ARDIAN

ARDIAN
Niatan Gerald


__ADS_3

Gerald masuk kedalam kelas, dia melihat keempat sahabatnya menatapnya.


''Kenapa lo nggak bilang, Rald.''


Gerald yang ingin duduk di kursinya menjadi terhenti, karna perkataan Ethan barusan.


‘’Maksudnya?'' tanya Gerald, seakan-akan tidak terjadi apa-apa.


Leo langsung memeluk Gerald, membuat cowok itu terdiam.


‘’Benar kata orang-orang, luka itu tidak semuanya bisa terlihat.'' Leo melepaskan pelukanya, memang dia tidak pernah mengalami sakit di tolak seorang gadis, namun melihat Gerald yang anti sama cewek, sekalinya mencintai tidak dia dapatkan, membuat Leo turut merasakan apa yang di rasakan oleh Gerald.


''Kita udah tahu, hubungan lo sama Nanda.''


Deg...


Ucapan Leo barusan, membuat Gerald diam, dia tidak bisa membalas ucapan sahabatnya. Dia melrik Ethan, Izam dan Rafael, ketiga cowok itu tersenyum padanya.


"Cinta nggak semenyakitkan itu, Radl. Suatu saat, bakalan ada cinta yang datang ngehampirin lu. Untuk saat ini, kita lebih baik fokus pada diri kita sendiri." Izam menberikan nasihat kepada Gerald, karna dia tahu, bgaiamana rasanya di tolak.


Bahkan. Izam berulang kali di tolak oleh Greta. Jadi, dia sudah kebal dengan namanya penolakan.


''Nggak baik mendam seorang diri,'' sahut Ethan. Dia tersenyum kearah Gerald. ''Gue udha tahu pahit manisnya pacaran. Bahagianya, sedihnya, susahnya dan manjanya, udah pernah gue rasain saat gue pacaran sama Vani.''


‘’Selama lo punya sahabat, Rald. Nggak usah simpan sendirinya, bagi sama kita. Agar beban lo berkurang,'' timpal Rafael.


Dia bisa melihat kesedihan di wajah sahabatnya itu. Nanda adalah gadis beruntung, menurut Rafael. Bagaimana tidak, jika Nanda di cintai oleh dua cowok yang selama ini, tidak tertarik pada gadis manapun.


Di saat mereka tertarik dengan gadis, mereka malah tertarik dengan gadis yang sama.


''Kita ada untuk lo, bro.'' Rafael memeluk Gerald. Meski dia tidak pernah merasakan mengenai hal ini, namun dia turut merasakan apa yang di rasakan oleh Gerald.


Apa lagi mereka sudah tahu, jika Gerald menunggu cinta Nanda sejak mereka sahabat. Bahkan, Nanda lebih dulu bersahabat dengan Gerald, ketimbang dengan mereka.


Mereka berempat berpelukan, tanpa Ardian. Karna cowok itu tidak ke sekolah hari ini.


Meski dalam keadaan begini, Gerald masih tetap mempertahankan wajah datarnya itu.


''Thanks.''


🦋


Sedari tadi Nanda murung di dalam kamarnya seorang diri, Gerald kembali mengutarakan perasanya. Membuat Nanda masih memberikan jawaban yang sama.


Nanda, gadis itu menganggap, jika Gerald itu adalah sahabatnya paling baik, dia sudah menganggap Gerald sebagai saudaranya sendiri.


Nanda mengambil ponselnya, lalu mulai mengirimkan pesan kepada Gerald.


“Rald. Kamu di mana?”


Ting…


Gerald melirik ponselnya yang bergetar, menandakan adanya pesan masuk, dia melihat dari jendela pesan, jika yang mengirimkanya pesan adalah Nanda.


Huft


Cowok itu menghembuskan nafas berat.


‘’Gimana caranya ngubur perasaan gue ke lo, Ra?'' menolog cowok itu seorang diri.


''Gue sayang sama lo, Ra.''


''Gue cuman cinta sama lo, Ra.''


‘’Hati gue udah buat lo, Ra.''


Gerald mengusap wajahnya dengan kasar, dia harus berbuat apa?


Rasanya sakit. Harus mengubur perasaan ini, perasaan yang sudah lama Gerald berikan untuk Nanda.


‘’Bersahabat tanpa melibatkan perasaan itu bulshit,'' gumam Gerald, seraya tersenyum tipis, mengingat per sahabatnya dengan Nanda, dirinya yang melibatkan perasaan di hubungan persahabatan mereka.


