kerja sendiri.


Dan lihatlah sekarang, Iksan mendapatkan wanita yang royal tapi tidak bekerja, dia hanya santai-santai menerima uang saja, tanpa dia tahu bagaimana rasanya kerja keras.


''Dia akan menyesal meninggalkan istri sebaik dan sepintar kamu, Gi. Semogah aja kamu bisa mendpatakan pria yang lebih baik lagi,'' ucap Tari membuat Nanda dan Gina tertawa.


''Tan, mama udah nggak berpikir sampai kesana lagi,'' ucap Nanda. ''Sekarang, mama hanya fokus dengan masa depan anak-anaknya aja.''


Gina mengangguk membenarkan ucapan anaknya. ''Yang dibilang sama Ara memang benar, jika saya sudah tidak berpikir sampai kesana lagi. Saya hanya ingin melihat Nanda mencapai cita-citanya, dan anak sulung saya Boy menikah secepatnya. Karna usianya sudah tidak muda lagi,'' jelas Gina, dari arah dapur, Boy mendengarkan keinginan mamanya itu.


''Apa mungkin gue nikah sama bocah? Sudahlah, sampai sekarang gue nggak dekat sama perempuan lain, kecuali sama, Greta.'' Boy senyum-senyum sendiri kala mengingat wajah galak Greta, namun terkesan menggemaskan di mata Boy.


Mengingat Greta, membuat pria itu merindukan Greta. Apa lagi seharian ini dia tidak bertemu dengan gadis itu di rumah sakit.


''Sayang banget, Greta suka sama Ardian. Andai aja itu bocah suka sama gue, udah gue nikahin dia kalau udah lulus,'' menolog Boy seorang diri.


Sudah hampir satu jam mereka berbincang-bincang, Tari pamit undur diri karna supir sudah menjemputnya.


Ibnu suaminya tidak sempat menjemputnya, karna ada urusan mendadak yang dia urus malam ini.


Tari pamit pada Gina, wanita itu tidak bisa mengantar Tari sampai luar, karna kondisinya saat ini kurang sehat, jadi hanya Nanda saja yang mengantarnya sampai luar.


''Kamu anak yang baik, tante yakin kamu anak kuat. Kamu pasti bisa nerima semuanya. Kamu harus ingat satu hal, Nak. Sebenci-bencinya kamu sama papa kamu, dia tetap papa kamu,'' nasehat Gina membuat Nanda terdiam lalu kemudian dia mengangguk mengiyakan ucapan wanita itu.


Gina mengusap rambut Nanda. ''Mantan istri dan suami itu ada. Tapi nggak ada namanya mantan papa, mantan mama dan mantan anak,'' ucap Gina dengan tawa kecilnya.


Nanda juga ikutan tertawa, karna apa yang di katakan wanita itu ada benarnya juga.


''Iya, Tan.''


''Kamu harus langgeng dengan anak tante ya. Tante berharap, kalian berjodoh dan nggak akan pernah pisah apa lagi sampai putus,'' kata Gina lagi.


Lagi-lagi Nanda hanya mengangguk pasrah, dia tidak tahu harus ngomong apa lagi.


''Kamu harus jalan-jalan kerumah tante lagi. Nanti di sana kita buat kue lagi, sama pacarnya Fatur.''


''Iya, Tan. Kalau Nanda udah nggak sibuk lagi. Tapi Nanda boleh ajak teman Nanda nggak? Dia suka banget buat kue, dia mau belajar buat kue sama tante. Namanya Salsa, dia pernah nyobain kue buatan tante, dia suka banget. Makanya dia mau belajar sama tante,'' jelas Nanda panjang kali lebar.


''Oh ya.'' Tari tidak menyangka, jika teman Nanda menyukai kuenya. Wanita itu bahagia tentunya. ''Kamu boleh kok ajak teman kamu datang kerumah buat kue. Lebih banyak lebih bagus, biar rumah tante makin ramai.''


