
Ardian tersenyum miris, melihat Nanda menbuatnya seketika dejavu, entah mengapa dia merasa gadis itu beda dari gadis lain. Banyak gadis yang menyukainya di sekolah maupun di luar, namun tetap saja dia menyukai Nanda dan jatuh hati dengan sendirinya pada gadis itu.
Ardian tahu, jika Nanda tidak mempunyai perasaan apapun padanya, kalaupun itu ada pasti tidak sebesar cinta Nanda pada Gerald.
Pip...
Pip...
Pip...
Sibuk dengan pikiranya, hingga Ardian lupa jika lampu lalu lintas sudah berubah warna, cowok itu mendengus lalu mulai menjalankan mobilnya, karna pengendara mobil lainya sudah mengelakson dirinya.
Nanda tidak tahu, jika Ardian sejak lampu merah memperhatikannya terus menerus.
Nanda menyandarkan tubunya di sandaran kursi, pak Budi yang mengantar Nanda kemana-mana, sudah kembali bekerja kemarin.
Dari kaca spion, pak Budi bisa melihat kelesuhan di wajah gadis itu. ‘’Non Nanda kenapa?'' tanya pak Budi, lalu matanya kembali fokus menyetir mobil untuk mengantar Nanda ke sekolah.
‘’Nggak apa-apa,'' balas Nanda dan dibalas anggukan kecil oleh Pak Budi.
Pak Budi tahu, jika pagi tadi Nanda pulang dari rumah sakit, di jemput Boy karna dia sekolah, namun gadis itu mengatakan ingin di rumah sakit saja menemani Gerald, namun Boy menantangnya karna jika Nanda melakukan itu, maka sekolahnya tidak akan beres.
Pak Budi tidak bertanya lagi, dia fokus mengemudikan mobilnya untuk membawa Nanda segera ke sekolah.
Mobil milik Ardian tiba lebih dulu di sekolah, cowok itu memarkirkan mobilnya khusus di parkiran mobil, melewati para sahabatnya yang nongkrong di parkiran.
''Itu mobil Ardian,kan?'' tanya Leo dan dibalas anggukan kepala oleh yang lainya.
''Tumben-tumbenan tuh anak naik mobil,'' beo Rafael melihat Ardian membawa mobil ke sekolah. Biasanya, cowok itu paling malas menggunakan mobil kemana-mana karna lambat.
Ardian turun dari mobil, berjalan menghampiri ke empat sahabatnya, biasanya ada Gerald namun kali ini Gerald tidak ada, membuat suasana nampak berbeda dari biasanya.
‘’Tumben pake mobil,'' celetuk Izam setelah Ardian bergabung dengan mereka. ‘’Biasanya lo malas pake mobil ke sekolah,'' lanjut cowok itu.
''Gue pengen aja,'' balas Ardian.
‘’Tindik di telinga lo mana, Ar?'' tanya Ethan, karna biasanya Ardian menggunakan tindik dan itu tidak pernah lepas dari telinganya, namun kali ini mereka melihat tidak benda itu di telinga sahabatnya.
Para sahabat Ardian ikutan melirik telinga Ardian, benar saja kata Ethan, cowok itu tidak menggunakan tindik.
Ardian hanya tersenyum tipis saja, dia sengaja melepaskan tindik itu, karna gadis yang biasa menyebut dirinya preman karna dia meggunakan tindik di telinganya, mulai sekarang dia akan berubah, apa lagi dia tahu, jika musuhnya selama ini merupakan kakaknya sendiri. Meski Fatur belum menerima ini sepenuhnya, dia akan damai dengan anak VAGOS dan memulai hidup yang lebih bagus kedepanya bersama dengan para sahabatnya, apa lagi mereka sudah tidak lama lagi akan lulus, mereka akan mencari jati diri mereka masing-masing.
Mungkin ada yang kuliah, ada yang langsung kerja atau ada yang langsung menikah diantara mereka.
''Dih, di tanya malah senyum-senyum nggak jelas!'' seloroh Izam karna melihat Ardian hanya senyum-senyum saja.
''Gue mau berubah.''
''Hah!'' Tiga kata yang di keluarkan Ardian mampu membuat para sahabatnya termangu dengan ucapan cowok itu barusan.