Rasanya. Gerald ingin pergi jauh saja dari sini, namun dia tidak punya sayap untuk melakukan itu.


''Lulus sekolah, gue bakalan pergi, Ra. Supaya gue bisa lupain lu.'' Gerald bertekad akan pergi untuk melupakan Nanda, entah dengan cara seperti apa, hanya dirinya saja yang tahu.


Nanda melihat pesan yang dia kirim di wa, masih berwarna abu-abu, belum berubah menjadi ckls biru.


Tidak biasanya Gerald lama membalas pesanya, membuat Nanda membaringkan tubuhnya seraya menunggu balasan pesan dari Gerald.


''Maafin gue, Rald. Gue sayang sama lo, seperti gue sayang bang Boy gue.'' Nanda menatap langit-langit kamarnya, mengingat masa kecilnya dengan Gerald saat itu, membuat Nanda tidak menyangka, jika salah satu dari mereka akan jatuh cinta seperti ini.


Drt....


Nanda pikir Gerald yang menelfonya, rupanya yang menelfon adalah Salsa. Karna hatinya tidak mood, membuat Nanda tidak mengangkat Telfon dari Salsa.


Dia menunggu Gerald, karna penolakan yang dia berikan. Membuat Nanda khawatir. Jika Gerald akan melupakan dirinya.


''Ara.''


Panggilan Gina dari luar, membuat Nanda langsung turun dari tempat tidurnya.


Ceklek.


Nanda membuka pintu kamarnya.


''Kenapa, Ma?'' tanya Nanda.


''Dibawa ada Gerald, nyariin kamu.''


Deg...


Ucapan Gina sukses membuat Nanda langsung berlari pergi, untuk segera menemui Gerald.


''Rald.'' Nanda memanggil Gerald, seraya menuruni anak tangga.


Dia pikir, cowok itu tidak..'Sudahlah, melihat Gerald di sini membuat Nanda sangat bahagia.


Gerald terkekeh melihat Nanda, lalu kemudian cowok itu merentangkan tanganya, dan Nanda masuk kedalam pelukan cowok itu.


Nanda memeluk Gerald, seakan-akan tidak ingin melepaskan cowok itu. ''Kamu nggak lihat pesan aku?'' tanya Nanda, seraya melepaskan pelukanya dari Gerald.


''Aku nggak cek hp, Ra. Aku langsung kesini aja,'' bohongnya pada Nanda membuat gadis itu hanya mengangguk mengiyakan ucapan Gerald, tanpa curiga sama sekali.


''Mau aku buatin minum apa, Rald?'' tanya Nanda, berdiri dari kursi sofa yang dia duduki, bersiap-siap ingin menuju dapur, untuk membuatkan Gerald minuman. Namun cowok itu malah mencekal tanganya.


''Nggak usah, Ra,'' ucap Gerald.


''Kamu duduk di sini aja, temenin aku,'' pintah Gerald dengan mata sayu, Nanda langsung mengangguk mengiyakan ucapan Gerald.


Akhirnya, Nanda menemani Gerald di ruangan tamu, seraya megobrol mengenai masa kecil mereka yang di penuhi dengan tawa.


Melihat Nanda tertawa lepas, membuat Gerald semakin tidak ingin menjauh dari gadis itu. Namun, keadaan yang memintanya.


Jika dia terus-terusan seperti ini, maka siap-siap hatinya akan semakin melebur.


Cowok Itu sudah memantapkan hatinya.


''Rald.''


‘’Rald.''


Gerald langsung kaget. Saat Nanda sudah berada di depanya. Melambaikan tanganya.

__ADS_1


''Lamunin apa sih, Rald?'' tanya Nanda, membuat Gerald mengacak rambut Nanda dengan gemas.


''Mikirin kamu.''


Nanda tertawa dengan lepas, membuat gerald juga ikutan tertawa. Padahal tidak ada yang lucu, namun Nanda tertawa dengan apa yang cowok itu katakan.


Dia pikir, setelah kejadian di sekolah tadi, Gerald akan berubah padanya, atau cowok itu menjaga jarak denganya.


Namun Nanda Bersykur, karna Gerald tidak seperti yang dia pikirkan.


Gerald, masih tetap Gerald yang dia kenali.


Mata Nanda dan Gerald beradu, karna mereka berdua duduk berdekatan.