''Iya, Tan. Nanti Nanda kabarin sama teman aku.''


‘’Yaudah kalau gitu. Tante pulang dulu ya,'' pamit Tari dan dibalas anggukan kepala oleh Nanda.


Tari melambaikan tanganya pada Nanda sebelum masuk kedalam mobil, begitupun dengan Nanda.


Setelah kepergian Tari, Nanda menghembuskan nafas berat. ''Gue harus ngomong sama Ardian.'' Gadis itu langsung melangkah masuk kedalam rumahnya, dia ingin segera tidur, karna besok pagi dia akan ke rumah sakit.


Dia sudah minta izin sama guru yang mengajar besok.


***


Seperti biasa, Greta berangkat dari rumah sakit untuk ke sekolah, meski mamanya sudah sadar, dia masih tetap di rawat di rumah sakit karna kondisinya belum stabil.


Gadis itu berjalan di koridor rumah sakit, hingga dia menubruk tubuh seseorang.


Bruk...


Tangan kekar itu dengan sigap menangkap tubuh kecil milik Greta, mereka berdua saling bertatapan.


Pria yang mengenakan jas dokter itu tersenyum kearah Greta. Dengan cepat Greta memperbaiki posisinya.


''Mau ke sekolah?'' tanya dokter Boy.

__ADS_1


''Nggak,'' jawab Greta singkat membuat Boy menaikkan alisnya sebelah.


''Terus kamu mau kemana? Pakai seragam sekolah baru bawa tas gini,'' ucap Boy lagi membuat Greta memutar bola matanya malas.


''Udah tahu saya mau ke sekolah, tapi dokter masih saja aja nanya,'' ketus gadis itu membuat Boy terkekeh.


''Sorry, saya tiba-tiba jadi bodoh kalau dekat kamu,'' ucap Boy dengan senyuman merekah di wajahnya membuat Greta tersenyum tipis. Tiba-tiba saja gadis itu teringat pada satu anak ARIGEL. Yang mempunyai senyuman yang penuh tipu daya itu.


''Nggak usah gombalin bocah SMA seperti saya, dok. Ingat usia,'' kata Greta membuat Boy mengedikkan kedua bahunya acuh.


‘’Emangnya kalau orang dewasa nggak boleh bercanda, begitu? Masa iya, yang bercanda hanya boleh anak-anak SMA,'' balas Dokter Boy.


‘’Terserah dokter saja. Saya pamit duluan,'' gadis itu pamit, namun tanganya langsung di cekal oleh Boy.


''Mau saya anter ke sekolah?'' tawar Boy tanpa melepaskan tangan milik Greta.


''Nggak usah, ada banyak pasien yang dokter Boy harus tangani,'' tolak Greta.


''Tidak ada, hari ini saya lagi santai. Nggak ada pasien yang—''


''Maaf dokter Boy, pasien yang baru saja masuk ingin segara di operasi.'' seorang perawat datang menghampiri dokter Boy membuat pria itu menepuk jidatnya sendiri, sementara Greta tersenyum mengejek.


‘’Lepasin tangan saya, dokter Boy punya kewajiban di rumah sakit ini,'' ucap Greta membuat dokter Boy dengan terpaksa melepaskan tangan gadis itu,padahal dia punya keinginan untuk mengantar Greta ke sekolah.


''Saya duluan,'' pamit Greta.


''Hati-hati, cantik,'' ucap Boy membuat Greta tersenyum tipis lalu berlalu pergi, sementara perawat yang memanggil Boy tadi menahan tawa, bagaimana tidak jika dia mendengar dengan jelas jika Dokter itu mengatakan kata cantik pada gadis SMA tadi.


''Lo nggak ke sekolah?'' Greta melontarkan pertanyaan tersebut, dia tidak sengaja berpapasan dengan pintu keluar rumah sakit ini.


