
Raisa langsung menyambut kepulangan suaminya, menyalami tangan Iksan dengan penuh cinta, dia bisa melihat raut wajah suaminya begitu lelah.
Dia ingin menyampaikan, apa yang baru saja menimpah Kesya, namun melihat wajah Iksan yang begitu letih, membuat niat Raisa terurungkan.
Sebentar malam dia akan membicarakan hal ini dengan suaminya.
''Kesya sudah pulang?'' tanya Iksan, seraya melirik di jam di pergelangan tanganya, ini masih jam 10 pagi, biasanya Kesya pulang sore.
''Iya, Mas. Kesya pulang karna ada masalah di sekolahnya,'' jawab Raisa membuat Iksan mengangguk kecil ucapan istrinya barusan.
''Masalah apa?'' tanya Iksan, seraya mendudukkan tubuhnya di kursi sofa.
''Anak kita di bully.'' Sebenarnya, Raisa ingin mengatakan hal ini sebentar malam, namun Iksan sudah bertanya padanya, mengapa Kesya pulang begitu cepat.
''Aku mau, Mas Iksan ke sekolah Kesya. Mas harus umumkan di sekolah Kesya, kalau anak kita bukan anak haram.'' Raisa bercerita dengan menggebu-gebu kepada Iksan.
‘’Kesya di bully di sekolahnya, karna teman sekolahnya mengatakan, jika Kesya anak haram dari seorang pelakor.'' Jika mengingat kondisi anaknya, membuat Raisa ingin memberikan pelajaran kepada mereka yang sudah membully anaknya menggunakan telur busuk. Jangan lupa, foto Kesya yang di bully sudah beredar luas, membuat Raisa menjadi geram, karna teman sekolah Kesya sudah melakukan pembullyan kepada anaknya, dan menyebar luaskan foto Kesya.
Iksan memijit pelipisnya pusing, penjelasan dari Raisa membuatnya semakin pusing.
''Mas harus bertindak cepat. Aku nggak mau sampai Kesya kembali di bully. Mas nggak lihat kondisi Kesya yang kacau, Mas. Dia pulang membawa telur busuk, pakain sekolahnya di penuhi telur busuk, rambutnya juga di penuhi telur busuk, Mas.''
‘’Kesya mana?'' tanya Iksan, dia tahu Kesya saat ini sangat tertekan, mengenai hal ini.
''Kamar,'' jawab Raisa.
Iksan langsung pergi meninggalkan Raisa, dia akan menyusul Kesya kedalam kamarnya.
''Kesya, ini papa!'' panggil Iksan, seraya mengetuk pintu kamar milik Kesya.
''Papa masuk, ya,'' izinya, karna pintu kamar milik Kesya tidak terkunci.
Iksan melihat Kesya sedang menangis, seraya menatap ponselnya.
‘’Kesya,'' panggil Iksan.
''Lihat, Pa.'' Kesya langsung memberikan ponselnya kepada Iksan, melihatkan beberapa orang telah menghakimi dirinya dan menyebarkan foto-fotonya yang berbalut dengan telur busuk.
Kondisinya begitu sadis dia lihat. Tanpa hati, orang menyebar luaskan foto-fotonya yang kena pembulian. Jangan lupa, mereka mengatakan di caption Instagram dengan kata-kata anak haram dari seorang pelakor, membuat hati Kesya tercabik-cabik.
Huft
Iksan menghembuskan nafas berat, lalu dia memeluk anaknya. Kesya menangis dalam pelukan Iksan.
''Pa, ayo buat klarifikasi. Kalau Kesya bukan anak haram. Kesya anak papa dan Mama. Mama nggak rebut papa'kan dari wanita lain?'' Kesya menangis dalam pelukan Iksan, seraya memberikan rentetan pertanyaan kepada pria yang dia sebut dengan sebutan papa.
Rasanya, Kesya ingin berteriak dan mengumpat seluruh manusia yang sudah menghakimi dirinya atas ini semua.
Di pastikan, besok dia tidak akan ke sekolah. Jika dia nekad ke sekolah, kemungkin besar mereka akan kembali mengatainya anak haram dari pelakor, dan tentunya mereka akan kembali melemparnya dengan telur busuk, bahkan lebih.
''Pa,'' panggil Kesya, karna Iksan hanya diam saja.
Iksan mengusap rambut Kesya, lalu mencium puncak kepala anaknya.