‘’Jangan malas makan, Ra.'' Gerald mencolek hidung milik Nanda. ''Awas aja kalau kamu malas makan, aku nggak bakalan kesini lagi.'' Lanjutnya dengan ancaman pada gadis itu.


''Iya-iya, Rald. Kamu tenang aja. Kamu juga, jangan sampai telat makanya,'' ucap Nanda dan dibalas anggukan kepala oleh Gerald.


Sudah satu jam lebih Gerald di rumah Nanda, cowok itu berdiri dari kursi untuk segera pamit pulang, karna sudah tidak lama lagi menjelang magrib.


''Hati-hati, Rald.'' Nanda melambaikan tanganya pada Gerald.


''Iya.''


Cowok itu langsung saja berjalan menuju motornya, untuk segera pergi dari sini, dia sudah melihat Nanda selama satu jam lebih, dan itu sudah cukup untuknya.


Gerald membunyikan klakson motornya lalu pergi dari pekarangan rumah gadis itu. Setelah kepergian Gerald, Nanda menutup pintu.


Dia tadinya khawatir jika Gerald akan mengihindarinya, namun melihat Gerald datang kesini, membuat Nanda bernafas legah, setidaknya pikiranya itu salah mengenai Gerald.


''Gerald nya mana, Ra?'' tanya Gina. Yang melihat ruangan tamu, sudah tidak ada Gerald di sana.


''Udah pulang. Mama sih lambat, tadi di cariin sama Gerald,'' kata Nanda, lalu pamit pada Gina untuk naik ke lantai atas kamarnya.


Tok...Tok...Tok


Baru saja Nanda ingin menaiki anak tangga, namun suara ketukan pintu menbuatnya membalikkan tubuhnya.


''Mungkin Gerald, siapa tahu aja ada kelupaan,'' ucap Gina, menyuruh anaknya untuk membuka pintu.


Nanda kembali berjalan menuju pintu utama, sementara Gina sudah duduk diatas sofa. Seraya menonton tv.


Ceklek


Nanda membuka pintu. Dia pikir Gerald yang datang, ternyata dia salah.


''Ardian.''


Dia adalah Ardian, cowok itu sudah satu jam lebih menunggu Gerald keluar, Ardian memilih sembunyi di balik pohon saat melihat Gerald sudah keluar dari rumah Nanda, fan barulah dia menghampiri rumah Nanda, setelah sahabatnya itu pergi.


''Loh, Ardian. Masuk dulu,'' ajak Gina.


''Iya, Tan.'' Ardian langsung melenggang masuk, melewati Nanda yang masih mematung di depan pintu.


‘’Gerald baru-baru pulang. Kamu darahnya lambat,'' ucap Gina dengan senyuman ramahnya pada Ardian.


Padahal Ardian menunggu Gerald untuk pulang lebih dulu, lalu dia kesini.


Ardian hanya mengangguk kecil saja, dengan apa yang di ucapkan Gina barusan.


''Ra, kok malah bengong di situ. Buatin Ardian minum dulu,'' perintah Gina kepada anak gadisnya itu, membuat Nanda langsung melangkahkan kakinya menuju dapur untuk membuatkan Ardian minum.


Nanda membuatkan Ardian es jeruk, sementara Ardian sedang mengobrol dengan Gina.


Setelah minuman untuk Ardian selesai, gadis itu langsung membawanya.


‘’Ngapain lo kesini?'' tanya Nanda, padahal dalam hatinya dia sedikit senang karna cowok itu datang, karna di kantin tadi dia mencari Ardian, karna cowok itu tidak memunculkan batang hidungnya sama sekali.


Ardian melirik Gina. ‘’Maksud saya datang kesini, karna mau ngajakin Nanda makan malam di rumah saya, Tan. Mama saya yang nyuruh saya buat minta izin sama tante.'' Ardian mengatakan maksud dan tujuannya datang kesini untuk menjemput Nanda, makan malam bareng di rumahnya.


''Kalau tante terserah Ara saja. Asal kamu jagain dia dan antar dia sebelum jam 10 malam,'' ucap Gina membuat Ardian mengangguk paham.


''Jadi gimana, Ra. Kamu mau kerumah Ardian? Mamanya ngundang kamu makan malam di sana,'' kata Gina membuat Nanda berpikir sejenak.


Setelah berpikir pergi atau tidaknya, gadis itu langsung berganti pakaian, untuk kerumah Ardian.


Setelah lima menit berganti pakaian. Akhirnya gadis itu selesai juga.