Sementara Leo hanya tertawa anggun aja.
''Oh, jadi ini alasan lu lepas tindik lo itu?'' ejek Rafael. ''Lepasin tindik belum tentu berubah,'' lanjut cowok itu membuat Ardian langusng menjitak kening sahabatnya.
''Sampai kapan kita mau kayak gini?'' Ardain menatap satu persatu para sahabatnya itu. ''Kalian udah tahu'kan, kalau Fatur ketua VAGOS adalah saudara gue sendiri, kakak gue sendiri. Papa gue juga udah bicarakan hal ini sama Fatur, kalau nggak ada lagi permusuhan antara anak ARIGEL dan anak VAGOS,'' jelas Ardian membuat para sahabatnya terdiam, mereka semua menatap Ardian, dengan berbagai tatapan yang sulit Ardian tebak.
''Kenapa?'' tanya Ardian kepada keempat sahabatnya itu.
''Kita insaf?'' tanya Izam tanpa beban membuat Rafael langsung memutar bola matanya malas.
__ADS_1
''Kita harus berubah,'' celetuk Ethan.
''Maksud Ardian, kita harus berubah jadi lebih baik dari sebelumnya. Nggak lama lagi kita akan lulus, menandakan kita nggak akan lama lagi akan pisah, entah mengejar cita-cita atau yang lainya,'' ucap Leo bijak dan dibalas acungan jempol oleh Ardian.
Mereka asik mengobrol di parkiran sekolah, hingga Leo pamit lebih dulu pada sahabatnya, karna dia ingin menemui gadis bernama Pute di roftop sekolah, semalam mereka sudah janjian akan bertemu di roftop sekolah.
Semalam Leo meminta habis jam istirahat mereka bertemu, namun Pute menyuruhnya sekarang. Karna guru-guru sedang rapat pagi ini, jadi tidak ada guru yang mengajar di kelas manapun.
Leo berjalan menuju roftop sekolah, karna Pute mengirimkanya pesan wa, untuk Leo lebih dulu ke Roftop sekolah.
''Lo mau kemana?'' tanya Salsa pada Pute yang berdiri dari kursinya, pasalnya gadis itu langsung ingin pergi saja, tanpa memberitahukan mereka.
Pute tertawa kecil. ''Gue lupa, gue mau ketemu Leo dulu.'' Gadis itu berkata jujur pada ketiga sahabatnya, jika dia ingin bertemu dengan Leo.
''Mau kita temenin?'' Cika memberikan tawaran pada Pute, namun gadis itu menggeleng.
''Gue bisa pergi sendiri,'' ucap Pute. Gadis itu pamit pada ketiga sahabatnya.
Gadis itu pandai menyembunyikan sesuatu, dia ke sekolah menggunakan raut wajah seperti biasanya, padahal dia menangis tersedu-sedu, karna menikmati malam yang panas dengan Leo.
Gadis itu pandai menyembunyikan kesedihannya kepada sahabatnya, dia tidak mau jika para sahabatnya mengkhawatirkan dirinya.
Mata Pute memang sedikit bengkak saat ke sekolah, karna sisa air mata semalam. Sehingga sahabtnya pagi tadi bertanya, gadis itu menjawab kalau semalam dia menagis karna merindukan mamanya, apa lagi papanya yang sibuk kerja.
Pute pergi meninggalkan kelas, berjalan menelusuri koridor sekolah, melangkahkan kakinya menuju roftop sekolah, dia harus melewati beberapa kelas.
Banyak pasang mata yang menatap gadis itu, tentu saja para laki-laki menatap Pute dengan tatapan kagum, gadis cantik dan pandai bermain game.
Mereka berpikir, siapapun cowok yang mendapatkan Pute akan bahagia, dan mereka yakin tidak ada yang menolak peson gadis itu. Namun pikiran semua salah, karna sosok Leo masih mempertimbangkannya.
Entahlah, mengapa Leo tidak ingin pacaran. Dia hanya ingin langsung menikah saja, saat dia sudah mempunyai pekerjaan tetap dan siap untuk menikah.
Pute menghembuskan nafas lelah, sudah bebarapa tangga yang dia lewati, karna lift di sekolah ini sedang perbaikan.