‘’Nggak,'' jawab Nanda. ''Gue mau jenguk Gerald dulu, besok gue baru ke sekolah.''


Greta mengangguk lalu kemudian dia berlalu pergi meninggalkan Nanda di depan pintu masuk rumah sakit ini.


Greta masuk kedalam taxi yang sudah dia simpan, lalu kemudian taxi itu melaju pergi meninggalkan rumah sakit untuk segera ke sekolah.


Tidak butuh waktu lama, taxi yang di tumpangi Greta sampai di sekolah. Gadis itu membayar supir taxi lalu keluar, jangan lupa dia memasang wajah angkuhnya itu berjalan masuk ke sekolahnya.


''Wah-wah, gadis nakal!'' Tepuk tangan itu dari Kesya, menyambut Greta yang baru saja masuk di gerbang sekolah ini.


Greta menatap Kesya dengan tatapan sinis, ‘’berani juga lo yah munculin muka lo di sekolah ini. Punya rasa malu berapa? Gue kira, rasa malu lo udah hilang, Kesya.'' Greta menatap remeh Kesya membuat Kesya mengepalkan tanganya.


''Lo itu gadis murahan!'' Kesya maju satu langkah untuk menampar Greta, namun Greta langsung mencekal tangan gadis itu.


''Lo juga baru masuk sekolah hari ini. Nggak semestinya lo langsung cari masalah,'' ucap Greta menekan setiap perkataanya, ''apa lagi lo cari masalah sama gue. Lo nggak kapok, vas bunga gue lempar di kepala lo itu, sampai-sampai lo masuk rumah sakit!'' sinis gadis itu mampu membuat Kesya panas dengan ucapan lantang Greta barusan.


''Atau mau, gue masukin lo rumah sakit lagi? Dengan tangan gue ini?'' Greta memperlihatkan tanganya yang sedikit berurat itu pada Kesya. ''Lo tahu'kan, gimana gilanya gue kalau lo cari masalah sama gue. Gue nggak segan-segan buat lo terluka, kalau lo berani ngusik gue duluan,'' lanjut gadis itu dengan serius, tidak ada wajah bercanda di wajahnya saat mengucapkan hal itu pada Kesya.


Greta langsung pergi meninggalkan Kesya, dia tidak mau berurusan dengan golongan orang kaya seperti Kesya, kecuali gadis itu mengusiknya duluan, maka dia tidak memandang derajat Kesya dengan dirinya.


''Awas aja lo, Gre,'' gumam Kesya dengan wajah merah padam. ''Lo udah berani ngancam gue, maka lo harus siap-siap terima resikonya.''


''Kayak orang gila aja lo, ngomong sendiri.''


Kesya membalikkan tubuhnya, dia melihat anak ARIGEL di belakangnya, yang berucap tadi mengatai Kesya seperti orang gila adalah Izam.


''Diam lo!'' desis Kesya membuat Izam tertawa renyah.


''Enak banget ya, udah dua minggu nggak ke sekolah. Udah gitu, nggak panggilan orang tua lagi,'' gumam Ethan dengan menggelengkan kepalanya.


''Namanya juga orang kaya,'' celetuk Rafael masih setia bersedekap dadah. ''Tapi sayangnya aja, duit yang mereka peroleh itu duit bokapnya Nanda,'' lanjut Rafael dengan pedas membuat Izam dan Ethan tertawa dengan apa yang Rafael ucapkan.


''Kalau gue sebagai Nanda, gue bakalan buat perhitungan sama lo, Sya. Tapi untung aja sih, Nanda nggak segila lo,'' timpal Izam lagi.


''Hehehe, gue pikir Kesya itu cewek baik. Tapi makin kesini, sifat aslinya makin kelihatan. Apa mungkin ini dibilang cewek munafik?'' Leo berkata dengan senyuman melekat di wajahnya itu.