''Kamu haru terima ini, nak. Meskipun kamu tidak melakukan apa-apa. Karna ini perbuatan mama dan papa. Papa sudah punya istri, mama kamu adalah istri kedua papa, istri siri. Kamu dan Nanda bersaudara, dan Boy.''
Deg...
__ADS_1
***
Bell pulang sekolah berbunyi, membuat Ardian langsung keluar dari kelas begitu cepat.
''Mau kemana lo, Ar. Buru-buru amat,'' ucap Izam, yang melihat Ardian begitu buru-buru keluar kelas.
''Mau kerumah Nanda mungkin, kemarin'kan dia pulang cepat. Katanya sih sakit,'' sahut Leo membuat Izam mengangguk paham.
‘’Gue duluan,'' pamit Ardian kepada teman-temanya itu.
''Hati-hati, Ar!''
''Ok!''
Ardian lebih dulu berjalan menuju parkiran sekolah, sementara sahabatnya masih tertinggal di belakang.
''Ardian!''
Panggil itu dari Greta, membuat Ardian tidak menghiraukan panggilan gadis itu. Kesya dan Greta adalah golongan gadis yang menyukainya, namun salah satu diantara mereka tidak ada yang Ardian sukai.
Greta langsung menghalangi jalan Ardian, membuat Ardian berdesis kearah gadis itu. ''Mau apa lo! Gue buru-buru,'' ucap Ardian dengan datar kepada Greta.
''Lo mau kerumah, Nanda?'' tanya Greta, membuat Ardian menautkan alisnya, pertanyaan Greta seperti angin lalu.
''Kalau iya kenapa? Buat apa lo juga nanyain dia,'' ucap Ardian.
‘’Gue boleh nebeng sama lo kerumah, Nanda?'' tanya Greta penuh harap kepada Ardian.
‘’Gue tahu, jawaban lo bakalan nolak,'' kata Greta.
''Kalau lo udah tahu, kenapa mesti lo nawarin diri lo?'' ejek Ardian.
Sosok cowok yang sudah membuatnya dan Kesya berselisih, karna mereka berdua menginginkan Ardian.
‘’Gue bisa bersaing sama cewek yang suka lo, Ar, termasuk Kesya. Tapi, gue nggak bisa bersaing dengan cewek yang lo suka.'' Perkataan Greta membuat Ardian diam, apakah benar gadis itu akan berhenti mengejarnya? Jika itu benar, maka hidup Ardian akan kehilangan satu beban.
Cukup sudah dia mendengar pertengkaran Kesya dan Greta, karna kedua gadis itu bersaing untuk mendapatkanya.
''Gimana, gue boleh nebeng sama lo? Gue cuman mau jenguk kondisi Nanda, kebetulan juga, gue mau bicara sama dokter Boy.'' Greta berusaha meyakinkan Ardian.
Jika dia tidak bisa mendapatkan cinta cowok itu, setidaknya dia bisa merasakan kedekatan bersama Ardian untuk pertama dan terakhir kalinya.
Ardian berpikir sejenak, dia bisa melihat tatapan mata gadis itu, dan nada bicaranya mengatakan yang sebenarnya.
''Masih di sini lu, Ar. Gue kira lo udah nyampai di rumah Nanda.” Suara milik sahabatnya membuat Ardian dan Greta membalikkan tubuhnya.
“Eh, ada neng Greta. Apa kabar?” tanya izam. Dia baru sadar jika ada Greta di sini.
Greta hanya menampilkan wajah datar, tidak membalas ucapan Izam membuat cowok itu tersenyum kecut, jangan lupa para sahabatnya menahan tawa.
“Kebetulan lo ada di sini, Greta mau nebeng sama gue kerumah Nanda. Mendingan lu yang bonceng dia,” ucap Ardian kepada izam. Membuat cowok itu menatap Greta.
Sebenarnya dia bisa saja mengantar gadis itu, hanya saja dia tahu maksud ucapan Greta kepada Ardian, agar cowok itu yang mengantarnya.
“Mau apa lo kerumah Nanda, Gre?” tanya Ethan pensaran.
''Bukan urusan lo,'' jawab Greta dengan datar membuat Ethan memutar bola matanya malas, sementara Leo dan Izam terkekeh.
__ADS_1
Sementara Rafael berdecih dengan jawaban gadis itu. Gerald hanya menyimak saja.
''Lu aja yang antar Greta, Ar. Gue nggak bisa antar dia, gue buru-buru mau ke cafe Ethan,'' ucap Izam membuat Ethan langsung melirik Izam.
