
Berulang kali Leo menghembuskan nafas berat. Cowok yang mempunyai senyuman memikat itu, melirik kursi milik Gerald, sudah sebulan lebih kursi itu kosong.
"Kenapa lo, Le?" tanya Izam, cowok itu datang menepuk pundak Leo. Karna sedari tadi cowok itu hanya diam saja.
"Rindu gue sama Gerald."
Izam manggut-manggut, dia paham dengan apa yang Leo rasakan, itu yang mereka rasakan sekarang, sahabat Gerald.
"Jadi kantin nggak?" celetuk Ethan, karna ke empat sahabatnya hanya diam saja. Ardian yang makin hari makin datar.
"Sepuluh menit lagi bell masuk. Ada yang mau bolos?" tanya Rafael santi, sontak saja ke empat tatapan sahabatnya mengarah pada cowok yang mempunyai mulut pedas itu. Namun sialnya, dia tampan.
"Kita bolos," kata Ardian dan dibalas anggukan setuju oleh para sahabatnya.
Ini hari ketiga Nanda tidak ke sekolah, membuat Ardian juga malas berlama-lama di sekolah.
Kelima cowok tampan itu, pergi meninggalkan kelas. Saat di pintu kelas, mereka berlima berpapasan dengan sosok gadis cantik.
"Kalian duluan aja, entar gue susul," kata Rafael, menyuruh para sahabatnya untuk pergi lebih dulu.
Ke empat sahabatnya langsung pergi meninggalkan Rafael.
Rafael menatap gadis cantik di depannya. Entah mengapa, Salsa merasakan tatapan Rafael tidak se menyeramkan hari-hari kemarin.
"El," panggil Salsa, setelah beberapa detik bertatapan dengan cowok bernama Rafael.
"Mau ngomong apa lo?" tanya Rafael to the point. Membuat Salsa tersentak kaget, tidak biasanya Rafael akan merespon seperti ini.
Salsa tersenyum hangat, membuat Rafael menaikkan alisnya sebelah.
"Gue mau ngomong serius sama kamu, El. Mungkin yang mau gue omongin nggak penting buat kamu. Tapi menurut aku ini pen--"
"Langsung intinya," potong Rafael membuat Salsa menatap Rafael begitu dalam. "Gue ada urusan penting."
Lebih dulu, Salsa menarik nafasnya dalam.
"El... Aku mau pindah," kata Salsa, dia ingin melihat raut wajah Rafael, setelah dia mengatakan hal tersebut. Namun raut wajah Rafael tetap sama. Datar. Salsa pikir, Rafael akan terkejut seperti apa yang ia pikirkan. "Hari ini, hari terakhir aku sekolah di sini."
Meski raut wajah Rafael tetap sama, bukan berarti dia tidak terkejut dengan apa yang gadis itu ucapkan barusan. Rafael hanya berusaha mengontrol raut wajahnya itu.
Salsa menghembuskan nafas berat. Dia pikir Rafael akan sedih, setidaknya terkejut dengan apa yang barusan dia katakan.
__ADS_1
Rafael masih setia menatap gadis di depannya, gadis yang selama ini mengejar cintanya. Gadis yang merupakan sahabat kecilnya, gadis yang bertetangga denganya. Gadis cantik yang begitu semangat mengejarnya tanpa kata lelah, meski berulang kali ia menyakiti gadis di depannya.
Dan sekarang, gadis itu mengatakan jika dia akan pindah sekolah.
"Aku mau minta sesuatu sama kamu, sebelum aku pergi, El," ujar Salsa lagi.
"Apa?" tanya Rafael penasaran.
Terlebih dahulu, Salsa tersenyum manis pada Rafael. Senyuman yang selalu Rafael dapatkan dari gadis itu, meski berulang kali dia menatap sinis Salsa. "Sebelum aku pindah, aku pengen kita berdua jalan bareng, El. Selama ini, kita sahabat masa kecil, kita tetangga. Tapi aku nggak pernah rasain jalan bareng sama kamu, El. Aku pengen jalan bareng sama sahabat aku, sekaligus orang yang aku cintai." Salsa begitu berharap, Rafael mengiyakan ucapannya itu.
Cika, Pute dan juga Puri, terharu hingga menitihkan air mata. Sebagai sahabat, yang menajdi saksi. Bagaiamana sosok Salsa mengejar cinta Rafael tanpa mengenal lelah. Dan hari ini, mereka di buat terharu dengan ucapan Salsa kepada Rafael.
Mereka bertiga memang menemani Salsa untuk menemui Rafael,namun mereka memilih tempat tersembunyi,agar tidak dilihat Rafael. Salsa memang inginmengatakan hal ini. Sebelum Salsa pindah sekolah.