Ardian dan Nanda pamit pada Gina, untung saja Ardian menggunakan mobil atas perintah mamanya, karna dia menjemput seorang gadis malam-malam, jadi dia harus bawa mobil.


Di sepanjang perjalanan tidak ada yang mengakurkan suara, hingga Ardian berhasil memecah keheningan.


''Kalau mama gue bilang, kita beneran pacaran atau nggak, lu bilang aja, kalau kita udah pacaran.''


Nanda langsung melirik cowok itu. ''Sejak kapan gue pacaran sama lo?'' tanya Nanda, dengan menaikkan alisnya sebelah membuat Ardian berdecak kesal pada gadis itu.


''Pura-pura, karna lo nggak mau beneran jadi pacar gue.''


''Jadi maksudnya, lo bilang sama mama lo itu kalau kita pacaran?'' tanya Nanda dan dibalas anggukan kepala oleh cowok itu.


''Kita bisa pacaran beneran. Andai saja lo nerima gue,'' ucap Ardian lagi, membuat Nanda memutar bola matanya malas kearah cowok itu.


''Dalam mimpi.'' gumam Nanda.


‘’Atau lo mau gue tembak lagi?'' tanya Ardian dengan santai.


Nanda tidak menggubris ucapan Ardian lagi, menurutnya cowok itu banyak mainya. Tidak butuh waktu lama, mobil Ardian langsung memasuki pekarangan rumah mamanya.


''Lo harus ingat, apa yang gue bilang tadi,'' peringat Ardian, sebelum mereka turun dari mobil.


‘’Hadiah gue apa?'' tanya Nanda meminta imbalan pada Ardian, membuat cowok itu nampak berpikir.


‘’Habis makan malam gue pikirin,'' ucap Ardian.


''Ok.''


Lepas itu, Ardian dan Nanda langsung keluar dari dalam mobil, keduanya langsung melenggang masuk.


Di meja makan ada Ibnu dan Tari, yang membuat Nanda terkejut ada Fatur juga di sini.


Mereka berdua saling berpandangan. Tari tersenyum melihat kedatangan Nanda dan juga anaknya itu.


Ardian menggeser kursi untuk Nanda, lalu kemudian gadis itu langsung duduk.


''Apa pacar kamu sudah jalan kesini, Tur?'' tanya Ibnu kepada anaknya itu.


Karna Fatur juga mengajak pacarnya makan malam bersama dengan mereka.


''Iya.''


Bertepatan dengan itu, pacar Fatur datang membuat mereka langsung melihat kearah gadis itu.


''Maaf. Saya lambat,'' ucap Naya kepada mereka semua.


Tanpa tahu tempat, Naya langsung mencium pipi Fatur membuat cowok itu terlonjak kaget, dengan tindakan gadis itu.


Sementara Tari Tersenyum kecut, melihat Naya mencium pipi Fatur, padahal ada mereka di sini.


‘’Silahkan duduk.'' Ibnu mempersilahkan Naya untuk duduk di dekat Fatur.


Naya sempat terkejut, melihat ada Nanda di sini. Membuatnya tersenyum kecut, meski tanpa make up, Nanda begitu cantik, membuat Naya yang dandan selama 2 jam, merasa sia-sia saja, karna Nanda jauh lebih cantik.


''Sayang, mau aku ambilin makananya?'' tanya Naya, siap ingin memberikan lauk kepada Fatur.

__ADS_1


''Tidak usah,'' ketus Fatur, membuat Tari menahan tawanya, dia tahu melalui tatapan Fatur, jika anak itu tidak serius pacaran dengan gadis bernama Naya itu.


Tari melirik Nanda, gadis itu asik makan, tanpa melirik ke sebelahnya, jika ada Ardian yang memperhatikannya dengan lekat.


Mereka berenam makan dengan khidmat, yang membuat makan malam ini kurang srek, adalah Naya.


Gadis itu sangat cerewet tiada arti, yang berulang kali di tolak Fatur.


Tari tidak habis pikir,Fatur begitu cuek dan ketus pada Naya, namun mengapa mereka bisa pacaran?


Naya sudah tahu jika Ardian dan Fatur saudara satu ayah, saat itu Naya tidak percaya, dia dulunya suka pada Ardian, namun Fatur datang tiba-tiba di hidupnya, membuat Naya langsung klepek-klepek dengan Fatur saat itu.