Padahal, mereka berdua tidak punya janji.
''Iya'kan, Than,'' ucap Izam, agar Ethan mengangguk mengiyakan ucapannya barusan.
''Iya, Izam buru-buru ke cafe gue,'' bohongnya.
‘’Buat apa?'' tanya Rafael penasaran.
''Dia bakalan jadi pencuci piring di sana,'' tawa Ethan membuat Izam berdengus.
‘’Lo aja, Ar. Nggak mungkin kalau diantara mereka ada yang mau anterin Greta. Cuman gue, tapi gue buru-buru mau ke cafe.''
''Ok.'' Akhirnya, Ardian mengiyakan saja.
Lagian, bukan Greta pertama kalinya gadis yang akan dia bonceng.
Greta lebih dulu meninggalkan Ardian dan sahabatnya, gadis berjalan lebih dulu ke parkiran seraya menunggu Ardian.
‘’Kunci motor lo.'' Ardian menjulurkan tanganya pada Izam, membuat Izam menaikkan alisnya sebelah.
‘’Perasaan lo bawa motor deh,'' ucap Izam, namun tak urung cowok itu merogoh saku celananya, mengambil kunci motornya.
Izam langsung memberikan kunci motornya pada Ardian.
‘’Motor lu gue pake kerumah Nanda. Motor gue yang lo bawa ke cafe,'' ucap Ardian, seraya memberikan kunci motornya untuk Izam.
Kelima sahabtnya diam, karna dia sudah tahu maksud Ardian menukar motornya kepada Izam.
''Gue duluan,'' pamit cowok itu kepada kelima sahabatnya.
‘’Segitunya,'' gumam Rafael seraya menyungkirkan senyuman penuh arti, menatap punggung Ardian yang sudah menjauh.
''Dia nggak mau bonceng cewek di motornya, kecuali Nanda,'' timpal Leo dengan tawa kecilnya.
‘’Selama ini kita nggak lihat Ardian suka sama cewek. Sekalinya suka cewek, sikapnya bikin kita geleng-geleng kepala,'' Ethan ikut menimpali dan dan dibalas anggukan kepala oleh yang lainya.
''Nggak apa-apa deh. Lagian Ardian bonceng cewek pake motor gue, cewek yang dia bonceng cewek yang gue suka juga,'' ucap Izam membuat mereka tertawa miris melihat Izam.
''Dih, segitu ngebetnya lo sama Greta,'' ejek Rafael. ‘’Banyak cewek yang lebih baik dari Greta di luar sana, mereka juga suka sama lo,'' lanjut Rafael. Karna Izam masih saja mengincar cinta milik Greta, padahal banyak cewek di sekolah ini menyukainya, hanya saja cowok itu menyukai Greta dan tetap Greta.
''Cewek diluaran sana ada yang lebih dari Greta. Tapi sikap yang di miliki Greta nggak ada yang dimiliki cewek lain,'' bangga Izam.
‘’Maksud lo, sikap jal—'' Rafael baru saja ingin mengeluarkan kata kotornya, untung saja Izam langsung membekap mulut cowok itu, agar tidak meneruskan ucapanya, yang akan membuatnya menjadi kesal sekaligus marah dengan Rafael.
''Nggk usah di terusin, kalau cuman mau ngehina cewek yang gue suka,'' kesel Izam seraya melepaskan bekapan tanganya, yang membekap mulut milik Rafael.
‘’Seburuk-buruknya Greta di mata orang-orang, dan di mata kalian. Tetap aja, Greta itu gadis yang baik menurut gue. Terserah kalau kalian nggak setuju dengan omongan gue. Gue nggak minta persetujuan kalian, By!'' Izam langsung pergi meninggalkan sahabatnya.
Leo menyenggol lengan milik Gerald, karna sedari tadi cowok itu hanya diam saja. ‘’Gimana hati lo? Aman?'' tanya Leo dengan senyuman pada Gerald.
Meski dia sudah tahu jawabanya, dia tetap melemparkan pertanyaan itu kepada Gerald.
Gerald hanya tersenyum tipis sebagai jawabnya.
__ADS_1
Leo menepuk pundak Gerald, lalu berkata. ''Lo tenang aja, siapa tahu lo mau satu cewek? Ada cewek yang namanya gue lupa, tapi dia cantik. Nanti gue kasi nomornya.''