Rafael masih diam, membuat Salsa menunggu jawaban Rafael dengan sangat cemas. Dia berharap, Rafael mengiyakan permintaannya untuk jalan bareng.
"Gue nggak bisa. Gue sibuk," jawabnya dengan datar, membuat Salsa meneguk salivanya susah payah. Di sertai jantungnya berdetak tidak karuan, penolakan dari Rafael suskes membuatnya jatuh, sejatuh-jatuhnya.
Rafael langsung pergi meninggalkan Salsa di depan pintu kelas, sementara Salsa masih mematung di sana.
Ketiga sahabat gadis itu, langsung menghampiri Salsa. Salsa tengah menangis membuat ke-tiga sahabatnya langsung membawa Salsa menuju kelas.
Rafael menghembuskan nafas berat, lalu memakai helmnya untuk segera menyusul para sahabatnya di cafe milik Ethan.
Rafael melajukan motornya, pikirannya berkecamuk. Memikirkan Salsa yang akan pindah.
"Sial! Kenapa mulut gue kaku. Padahal gue mau tanya kedia, dia mau pindah kemana!" Rafael hanya menggerutu. Hati dan pikiranya tidak sejalan sama sekali.
Rafael melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Pikirannya sekarang di penuhi dengan nama Salsa. Senyuman hangat yang selalu menyapa dirinya. Hingga kue buatan gadis itu sampai sekarang belum dia cicipi.
Tidak butuh waktu lama, Rafael sudah sampai di cafe milik sahabatnya itu.
Rafael langsung duduk di dekat Ardian. Mereka saling bertatapan satu sama lain. Raut wajah Rafael begitu kacau saat ini. Padahal saat mereka pergi, raut wajah Rafael masih Rafael cabe.
"Muka lo kenapa, Raf," celetuk Ethan.
Mereka langsung mendengar hembusan nafas berat keluar dari mulut Rafael. Seperti bukan Rafael pada biasanya.
"Lo ngomongin apa sama, Salsa? Sampai muka lo kayak galau brutal," ledek Izam.
Rafael menatap wajah sahabatnya satu persatu. Lalu kemudian menghembuskan nafas berat lagi.
__ADS_1
"Gue kepikiran, Salsa."
"Uhuk!" Ethan langsung tersedak minumannya, sementara Izam langsung melongo, masih tidak percaya dengan apa yang Rafael barusan katakan.
Sementara Leo langsung menempelkan telapak tangannya, di jidat Rafael, lalu berkata. "Lo sakit, Raf?"
Ardian hanya menaikkan alisnya sebelah, dia sempat tekejut. Namun dia sedang malas menimpali, karna kemungkinan besar dirinya juga sedang galau.
"Nggak salah omong lo? Tumbenan tau nggak," kata Izam dengan wajah bego membuat Rafael berdesis.
"Salsa ngomong apa tadi?" tanya Ardian, membuat Rafael menatap Ardian, lalu beberapa detik kemudian raut wajah Rafael sedikit pucat.
"Salsa bakalan pindah sekolah," kata Rafael, dia berusaha mengatur raut wajahnya. Pertama kalinya dia membahas Salsa di tongkrongan, biasanya para sahabatnya yang memancing duluan.
"What!" pekik Izam. "Jadi ini alasan lo galau, Raf."
"Lo mulai suka 'kan sama Salsa," goda Ethan seraya memakan kentang gorengnya.
"Gini nih, kalau cowok jual mahal. Langsung di tinggalin," dumel Ethan.
Ardian kembali berucap. "Dia cuman ngomong gitu?" tanya Ardian lagi.
Rafael berpikir, hanya Ardian saja berpikir dewasa saat ini, ketimbang ketiga sahabatnya yang gesrek, terutama Izam dan Ethan.
"Pasti Salsa ngomong sesuatu, buat lo galau gini," goda Leo dengan tawa kecilnya. Setidaknya mereka mendapatkan hiburan gratis, karna pikiran mereka full di penuhi bayangan Gerald.
Rafael lebih dulu menghembuskan nafas berat, sebelum menjawab pertanyaan Ardian.
"Salsa ngajak gue jalan, sebelum dia pindah sekolah," kata Rafael pelan.
"Lo jawab apa?" tanya ketiga sahabatnya serentak, membuat Rafael meneguk salivanya susah payah.
"Gue tolak," jawabnya pelan.
"Goblok!"
"Bodoh banget sih lo cabe!"
"Gue bunuh juga lo, Raf!"
"Bodoh."
__ADS_1