Fatur juga ganteng jadi tidak ada salahnya jika dia menerima cowok itu, dan di tambah lagi Naya baru tahu jika pacarnya itu sangat kaya.


Siapa yang tidak mengenal Ibnu? Sosok pengusaha kaya di Jakarta ini.


Makan malam selesai, Ibnu lebih dulu beranjak dari kursi yang dia duduki, lalu di susul Fatur. Mereka bisa melihat, jika Naya masih ingin makan, namun melihat Fatur beranjak, membuat gadis itu juga ikutan.


Lepas itu, Ardian juga ikutan selesai makan, karna dia sudah kenyang. Cowok itu berjalan menuju ruangan kelurga, ikut bergabung dengan Fatur dan juga papanya.


‘’Gimana makananya, nak?'' tanya Tari kepada Nanda. Membuat gadis itu tersenyum pada Tari.


‘’Makananya enak, Tan,'' jawab Nanda dengan jujur, karna apa yang dia katakan memang benar, jika makanan buatan Tari memang enak.


''Kamu serius?'' tanya Tari memastikan, dan dibalas anggukan kepala oleh Nanda.


''Kapan-kapan Nanda akan belajar masak sama tante,'' ujar Nanda dan dibalas anggukan kepala oleh Tari.


Di meja makan ini, hanya tersisa Nanda dan Tari saja, mereka berdua masih menikmati makananya dengan penuh ketenangan.


''Kamu kenal pacarnya Fatur tadi?'' tanya Tari.


''Dia satu sekolah dengan Nanda, Tan. Cuman satu sekolah aja, Nanda nggak ngobrol sama dia,'' ucap Nanda dan dibalas anggukan kecil oleh Tari.


‘’Tante bisa lihat, kalau Fatur itu sebenarnya nggak suka sama Naya. Tapi tante nggak habis pikir, kalau memang Fatur nggak suka sama gadis itu, kenapa harus di pacari?'' menolog Tari.


''Hanya Fatur yang tahu, Tan,'' ucap Nanda dengan tawa kecilnya, membuat Tari juga ikutan tertawa.


''Hmmm....Tante dengar, kamu udah resmi pacaran ya sama anak tante,'' goda Tari, membuat Nanda hampir saja tersedak makananya.


Nanda tersenyum kikuk. ''Apa anak tante bohong, ya,'' gumam Tari dengan suara sedih, membuat Nanda langsung menggeleng.


''Nggak kok, Tan. Nanda sama Ardian emang pacaran,'' jelas Nanda, membuat Tari tidak bisa menahan senyumanya.


Setidaknya dia legah, karna mendengar ini secara langsung dari mulut Nanda, jika gadis di hadapnya memang sudha menjalin hbungan dengan anaknya.


‘’Bagus dong.''


‘’Besok, Fatur sama Ardian bakalan rayain hari ulang tahun mereka di pantai. Tante harap kamu datang yah. Tante udha undang teman-teman Ardian untuk datang juga,'' pintah Tari, kepada Nanda.


''Iya, Tan.''


‘'Besok Ardian jemput kamu, yah.''


Nanda diam sejenak, ‘’nggak usah Tan, biar Nanda datang sama teman-teman Nanda,'' tolak gadis itu secara sopan membuat Tari akhirnya mengangguk mengiyakan ucapan Nanda tadi.


Nanda dan Tari sudah selesai makan malam, gadis itu tidak langsung meninggalkan Tari di meja makan, dia membantu Tari membereskan meja makan.


''Nggak usah bantu Tante. Mending kamu ikutan sama mereka ngobrol di sana. Biar tante yang nyelesain semuanya. Tante udah biasa,'' ucap Tari panjang kali lebar kepada gadis itu.


''Nggak apa-apa, Tan. Biar Nanda bantuin,'' ucap gadis itu seraya mengangkat piring menuju wastafel.


''Piringnya nggak usah di cuci, besok pagi baru tante nyuci piring,'' ujar Tari dari meja makan, karna wanita itu sedang membersihkan meja makan.


''Iya, Tan,'' sahut Nanda.


Sementara Ardian yang sedari tadi, menunggu kemunculan kedua perempuan itu merasa kesal, bagaimana tidak jika sudah tiga puluh menit dia menunggu, namun Nanda dan juga mamanya belum memunculkan batang hidungnya saat ini.


Ardian langsung menyusul mereka di di dapur, dia penasaran mengapa mereka begitu lama di dapur.


Ardian menghembuskan nafas berat, saat melihat Nanda dan mamanya sedang sibuk membuat sesuatu.