''Eh, Ar. Gue dengar-dengar, Kesya suka sama lo yah.'' Izma pura-pura terkejut. ''Jadi gimana, Ar. Lo mau terima nggak cinta orang gila ini?'' lanjut Ethan seraya melirik Kesya.


Dengan wajah datarnya, Ardian melirik Ethan. ''Gue sama dia?'' tanya Ardian kepada sahabatnya dan dibalas anggukan bersaman oleh ke empat sahabatnya itu. ''Najis!'' lanjut Ardian melirik Kesya dengan jijik membuat Kesya semakin ingin meledak saja.


Darah Kesya semakin mendidih, baru saja Greta membuat darahnya mendidih, kini giliran anak ARIGEL yang mengata-ngatainya. Bukan hanya satu atau dua orang, tetapi mereka berlima.


Ethan dan Izam tertawa terbahak-bahak, dengan ucapan Ardian barusan. Dia tidak menyangka, jika cowok itu akan mengucapkan kata najis.


‘’Aduh, Ar. Sakit perut gue ketawa,'' ucap Ethan seraya meredahkan tawanya.


''Kesya kayak haram aja lo, bilangin najis,'' ucap Izam dengan tawa kecilnya.


''Lah, dia kan memang anak haram,'' celetuk Rafael.

__ADS_1


''Upsss!'' Ethan, Izam dan Leo menutup mulutnya pura-pura terkejut dengan ucapan Rafael.


''Gue bukan anak haram, jaga mulut lo yah!'' marah Kesya saat Rafael mengatakan jika dia anak haram.


''Apa kalian nggak punya tv, papa gue udah ngakuin gue, kalau gue ini bukan anak haram! Apa kalian nggak punya tv!'' Kesya menggebu-gebu, dia pikir sudah tidak ada lagi yang mengatainya anak haram, setelah papanya klarifikasi mengenai dirinya yang bukan anak haram.


''Kita nggak punya Tv, jadinya nggak nonton, Sya. Siapa tahu aja lo mau beliin kita tv, biar kita bisa nonton tv kayak lo,'' ucap Izam dramatis. ''Apa lagi, diantara sahabat gue, gue yang paling miskin.''


''Siapa tahu aja lo bisa porotin bokap lo,'' timpal Ethan.


''Gue masih ragu, lo itu beneran anaknya pak Iksan atau hanya anak Raisa bersama pria lain,'' kata Rafael lagi.


Kesya sudah tidak tahan dengan penghinaan ini, rasanya dia ingin mencakar wajah tampan cowok di hadapnya.


Jika dia terus-terusan meladeni cowok di hadapnya, bisa-bisa dia menjadi gadis gila sungguhan.


''Awas aja kalian. Kalian udah hina-hina gue. Dan nginjak-nginjak harga diri gue!'' Kesya menunjuk satu persatu anak ARIGEL lalu dia melenggang pergi dengan langkah cepat, matanya memerah menahan tangis.


''Lo pikir kita takut!'' teriak Izam setelah Kesya melenggang pergi.


Hidupnya sekarang di kelilingi dengan orang-orang yang membenci dirinya. Bahkan, anak ARIGEL semakin menginjak nya, padahal dulu mereka tidak begini kepadanya.


''Ini semua gara-gara lo, Nanda. Gue bakalan nyingkirin lo di sekolah ini, dan buat lo di keluarkan. Itu janji gue sama diri gue sendiri,'' tekad Kesya dengan menggebu-gebu.


Hari pertama sekolah, langsung di sambut seperti ini oleh orang-orang.


Kelima anak ARIGEL menatap kepergian Kesya, tidak ada rasa ksihan kepada anak ARIGEL terhadap Kesya. Saat mereka tahu sesuatu dari Puri.


Yah, Puri saat di antar Ethan pulang dari rumah sakit, tanpa sengaja dia bercerita jika Kesya mendoakan Gerald untuk mati saja.