Iksan menghembuskan nafas berat, menatap anak gadisnya. Saat ini, Iksan memanggil Kesya di di ruangan kerjanya.
**
Sudah dua minggu lebih, Kesya tidak ke sekolah, semenjak dia du bully oleh teman sekolahnya, dia sudah tidak ke sekolah lagi.
''Sampai kapan kamu tinggal di rumah, Sya?'' tanya Iksan, menatap Kesya yang hanya memalingkan wajahnya ke samping, tidak ingin menatap Iksan.
Dia masih marah dengan Iksan, karna papanya tidak bertindak dan mengumumkan di tv, jika dia bukan anak haram. Karna namanya sudah buruk di penjuru Jakarta ini, dan tentu saja fotonya di pajang dan di posting kemana-mana, tentu saja dengan tindakan Greta yang memajang foto Kesya.
Kesya tidak akan ke sekolah, sebelum Iksan memenuhi permintaanya. Karna dia tahu, papanya orang penting di Jakarta ini.
‘’Udah Kesya bilang, Kesya nggak akan ke sekolah sebelum papa buat pengakuan di depan publik. Kalau Kesya ini bukan anak haram dan anak pelakor!'' balas Kesya dengan menggebu-gebu, tanpa melihat Iksan.
Iksan kembali menghembuskan nafas berat, Nanda tidak pernah keras kepala seperti Kesya, membuat Iksan tiba-tiba merindukan anaknya itu, sudah seminggu lebih dia tidak melihat anak-anaknya. Dan tentu saja, Nanda tidak ingin bertemu dengan papanya lagi.
Jika dia melihat papanya, dia seperti melihat sakit pada hati Gina, karna ulah papanya itu, menikah lagi dengan wanita yang merupakan wanita masa lalunya.
Apapun alasanya, anak-anknya tidak terima, terutama Boy.
‘’Permintaan kamu, tidak akan pernah papa kabulkan, Kesya. Kamu minta pengakuan di depan publik, semua orang akan tahu, bisa-bisa pekerjaan papa akan hancur, orang yang bekerja sama dengan papa akan pergi, karna ulah papa.'' Iksan sudah menjelaskan hal ini berulang kali pada Kesya, namun tetap saja gadis itu ngotot untuk meminta hal ini. Apalagi orang-orang di kantornya bekerja sama denganya karna istrinya Gina, karna dia adalah menantu dari orang tua Gina, yang merupakan orang berpengaruh di bisinis, meskipun dia sudah tidak ada, tapi kebaikannya pada orang-orang masih teringat jelas.
Kesya menatap papanya dengan tatapan marah dan kecewa.
''Kesya nggak peduli, Pa. Yang Kesya butuhkan pengakuan papa, kalau aku ini anak papa juga, bukan cuman Nanda anak papa!'' tuntut Kesya pada Iksan.
__ADS_1
''Kalau kamu menginginkan itu, maka kamu harus siap hidup susah!'' bentak Iksan. Kesya diam, di sisi lain dia ingin di akui, namun di sisi lain dia takut hidup susah, apa lagi selama ini dia hidup bergelimang harta. Apa lagi dia tahu mamanya hanya wanita kalangan bawah.
''Kamu tidak bisa'kan.'' Iksan memberikan pernyataan pada Kesya, membuat Kesya memalingkan wajahnya kembali, dengan tanganya terkepal hebat. Diamnya anaknya itu sudah jawaban, tentu saja Kesya dan mamanya tidak siap untuk hidup susah.
Iksan berulang kali menghembuskan nafas berat, menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. ''Papa tahu, nak. Kalau kamu minta di akui di depan banyak orang, agar mereka tahu kalau kamu itu anak papa.'' Iksan mengundurkan volume suaranya, ''jika papa membuat pengakuan hal itu di depan publik, sama saja papa menghancurkan usaha papa sendiri. Mereka tahunya kamu dari anak Iksan lain, bukan Iksan papa mu ini,'' lanjut Iksan. Iksan sudah membayar beberapa orang untuk menghilangkan poster wajahnya dan anak-anaknya dari Gina.