Buat kue lagi!


Ardian bersedekap dadah, melihat Nanda dan Tari begitu akrab, padahal baru kedua kalinya mereka bertemu, namun sudah seperti anak dan ibu saja.


Ardian melihat Nanda memecahkan tiga butir telur atas perintah Tari. Sudha lama Ardian menunggu ternyata mereka asik bkin kue.


''Ma,'' panggilan dari Ardian membuat Tari membalikkan tubuhnya.


‘’Kenapa, Ar?'' tanya Tari.


''Mama bikin kue kenapa Naya nggak di ajak?'' tanya Ardian membuat Tari dan Nanda langsung saling berpandangan, mereka sampai lupa, jika ada satu gadis lagi.


''Mama lupa, Ar. Yaudah kamu panggil dia kesini. Siapa tahu aja dia mau bantuin mama sama Nanda bikin kue,'' ujar Tari dan dibalas anggukan oleh Ardian.


Ardian sengaja menyuru mamanya untuk memanggil Naya, karna dia tidak mau jika mengobrol dengan papanya, ada orang lain, meskipun dia pacarnya Fatur.


''Nay, lo di panggil sama mama gue,'' ucap Ardian membuat Naya yang bergelenyut mesrah pada Fatur, terpaksa meninggalkan kekasihnya itu.


Kepergian Naya, membuat Fatur bernafas legah, itu semua tidak luput dari mata Ardian dan Ibnu.


''Nggak suka, kenapa di pacari?'' sindir Ardian dengan suara datarnya, membuat Fatur menatap tajam cowok itu.


‘’Waktu terlalu berharga, jika menghabiskan sebagian waktu kita, untuk seseorang yang tidak kita sukai,'' lanjut Ardian dengan bijak, membuat Fatur terdiam dengan ucapan Ardian.


''Gue tahu, lo nggak suka sama dia.''


''Udah, Ar, biarin Fatur menentukan pilihanya sendiri,'' ucap Ibnu membuat Ardian mengedikkkan bahunya.


''Ardian cuman ingetin sama dia. Andai dia bukan saudara Ardian, nggak bakalan Ardian kasi pendapat.''


Ucapan Ardian mampu membuat Fatur berpikir, mengapa pula selama ini dia bertahan dengan Naya, tanpa cinta sama sekali?


Waktu terlalu berharga jika menghabiskan sebagian waktu kita, hanya untuk orang yang tidak kita sukai.


Ucapan Ardian yang di atas, mampu membuat Fatur berpikir keras, dia harus memutuskan Naya dan kembali pada gadis yang dia cintai. Yaitu Salsa. Meskipun sainganya adalah Rafael, cowok yang Salsa sukai, dan merupakan sahabat Ardian itu.


Tari memasangkan Naya celemek, saat gadis itu mengaku ingin membantu dirinya dengan Nanda untuk membuat kue.


Apa lagi kue di rumahnya stoknya sisa sedikit.


''Lo yakin bisa buat kue?'' sindir Naya kepada Nanda.


Gadis itu langsung mengucapkan kata-katanya tanpa perlu di saring lagi, padahal ada Tari di tengah, mengapit kedua pacar anaknya itu.


‘’Bisalah,'' jawab Nanda tak kalau judesnya pada Naya.


''Naya, ini yang kedua kalinya Nanda kerumah tante. Ini juga kedua kalinya Nanda bantu tante buat kue. Kue buatan tante sama Nanda saat itu enak kok,'' ucap Tari. Karna apa yang dia katakan emang benar adanya.


Naya tidak membalas ucapan Tari, gadis itu sibuk membuat kue resepnya sendiri, sehingga mereka buat kue yang berbeda-beda.


Naya ingin menunjukkan, jika kue buatanya jauh lebih enak ketimbang Nanda.


Tari bisa melihat, jika Naya tidak suka denggan Nanda, padahal mereka berdua tidak akrab sama sekali.


''Nay, itu telurnya kebanyakan,'' ucap Nanda melihat Naya memecah banyak telur.


''Gue sengaja, biar kuenya enak,'' nyolot Naya.


''Nggak usah di tegur, Nan. Biarin aja dia bikin kue sekretif mungkin,'' bisik Tari pada Nanda, sementara Naya sibuk dengan adonanya sendiri.


Dari adonan kue yang dia buat Naya, membuat Tari yakin, jika kue yang gadis itu buat akan jauh dari ekspestasinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2