Sebenarnya Ethan sudah berjanji pada Puri, untuk tidak memberitahukan hal ini pada sahabatnya, namun rasa sakit tidak bisa Ethan bendung sendiri.


Dia sakit hati dengan doa tanpa perasaan Kesya kepada Gerald. Semuanya berdoa demi keselamatan Gerald namun dengan mulut berdosanya, Kesya malah sebaliknya.


''Andai aja dia kelakuanya nggak kayak gitu, mungkin dia bisa gantiin Greta di hati gue,'' dramatis Izam.


''Kalau Kesyanya mau,'' celetuk Ethan.


''Pasti mau lah, gue kan ganteng. Cuman satu kurangnya gue,'' kata Izam dengan lesuh.


''Kurang kaya aja.'' Rafael yang melanjutkan ucapan Izam membuat mereka semua ngakak, sementara Izam tersenyum kecut.


‘’Tapi yah, Kesya juga cantik. Sayang aja, mulutnya nutupin kecantikannya itu,'' ucap Ethan membenarkan.


‘’Gue laporin Puri lo yah,'' ancam Leo.


''Gue tabok lo, kalau sampai Puri ngehindarin gue. Gue bakalan cari lo sampai ke ujung dunia.''


''Buset, dah.''


''Cabut.'' Ardian mengajak sahabatnya untuk segera pergi dari sini.


Mereka berjalan di koridor sekolah, untuk segera menuju kelas mereka.


''Lu mau kemana, Ar? Kelas kita di sebelah.'' Izam menarik baju Ardian, sehingga pergerakan kaki cowok itu terhenti.


''Kalian duluan ke kelas, gue mau nyamperin Nanda ke kelasnya. Ada yang mau gue omongin dulu sama Nanda,'' kata Ardian kepada ke empat sahabatnya.


''Mau nembak Nanda lagi lo, Ar?'' tanya Rafael membuat Ardian hanya diam saja. ''Nggak ada kapok-kapoknya juga lo di tolak,'' lanjut Rafael dengan menggelengkan kepalanya pelan.


''Namanya juga lope-lope, Raf,'' celetuk Ethan. ''Lo aja sih, nggak pernah rasaian apa itu jatuh cinta. Makanya hati lo beku.''


Rafael melirik Ethan. ''Makan tuh cinta, gue nggak mau galau kayak lo, gara-gara putus saka Vani. Kayak nggak ada cewek lain aja,'' sinis Rafael membuat Ethan diam, lalu kemudian cowok itu menghentakkan kakinya kesal.


Ardian langsung pergi meninggalkan keempat sahabatnya, dia akan menemui Nanda. Apa lagi pas dia tahu dari papanya, jika semalam mamanya kerumah Nanda. Dia yakin, mamanya membahas hubungannya dengan Nanda, padahal mereka berdua hanya pura-pura pacaran saja.


Sementara Izam dan Leo hanya tertawa saja.


''Makanya. Jangan ngomong cinta sama lord, Rafael. Kalau nggak mau di kasi siraman cabe,'' kata Izam.


''Lo juga, kubur perasaan lo sama Greta. Kayak nggak ada cewek lain aja. Cewek yang lo suka itu suka sama Ardian,'' kata Rafael.


''Nggk usah sembur gue juga kali,'' ketus Izam kepada Rafael.


‘’Yaudah, kasi Salsa aja buat Izam. Biar dia lupa in Greta,'' ucap Leo yang sedari tadi hanya tertawa saja.


''Nah, gue setuju!'' Izam dan Ethan hampir bersaman mengucapkan kata setuju.


Rafael menatap ketiga sahabatnya dengan tajam. ''Ambil aja, kalau Salsanya mau sama lo.'' Lepas itu Rafael langsung menyeberang menuju kelasnya, melewati lapangan sekolah.

__ADS_1


Leo, Ethan dan Izam mengikuti langkah kaki Rafael menuju kelas mereka.


Selamat berbuka puasa 😘😘😘


__ADS_2