‘’Kesya kecewa sama papa!'' Kesya mengger kursinya, keluar dari ruangan Iksan dengan rasa sesak.
Gadis itu semakin benci dan iri pada Nanda, karna Nanda mempunyai segalanya, dan tentunya mereka semua tahu jika Nanda adalah anak Iksan, seorang pengusaha diakses di kota ini.
Sementara dirinya? Memikirkan itu saja sudah membuat Kesya muak.
‘’Kesya!'' Raisa memanggil Kesya, anaknya itu baru saja menaiki anak tangga, karna Kesya baru saja keluar dari ruangan Iksan, dengan hati yang berkecamuk.
Mood Kesya saat ini tidak baik, untuk mengobrol dengan mamanya saja dia malas.
Raisa menghampiri Kesya di anak tangga. ''Papa manggil kamu karna apa?'' tanya Raisa.
''Soal sekolah,'' balas Kesya dengan malas.
''Ken—''
''Udah, Ma. Kesya capek, Kesya mau istirahat.'' Kesya langsung memotong ucapan Raisa, lalu gadis itu pergi meninggalkan mamanya.
''Untung saja dia anak aku,'' gumam Raisa, dia penasaran hal apa yang di bahas Kesya dan Iksan di ruangan kerja suaminya tadi.
***
Rumah sakit...
Boy menghembuskan nafas berat, dia baru saja keluar dari ruangan, tempat Gerald di rawat. Tidak ada kemajuan sama sekali, dia sudah tahu hal ini dari satu minggu yang lalu, namun Gerald tetap saja di rawat di sini.
Boy kasihan pada Gerald, seharusnya Gerald sudah beristirahat panjang, namun Gilang belum siap memberitahukan hal ini pada Jia, istrinya.
Boy kasihan, dia tahu saat ini Gerald sedang tersiksa. Boy hanya menunggu waktu satu bulan, karna Gilang berjanji akan memberitahukan istrinya, saat satu bulan ini sudah terpenuhi.
''Kita tanya sama dokter itu saja, Pa.'' Tari mengajak suaminya, bertanya pada dokter yang baru saja keluar dari ruangan seseorang.
‘’Dokter,'' panggil Tari, sehingga pergerakan kaki Boy terhenti, karna seseorang memanggilnya.
Wanita paruh baya menghampirinya bersama suaminya, Boy nampak tidak asing dengan wanita itu, namun dia lupa dia pernah bertemu dimana.
''Iya, kenapa? Ada yang perlu saya bantu?'' Boy bertanya dengan ramah, di iringi dengan senyuman melekat di wajahnya.
Tari sudah bertanya pada bagian resepsionis, namun Tari tidak tahu nama lengkap Gerald, apa lagi yang di rawat di rumah skait ini bukan hanya satu bernama Gerald.
''Begini dokter, saya sedang mencari ruangan Gerald di rawat, dia adalah sahabat anak saya.'' Ibnu mulai menjelaskan pada Boy. Mendengar nama Gerald membuat Boy kembali mengajukan pertanyaan.
''Boy yang kecelakaan satu minggu yang lalu, dan sekarang kondisinya koma?'' tanya Boy memastikan dan dibalas anggukan kepala oleh Ibnu dan Iksan, karna itu yang dia tahu dari Ardian.
Boy bertanya, karna pasien yang dia tangani bernama Gerald bukan cuman satu.
''Iya, dok. Dia sahabat anak saya. Sahabat anak saya sudah saya anggap seperti anak saya sendiri. Nama anak saya itu Ardian, dia ganteng seperti dokter,'' jelas Tari dengan sedikit candaan membuat Boy terkekeh.
Sekarang dia tahu, Gerald siapa yang di maksud orang di hadapnya ini. Boy juga sudah ingat, jika wanita ini sudah dia lihat saat Rafael masuk rumah sakit, dia ikutan tinggal di rumah sakit.
Perlu Boy akui, wanita di hadapnya memang baik, karna saat Rafael menunggu kedatangan orang tuanya, Tari dan Ibnu datang mengambil peran itu.
Ardian, dia beruntung mempunyai orang tua seperti ini. Semua orang tua di dunia ini jarang yang ada seperti ini. Boy hanya membatin.
__ADS_1